
”Angela,” lirih Malik dia cukup terkejut melihat gadis itu ada di kantornya sepagi ini.
”Maaf Pak Malik saya tidak membuat janji lebih dulu,” ucap Angela.
”Ada apa Angela, sepertinya kerjasama kita sudah selesai.”
”Benar, saya ke sini ingin melamar pekerjaan apakah di sini ada lowongan kerja buat orang seperti saya?”
Malik mengernyitkan alisnya, ”Untuk saat ini tidak ada karena memang saya sedang membatasi bahkan memangkas jumlah karyawan di beberapa bagian. Bukankah kamu sendiri banyak job pemotretan?”
”Ya tapi ... ”
”Saya tahu kamu ingin dekat dengan Alvin kan?” ucap Malik.
Angela mengangguk, ”Darimana Pak Malik tahu?”
”Ya karena Hana istri saya cerita banyak tentang adiknya itu,” sahut Malik.
”Astaga saya hampir lupa jika Alvin itu adik iparnya Pak Malik, maaf.”
”Tidak masalah, mungkin kamu bisa cari pekerjaan di tempat lain saja,” saran Malik.
”Baik kalau begitu saya permisi dulu," pamit Angela dia keluar bertepatan dengan Alvin yang baru saja masuk ke lobi.
”Angela,” panggil Alvin.
”Ngapain kamu ke sini?” tanya Alvin.
”Aku baru saja bertemu dengan Pak Malik menanyakan lowongan kerja, ya barangkali ada kerjaan buatku biar aku bisa dekat denganmu.”
”Ck! Sebaiknya kamu pulang saja dan diam di apartemen, jika kamu butuh uang kamu bisa memintanya padaku.”
”Aku tidak membutuhkan uangmu aku hanya ingin dekat denganmu jadi aku pikir dengan melamar pekerjaan di sini aku bisa selalu dekat denganmu.”
”Sudahlah sebaiknya kamu cepat pulang nanti sore aku akan datang ke apartemen oke!”
”Baik aku menunggumu.”
Angela pamit setelah mengecup pipi kanan Alvin membuat pria itu terkejut karena Angela sudah berani seperti itu di depan umum dan hal ini membuatnya sedikit malu karena banyak orang yang melihat terutama Untari.
Tunggu untuk apa gadis itu datang ke sini?
Alvin kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, namun langkahnya terhenti begitu Malik memanggilnya.
”Ada apa Bang?"
”Ikut ke ruangan Abang sekarang!” titah Malik.
Dengan malas Alvin pun mengikuti permintaan kakak iparnya itu.
”Apa yang terjadi Bang?”
"Apa yang terjadi kau bilang? Astaghfirullah Alvin bagaimana Abang harus memberitahukan dirimu tentang perilakumu itu, kau lihat bagaimana Angela mencium kamu tadi di depan orang banyak, kamu gak malu?”
Alvin terdiam, ”Tentu saja malu Bang.”
”Lalu kenapa kamu tidak marah padanya tapi sebaliknya kamu tampak begitu menikmatinya,” seru Malik.
__ADS_1
"Jika sampai kakakmu tahu dia pasti akan marah.”
”Kalau begitu tolong jangan kasih tahu dia ya Bang!”
”Ck! Kau lupa memangnya hanya Abang saja di sini yang memiliki mata, Alvin kau harus tahu diri dan juga menjaga nama baik keluargamu apalagi kakakmu dia sangat berharap kau bisa berubah!” seru Malik.
”Alvin akan tetap jadi Alvin Bang, mau berubah jadi seperti apa? Super Hero? sekarang udah gak jamannya lagi,” sahut Alvin.
”Terserah kau saja, sudah sana balik lagi kerja!" usir Malik.
Alvin pun keluar namun kembali berbalik.
”Bang.”
”Apalagi,” ucap Malik sedikit menahan kesal.
”Apa benar gak ada lowongan kerja?”
"Gak ada.”
”Bang, Untari udah datang bawa berkas lamarannya lengkap dia sudah menunggu di lobi,” seru Faris tanpa melihat situasi.
”Suruh dia ke sini.”
”Baik.” Faris berbalik keluar dan melihat iba pada Alvin pasti ada masalah lagi dengannya.
"Bang Malik bohong ya, katanya gak ada lowker tapi kok dia yang baru Abang kenal beberapa hari langsung diterima,” keluh Alvin.
”Dia itu melamar sebelum lowker Abang tutup jadi gak ada yang salah dengan lamarannya dong!”
”Abang pilih kasih!” Alvin segera pergi meninggalkan ruangan Malik.
”Maaf Pak Malik, ini surat lamaran kerjanya tolong bapak periksa lagi,” ucap Untari.
”Letakkan saja di meja mulai besok kamu bisa mulai bekerja di bagian admin ya,” ucap Malik.
”Kalau begitu saya permisi Pak.”
”Silakan.”
Malik kembali dalam posisi diam, dirinya kembali kesal mengingat sikap Alvin kenapa dia menjadi kekanak-kanakan sekali sekarang.
”Sudah jangan terlalu dipikirkan yang penting pekerjaannya beres kan? Siapa tahu dengan kedatangan pegawai baru dia bakal lupa dengan si model panas itu,” ucap Faris.
”Apa maksudmu dengan model panas?” selidik Malik.
Faris menyerahkan tabletnya di sana tertulis artikel tentang kisah Angela yang sedang kabur menghindar dari masalah keluarganya.
”Astaghfirullah beruntung kamu cepat mendapatkan kabar ini, aku akan ke ruangannya dulu untuk mengkonfirmasi berita ini, semoga dengan ini dia segera sadar.”
Malik keluar menuju ruangan Alvin dengan tergesa-gesa.
***
”Ngapain kamu ke sini?”
”Ya cari kerjaan memang mau ngapain? Aku juga bukan anak sultan yang bisa diem ATM bisa full sendiri.”
__ADS_1
”Kirain mau gangguin suami orang, secara kamu cantik,” sindir Alvin.
”Mana mungkin aku gangguin suami orang, yang ada kamu kali gangguin anak orang! Dah lah aku mau balik besok aku harus kerja di sini jadi sampai ketemu besok pagi di lobi,” seru Untari.
Giliran Alvin yang bungkam, apa katanya tadi kerja, ketemu di lobi, jadi kerjaannya di bagian admin depan.
”Ya ampun kuliah jauh-jauh hanya buat jadi admin lulusan SMA juga bisa kali,” lirih Alvin.
”Dia kuliah bukan untuk cari kerja niatnya cari ilmu agama bekal dia di dunia dan akhirat, jadi jangan salahkan ijasahnya apa,” sahut Malik yang mendengar perkataan Alvin.
”Ada apalagi Bang?” Alvin berbalik.
”Berikan ponselmu dan buka sekalian!” titah Malik.
"Buat apa?” Alvin merogoh ponselnya di kantong lalu memberikannya pada Malik.
"Nanti kau juga akan tahu sendiri,” ucap Malik langsung membuka aplikasi dan mencari berita terbaru yang sedang beredar lalu mengembalikan lagi ponsel tersebut pada pemiliknya.
”Baca dulu semoga sampai di sini kau faham.”
Malik segera pergi meninggalkan Alvin.
Berita yang beredar cukup membuat Alvin shock karena memang desas-desus itu sudah berhembus lama dan sekarang naik kembali karena suatu hal.
***
”Sayang Abang pulang, kamu di mana?” teriak malik.
”Lagi di taman belakang Den main sama Emil dan Aydan,” seru Bik Surti yang mendengar teriakan majikannya itu.
”Astaga sudah sore loh Bik, apa di sana gak ada nyamuk?” ujar Malik.
”Meskipun ada gak sebanyak dulu Den, wong Non Hana sesibuk apapun dia mau bersih-bersih bantuin Mang Tejo di kebun.”
”MasyaAllah istriku super aktif ya Bik!”
”Ya begitulah Den, harusnya Den Malik bersyukur karena dia gak pernah komplain soal apapun dia itu orangnya diam gak banyak omong.”
”Ya udah kalau gitu Malik tak ke kebun belakang saja ya Bik,” ucap Malik.
di kebun Hana sedang menyuapi Emil dan memberikan sedikit mainan pada Aydan kadang mereka bertiga sama-sama tertawa bersamaan.
”Duh mama gak asyik masa hanya Emil saja yang makan!” protes Emil.
”Lah kan memang kamu yang lapar masa adikmu mau kamu kasih nasi juga mana boleh, dia belum bisa makan nasi.”
”Sayang,” panggil Malik.
”Sudah pulang Bang?” Hana mencium tangan Malik.
”Ada berita tak sedap yang menimpa Angela dan Abang khawatir jika nanti Alvin akan ikut terseret juga,” papar Malik.
”Apa itu Bang?” Hana jadi ikut khawatir mendengar cerita Malik.
”Tolong hubungi mama segera minta dia ke sini sekarang Bang!”
”Baik.”
__ADS_1
”Ma, bisakah mama ke sini sekarang? Malik tunggu ada sesuatu yang mau Malik omongin sekarang.”
” .... ”