
”Siapa dia Malik?”
Malik berbalik dan melihat Maryam mamanya sudah berada di belakangnya ikut memperhatikan Hana dan Emil.
”Dia manager di sini,” sahut Malik.
”Cantik juga, apa dia masih sendiri?” tanya Maryam.
”Iya,” jawab Malik singkat.
”Menarik, dia bisa menjadi calon kandidat istrimu,” bisik Maryam yang menghampiri mereka berdua.
”Oma,” panggil Emil membuat Hana menoleh dan tersenyum melihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya wajahnya dominan orang timur tengah sama halnya dengan Malik dan Emil.
”Selamat pagi,” sapa Maryam.
”Selamat pagi Nyonya, cucu Anda sebaiknya istirahat di rumah kasihan jika dia berada di sini. Maaf bukan maksud saya menggurui, ini demi kenyamanan Emil.”
”Iya saya tahu hanya saja Malik memang belum bisa mengatur putranya sendiri, bahkan Emil cucu saya malah dekat dengan orang lain,” urai Maryam.
”Maafkan saya, saya juga tidak tahu kenapa dia begitu menyukai saya. Emil sekarang istirahat ya,” ucap Hana.
”Tapi mama di sini saja ya jangan pergi, please,” rengek Emil.
Hana memandang ke arah Malik bosnya, Malik hanya mengangguk mengiyakan permintaan putranya sendiri.
”Baik sekarang istirahat ya.” Emil mulai mengambil posisi dengan kepala berada di pangkuan Hana. Perlahan Emil mulai memejamkan kedua matanya.
”Dia sejak semalam gak mau tidur, entahlah mungkin karena tidak ada sosok seorang ibu yang menemaninya kemanapun dia pergi,” ucap Maryam.
”Ma, tolong jangan bicara privasi di kantor please,” sela Malik.
”Saya titip cucu saya ya, maaf jika merepotkan dirimu jujur baru kali ini dia bisa langsung dekat dengan seorang wanita.”
Hana hanya mengangguk cepat.
”Malik, mama pergi dulu ke rumah papamu. Tolong pikirkan permintaan ibu semalam.”
__ADS_1
Maryam segera keluar dari ruangan putranya menuju ke rumah mantan suaminya Abror.
”Maafkan mama saya dan tolong jangan diambil hati,” ucap Malik.
”Tidak apa Pak Malik saya bisa memahami pemikiran beliau.” Malik mengambil bantal sofa dan memberikannya pada Hana untuk menggantinya pada kepala Emil.
”Terima kasih,” ucap Hana.
”Bukankah sekarang ada meeting soal dugaan kasus penggelapan dana itu?” tanya Malik.
”Benar Pak, kebetulan tadi saya melihat Pak Eric masuk kantor bersama dengan istrinya.”
Malik menautkan alisnya mendengar penyataan Hana yang seakan tak ada ekspresi di wajahnya.
”Baiklah kau bisa langsung ke ruang meeting biar nanti Emil saya titipkan pada Pak Basuki jika dia bangun bisa menyusulnya ke sana.”
”Baiklah saya ambil berkas dulu di ruangan saya,” pamit Hana.
Malik sendiri langsung menghubungi Pak Basuki dan pergi menyusul Hana ke ruang meeting.
Ruangan terasa panas bagi Hana terlebih dia melihat dua pasangan pengantin baru yang sedang duduk bersama seperti sepasang kekasih yang sulit untuk berpisah.
”Baiklah Pak Eric saya minta Anda untuk jujur pada saya,” ucap Malik penuh ketegasan.
Hana melihat Eric yang mulai terlihat tegang terlebih lagi tangannya sedikit bergetar.
”Bisakah Anda menjelaskannya di sini, saya inginkan kejelasan kemana perginya uang lima ratus juta itu?” tanya Hana.
”Saya serasa jadi orang bodoh ya di sini, karena tidak tahu apapun dan setelah kejadian beberapa hari yang lalu benar-benar membuka hati saya tentang siapa Anda,” urai Hana dia ingin membalas apa yang dilakukan oleh Eric pada keluarganya.
Eric terdiam seakan sedang mengumpulkan keberaniannya. ”Tolong jangan libatkan masalah pribadi dalam urusan ini karena ini tidak ada sangkut-pautnya dengan pekerjaan,” balas Eric.
”Oh, lalu untuk apa uang tersebut Pak Eric gunakan untuk belanja barang branded lalu memberikannya pada kekasih Anda? Ops, maaf bukan kekasih sepertinya saya salah sebut maksud saya istri Anda?” ralat Hana.
Ayu yang merasa tersindir pun angkat bicara, ”Apakah Anda sedang cemburu Bu Hana karena Pak Eric lebih memilih saya daripada Anda? Asalkan Bu Hana tahu ya, Pak Eric itu tidak pernah mencintai Bu Hana sepenuhnya dia dekat dengan Bu Hana hanya untuk sebuah jabatan.”
”Ayu!” bentak Eric menahan marah atas perkataan Ayu istrinya.
__ADS_1
”Saya sama sekali tidak iri pada Bu Ayu karena saya masih bisa membelinya sendiri tanpa meminta dari pasangan saya, justru saya merasa malu jika kekasih saya bisa membelikan barang tapi dengan cara yang tidak benar,” balas Hana tak kalah menohok pada Ayu membuat Eric malu.
”Sebaiknya masalah pribadi jangan dibawa-bawa ke sini,” tukas Malik.
”Saya tidak akan bawa masalah ini Pak Malik, jika Bu Hana tidak mulai duluan!” seru Ayu.
Hana tersenyum samar mendengar perkataan Ayu. ”Apa Anda tidak sadar untuk apa uang yang digelapkan suami Anda itu? Dia seperti itu karena Anda merasa tidak pernah puas dengan apa yang Anda miliki sehingga merongrong suami. Saya tidak akan membahas ini jika alasannya jelas tapi dia (Hana menunjuk Eric) tidak memberikan apa yang saya harapkan, sudah jadi kewajiban saya menegurnya karena ini adalah tanggung jawab saya sebagai manager keuangan di perusahaan ini.”
Eric dan Ayu pucat pasi mendengar penuturan Hana. ”Berikan alasan yang jelas untuk apa uang itu, Pak Eric dan Bu Ayu buat surat pernyataan hitam di atas putih,” tegas Hana.
Eric dan Ayu saling pandang.
”Mama ...” panggil Emil.
Hana menoleh dan melihat Emil sedang berjalan menghampiri dirinya. ”Kau sudah bangun?”
Eric menatap Hana penuh tanya begitupun dengan Ayu.
”Kau meninggalkan diriku, di ruangan papa,” keluh Emil.
”Maafkan mama Sayang, mama ada sedikit tugas dari papa jadi ke sini sebentar bagaimana sekarang apakah demamnya sudah lebih baik?” Hana menyentuh kening Emil.
”Sudah tidak sakit lagi kan Ma?” tanya Emil.
”Sudah lebih baik,” balas Hana.
”Bu Hana tolong bawa Emil ke ruangan saya biarkan saya yang mengurus masalah ini,” ucap Malik.
”Baik, terima kasih. Ayo Sayang, kita kembali ke ruangan papa,” ucap Hana membuat Eric semakin penasaran ada hubungan apa antara bosnya itu dengan mantan kekasihnya.
”Silakan Pak Eric dan Bu Ayu kita lanjutkan inti dari masalah ini, saya ingin Anda berdua bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Jika dalam jangka waktu satu bulan uang tersebut tidak kembali maka dengan berat hati saya akan memecat Anda berdua dan memberitahukan pada seluruh perusahaan untuk tidak menerima Anda sebagai karyawan mereka, sampai di sini faham?”
Eric terdiam begitupun dengan Ayu darimana mereka mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan pekerjaan mereka hanya berada di kantor ini dan tak mungkin bagi keduanya meminjam uang sebanyak itu dalam tempo satu bulan.
”Bagaimana Pak Eric dan Bu Ayu?”
”Saya ingin meminta keringanan Pak, apakah boleh?” ucap Eric memberanikan diri untuk berbicara.
__ADS_1
”Apa itu?”