Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
84. Terpaksa Bertemu


__ADS_3

Malik tahu jika Hana masih saja sedih dengan sikap adiknya Alvin dan hal ini membuatnya tidak bisa fokus dalam bekerja apalagi anak itu tidak masuk hari ini untuk bekerja haruskah dia marah pada dinding ruang kerjanya, atau melampiaskannya pada Faris yang tidak tahu apa-apa.


”Bang, kenapa hari ini nampak gelisah?” tanya Faris pada akhirnya dia tidak dapat menahan lagi rasa penasaran yang sudah dia pendam sejak tadi.


”Ini soal Alvin.”


”Dia kenapa lagi Bang?”


"Anak itu bikin masalah dengan kakaknya, biasa tidak satu tujuan dengannya dan hal ini membuatnya kesal,” jelas Malik.


”Lalu sekarang bagaimana? Kelihatannya dia gak berangkat kerja kemarin sore aku melihatnya sedang menerima telepon setelah keluar dari ruangan ini dan buru-buru pergi setelah menutupnya.”


”Benarkah? Aku yakin itu pasti dari Angela, aku jadi nyesel udah kontrak dia ke perusahaan ini karena dengan adanya dia justru malah menambah masalah baru buatku belum lagi soal kedatangan mantan mertuaku Lani ke rumah, kepalaku pusing tapi harus berpura-pura kuat,” keluh Malik.


”Sabar Bang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Allah kasih begini karena yakin Abang bisa melewati ini semua dengan baik,” hibur Faris.


”Kamu gak pergi ke kantin? Ini kan jam makan siang?”


”Kenapa memangnya Bang?”


”Mau nitip ice cappucino.”


”Tumben mau minum es, nanti mbak Hana marah loh bukannya Abang dilarang mbak Hana minum es.”


”Gak apa kali jika hanya sekali saja, lagian rasanya juga lelah, otak rasanya penuh dan panas, butuh pendinginan,” keluh Malik.


”Astaga, jangan bicara begitu Bang jalan terbaik adalah dinikmati bukan mengeluh. Aku ke kantin dulu ya, udah yakin hanya itu saja?” tanya Faris.


”Iya kalau bisa dipercepat ya, aku udah gak tahan rasanya haus.”


”Air kran tuh Bang cepet! sekarang lagi jam makan siang pasti antri gak ketulungan.”


”Ya udah gak jadi aja, lebih baik minta tolong pada office boy saja kalau gitu lebih cepat. malahan,” tukas Malik segera menghubungi office boy memesan minumannya.


”Ya udah aku pergi dulu kalau begitu,” pamit Faris.


Malik menghela nafas beratnya dan kembali mengingat Hana istrinya belakangan ini dia melihat istrinya kelelahan tapi Hana bersikeras tidak masalah dengan pekerjaannya, ”Kenapa dia tidak mau mengambil asisten buat membantunya, padahal kan aku mampu membayarnya.”


***


”Vin, kok sejak tadi kamu diam saja kenapa?” tanya Angela yang sedang bersandar di dadanya Alvin.


”Gak ada apa-apa kok, mungkin perasaanmu saja kali,” bantah Alvin.


”Masa sih?” Angela berbalik dan menatap ke arah Alvin intens.


”Ada apa?”


”Tidak ada.”

__ADS_1


”Televisinya di depan sana bukan di sini.”


”Biarin aja, aku penginnya lihat ini yang gak ngebosenin!”


”Waduh, kok bisa?”


”Bisa dong kan kekasih sendiri.”


”Btw, besok aku gak bisa temenin kamu ya," ucap Alvin perlahan.


”Loh kenapa?”


”Kan hari ini aku udah temenin kamu seharian, jadi besok aku harus full di kantor gak enak sama Bang Malik pastinya banyak pekerjaan karena hari ini aku ambil libur,” jelas Alvin.


”Oh begitu,” ucap Angela tidak bersemangat.


”Senyum dong! Kan masih banyak waktu tidak harus setiap hari bersama-sama nanti cepat bosen.”


Jam delapan malam Alvin memilih untuk pulang dengan alasan mau persiapan untuk pekerjaan besok pagi, Angela yang tidak tahu apapun hanya mengangguk tanpa curiga sedikitpun pada Alvin.


”Mama pikir kamu gak akan pulang hari ini.”


Alvin enggan meladeni perkataan mamanya karena dia masih memiliki rasa hormat dan masih takut pada dosa.


”Kamu gak dengar mama ngomong?” tegur Rita.


”Ck! Apakah mama boleh marah sama kamu Vin?” ucap Rita mendengar perkataan mamanya membuat Alvin hanya bisa terdiam karena Rita mulai menitikkan air matanya.


”Mama gak minta uangmu, mama hanya ingin yang terbaik buatmu tolong pikirkan baik-baik tawaran mama dan tolong jangan sakiti kakakmu Hana karena ala yang terjadi semua ini adalah kehendak-Nya dan mama sama kakakmu sebagai perantara saja.”


”Mana ada kami mau menjerumuskan keluarga sendiri, tidak Vin.”


”Ma, Alvin mau istirahat dulu ya, besok kita lanjutkan lagi Alvin lelah.”


Alvin sengaja menghindari konflik dan memilih segera ke kamarnya untuk beristirahat. Namun setelah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur pikirannya kembali pada kertas yang tergeletak di atas nakas. Diambilnya kertas tersebut dan dibacanya lagi berulang-ulang. Bolak-balik dia melihat foto cantik yang terlampir.


”Lebih cantik Untari jika dibandingkan dengan Aisha, dia menang banyak selain cantik dia juga cerdas,” ucap Alvin.


”Tapi aku sendiri tidak bisa mencintainya karena hatiku lebih dekat dengan Angela, tunggu apakah ini benar-benar cinta?” Alvin mulai galau dengan perasaannya sendiri.


Tepat jam lima sore Alvin langsung ke restoran tempat dimana dia janjian dengan Untari. Netranya mengedar mencari sosok yang sama seperti yang ada di foto dan alangkah terkejutnya Alvin ternyata Untari lebih cantik aslinya.


Dengan ragu Alvin melangkah. ”Maaf buat kamu menunggu lama.”


”Eh?”


”Saya Alvin putranya Bu Rita tetangganya Ustadz Amir di Jogjakarta, adiknya kak Hana.” Alvin mengulurkan tangannya namun Untari tak membalas uluran tangan tersebut membuat Alvin merasa sedikit kesal.


”Maaf bukan mahram,” ucap Untari.

__ADS_1


”Oh, maaf karena aku melupakan hal itu.” Alvin memilih duduk tanpa menunggu dipersilakan.


”Jadi kedatanganmu kali ini ... ”


”Ya permintaan dari mama dan juga kakakku Hana,” potong Alvin.


”Lalu setelah bertemu langsung bagaimana? Maksudku tanggapanmu? Sepertinya kita pernah ketemu waktu masih di Jogja deh, sebelum aku berangkat ke Mesir. Benar tidak?”


”Menurutmu?”


”Menurutku iya, kita pernah berteman waktu kecil meskipun kau lebih banyak acuh padaku.”


Alvin mengedikkan bahunya, ”Ya itu karena kamu, gadis yang cengeng.”


”Itu dulu sekarang udah gak lagi.”


”Biasanya sifat bawaan itu susah hilangnya," ujar Alvin.


"Btw kamu habis pulang kerja? Gak balik rumah dulu? Kalau orang di rumah nungguin bagaimana?” cecar Untari.


”Ya gak mungkinlah karena mereka yang menyuruhku untuk ketemu sama kamu," ucap Alvin jujur membuat Untari ber-O ria mendengarnya.


”Jadi kamu faham kan kenapa sekarang aku ada di sini, itu semua karena keinginan kedua wanita yang aku cintai.”


"Ya aku faham, lalu apa kamu memiliki wanita lain selain mereka berdua?”


Alvin terdiam mendengar pertanyaan Untari, dirinya sendiri tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan untuk Angela rasa sayang atau hanya rasa iba karena gadis itu kekurangan kasih sayang orang tuanya meskipun hidup berlimpah harta nyatanya gadis itu merasa kesepian.


"Aku sudah tahu jawabannya dari diamnya sikapmu itu Vin,” ucap Untari memanggil sebutan ’Vin' seakan mereka adalah teman dekat.


"Sok tahu,” jawab Alvin ketus.


”Alvin kamu di sini?”


”Eh, Aisha. Iya nih aku lagi ketemu sama teman, kenalin dia ... ”


”Aku kekasihnya mbak,” potong Untari membuat Alvin melotot mendengar pengakuan gadis yang ada di depannya itu.


”Kalian pacaran?” tanya Aisha terlihat aura kekecewaan di wajahnya begitu melihat Alvin. Alvin pun hanya bisa tersenyum kaku salah tingkah lebih tepatnya tapi hatinya senang karena berhasil membuat Aisha cemburu.


"Silakan kalau mbak mau gabung, mbak temannya Alvin kan?” ucap Untari.


”Tidak terima kasih aku harus menunggu suamiku di depan costumer service,” sahut Aisha.


"Oh mbaknya udah bersuami rupanya, kirain mbak ... ”


”Untari cukup!” Alvin mengeram kesal dengan sikap Untari yang sok dekat dengannya.


”Kenapa? Kamu malu?”

__ADS_1


__ADS_2