Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
128. Kecelakaan


__ADS_3

Hana terpaksa mengajak keluar Emil karena anak itu terus saja merengek ingin ikut dengan Untari sedangkan Han tak ingin merepotkan adik iparnya itu.


”Apalagi yang akan mau kau beli? Mumpung lagi di luar mama tidak janji akan keluar lagi setelah ini,” ucap Hana.


”Ma, aku mau beli es krim buat stok di rumah.”


”Baik, ayo cepat pilih mana yang kau mau.”


Dengan cepat Emil memilih beberapa box es krim membuat Hana membelalakkan matanya. ”Loh katanya hanya butuh satu kenapa ambil empat.”


"Jangan protes Ma, mama sendiri yang bilang kan jika selama papa pergi akan membatasi diri keluar rumah jadi jangan salahkan Emil jika mengambil barang lebih banyak.”


Mau tidak mau Hana mengiyakan perkataan Emil. "Baiklah, ini cukupkan? Mari kita bayar semuanya dan segera pulang ke rumah adikmu pasti sudah menunggu kita sudah terlalu lama keluar.”


Keduanya segera membayar tagihan dan pulang ke rumah. Di jalan Emil tampak senang karena telah berhasil membeli makanan kesukaannya dan juga beberapa mainan. Di ujung jalan tepat saat Hana akan berbelok, sebuah motor menyalipnya dari belakang membuat dirinya hilang keseimbangan dan akhirnya menabrak pembatas jalan dan berakhirnya menabrak pohon.


Brak!


”Astaghfirullah.” Tubuh Hana gemetar seketika kepalanya membentur dasbor mobil dan sedikit mengeluarkan darah. Panik! Hana panik dan langsung meraih tubuh Emil yang sama sepertinya gemetar!


”Sayang kau tidak apa-apa kan?” Dengan cepat Hana melepas selt beltnya dan menggendong Emil keluar.


”Bu Hana, Anda baik-baik saja kan?”


”Anda?”


”Saya Anton orang yang ditugaskan Pak Malik untuk mengawasi Anda. Teman saya Doni sudah mengejar motor tadi.”


”Saya tidak apa-apa, tapi mungkin putra saya shock,” ucap Hana.


Anton mengangguk dan segera menghubungi pihak kepolisian agar mengurus musibah yang dialami oleh istri bosnya itu. Emil sendiri masih tampak ketakutan dirinya duduk di bangku trotoar, jangan lupakan orang-orang yang datang berkerumun untuk melihat kejadian.


”Sebaiknya Anda saya antarkan pulang lebih dulu kasihan putranya tampaknya dia shock,” ucap Anton.


”Tapi bagaimana nanti jika pihak berwajib menanyakan saya?”


”Anda tidak peduli khawatir saya yang akan mengurusnya segera.”


Anton mengambil mobilnya dan segera membawa pulang Hana dan Emil ke rumah. Tak ayal lagi, orang-orang di rumah tidak kalah terkejutnya melihat Hana pulang diantar oleh orang tak dikenal dan lagi kemana mobilnya, apa yang terjadi.


”Nak, kau ... ”


”Saya Anton pegawainya Pak Malik, Bu Hana baru saja mengalami kecelakaan,” ucap Anton.

__ADS_1


”Ya Allah, benarkah itu Nak?” Rita ikut panik mendengar perkataan Anton. ”Bagaimana itu bisa terjadi Nak?”


”Hana juga gak tahu jelasnya yang pasti Hana juga sudah pelan-pelan Ma,” sahut Hana. ”Bik tolong Emil kasih air minum ya.”


”Baik Non.” Dengan cepat Bik Surti ke dapur menyiapkan minuman untuk Emil dan juga tamunya.


”Bu Hana, untuk sementara jangan keluar dulu ya tunggu hingga Pak Malik pulang saja. Saya dan teman saya akan tetap memantau Bu Hana.”


”Terima kasih.”


”Saya permisi dulu mengurus mobil dan juga teman saya Doni,” ucap Anton pamit pada Hana.


Hana hanya mengangguk, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri dirinya ambruk seketika.


”Na, bangun Sayang!” Rita ikut panik melihat putrinya jatuh ke lantai.


Dengan cepat Bik Surti memanggil yang lain untuk memboyong Hana ke sofa.


"Duh, sebenarnya siapa sih yang mau berbuat jahat pada putriku,” keluh Rita kesal sekaligus khawatir dengan keadaan putrinya.


”Maafkan Emil ya Oma, coba tadi Emil gak merengek minta keluar mungkin mama Hana gak akan seperti ini,” sesal Emil.


”Tidak Sayang, ini bukan salahmu ini murni kecelakaan dan mamamu pasti sembuh,” ucap Rita menenangkan cucunya. Dirinya pun sebenarnya kebingungan pada siapa harus meminta tolong.


Dengan cepat dia segera menghubungi Untari memintanya untuk segera pulang karena tak ada yang membantunya menjaga Aydan yang mulai rewel.


”Kita tunggu saja nanti Nyonya Maryam, saya sudah kasih tahu beliau dan sekarang sedang menuju ke sini,” ucap Bik Surti.


”Syukurlah jika demikian, saya mau kasih tahu rasanya gak enak. Makasih ya Bik,” ujar Rita.


Seorang Dokter pun datang dan segera memeriksa Hana dengan teliti.


”Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Rita.


”Ibu Hana hanya shock, mungkin karena kejadian yang baru saja dialaminya. Boleh tahu kenapa dia bisa pingsan?” tanya Dokter.


”Dia baru saja mengalami kecelakaan bersama dengan putranya, Dok. Tapi tidak ada luka dalam kan? Maksud saya memar-memar?”


Dokter pun menggelengkan kepalanya. ”Tidak, biarkan saja dia istirahat.”


”Terima kasih Dok.”


”Saya permisi dulu.”

__ADS_1


Dokter pamit selang beberapa menit Untari datang dengan keadaan khawatir.


”Ma, bagaimana keadaan Mbak Hana?” tanya Untari panik.


”Sedang istirahat, syukurlah kau cepat pulang maafin mama ya karena memintamu pulang lebih cepat. Mama kebingungan karena tidak ada yang bantuin jaga Aydan.”


”Mama tidak perlu khawatir, Untari yang akan jaga dia. Emil mana Ma?”


"Dia ada di kamarnya sedang istirahat, sepertinya dia sendiri shock. Tolong temui dia ya, tenangkan dia agar tidak sedih.”


Untari mengangguk dan segera menuju ke kamar Emil keponakannya. ”Sayang, boleh Tante masuk?”


”Masuk saja Tante,” jawab Emil.


Untari masuk dengan senyumnya membuat Emil ikut tersenyum melihatnya. ”Bagaimana keadaannya? Kamu gak apa kan?”


Emil, anak itu menggeleng pelan. ”Jika saja tadi Emil menurut dengan perkataan mama pasti ini takkan terjadi Tante, pasti papa akan marah sama Emil karena tidak menuruti perkataan mama. Emil menyesal Tante, bagaimana tadi mama terbentur dasbor mobil dengan kencangnya karena menghindari pemotor yang menyalipnya.”


Untari memeluk Emil dengan erat menenangkan hati Emil. ”Sabar Sayang, mama tidak apa-apa kok. Mama hanya perlu istirahat dengan cukup selebihnya dia pasti akan sembuh kok.”


”Emil istirahat ya, Tante mau awasi Aydan kasihan adik nanti Oma Maryam sama Tante Sabrina juga akan ke sini ditunggu saja ya.”


”Makasih Tante.”


Untari membenarkan posisi selimut Emil dan segera beranjak keluar karena suara tangisan Aydan yang menggema dengan cepat Untari ke bawah untuk mengambil alih Aydan dari gendongan Bik Surti.


”Sini biar Untari gendong, Bik.” Untari mengulurkan tangannya, Aydan dengan cepat menyambutnya. ”Apa dia ada susu Bik?”


"Ada Non, sebentar saya ambilkan.”


”Diem dulu Sayang, Tante kasih susu ya.”


Dengan telaten Untari memberikan susu buatan mertuanya yang belum sempat dia berikan pada cucunya karena panik dengan keadaan Hana.


Aydan bisa diatasi dengan baik olehnya dan segera dibawanya ke atas membaringkan tubuh anak itu ke dalam boxnya.


”Jeng, apa yang terjadi dengan Hana dan Emil?” serbu Maryam dari luar tergopoh-gopoh masuk menuju ruang tengah.


”Dia mengalami kecelakaan, Jeng,” sahut Rita.


”Ya ampun kenapa bisa seperti ini.” Maryam duduk karena panggilan di ponselnya.


’Malik calling ... ’

__ADS_1


”Siapa yang menelepon?” tanya Rita heran karena tidak segera diangkatnya.


”Malik, apa dia sudah tahu kondisi Hana?”


__ADS_2