Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
81. Nasehat Bang Malik


__ADS_3

Hana segera pulang ke rumah dan begitu sampai ternyata mertuanya sudah ada di sana bersama dengan mamanya.


”Ma, kok ke sini gak kasih kabar?” sapa Hana pada Maryam.


”Tadinya mau ngabarin tapi berhubung Emil juga gak sekolah jadi langsung saja ke sini,” jelas Maryam.


”Kalau mama kasih kabar kan setidaknya Hana bisa siapin makanan kesukaan mama,” sahut Hana nyengir gigi kuda.


”MasyaAllah kamu ini repot ngapain masak segala, mama tahu kok bagaimana repotnya kamu mengurus dua jagoan itu,” ucap Maryam menunjuk pada Emil dan Aydan yang sedang bersama-sama di depan tv.


”Setidaknya kan ada Bik Surti yang bantuin Ma, mama Rita juga ada di sini kok bantuin Hana buat sementara waktu,” ucap Hana.


”Bagaimana tadi dengan Alvin, apakah kamu sudah ketemu sama anaknya?” Rita menghampiri Hana.


”Sudah Ma, mama tenang saja InsyaAllah semua akan baik-baik saja, Hana sudah meminta Bang Malik buat menasehatinya,” ungkap Hana.


”Syukurlah.”


”Ma, ada tamu tuh di depan,” seru Emil tiba-tiba membuat ketiganya menoleh ke arah pintu utama dimana Bik Surti sedang membukakan pintunya.


”Lani, untuk apa dia datang ke sini?” lirih Maryam.


Hana menoleh ke arah mertuanya itu, ”Mungkin beliau butuh bantuan Ma?” tebak Hana.


”Bisa jadi tapi mama gak suka dengan caranya yang seperti itu. Kau awasi saja kedua putramu biar mama yang urus ini.” Maryam segera menghampiri tamunya ke depan Hana dan Rita membawa kedua bocah kecil ke kamarnya, Hana khawatir akan ada pertengkaran dan memilih untuk membawa mereka agar mereka tidak tahu.


Di ruang tamu.


Maryam menatap malas pada Lani karena melihat gelagatnya yang memang menyebalkan. Maryam menyukai Tiara menantunya dulu tapi tidak dengan wanita yang ada di depannya saat ini.


”Ada apa kau kemari Lani?” tanya Maryam.


”Tidak bisakah kau memperhalus pertanyaannya?” balas Lani.


”Maksudmu? Aku sudah bertanya dengan baik-baik dimana letak kesalahannya?”


”Kau seakan mencurigai diriku jika aku datang hanya ingin membuat masalah saja,” ujar Lani.


”Ya fakta sebelumnya memang begitu, kau selalu datang ketika ada masalah atau kau sedang butuh bantuan. Kenapa tidak menemui putraku di kantor saja, apa kau takut akan diusirnya?” ucap Maryam.


”Kau memang benar, aku tidak ingin hal itu terjadi dan lebih memilih untuk datang kesini menemui istrinya, aku pikir dengan menemui Hana aku bisa bicara baik-baik karena kita sama-sama perempuan ... sayangnya aku justru harus bertemu denganmu lebih dulu,” sahut Lani.


”Jadi katakan saja apa kepentinganmu aku akan menyampaikannya pada Hana nanti karena sekarang dia sedang sibuk mengurus kedua putranya,” jelas Lani.


”Dua ... jadi dia telah melahirkan seorang anak? Selamat kalau begitu kedatanganku kesini tidak sia-sia.”


”Apa maksudmu?”

__ADS_1


”Aku ingin tinggal disini karena aku sudah tidak punya lagi tempat tinggal, aku bisa membantunya nanti mengurus rumah dan mengurus anaknya anggap saja aku sebagai pembantu di rumah ini, apakah kau keberatan?”


Maryam tersenyum mengejek pada Lani. ”Jangankan kau orang lain saja Hana tidak mau karena menantuku yang satu ini lebih cerdas mengurus rumah tangganya jadi kau sudah tahu kan jawabannya silakan pulang dan tolong jangan ganggu kehidupan putraku karena semua sudah berubah kau bukan lagi mertuanya. Jadi tolong jangan mengurusinya lagi, Malik tahu yang terbaik untuknya.”


”Aku akan menunggu Hana keluar karena yang berhak memutuskan adalah dia bukan kamu!”


”Kau pikir dia akan tersentuh dengan ceritamu, tidak apapun yang kau ucapkan keputusannya tetap pada suaminya Malik putraku,” ucap Maryam penuh penekanan.


”Apa yang dikatakan oleh mama Maryam benar, maaf jika saya tidak bisa membantu Anda karena bagaimanapun yang berhak mengambil keputusan itu adalah Bang Malik saya sebagai istrinya tidak berhak untuk ini,” sambar Hana.


”Kamu ... apakah kamu tidak tahu kontribusinya putriku sebagai istrinya Malik dulu, jangan asal dalam berkata jika tidak tahu apapun. Tiara lebih dulu mengisi hatinya Malik daripada kamu!”


”Maaf, almarhumah mbak Tiara hanyalah masa lalunya Bang Malik dan saya adalah masa depannya, saya menghargai dia dengan merawat putranya dengan baik jadi tolong jangan membuat keributan di rumah ini karena kedua putraku sedang istirahat!” ujar Hana.


Lani terdiam mendengar perkataan Hana dia tidak mengira jika Hana bisa secerdas itu.


***


”Pak Alvin diminta ke ruangannya Pak Malik sekarang!” ucap Indah.


"Baik, apa sekarang mbak Indah sekarang beralih profesi jadi sekretarisnya?” canda Alvin.


”Tidak tadi kebetulan saja ketemu di bawah saat istirahat jadi beliau berpesan jika sudah sampai di lantai ini diminta segera memberitahukan kamu,” balas Indah.


”Aku balik kerja.”


Tanpa berpikir lagi Alvin segera ke ruangan kakak iparnya.


Tok ... tok ... tok ...


”Masuk!”


”Bang, ada apa memanggilku?”


”Duduklah!”


”Kalau begitu aku ke lobi dulu sekarang Bang,” pamit Faris yang juga sedang berada di sana.


Malik mengangguk setelah Faris keluar barulah dia beralih pada adik iparnya Alvin.


”Apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan?”


”Maksudnya apa ya Bang?”


”Kakakmu sudah memberitahukan semuanya, apa yang kau lakukan selama ini bukanlah tindakan yang benar.”


”Soal hubunganmu dengan Angela, kenapa kau tidak mendekatkan mereka berdua siapa tahu hati mama jadi melunak melihat ketulusannya. Itupun jika kau benar-benar mencintainya,” lanjut Malik.

__ADS_1


”Aku khawatir Bang, karena awalnya mama memang tidak suka dengan dia dengan alasan pekerjaannya,” jelas Alvin.


”Maka dari itu dekatkan mereka berdua, buktikan jika pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang kotor selama Angela tidak melakukan sesuatu yang melanggar norma yang berlaku kenapa mama harus menolaknya,” papar Malik.


”Ayolah kau ini sudah dewasa sudah seharusnya kau bisa berpikir lebih cepat dan kamu masih punya kerabat jadi setiap tindakanmu setidaknya harus meminta pendapat dari mereka, jangan berprinsip kau tidak butuh apalagi melupakannya.”


”Sebenarnya Alvin takut Bang,” ucap Alvin.


”Apa yang kau takutkan? Semua keluarga mendukungmu, baik orang tua maupun kakakmu lalu apalagi yang kau takutkan?”


”Keluarga Angela.”


”Alvin, jangan pernah memaksakan sesuatu jika kau tidak yakin bisa melakukannya karena ada akhirnya keraguan hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”


”Baiklah makasih Bang atas nasehatnya, Alvin akan memikirkannya kembali.”


Alvin pun beranjak dari duduknya.


”Pulanglah ke rumah jangan pernah datang ke apartemen orang apalagi itu seorang wanita dan tinggal bersama kau tahu kan yang ketiga siapa?”


”Tapi Bang ... ”


”Gak ada tapi tapian apa kamu gak sayang dengan mama yang setiap hari khawatir dengan kondisi putranya, jadilah anak yang baik!”


Alvin hanya memberi kode ’oke’ dengan jarinya lalu keluar dengan hati sedikit gundah bagaimana tidak gundah karena dia belum siap berpisah dengan Angela.


’Angela calling ... ’


”Duh baru aja dibicarakan udah calling, astaga bagaimana ini,” ucap batin Alvin.


”Hallo ada apa kau menghubungiku?”


”Hallo, maaf ini dengan temannya mbak Angela?”


”Iya saya sendiri, ini siap ya?”


”Mbak Angela ada di rumah sakit Citra Medika sekarang tolong Anda segera datang karena riwayat ponselnya yang sering dihubunginya adalah nomor Anda.”


”Baik saya segera kesana sekarang.”


Bip.


Alvin segera berbalik ke arah lift dan pergi begitu saja tanpa meminta ijin lebih dulu pikirannya tidak menentu kenapa kekasihnya ada di sana!



Visualnya Angela Kak reader.

__ADS_1


__ADS_2