Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
53. Plus-plus


__ADS_3

”Ish, bikin kesal saja!” geram Alvin begitu masuk ke apartemen Malik.


”Om Malik kenapa?” tanya Emil penasaran melihatnya bicara sendiri.


”Eh, kamu udah pulang? Bagaimana keadaanmu sudah lebih baik kan? Maaf ya Om tadi pergi sama teman ke Jurong jadi gak sempat jemput kamu ke rumah sakit,” jelas Alvin.


”Gak apa Om, lagipula ada papa sama mama jadi tenang saja InsyaAllah terkendali,” ucap Emil mengacungkan jempolnya pada Alvin keduanya kini sudah menjadi sahabat.


”MasyaAllah anak hebat siapa yang mengajarimu bicara begitu?”


Emil menunjuk ke arah Hana yang sedang membantu mamanya di dapur. ”Dia itu bukan hanya ibu yang baik, tapi juga kakak yang baik untuk Om,” ucap Alvin.


”Om benar dia sangat baik beruntung aku memiliki mama sebaik dan secantik dia,” puji Emil.


”Om temui Oma sama mama dulu ya,” pamit Alvin mengusap punggung tangan bocah itu.


”Ma, Kak,” panggil Alvin.


”Bagaimana kencan buta tadi, mama harap kamu gak menyesal bertemu dengan dia,” ucap Rita.


”Lah mama ada-ada saja ya gak mungkin lah menyesal orang kita awalnya juga sudah tahu masing-masing kok,” timpal Alvin.


”Ya siapa tahu Vin, mama kan hanya mengingatkan kamu saja. Banyak loh itu yang di profilnya cantik begitu datang tidak sesuai ekspektasi kan namanya penipuan. Bukan maksud mama buruk loh, tapi mengingatkan anak mama yang ganteng ini.”


”Iya, makasih sudah diingatkan tapi yang ini lain kok Ma,” ucap Alvin.


”Beneran?” ucap Hana menimpali pembicaraan mereka berdua.


”Beneran Kak, Alvin mana pernah berani berbohong!”


”Jangan pernah nyakitin hati perempuan Vin, ingat kamu punya mama sama aku,” ucap Hana.


”Pasti iya Kak, gak mungkin juga aku bakalan lupa hanya kalian wanita yang Alvin memiliki.”


Hana mencibir mendengar perkataan adiknya, ”Yang bener?”


”Terserah kau sajalah Kak, yang penting aku udah kasih tahu yang sebenarnya.”


Hana memberikan sepiring nasi lemak pada Alvin, ”Makanlah kau pasti lapar kan?”


”Aku sudah makan Kak, tapi jika dikasih lagi tentu saja gak nolak,” ucap Alvin seraya meringis malu.

__ADS_1


”Kamu bukannya tahun ini selesai kuliah?” tanya Maryam yang baru saja keluar dari kamarnya.


”Benar Tante, tapi mungkin akan mundur tahun depan karena udah ambil libur.”


”Jangan ditunda biar nanti Malik bantu urus ke kampusmu biar bisa menyusul teman-temanmu. Tapi nanti setelah selesai, kerja di kantornya Malik ya.”


”Eh tunggu kamu ambil jurusan apa?” lanjut Maryam.


”Manajemen bisnis Tante, sejalan sama Kak Hana dan itu bertentangan dengan kemauan papa waktu itu yang penginnya Alvin ambil jurusan sarjana pendidikan biar bisa nerusin perjuangannya jadi guru.”


”Guru sekarang gajinya berapa, bukannya memprovokasi tapi memang guru gajinya kecil terlepas dari pro dan kontra padahal guru itu mensejahterakan bangsa apalagi honorer hem, dah lah Tante gak bisa bicara lagi.”


”Tidak ada yang instan, papanya dulu juga dari nol dan memang merintis dari nol hingga sekarang jadi kepala sekolah,” jelas Rita.


”Benar Jeng, aku hanya gak mau anak-anak kesusahan itu saja sih intinya itupun jika Alvin tidak keberatan,” sela Maryam.


”Nanti Alvin pikirkan lagi Tante,” sahut Alvin.


”Hana coba kamu tengok suamimu apakah sudah lebih baik, bukannya kita harus segera balik ke Jakarta.”


”Baik Ma,” balas Hana segera kembali ke kamarnya dilihatnya Malik tengah meringkuk di ranjangnya.


”Bagaimana keadaannya Bang, apa masih mual?” tanya Hana menatap iba pada suaminya.


Hana pun menurut dan mendekatkan wajahnya ke arah Malik.


”Kurang dekat dikit lagi,” pinta Malik membuat Hana mengernyitkan dahinya namun tetap menurut mendekat pada Malik.


Cup.


Satu kecupan mendarat tepat di bibir Hana, ”Ya ampun Bang, kenapa harus begini jika memang mau dicium kan bisa bilang baik-baik.”


Malik terkekeh melihat Hana kesal, ”Karena memang sengaja Abang pengin buat kamu kesal gak tahu kenapa sejak tadi Abang pengin bikin kamu marah.”


”Ada lagi?” tanya Hana.


”Kalaupun ada Abang gak yakin kamu mau mengabulkan keinginan Abang.”


”Memangnya apa keinginannya?”


”Temani tidur di sini Abang ingin plus-plus darimu,” ucap Malik membuat Hana melotot mendengar penuturan suaminya.

__ADS_1


”Tidak ada lagipula masih sore mana ada plus-plus jam segini,” tolak Hana.


”Namanya juga plus-plus gak ada patokan waktu jika penginnya sekarang kenapa menunggu nanti,” seru Malik bergegas bangkit dari tidurnya dan menarik Hana dalam kungkungannya.


”Ya ampun Bang, tahan sampai malam kenapa?”


”Tidak bisa, Abang tidak bisa menahannya lagi.” Dengan cepat Malik mengecup kening Hana dan mulai memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Hana membungkam mulutnya dengan telapak tangannya dia tidak mau yang lain mendengarnya.


Malik sudah bersiap tapi ketukan pintu membuatnya harus menahan diri.


”Na, Emil mencari kamu Nak!” teriak Rita di depan kamar.


”Bentar Ma,” sahut Hana.


”Tuh beneran kan Bang, nanti malam aja ya,” bisik Hana ada sedikit kecewa di wajah Malik namun bagaimanapun dia tak mau egois karena Emil saat ini sedang menjadi prioritasnya kesembuhannya yang utama.


”Janji ya,” balas Malik.


”Tentu.” Hana mengecup bibir Malik sekilas lalu beranjak keluar menemui Emil.


***


”Bu, Mas Eric ada kasih kabar gak?” tanya Ayu melihat kedatangan mertuanya Dewi yang baru saja pulang berjualan bakso.


”Ibu sama sekali tidak tahu Yu, kenapa kau tanya ibu bukankah kau punya nomor ponselnya kenapa tidak menanyakannya secara langsung biar gak ada rasa penasaran di hatimu,” ucap Dewi.


”Bu, jika dia bisa Ayu hubungi mana mungkin Ayu tanya sama ibu. Mas Eric itu sama sekali gak kasih kabar dia sedang apa, bagaimana keadaannya sedangkan Ayu butuh uang buat keperluan Ayu. Ibu lihat perut Ayu semakin membesar sebentar lagi lahiran dan Ayu belum beli persiapan apapun untuk baby.”


”Nak, maafkan anak ibu ya. Dia memang tidak bisa bertanggung jawab sepenuhnya, ibu juga sedang mencarinya karena tidak mungkin ibu meneruskan jualan bakso terus menerus,” ucap Dewi.


”Aduh Bu, sekarang tuh Ayu gak butuh itu tapi butuhnya uang buat lahiran karena tidak mungkin kan Ayu minta sama ibu sedangkan ibu gak punya uang sama sekali, jangankan buat lahiran buat makan sehari-hari saja ibu kesusahan.”


”Kamu jangan begitu, rezeqi bisa datang kapan saja tolong bicaranya yang baik-baik karena semua akan kembali pada kita sendiri.”


”Halah ibu gak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini jadi gak menasehati Ayu,” seru Ayu membuat Dewi menggelengkan kepalanya.


”Kamu itu tetap anak menantuku pilihan Eric meskipun awalnya ibu terkejut dengan keputusannya. Jadi tolong Nak, hargai ibu meskipun ibu tidak memiliki harta seperti yang kau pikirkan pada awalnya.”


”Halah semua itu tidak cukup hanya dengan maaf dan maaf, tolong ibu pikirkan baik-baik apakah selama ini membuat ibu bahagia pasti uang kan?”


Ayu masuk ke kamarnya sedangkan Dewi hanya terdiam memikirkan keadaan rumah tangga anaknya membuatnya ikut pusing karena kebutuhan rumah dia yang menanggungnya.

__ADS_1


”Dimana kamu Eric, kenapa kamu tega sama ibu?”


__ADS_2