Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
118. Karena Bakso


__ADS_3

Hana pulang diantar Mang Tejo setelah sebelumnya menjemput Emil di rumah Maryam, belakangan ini anak itu lebih sering main di sana bersama dengan Lala nama panggilan sayangnya untuk adik perempuannya itu, anak dari Sabrina dan Faris.


”Mama bawa apa kok sepertinya berat? Sini Emil bantuin boleh?” tawar Emil.


”Gak perlu Nak, mama bisa bawa sendiri kok.” Hana kasihan dengan Emil jika harus membawanya karena memang bakso pemberian Eric cukup berat.


Hana segera mengganti pakaiannya dan melihat ke arah Aydan yang tidur nyenyak tidak biasanya dia seperti itu, apa mungkin dia sedang sakit. Hana mendekatinya dan memeriksa keningnya. ”Tidak panas.”


Hana ke dapur memasak bakso yang dia dapat dari Eric dan mengolahnya agak banyak agar pegawainya juga ikut kebagian. Rita yang melihat itu tentu saja terkejut karena baru kali ini Hana memasak begitu banyak padahal sedang tidak ada kegiatan apapun di rumah.


”Ini buat siapa Nak? Kenapa banyak sekali?” tanya Rita menghampiri putrinya.


”Dimakan bersama Ma, nanti biar Bik Surti yang bagi. Ini bakso pemberian Eric yang dia titipkan sama adiknya di kantor.”


Rita mengangguk, ”Memangnya Eric benar-benar mampu menjalankan bisnisnya sehingga banting setir dengan jualan seperti ini.”


”Jangan meremehkan dia Ma, siapa tahu dia benar-benar ingin berjuang kembali dari nol karena yang aku lihat dia itu serius.”


”Hem, ada bau-bau pembelaan nih ceritanya.”


”Tidak juga sih Ma, karena yang aku lihat dia memang sedang serius nyatanya dia itu berani ambil modal dengan meminjam ke pihak Bank adiknya jadi jaminan karena bekerja di perusahaannya Bang Malik.”


”Ya sudah semoga dia benar-benar belajar dari kesalahannya, sepertinya enak nih.” Rita membawa semangkok bakso ke meja makan.


Bik Surti dan Mang Tejo pun ikut membagikan bakso tersebut ke pos satpam makan bersama beberapa orang pekerja lainnya.


”Mama,” teriakan Emil mengagetkan Hana dan Rita dengan segera Hana berlari ke kamar dia terkejut melihat Aydan sudah bangun dan sedang melangkah step by step di lantai.


”MasyaAllah kau mengagetkan mama Sayang,” ucap Hana memeluk Aydan dia tidak menyangka jika bayi yang dia lahiran sudah bisa berjalan meskipun baru beberapa langkah dan itupun pelan-pelan.


”Ma, tadi Emil lihat adek tuh turun dari tempat tidur lalu jalan-jalan sendiri,” seru Emil.


”Baiklah lain kali mama akan lebih hati-hati lagi menaruhnya, makasih ya Bang udah kasih tahu mama,” ucap Hana.

__ADS_1


”Yuk kita turun, Oma lagi makan bakso kamu mau kan?” tawar Hana pada Emil.


Dengan cepat Emil turun dari ranjang dan mengikuti langkah Hana.


”Apa yang terjadi?” Rita mengambil alih Aydan dari gendongan Hana membiarkan putrinya menikmati bakso yang belum sempat dia nikmati.


”Aydan, dia sudah bisa berjalan sendiri tapi ya itu bikin khawatir orang saja,” tutur Hana.


”Sebaiknya kau tidur di bawah saja, terlalu rawan jika dia di atas dan lagi jika tidak ada yang menjaganya kan berbahaya,” sahut Rita.


”Mama benar, nanti biar Hana minta Bang Malik untuk memindahkan barang-barang miliknya ke kamar tamu.”


”Abang mau nambah?” tanya Hana. Emil hanya menggeleng.


***


”Bagaimana apa kau sudah memberikan bakso titipanku pada Hana?” tanya Eric yang sejak tadi menunggu kepulangan Bayu adiknya.


”Benarkah, soal apa?” Eric semakin ingin tahu dirinya seakan kembali jatuh cinta pada mantannya itu.


”Ya dia seakan tidak percaya saja jika Mas Eric benar-benar mau berubah menjalankan bisnis bakso di rumah.”


”Lakukan seperti apa yang aku minta mengerti! Aku ingin kembali mendapatkan simpati darinya, semoga aku bisa mengambil kembali hatinya.”


”Tapi jangan libatkan aku, Mas. Karena aku tidak mau disalahkan, aku ingin fokus berkarir dan mendapatkan penghargaan yang layak atas kerja kerasku sendiri bukan dari hasil menipu seperti kasusnya Mas Eric dulu di perusahaan itu.”


Eric cukup kesal dengan apa yang dikatakan oleh Bayu adiknya bisa-bisanya dia menilai dirinya begitu buruk padahal dia melakukan itu pun juga untuk melunasi hutang Dewi mamanya dan kebutuhan kuliahnya dulu karena Dewi tidak bisa sepenuhnya membayar biaya kuliahnya. Apa ini yang namanya air susu dibalas air tuba, apakah Bayu lupa bagaimana dia ikut berjuang mencarikan biaya agar bisa seperti sekarang ini.


”Kamu ini apa tidak bisa berpikir dulu sebelum berbicara? Apa kamu lupa untuk siapa dulu aku bekerja keras banting tulang itu juga buat membiayai kuliahmu dan sekarang setelah kamu jadi orang justru malah melemparkan hinaan padaku, inilah balasanmu pada kakakmu ini?”


Bayu merasa bersalah dengan ucapannya tapi mau bagaimana lagi dia sudah lelah selalu disuruh olehnya untuk mengawasi pergerakan kegiatan di kantor bosnya Malik.


Bayu seakan bukan Bayu yang dulu, yang kalem dan tidak banyak bicara. Selama di kantor Bayu banyak bicara hanya untuk mencari informasi tentang perusahaan tempatnya bekerja.

__ADS_1


”Besok kamu bawakan lagi bakso itu untuk Hana jika dia menolak desak terus hingga dia mau menerimanya.”


Bayu tidak menjawab diam itu yang dia lakukan karena dia sendiri tidak dapat menolaknya tapi di sisi lain dia merasa malu jika terus menerus membawa makanan tersebut ke kantornya. Dia bekerja menjadi staf administrasi di bawah pimpinannya Alvin masa iya setiap hari membawa bakso. Ingin marah pada Eric tapi bayi tidak berani mengambil resiko, dia khawatir Dewi kembali jatuh sakit jika mendengar perubahan sikap Eric belakangan ini.


Di kantor.


Malik dan Hana tergesa-gesa masuk ruang meeting dirinya, semua staf yang ada di sana kebingungan karena tidak biasanya bosnya memanggil mereka di pagi hari.


”Perhatian semuanya.” Suara Malik menginterupsi beberapa karyawannya yang sedang asyik membahas pertemuan kali ini.


”Siapa di antara kalian yang suka membawa makanan saat berkerja? Saya mendapatkan laporan jika ada karyawan yang membawa makanan lalu membusuk di bawah meja kerjanya.”


Hana terkejut begitu juga yang lainnya. ”Saya sama sekali tidak melarang kalian membawa makanan tapi jangan lupa untuk membuangnya dan makan di jam istirahat bukan di jam kerja jangan mengurangi jam kerja kalian hanya dengan makan, bukankah saya memberikan waktu untuk istirahat,” seru Malik.


”Pak Doddy sekuriti yang menemukan bau busuk di ruangan sebelah dekat gudang saat dia sedang berpatroli. Makanan tersebut sudah rusak dan baunya sangat menyengat sekali. Siapa di antara kalian yang membawa makanan silakan mengaku saya tidak akan menghukum tapi setidaknya kalian jujur dan tolong jangan diulangi lagi karena saya tidak suka,” ucap Malik penuh ketegasan.


Semua karyawan yang ada di dalam ruangan tersebut diam. ”Oke jika tidak ada yang mengaku saya akan mengecek CCTV nantinya jika memang malu silahkan ke ruangan saya.”


Malik pun membubarkan meeting tersebut dan masuk ke ruangannya entah kenapa Hana justru mengikuti suaminya membuat Malik terkejut karena Hana berada di belakangnya.


”Astaghfirullah kau mengagetkan diriku, ada apa?” Malik menarik tangan Hana duduk di sofa.


”Kenapa Abang gak cerita sama Hana sebelumnya tentang kasus ini.”


”Maaf Abang saking capeknya semalam, begitu pulang dari puncak pun tak sempat makan langsung istirahat. Berita ini juga baru Abang dapatkan pagi ini dari Faris.”


”Memangnya makanan apa yang ditemukan Pak Doddy, Bang?”


”Sepaket bakso yang sudah membusuk di bawah meja kerja milik salah satu staf administrasi.”


”Apa bakso?” Hana terkejut mendengar pengakuan Malik.


”Kenapa kamu begitu shock apa kau tahu siapa yang membawanya?”

__ADS_1


__ADS_2