Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
Teguran untuk Alvin


__ADS_3

”Bagaimana keadaan adik saya Dok?” tanya Malik mewakili keluarga yang berada di rumah sakit.


”Beruntungnya benturannya tidak terlalu keras pada kepalanya jadi hanya cedera ringan tapi untuk bagian kaki, tulang kaki dan tungkai patah saat lutut membentur dasbor saat terjadi kecelakaan mobil tersebut jadi butuh waktu cukup lama untuk penyembuhannya.”


”Terima kasih banyak Dok,” ucap Malik.


Dokter berlalu meninggalkan Malik di depan pintu ruang rawat inap Alvin dan Malik pun berjalan masuk ke ruangan adik iparnya.


”Bagaimana rasanya?” tanya Malik.


Alvin masih meringis menahan sakit pada kakinya sedangkan Rita menangis di sisi ranjang.


”Sudahlah Ma, jangan ditangisi ini sudah takdir bersyukur Alvin tidak apa-apa,” ucap Malik.


”Ini gak akan terjadi jika mama gak marahin Alvin sebelum kecelakaan mama habis marahin dia habis-habisan,” ungkap Rita.


”Alvin kamu harus bersyukur dengan kejadian ini Allah masih kasih kesempatan buatmu memperbaiki diri, lupakan Angela dan buat lembaran baru!" ucap Malik dengan santainya kedua tangannya masuk ke kantong celana bahannya.


Alvin hanya diam dia sedang merasa bersalah pada wanita yang telah melahirkannya itu.


”Ma, Malik pulang dulu ya. Papa sedang menuju ke sini buat nemenin mama, Malik harus gantian jaga Aydan yang sedang demam kasihan Hana urus sendirian di rumah.”


”Mama tahu makasih banyak ya,” ucap Rita.


"Alvin, untuk sekian kalinya Abang bilang sama kamu jangan pernah mengecewakan orang-orang yang menyayangimu mengerti!”


”InsyaAllah Bang dan makasih banyak.”


Malik pun segera meninggalkan rumah sakit segera pulang ke rumah karena tidak mungkin dia meninggalkan Hana yang sedang kerepotan mengurus anaknya di rumah yang juga sedang sakit.


Suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring, Aydan sedang sakit, hal biasa yang sering terjadi demam melanda setelah melalui imunisasi di rumah sakit.


”Sayang papa pulang Nak,” ucap Malik setelah mencuci kedua tangannya di dapur dia langsung ke kamar Aydan digendongnya bayi tersebut sejenak kemudian tangisan itu mereda mungkin dia tahu jika sedang digendong oleh papanya. Perlahan Aydan tertidur diletakkannya perlahan di dalam box namun baru beberapa detik Aydan kembali menangis dan dengan sigap Malik kembali menggendongnya.


”Aduh anak papa sedang manja rupanya mau digendong papa terus ya,” bisik Malik sedangkan Hana terduduk di tepi ranjangnya Emil yang sudah tertidur lebih dulu.


”Apa dulu Emil juga begini Bang?” tanya Hana.


”Lebih merepotkan lagi,” jawab Malik. ”Kalau kamu capek istirahat dulu gak apa? Kalau mau tanya soal adikmu, dia baik-baik saja kok hanya saja beberapa bulan ke depan mungkin tidak bisa berjalan dengan baik dia butuh terapi karena tulang tempurungnya retak akibat benturan ada dasbor mobil,” jelas Malik.


”Ya Allah, mama bagaimana Bang? Aku justru khawatir sama mama, kalau Alvin dia sudah sering bolak-balik jatuh aku yakin dia kuat bukannya aku tidak khawatir setidaknya itu pelajaran buatnya akibat tidak nurut perkataan orang tua.”


”Kamu jangan begitu bagaimanapun dia adalah adikmu sudah jadi kita harus mengingatkannya jika dia keliru,” ujar Malik.

__ADS_1


”Apa kita akan tidur di sini?” tanya Malik.


”Bawa aja ke kamar kita bagaimana Bang,” tawar Hana. ”Kasihan Emil jika tidurnya terganggu besok dia kan harus sekolah.”


”Baiklah, ayo kita pindah.”


Mereka berdua menuju ke kamar mereka berdua, namun lagi-lagi Malik tidak dapat meletakkan Aydan ke ranjang bayi itu kembali menangis seakan tahu jika dirinya akan kembali ditinggal oleh papanya membuat Hana tersenyum kecil melihat kejadian itu.


”Rupanya dia sedang ingin manja sama Abang, makanya dia gak mau kalau Abang meletakkannya di sini maunya dia Abang digendong terus,” ucap Hana.


”Sok tahu kamu,” timpal Malik.


”Eh dikasih tahu kok gak percaya,” sahut Hana cemberut karena Malik tidak percaya padanya.


”Iya Abang percaya deh kalau gitu,” sambar Malik melihat perubahan pada diri istrinya. ”Udah kamu buruan istirahat biar Abang gantian yang jaga baby Aydan kau pasti lelah seharian urus dia hari ini.”


”Nanti aja ya Bang, biar sama-sama aja istirahatnya,” sahut Hana.


”Abang terbiasa kok seperti ini kamu istirahat saja dulu, nanti kalau dia sudah bisa ditinggal Abang pasti segera nyusul kok,” ucap Malik.


Hana tak lagi membantah lebih memilih menurut pada Malik daripada harus berdebat.


***


”Mbak Hana, apa benar jika Alvin kecelakaan?” Hana yang sedang menyusui baby Aydan terkejut dengan suara Untari.


”Itu mbak kemarin sore Mas Jaka ketemu tante Rita di rumah sakit, makanya Tari ke sini buat memastikan jika kabar itu benar.”


”Iya memang benar dia kecelakaan.”


”Bagaimana keadaan dia Mbak? Mbak Hana udah lihat dia ke sana?” Untari terlihat khawatir mendengar penuturan Hana.


”Dia gak apa kok, besok juga udah boleh pulang kok, kemarin Bang Malik udah urus semuanya,” jelas Hana.


”Kok bisa itu terjadi ya Mbak, Alvin itu kebangetan kalau mengemudi ugal-ugalan.”


”Iya dia begitu kan karena sedang patah hati lalu mama menegurnya ya itu hasilnya.”


"Mbak gak ke sana?”


”Gak karena baby Aydan juga sedang demam kok,” jawab Hana.


”Bang Malik juga gak ijinkan ke sana, jadi ya udah mbak pasrahin saja semuanya karena mbak yakin kok kalau Alvin itu pasti kuat dia itu kan bandel anaknya.”

__ADS_1


”Tapi kok segitunya ya mbak hanya karena putus cinta aja jadi begitu,” ujar Untari.


Hana tersenyum tipis, ”Mau bagaimana lagi tapi dengan kejadian ini mbak yakin dia pasti tersadar dengan apa yang udah dia lakuin selama ini.”


Hana mengeluarkan baby Aydan yang bersembunyi di dalam kerudungnya, bayi itu tersenyum ketika melihat Untari ada di dekatnya.


”Ih gemesin banget sih ini baby, sini mbak aku gendong!” Untari menggendong Aydan dengan hati-hati.


”Mbak, aku boleh kan jenguk Alvin nantinya?”


Mendengar hal itu Hana terkekeh, ”Silakan saja, mbak malah senang kok kalau kamu deket sama dia.”


”Gak akan ada yang marah kan mbak?” tanya Untari memastikannya lebih dulu.


”Siapa yang akan marah?” jawab Hana.


”Kekasihnya mungkin?” tebak Untari.


”Tidak akan Tari, Angela sudah tidak ada di jakarta kemungkinan udah balik ke negaranya jadi tak perlu khawatirkan hal itu, mbak sih seneng dengan begitu Alvin bisa jauh darinya.”


"Berarti mereka udah putus mbak?” tanya Untari memastikan, Hana mengangguk.


”Awalnya mbak kira Angela itu gadis yang baik dan bisa menggantikan posisi Aisha di hati Alvin karena waktu itu kita belum ketemuan face to face waktu di Singapura. Baru setelah tiba di sini dan kerja sama Bang Malik baru aku tahu bagaimana sikap dan karakter gadis itu setelah Alvin menjelaskan semuanya. Mbak gak nyalahin Alvin sepenuhnya juga, di cinta itu buta,” bisik Hana lalu terkekeh karena mengingat dirinya sendiri yang mencintai Malik.


”Mbak Hana bisa saja kalau bercanda.”


”Bener loh, itu faktanya.”


Keduanya asyik dalam obrolan.


***


”Bagaimana keadaannya Alvin, Na?”


Hana menoleh mendapati Eric bersama dengan Zahra putrinya sedang berada di mall yang sama dengannya.


”Eh kamu, makasih ya tempo hari udah ngabarin kita soal Alvin, dia baik-baik saja kok dan sekarang juga udah balik ke rumah.”


”Syukurlah kalau begitu, ini kamu mau belanja?”


”Tidak, mau jemput Emil lagi les private di sini karena suami sibuk jadi aku yang ke sini.”


”Oh gitu, kamu bahagia sekali ya Na, bisa menikah dengan bos Malik,” ucap Eric spontan membuat Hana menghentikan langkahnya.

__ADS_1


”Maksudnya apa ya, kok kamu bicara begitu?” tanya Hana.


”Oh jadi begini ya kelakuan kamu gak ada istri di rumah lalu janjian ketemu sama mantan, apa kalian mau balikan?”


__ADS_2