Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
129. Tertangkap


__ADS_3

”Assalamu’alaikum Ma, bagaimana keadaan Hana?”


”Waalaikumussalam, dia sedang istirahat. Siapa yang memberitahukan kamu kabar tentang Hana?”


"Anton. Dia memberiku kabar satu jam yang lalu.”


”Ya ampun, mama tidak mengerti apapun dan dikasih tahu mama mertuamu jika Hana kecelakaan. Mama langsung ke sini dengan Sabrina.”


”Makasih Ma, tolong temani dia dulu. Malik usahakan segera pulang.”


”Selesaikan saja pekerjaannya di sana, tak perlu mengkhawatirkannya mama pasti di sini sampai nanti kamu pulang.”


”Kalau begitu Malik tutup teleponnya, sampai jumpa!”


Bip.


”Malik bilang apa?” tanya Rita.


”Dia khawatir dengan keadaan istrinya, Emil baik-baik saja kan?” jawab Maryam.


”Ya dia sedang istirahat di atas.”


”Saya mau lihat dia dulu.”


”Silakan.”


Maryam naik ke kamar Emil mengecek keadaan cucunya yang sedang dalam keadaan tidur dengan lelap. Dia tahu cucunya pasti shock dengan apa yang baru saja dialaminya.


”Oma ... kau datang?” ucap Emil dengan suaranya yang serak.


"Kau bangun, apa kau merasa sakit? Katakan pada Oma!”


”Tidak ada justru Emil kasihan sama mam karena dia yang sakit kepalanya terbentur dasbor buat melindungi Emil tadi.”


”Mama baik-baik saja kok jadi kau tidak perlu khawatir.” Maryam membelai rambut Emil dengan lembut. ”Kau mirip sekali dengan mamamu Tiara.”


”Itu pasti karena aku adalah anaknya meskipun aku tidak pernah melihatnya namun melihat fotonya saja Emil sudah bahagia.”


”Kau benar-benar menggemaskan sekali. Istirahatlah, Oma mau ke bawah dulu lihat mama Hana yang asih ada di sofa.”


”Emil ikut Oma saja ya, Emil bosan di kamar sendirian.”


"Ayo.”


Keduanya pun turun ke ruang tengah melihat keadaan Hana yang ternyata sudah bangun dan sedang duduk di sofa.


”Ma, kau datang rupanya.”


”Bagaimana keadaanmu?”


”Sudah lebih baik meskipun sedikit pusing. Sini Sayang, duduk dekat mama,” pinta Hana menepuk sofa di sampingnya. Emil menurut karena memang dirinya ingin sekali dekat dengan wanita itu.


”Kau ini baik kan?” Emil mengangguk.

__ADS_1


”Apa pelakunya sudah ketemu?” tanya Maryam.


”Belum tahu Ma, karena memang orang suruhan Bang Malik belum memberi informasi lagi. Semoga segera ketemu, aku yakin dia sengaja melakukan hal itu karena kita berdua pun mengemudi dalam keadaan pelan,” jelas Hana.


”Sudahlah mama justru bersyukur kalian baik-baik saja, tadinya mama sempat terkejut dan segera meminta Sabrina pulang ke rumah karena ingin segera ke sini.”


”Sabrina ikut ke sini?” tanya Hana.


”Iya, dia ada di kamar tamu istirahat di sana karena Lala sedang rewel barusan.”


”Ma, Aydan sendiri kemana?” tanya Hana beralih ke Rita.


”Ada sama Untari kamu tenang saja dia aman kok bersama dengannya,” balas Rita.


”Jadi istrinya Alvin juga berada di sini?” sela Maryam.


”Tentu karena tidak mungkin jika dia di rumah sendirian, Jeng.”


”Iya saya faham terlebih dia juga harus belajar mengurus bayi ya siapa tahu segera dikasih momongan dan dia tidak kaget nantinya,” kelakar Maryam.


”Tante bisa saja, target kita masih lama sih Tan, karena kami berdua ingin bersama-sama dulu kayak orang pacaran,” ujar Untari menyela.


”Tidak apa dulu Tante juga begitu dengan papanya Malik,” sahut Maryam.


”Aydan, sini Sayang!” Hana menjadi melow melihat putranya tidak bisa dipegang sendiri hari ini karena kondisinya yang masih pusing.


”Jangan terlalu dipaksa Mbak, biarkan saja dia sama saya dulu Mbak Hana istirahat saja.”


Hana mengangguk meskipun sebenarnya dirinya ingin sekali bermain dengan putranya sendiri.


London.


”Apa semuanya sudah beres?” tanya Malik dengan Alvin yang masih sibuk dengan laptopnya.


”Kurang dikit lagi sih Bang, ada apa? Sepertinya Bang Malik sedang ada masalah yang berat?” tebak Alvin.


”Kau benar dan ini di luar ekspektasi yang sedang terjadi sangat mengejutkan.”


”Apa itu Bang, boleh tahu kan?”


”Kakakmu Hana kecelakaan.”


”Apa? Kenapa bisa begitu? Siapa pelakunya Bang, apa kita mengenalnya?” Alvin sangat khawatir.


”Orang suruhanku sedang melacaknya, aku juga berharap segera selesai masalahnya karena aku sendiri tidak mau jika keluarga ikut dilibatkan dalam masalah yang tidak mereka ketahui akar masalahnya. Sejak awal aku yang salah.”


”Sudah Bang jangan merasa bersalah, semua orang itu punya masa lalu dan kita hanya bisa memperbaiki diri dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi,” ujar Alvin.


”Kau benar tapi tetap saja rasa bersalah pasti ada.”


”Cepat selesaikan yang tertunda segera kirim dan kita balik ke Indonesia, hatiku tidak menentu apalagi setelah mendengar kabar tadi malam.”


”Baik Bang, Alvin akan segera selesaikan pekerjaannya.”

__ADS_1


Malik pun ke pantry hanya untuk meneguk segelas air putih, pikirannya tidak menentu dan hanya tertuju pada Hana istrinya. Ponsel di tangannya bergetar, Malik segera mengambilnya dan menggulir ponselnya.


”Sayang, bagaimana keadaanmu?”


”Baik Bang, Abang kapan pulang?”


”Segera! Abang sedang meminta Alvin mengurus berkas-berkasnya dan harus dikirim hari ini setelahnya Abang akan pulang. Kamu sabar ya, bagaimana dengan anak-anak?”


”Mereka bersama dengan tante-tantenya dan juga mama.”


”Sayang, maafkan Abang ya, karena masa lalu jadi ikut menanggung masalah ini.”


”Sudahlah Bang tak perlu khawatirkan apapun yang penting kita baik-baik saja.”


”Abang tutup dulu ya ada telepon dari Anton, semoga dia kasih kabar seperti yang kita harapkan.”


”Aamiin. Assalamualaikum.”


"Waalaikumussalam.”


Bip.


Malik segera mengalihkan panggilan ponselnya begitu panggilan dari Anton kembali muncul di layar ponselnya.


”Hallo, bagaimana apa sudah ada kabar tentang pria itu?”


”Yang mengemudikan bukan seorang pria melainkan wanita.”


”Apa? Lalu kau kenal siapa dia?”


”Wanita berambut pendek cukup cantik sih, orangnya sudah saya amankan bos!”


”Bisa kau kirimkan fotonya ke sini sekarang!”


"Baiklah saya akan segera mengirimkannya bos, saya akan minta Doni buat mengirimkannya karena saat ini saya masih mengawasi rumah Anda, khawatir hal buruk datang lagi.”


”Baiklah tolong kalian jaga keluarga saya, nanti akan saya berikan bonus tambahan karena telah berhasil menangkap pelakunya.”


”Santai saja bos, itupun juga karena pekerjaan saya yang sudah seharusnya menjaga keselamatan klien.”


”Oke, saya tunggu!”


Bip.


Malik bisa bernafas lega karena sekarang dia telah mengantongi orang yang telah berbuat jahat pada keluarganya. Meskipun dirinya masih bertanya-tanya kenapa pelakunya seorang wanita apakah benar itu adalah Cindy. Malik menggeleng pelan karena tidak percaya dengan pemikirannya sendiri.


”Bang file udah beres, apakah kita harus kirim sekarang?” ucap Alvin membuyarkan lamunan Malik di pantry.


”Astaga kau mengagetkan diriku, segera kirim dan kita bersiap untuk pulang. Hatiku tidak tenang jika belum melihat keadaan kakakmu itu,” seloroh Malik.


Ya dirinya memang tidak tenang bahkan pikirannya selalu saja tertuju pada istrinya. Beberapa saat kemudian ponselnya kembali bergetar notifikasi pesan masuk pun berbunyi. Malik segera membuka ponselnya dan melihat pesan yang masuk, kedua matanya membelalak melihat siapa yang ada di foto itu.


”Ini tidak mungkin,” lirih Malik.

__ADS_1


”Ada apa Bang?”


__ADS_2