
”Kau mau kemana Bang?” tanya Hana melihat suaminya tergesa-gesa dan berakhir di kamar mandi.
”Perut Abang rasanya mual, pengen maka makanan yang pedas dan berkuah panas," balas Malik.
”Abang ikut ngidam ya, rasanya gimana Bang?”
Malik menggelengkan kepala kemudian berjalan menghampiri Hana.
”Rasanya benar-benar nikmat!” ucap Malik lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
”MasyaAllah, benar saja mama suka marah-marah kalau aku sudah diatur ternyata orang hamil itu rasanya seperti ini,” sambung Malik.
”Seperti apa Bang?” goda Hana.
Malik hanya melirik dia tahu jika Hana tengah usil padanya. ”Ditanya kok gak jawab!”
”Kamu itu gak nanya Sayang, tapi sedang meledek benar kan?”
”Jangan-jangan dulu Abang bandel ya? Gak nurut sama mama, semoga anak ini gak kayak papanya besok,” ucap Hana mengusap perutnya melirik ke arah Malik.
”Jangan begitu itu juga anakku masa iya mau sama dengan Faris ataupun yang lainnya bisa dipertanyakan nanti statusnya,” sahut Malik.
”Bang.”
”Hm.”
”Bagaimana kabar Emil di rumah sakit?” tanya Hana.
Malik yang sedang bersandar di sofa pun mendongakkan kepalanya melihat ke arah Hana. ”Kamu rindu sama dia?”
”Iya, rasanya lama sekali ya kita hampir mau satu bulan di sini.”
”Sabar ya, beruntung ada mama dan kedua adik kita yang membantu gantian menjaganya. Abang juga gak tahu bagaimana jadinya jika mereka gak ada di sini, apalagi Alvin harus mengorbankan waktunya buat kuliah. Bukankah tahun ini dia harusnya selesai?”
”Iya seharusnya tahun ini dia selesai tapi dia ambil cuti, Abang tenang saja dia orangnya santai kok lagipula papa sama mama gak mewajibkan dia harus kelar tahun ini.”
”Tetap saja gak enak karena sudah merepotkan banyak orang.”
”Dengerin ya Bang, jangan pernah merasa gak enak karena kita sudah menjadi keluarga papa sama mama selalu ngajarin kita buat saling bantu dengan saudara apapun itu, kita gak boleh lihat siapa yang sedang kesusahan jika memang bisa bantu ya harus bantu.”
”Ini karena mamaku dulu kesusahan dia butuh uang buat biayaku di rumah sakit dan meminta bantuan pada adik iparnya tapi malah mama dicaci maki, semenjak itu mama gak pernah minta tolong lagi pada saudara-saudaranya. Tapi begitu adik iparnya itu kesusahan mama tetap nolong dia justru aku yang marah sama mama waktu itu.”
__ADS_1
”Jangan diingat lagi jika itu menyakitkan dirimu,” ucap Malik.
”Ya hanya sebagai pengingat saja Bang jika aku juga pernah hidup susah terlebih karena mama seorang janda waktu itu banyak yang mencibirnya, Alhamdulillah waktu itu ada papa Soleh yang sekarang jadi papaku dia banyak membantu.”
Malik mengeratkan pelukannya. ”Sekarang kan ada aku,” bisik Malik.
”Bagaimana kalau nanti sore kita ke rumah sakit jenguk Emil, biar mama bisa istirahat di rumah,” tawar Hana.
”Boleh nanti Abang konfirmasi dengan mama dulu ya,” sahut Malik.
”Hallo Bang, bagaimana kabar di sana?”
”Baik, ada apa? Apa ada masalah serius di perusahaan?”
”Tidak ada Bang, kapan Abang pulang?”
”Mungkin dua hari lagi aku akan balik ke Jakarta kenapa?”
”Baiklah aku tunggu Bang, nanti saja jika Abang sudah berada di sini baru Faris bicara.”
”Oke baiklah, sampai jumpa!”
Bip.
”Faris, sepertinya ada masalah di kantor,” jawab Malik mengusap wajahnya dia bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Faris pasti berhubungan dengan perusahaan jika tidak mana mungkin Faris menunggu dia pulang ke Jakarta.
”Sekarang istirahat saja bukankah kau bilang akan ke rumah sakit, nanti kita mampir dulu ya beli sesuatu yang panas dan pedas.”
”Siap bos!” Hana memberi hormat pada Malik membuat pria itu terkekeh.
***
”Ma, aku dengar Emil kembali masuk rumah sakit di Singapura,” ucap Flo pada Lani begitu dia tiba di rumahnya di Paris.
”Apa pedulinya mama, sekarang dia memiliki keluarga sendiri bahkan kau juga tahu Emil lebih memilih perempuan itu daripada neneknya ini jadi untuk apa aku sibuk buang-buang uangku hanya untuk menjenguknya.”
”Ma, kenapa mama bisa sedingin itu padanya bukankah biasanya mama antusias jika membahas soal dia terlebih dia adalah anaknya Kak Tiara.”
”Awalnya aku bahagia apalagi setelah putriku meninggal karena mama kira bisa menggantikan posisi Tiara di hati Malik sayangnya itu tidak terjadi. Bertahun-tahun mama mengharapkannya ternyata zonk!”
Flo malah tertawa lepas mendengar pengakuan Lani.
__ADS_1
”Mama terlalu ngarep sih sama Bang Malik, memangnya mama yakin dia akan tertarik dengan mama? Sedangkan aku saja yang masih single dia menolaknya apalagi mama yang sudah bekas orang,” ucap Flo ketus.
”Mama memang bekas orang tapi mama itu lebih terhormat karena melakukannya dengan suami yang sah. Mama jadi ragu apakah kau masih tersegel meskipun kau masih sendiri tapi itu bukan jaminan kamu belum pernah melakukannya, benar kan apa yang mama katakan?” sindir Lani.
”Ingat di luar negeri itu lebih bebas karena jauh dari pantauan orang tua, terlebih profesimu sebagai seorang model, apa kau bisa menjamin kau masih tersegel?” sambungnya.
Flo mengepalkan kedua tangannya merasa kesal dengan sikap Lani terhadap dirinya, sudah sejak lama mama tirinya itu memang tidak pernah suka dengannya dia bertahan karena kebaikan Tiara dan juga papa tirinya.
”Baiklah jika demikian, aku tak perlu lagi memperjelasnya bukan? Mulai sekarang kita jalan sendiri-sendiri karena jalan kita memang berbeda,” ucap Flo berlalu meninggalkan Lani yang masih mencerna perkataan Flo.
”Emil sakit, apakah aku harus datang menjenguknya? Tapi darimana uangnya aku sudah tidak memiliki uang lebih karena pengeluaran rumah ini sudah tidak sebesar dulu,” gumam Lani.
Lani berjalan mondar-mandir gelisah bingung apa yang harus dia lakukan mengingat suaminya membatasi pengeluaran uangnya.
”Atau aku jual saja beberapa tas branded dan juga perhiasan mahal pemberian suamiku? Jika aku pergi pasti butuh biaya yang sangat banyak tidak mungkin aku ke sana dengan tangan kosong,” ucap Lani dalam hati.
”Nyonya ada orang di luar,” ucap pembantu rumah tangga yang biasa mengurus rumahnya.
”Siapa?”
”Saya gak kenal Nyonya tapi sepertinya sangat penting karena dilihat dari penampilannya mereka sangat rapi,” jelasnya.
”Siapa ya?” tanya Lani pada dirinya sendiri.
”Tolong minta mereka menunggu.”
”Baik.”
Lani segera mempersiapkan dirinya untuk menemui tamunya.
”Selamat malam pagi Nyonya Lani saya dari pihak bank mau menanyakan tunggakan tagihan yang sudah menunggak selama beberapa bulan yang lalu,” ucap pria berbaju hitam.
”Maaf maksud Anda apa ya tunggakan? Saya tidak merasa meminjamnya?”
”Tapi di sini tertulis jelas atas nama ibu Lani jika tidak percaya kami ada buktinya.” Pria itu pun mengeluarkan berkas tagihan dan perjanjian pinjaman yang ditanda tangani oleh Lani.
Lani shock tumbuhnya gemetar dan jatuh ke sofa, ”Ini tidak mungkin aku sama sekali tidak meminjam apalagi memakai uang ini!” bantah Lani.
”Sebaiknya ibu jelaskan di kantor dengan pimpinan kami, mari ibu ikut dengan kami sekarang!”
Tubuh Lani limbung seketika.
__ADS_1
Yuk mampir Kakak reader semua ke sini, InsyaAllah up setiap hari 🙏