Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
60. Pengakuan Alvin


__ADS_3

”Bagaimana keadaannya Dok, keduanya sehat kan?” tanya Malik pada Dokter Septian yang menangani Hana.


”Alhamdulillah baik, tolong dijaga asupan gizinya ya Bu Hana. Apakah ada keluhan lain yang dirasakan sekarang?”


”Tidak ada Dok, rasa mualnya juga sudah berkurang,” ucap Hana.


”Dia tidak begitu parah mengalaminya tapi justru saya yang tiap bangun tidur harus buru-buru ke kamar mandi karena rasa mual yang datang,” sambar Malik.


”Dinikmati saja Pak Malik, karena tidak semua laki-laki bisa merasakannya kebanyakan ibu hamil yang harus merasakan hal itu,” ucap Dokter Septian.


”Ya Anda benar,” sela Malik dia mengingat kehamilan Tiara yang sama sekali tidak merasakan apapun dan justru dia bisa tenang dalam bekerja.


”Ini saya beri vitamin tolong diminum tepat waktu dan ingat banyak istirahat.”


”Oh iya Dok, boleh saya tanya sesuatu?” ucap Hana membuat Malik dan Dokter pun menatap ke arahnya.


”Maaf out of topic!” ucap Hana.


”Apa itu Bu Hana?” tanya Dokter Septian.


”Itu pasien dengan nama Ayu kenapa masih di sini? Kebetulan tadi saya melihat suaminya di depan ruang kamar bayi bukankah seharusnya dia sudah pulang ke rumah?”


”Oh maksud Bu Hana pasien yang bernama Ayu Wardhani itu bukan?”


Hana mengangguk.


”Seharusnya sih memang iya, tapi karena Pak Eric belum melunasi administrasinya jadi mereka belum bisa pulang dan itu juga keputusan dari Pak Eric sendiri yang memang menginginkan hal itu,” terang Sang Dokter.


”Memangnya berapa totalnya Dok, maaf jika terlalu detail menanyakan hal ini," tukas Malik.


”Kurang soal itu karena tugas saya hanya menjalankan kewajiban saya melakukan operasi dan menolong ibu dan bayinya karena waktu itu mereka datang sudah dalam keadaan pingsan. Setahu saya kisaran tujuh atau delapan belas juta, tapi detailnya bisa ditanyakan ke pihak adminitrasi rumah sakit.”


”Baik, terima kasih informasinya Dok. Kami permisi dulu.”


Malik dan Hana pergi meninggalkan ruang obgyn.


”Bang kita bantu mereka ya,” ucap Hana membuat Malik menghentikan langkahnya.


”Maaf jika Abang kurang berkenan bisa kok nanti pakai uangku dulu, aku tidak melihat mereka berdua tapi aku kasihan dengan bayinya seharusnya dia sudah nyaman dirawat di rumah dengan ibunya tapi faktanya masih di sini karena kendala biaya.”


”Hatimu itu terbuat dari apa sih Sayang, padahal mereka udah berkali-kali nyakitin kamu tapi kamu sama sekali gak balas mereka,” ucap Malik.


”Bukan begitu Bang, soal balas membalas Hana yakin Allah lebih berhak aku tuh gak tegaan apalagi ini anak kecil.”


”Baiklah, ayo kita ke tempat administrasi sekalian tebus resep vitamin milikmu,” ucap Malik menggandeng tangan Hana.

__ADS_1


Begitu tiba di tempatnya Malik segera mengurusnya dan memberitahukan pada pihak rumah sakit agar jangan memberitahukan pada yang bersangkutan jika dialah orang yang melunasi tagihannya.


”Alhamdulillah selesai ayo pulang.” Malik melajukan mobilnya pulang ke rumah.


***


”Vin,” panggil Aisha gadis itu tampak makin cantik dan itu membuat Alvin tidak bisa move on darinya.


”Hai Sha, gimana kabarnya?” tanya Alvin.


”Alhamdulillah baik, gimana liburannya di Singapura lancar?” jawab Aisha.


Alvin tersipu mendengar perkataan Aisha yang seakan sebuah sindiran untuknya. ”Ya namanya juga jalan-jalan Asti menyenangkan Sha,” ucap Alvin.


”Iya sampai kau merelakan kuliahmu sendiri hanya buat bersenang-senang,” sindir Aisha.


”Siapa bilang, besok aku ke kampus lagi kok dan bisa ikut wisuda bersama.”


”Benarkah?”


Alvin mengangguk singkat, ”Ya karena bantuan dari kakak iparku juga tentunya dan lagi aku kan selama ini gak pernah bikin masalah dan nilaiku selalu yang terdepan jadi memudahkan semuanya.”


”Percaya kamu memang pria yang cerdas!” puji Aisha.


”Bagaimana hubunganmu dengan Bima?” tanya Alvin.


”Makanya jangan terlalu bucin sama seseorang takutnya nanti malah dipermainkan siapa yang rugi?” ucap Alvin mengingatkan Aisha.


”Ya gimana lagi, dia sendiri yang ngejar.”


”Tapi kamu suka kan? Ck! padahal aku mengejar dirimu tapi kau sendiri acuh padaku.”


Aisha membulatkan matanya mendengar pengakuan Alvin. ”Benarkah itu? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” lirih Aisha.


”Astaghfirullah jadi selama ini kamu gak peka dengan perhatianku?” Alvin mengusap wajahnya kasar.


”Maafin aku tapi aku benar-benar tidak tahu Vin,” seru Aisha.


”Terserah kau saja, lagipula sudah terlambat bagiku karena kamu sudah menjadi milik Bima gak mungkin kan aku bakal merebut dirimu darinya.”


Aisha terdiam pantas saja selama ini Alvin seakan menjaga jarak dengannya terlebih saat dia sedang bersama dengan Bima Sena kekasihnya.


”Aku balik dulu ya, besok kalau ke kampus kabarin biar kamu bisa bertemu dengan yang lain.”


”Baik.” Aisha pergi meninggalkan Alvin tak selang berapa lama Hana dan Malik datang.

__ADS_1


”Assalamu’alaikum,” sapa Hana.


”Waalaikumussalam, tumben ke sini Kak?”


”Memangnya kakakmu gak boleh ke sini?” timpal Malik.


”Bukan begitu Bang, tumben aja gitu biasanya kan Alvin yang disuruh datang ke rumahnya Bang Malik,” sahut Alvin.


”Cewekmu baru balik?” tanya Malik membuat Hana menatap tajam ke arah Malik.


”Eh? Salah ya?” goda Malik bukannya takut justru semakin semangat menggoda Alvin.


”Jangan begitu Bang, gak baik godain orang nanti kalau dibalas bagaimana?” ujar Hana.


”Siapa yang berani balas palingan juga kamu,” balas Malik tegas.


Alvin tampak diam membuat keduanya terdiam seketika.


”Ada yang salah?” tanya Hana khawatir dengan keadaan adiknya.


”Tidak ada Kak,” jawab Alvin.


”Lalu kenapa kamu tidak seperti biasanya?”


Malik terkekeh mendengar perkataan istrinya, ”Kayak gak pernah muda aja, Alvin itu pasti lagi mikirin seseorang lah dan itu pasti seorang gadis masa gak faham.”


”Hana memang gak tahu Bang, kalau kalian sesama pria mungkin saja bisa menebaknya. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” desak Hana.


Alvin hanya nyengir dan itu semakin membuat Hana kesal.


”Aku belum bisa cerita sekarang Kak, nanti kalau Alvin dah mau bicara Alvin pasti bakal cerita kok jadi santai aja ya,” ucap Alvin.


”Baiklah jika memang itu keputusanmu, tapi yang jelas jika kau ada masalah aku selalu welcome kamu bisa curhat sama kakak.”


”Kalau soal mama sama papa bagaimana? Kapan mereka datang ke Jakarta?”


”Besok pas Alvin diwisuda mereka akan datang sehari sebelumnya dan itupun harus segera balik ke Jogja karena tidak bisa libur terlalu lama, kasihan papa bolak-balik libur kan gak enak dengan yang lain,” tukas Alvin.


”Baiklah nanti aku coba hubungi mama lagi, soalnya aku mau dibawain makanan khas Jogja asli bikinan tetangga sebelah rumah.”


”Ya ampun Kak, jangan merepotkan mereka karena sudah bisa datang ke sini Alvin tuh udah senang banget karena mereka itu sedang bertengkar di rumah.”


”Apa mama sama papa bertengkar masalahnya apa Vin?”


Alvin terdiam dia merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol lidahnya sendiri dan sekarang dia keceplosan mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.

__ADS_1


”A-anu Kak ... ”


”Katakan Alvin kenapa mereka bertengkar!”


__ADS_2