Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
57. Emil Sekolah


__ADS_3

”Bang boleh ya aku pergi dengan Indah besok siang,” ucap Hana meminta ijin pada Malik.


Malik yang sedang fokus membaca dan bersandar di bahu ranjang pun mengalihkan perhatian pada Hana.


”Kamu mau ke mana?” tanya Malik melepaskan kaca matanya.


”Hana pengen beli peralatan baby Bang,” sahut Hana.


”Kamu mau pergi membeli semua itu gak ajakin aku, memangnya siapa papanya Abang atau Indah teman kamu itu?” ucap Malik meletakkan bukunya di atas nakas.


Hana pun naik ke ranjang menatap ke arah Malik.


”Bang,” panggil Hana.


”Mm.”


”Kalau sama Abang perginya nanti ganggu pekerjaan dan lagi Abang bukanya lagi banyak pekerjaan karena kasus tempo hari yang membuat perusahaan merugi?”


”Iya Abang tahu itu, maka dari itu Abang ingin nanti saja waktu Abang longgar baru pergi.”


”Jadi Abang gak ijinkan Hana pergi nih?” Hana merajuk ada Malik.


”Boleh pergi tapi dengan syarat!”


”Apa itu?”


Hana masih setia dengan jawaban yang akan diucapkan oleh Malik dan sepertinya Hana memang kurang peka membuatnya terkejut saat Malik sudah ada di depannya.


”A-abang ... bikin kaget saja.” ucap Hana gugup.


”Abang gak minta apapun kok cukup kamu kasih ijin buat Abang jenguk baby, kamu boleh pergi besok,” bisik Malik dengan cepat Malik menarik selimutnya dan mematikan lampunya dia tidak mau melewatkan kegiatan olahraga malamnya yang sudah beberapa pekan dia tahan karena takut menyakiti Hana.


”Aku akan pelan Sayang,” bisik Malik keduanya pun hanyut dalam kenikmatan dan tersenyum bahagia pertanda puas dengan kegiatan yang dilakukannya.


Pagi menjelang Malik sudah siap karena pagi ini dia akan mengantarkan Emil lebih dulu ke sekolahan.


”Aku ikut ke kantor sekarang ya, kita antar Emil bersama-sama,” ucap Hana.


”Kamu yakin mau ke kantor apa gak takut kecapekan?” sahut Malik.


”Gak, aku janji gak kan buat abang khawatir.”


”Baiklah, tapi gak boleh pegang pekerjaan apapun mengerti!” Malik merapikan dasinya bersiap untuk sarapan.


”Pagi Bik, Emil di mana kenapa belum ada di sini?” tanya Malik melihat kursi putranya masih kosong.


”Tuh dia masih di samping rumah bermain sama Bony, bibik udah tegur dia buat siap-siap ke sekolah tapi sepertinya dia gak mau dengar ya udah,” jelas Bik Surti.


Malik menarik kursinya dan bangkit mendekati Emil.

__ADS_1


”Ehem, ga jadi sekolah nih ceritanya?” Emil mendongak mendengar suara Malik.


”Gak mau kalau mama gak ikut?” balas Emil.


”Siapa gak ikut?” Keduanya pun menoleh ke belakang Hana sudah bersiap.


”Mama akan ikut antar kamu ke sekolah, ayo segera ganti bajunya!” ucap Hana membuat Emil bersemangat.


”Asyik ... ini yang Emil tunggu sejak tadi papa gak peka sih. Emil ganti baju dulu ya Ma,” balas Emil segera berlari ke kamarnya mengganti pakaian yang sudah disiapkan oleh Hana sejak semalam.


”Anak itu lebih menurut sama kamu daripada papanya,” ujar Malik.


”Hem, sepertinya Abang cemburu AA itu benar?” goda Hana.


”Tidak juga, ayo kita tunggu dia di meja makan!” Malik merangkul bahu Hana membawanya ke meja makan.


Mobil yang dikendarai Malik pun berhenti tepat di depan sekolah. Malik membuka pintu mobilnya membawa Emil dan Hana keluar.


”Ayo masuk!” Malik menggandeng keduanya.


”Nanti yang jemput Emil siapa?”


”Papa.”


”Mama.”


Keduanya menjawab bersamaan. ”Memangnya kalian gak sibuk?”


”Asyik ... kau memang yang terbaik! I love you!” seru Emil.


”Hanya papa saja mama gak?” Hana cemberut mendengar pengakuan Emil.


”Tentu saja Emil juga sayang sama mama, I love you too!” sahut Emil.


”Good boy!” Hana merapikan pakaian Emil dan menitipkan Emil pada Miss Nina wali kelas Emil.


”Kita langsung ke kantor ya.” Hana mengangguk singkat.


***


”Bagaimana keadaan istri saya Dok?” tanya Eric yang cemas dengan keadaan Ayu yang baru saja mengalami pendarahan hebat.


”Dia sudah melewati masa kritisnya dan operasi berjalan lancar, silakan Anda ke bagian administrasi kami akan membawa bayi Anda ke ruang perawatan bayi. Selamat bayi Anda perempuan untuk sementara biarkan ibunya berisitirahat hingga dia sadar.”


Eric bersimpuh bersyukur karena istri dan anaknya selamat dan kebingungannya adalah bagaimana dia membayar biaya rumah sakit yang tentunya tidak sedikit.


”Maaf Bu, apa ibu punya simpanan uang?” tanya Eric to the point ada ibunya.


”Tidak ada, uang udah ibu serahkan padamu untuk modal jualan bakso tapi justru kau pergi dan tidak memanfaatkannya dimana kurangnya ibu Nak?” ucap Dewi menahan sesak.

__ADS_1


”Maafkan Eric Bu, Eric tidak bisa dibanggakan bahkan istri dan anak sendiri pun terlantar!”


”Itu karena kau tidak bisa bersyukur dengan apa yang kau miliki Nak,” ucap Dewi.


”Semua berawal dari keserakahan dirimu jika saja kau tidak berselingkuh hal ini tidak akan terjadi, ini adalah balasan dari apa yang kau perbuat.”


Eric menangis menyesal? Mungkin?


”Sekarang sebaiknya kau benar-benar memperbaiki dirimu sebelum semuanya terlambat!”


Eric melangkah gontai menuju ke tempat administrasi rumah sakit.


”Maaf Sus, boleh saya tahu rincian pembayaran buat istri saya?”


”Nama istri bapak siapa ya?”


”Ayu Wardhani.”


”Sebentar ya Pak saya cek dulu.”


Pegawai tersebut pun mengeceknya dan segera memberitahukan pada Eric.


”Ini Pak totalnya mohon segera dilunasi ya, agar pasien bisa secepatnya dibawa pulang saat kondisinya benar-benar pulih. Terima kasih.”


Eric memeriksa selembar kertas kecil dan melihat jumlah yang tertera di sana.


”Astaghfirullah,” lirih Eric mengusap wajahnya kasar melihat nominal yang tertera di kertas tersebut.


”Darimana aku mendapatkan uang sebanyak ini?” gumamnya.


Eric segera berlari menuju ke ruang rawat istrinya. ”Bagaimana?" tanya Dewi.


”Jumlahnya lumayan banyak Bu, darimana aku dapatkan uang sebanyak ini,” balas Eric.


”Memangnya berapa yang dibutuhkan?”


”Kurang lebih tujuh belas juta Bu,” ucap Eric.


Dewi lemas seketika bagaimana putranya bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan dia sendiri tidak bekerja.


”Ibu sama sekali tidak memiliki uang sebanyak itu Nak,” sela Dewi.


”Pekerjaan Eric juga sedang bermasalah Bu, pihak ekspedisi menangguhkan gaji karena pihak penerima tidak mau membayar barang yang sudah rusak. Sudah beberapa kali Eric menagihnya tapi belum ada kejelasan akan gaji yang belum diterima.”


”Bu, bagaimana jika Eric menggadaikan sertifikat rumah ibu buat jaminan hutang. Eric janji akan menebusnya setelah mendapatkan pekerjaan lagi.”


”Tidak, ibu tidak setuju Nak. Rumah yang kita tempati adalah peninggalan ayahmu tidak mungkin ibu menjualnya nanti kita akan tinggal di mana?”


”Kita tidak menjualnya Bu, hanya menggadaikannya saja Eric janji akan segera mengambilnya kembali. Apakah ibu tega melihat Ayu dan cucu ibu berada di rumah sakit karena tidak bisa membayar uang perawatannya?”

__ADS_1


Bu Dewi terdiam dirinya bingung antara benci dan iba.


”Ya Allah, aku harus bagaimana? Apakah Eric bisa berubah setelah ini?”


__ADS_2