
”Sudah pasti papa dong, benarkan Sayang?” ucap Malik merengkuh pinggang Hana.
”Memangnya aku bilang begitu? Tidak! Kalian ini harus sadar diri masing-masing punya plus minusnya jangan kepedean deh!” seru Hana membuat keduanya terkejut karena ternyata Hana tidak memilih salah satu di antara mereka berdua.
”Ya kami sadar diri kok, udah jangan dilanjutkan nanti ujung-ujungnya pasti berantem deh,” timpal Malik. Dia lebih memilih mengalah daripada Hana cemberut dan mendiamkannya hingga pagi alamat dia tidak bisa bermesraan nantinya.
”Hm, tentu saja Kak Hana bakal milih Bang Malik lah secara suami sendiri. Eh adik sendiri juga dilupain,” ucap Alvin kesal.
”Udah jangan begitu, bukankah tadi kakakmu sudah menilai kita bagaimana ya sudah legowo jangan dibahas lagi,” tukas Malik.
”Kok papa sama om Alvin jadi berantem, hehehe ...” seru Emil menutup mulutnya dengan telapak tangannya khawatir tawanya meledak.
”Udah jangan diladeni Sayang, lebih baik Emil istirahat sebentar nanti habis ashar kalau gak hujan kita jalan-jalan ke taman komplek bagaimana?”
”Ide bagus tapi janji ya jangan sampai lupa,” seru Emil.
”Siap bos kecil,” balas Hana membawa Emil masuk ke kamarnya.
”Tidur dulu ya.” Hana merapikan selimutnya dia sengaja tidak menyelimuti bocah itu karena cuaca panas dan hanya memasang kipas angin yang menggantung di langit kamarnya.
Begitu Hana keluar Malik sudah tidak ada di ruang makan.
”Abangmu kemana Vin?” tanya Hana.
”Oh, Bang Malik sudah berangkat lagi mau ada meeting dia mengira Kak Hana bakal lama di kamar Emil jadi ya gak berpamitan langsung katanya,” balas Alvin.
”Abangmu memang begitu dia gak mau ganggu putranya juga jadi ya sudah lepas landas gitu aja. Kamu bagaimana perasaannya bisa wisuda bareng dengan teman-teman pasti senang kan?” seru Hana.
”B aja deh Kak,” sahut Alvin.
”Loh kenapa lagi nih? bukannya nanti pada akhirnya kalian gak bisa saling bertemu, apa Aisha juga akan pulang ke kampung halaman orang tuanya?” ucap Hana.
”Kak, jangan singgung soal dia ya,” pinta Alvin.
”Kenapa apa kau benar-benar patah hati? Lalu dimana Alvin yang semangat kemarin-kemarin itu, masa hanya karena cinta jadi begini,” cibir Hana.
Alvin terdiam dia sadar semenjak mengenal Aisha hidupnya memang berubah yang menjadikan dia semakin terpuruk adalah pernyataan Bima Sena jika dia akan melamar Aisha bersamaan dengan acara wisudanya pekan depan.
”Kak, kalau dilamar orang yang disukai pasti bahagia ya?” tanya Alvin membuat Hana menatap intens pada adiknya.
”Jadi dia sudah dilamar sama kekasihnya itu, apa dia menerima lamaran tersebut?” jawab Hana.
”Belum Kak, tapi akan dilamar pelan depan saat acara wisuda berlangsung dan Bima sedang mengatur acara lamaran tersebut menjadi sebuah acara yang berkesan buat mereka berdua.”
”Sabar, jika memang belum berjodoh kamu kan masih bisa dapatkan yang lebih baik di luar sana kakak yakin itu kok Vin. Kamu itu harus buktikan jika kau layak mendapatkan itu. Kamu harus ingat kasusku dengan Eric dan bisa lihat bagaimana kehidupan dia sekarang.”
”Kenapa dia Kak?”
”Kehidupannya jauh dari kata tenang karena istrinya Ayu tidak pernah merasakan puas apalagi bersyukur, sampai bayar rumah sakit saja Eric gak bisa.”
”Kamu yang sabar masih banyak gadis di luar sana yang lebih baik dan tentunya carilah yang benar-benar sayang sama kamu.”
__ADS_1
Hana menasehati Alvin agar tidak terjerumus dalam sesuatu yang akan membawanya pada penyesalan di kemudian hari, lebih baik teliti di awal itu lebih baik bukan.
”Kamu gak usah pulang tidur aja di sini toh di rumah juga gak ada orang.”
”Gak mau kalau nanti mama sama papa datang bagaimana?” kilah Alvin.
”Jika datang sudah pasti kasih pesan, kan biasanya mama begitu kalau datang ke Jakarta.”
”Benar juga sih, nanti lah Alvin pikir-pikir lagi.”
”Tuh mendung kau lihat kan bentar lagi hujan!”
Alvin melongok keluar gerimis kecil tengah sudah mulai. ”Gerimis Kak.”
Hana segera memasukkan kandang Bony agar tidak basah dan segera mengunci semua pintu.
***
”Bang, kamu gak kasih aku hadiah atau apa gitu?” Sabrina datang ke ruangan Malik.
”Memangnya kamu ngapain minta hadiah?” balas Malik.
”Astaga Bang, adikmu ini baru saja menikah bahkan kau sama sekali tidak datang menjadi saksinya.”
”Ya ampun Sabrina bukannya Abang gak mau datang tapi karena keadaan Abang yang memang sedang repot dan tidak bisa hadir. Memangnya kamu mau hadiah apa?” ucap Malik pada akhirnya dia tidak tega pada adik satu-satunya.
”Tiket PP ke Maldives Bang,” ucap Sabrina.
”Iya soal itu Faris sudah menjelaskannya padaku tempo hari,” ucap Sabrina.
”Nah dia aja tahu, aku masih butuh bantuannya masa aku harus memberinya cuti sedangkan aku sibuk gak ada yang bantu, tunggu semua berjalan normal ya. Kamu jangan beranggapan jika abang tidak kasih ijin pada Faris mengerti!”
”Baik Bang, bagaimana keadaan mbak Hana?”
”Ya Alhamdulillah dia tidak rewel seperti awal mula dia tahu jika sedang hamil.”
”Syukurlah mama sempat khawatir dengan keadaannya kemarin, mbak Hana seakan tidak mau peduli jika dia tengah hamil malah bantuin Abang di kantor.”
”Ya namanya juga suami istri ya wajib saling bantu, bukannya kamu juga begitu sama Faris!”
”Ya begitulah.”
”Bang ini laporan yang kau butuhkan,” seru Faris begitu masuk ke ruangan Malik.
”Gsk istri, gak suami kalau masuk ke ruangan orang suka mengagetkan orang!” sahut Malik.
”Eh? Kamu sejak kapan di sini kok gak bilang-bilang kalau mau datang?” tanya Faris bukannya memberikan laporan yang ada di tangannya Faris justru menghampiri Sabrina.
”Ish, kalian ini kenapa justru malah bermesraan di ruanganku, pergi sana!” usir Malik.
”Nah lihatlah Abang cemburu dengan kita kan?” sindir Faris.
__ADS_1
”Tidak, aku sama sekali tida cemburu pada kalian.”
Faris menghampiri Malik dan menyerahkan berkasnya pada Malik.
”Bang, aku mau libur seminggu boleh ya?”
Kedua netra Malik membulat mendengarkan permintaan Faris tersebut.
”Kalian mau kemana, satu minggu itu lama Faris!”
”Kami mau honeymoon Bang.”
”Tidak bisa! Kalian boleh honeymoon nanti setelah pekerjaan sedikit berkurang aku sedang kekurangan tenaga tapi kalian malah mau pergi!”
”Ya honeymoon kan seumur hidup sekali Bang!” kilah Sabrina.
”Astaghfirullah Dek!” Sabrina tercekat mendengar Malik sudah memanggilnya dengan sebutan ’Dek’ itu artinya tidak bisa dibantah lagi.
”Maaf,” lirih Sabrina.
”Namanya honeymoon gak harus habis nikah langsung pergi, kalian bisa lakuin honeymoon di rumah setiap saat malah lebih bebas karena gak ada orang yang melihatnya.”
”Sudah jangan dilanjutkan bukankah tadi di rumah aku sudah bilang jika aku sedang sangat sibuk karena pekerjaan sedang menumpuk,” ucap Faris memberikan penjelasan pada Sabrina.
”Bang Malik memang egois!” Sabrina berlalu dari ruangan Malik.
”Duh kayak anak kecil sekali, semoga kau betah bersama dengannya,” ucap Malik.
”Tentu saja betah kan kami sudah nikah.”
Malik menggelengkan kepalanya, "Sudah menikah belum jaminan untuk tidak bisa berpisah Faris. Di luar sana banyak kok pasangan yang udah menikah lalu berpisah karena alasan yang sebenarnya sejak awal sudah mereka ketahui.”
”Doakan yang terbaik untuk kami berdua Bang dan tak akan ada perpisahan selamanya.”
”Ponselmu Bang!” Faris menunjuk pada ponsel Malik yang bergetar.
”*Hallo ada apa Vin?”
”Bang Malik segera ke rumah sakit ya, Kak Hana jatuh.”
”Apa? Rumah sakit mana?”
”RS Harapan Sehat*.”
Bip.
Malik segera mengambil kunci mobilnya dengan terburu-buru membuat Faris ikut kebingungan.
”Apa yang terjadi Bang?”
”Hana masuk rumah sakit!”
__ADS_1
”Apa?”