
”Kemana saja Bang, kenapa sejak pagi gak bisa dihubungi?” cecar Hana lewat video call yang sedang dilakukannya saat ini.
”Aku sedang di lapangan Sayang, makanya gak bisa sepenuhnya memegang ponsel. Lagipula abang khawatir jika kamu sedang sibuk saat dihubungi makanya memilih malam hari untuk kasih kabar. Maaf ya.”
Lelah itulah yang tergambar di wajah Malik pria itu seharian bekerja keras demi keberhasilan proyek yang sedang dikerjakannya di Surabaya. Demi siapa jika tidak untuk keluarganya, Hana memang tidak pernah menuntutnya untuk memberinya nafkah yang banyak tapi dia pria yang tahu diri dan tidak mungkin dia sesuka hatinya setelah apa yang diberikan wanita itu padanya.
”Abang tutup dulu ya, besok Abang usahain kerjaan beres dan malamnya bisa segera pulang ke rumah. Jaga diri baik-baik, I love you.”
Hana menutup teleponnya setelah Malik berpamitan padanya, dia menyesal karena telah berpikiran macam-macam pada suaminya itu. ”Sebaiknya besok aku minta maaf langsung jika Bang Kamil pulang,” lirih Hana mulai merapalkan doa dan terlelap dalam tidurnya.
”Ma,” panggil Emil mengguncang tubuh Hana berkali-kali namun Hana tak bergeming hingga sepuluh menit kemudian Hana baru bangun dia terkejut mendapati putranya tengah berada di sampingnya.
”Nak, sama siapa kamu kesini?” Hana buru-buru bangun merapikan rambutnya.
”Emil lapar Ma,” ungkap Emil memegangi perutnya yang kemudian berbunyi nyaring.
Hana pun bangkit dan membuatkan makanan sekaligus sarapan untuknya, tepat jam lima dia buru-buru melakukan kewajibannya sungguh tidak ada suaminya membuatnya kelimpungan mengurus kedua putranya karena biasanya Malik akan membantunya mengurus di kecil saat dia benar-benar repot.
”Memangnya semalam kamu gak makan malam, kenapa jam empat pagi udah merasa lapar hem!”
”Semalam Emil kan tidur lebih awal
Ma, lah gimana lagi Emil ngantuk ya bukan main mata rasanya gak mau diajak kompromi pengennya bobo,” ungkap Emil.
”Hm, makanya kalau disuruh tidur siang nurut jangan main terus biar sore gak kelelahan. Mama antar ke sekolahan ya.”
”Memang mama gak ke kantor hari ini?”
"Tidak, sepertinya mama mau urus kamu dan Aydan saja deh di rumah, biar papa saja yang kerja gimana?”
Emil memeluk Hana erat, ”Makasih Ma karena udah buat Emil merasa berarti buat mama, jujur Emil gak suka jika mama kerja karena Emil gak ada teman lagi di rumah.”
Hana mengacak rambut Emil gemas membuat si empunya rambut memajukan bibirnya kesal. ”Ish, mama jadi berantakan lagi kan rambut Emil,” keluhnya.
"Yuk kita berangkat!”
__ADS_1
***
Alvin masuk ke kantornya Malik dengan menggunakan alat bantu kruk, dia tidak bisa lama-lama di rumah tanpa mengerjakan apapun meskipun dia merasa kesulitan karena belum terbiasa dia tetap berusaha hingga akhirnya bertemu dengan Faris.
”Bang,” panggil Alvin.
”Eh, kamu kenapa bisa berada di sini?” Faris mencoba membantu Alvin.
”Pengen main aja Bang, di rumah sepi gak ada teman juga iya.” Keduanya pun akhirnya memilih duduk di lobi.
”Kenapa gak pergi saja ke rumah kakakmu, dia juga sedang sendirian maksudnya Bang Malik sedang tidak ada di rumah.”
”Loh kok Kak Hana gak omong apapun sama Alvin.”
”Kemarin perginya mendadak, aku sendiri gak bisa menemani karena Sabrina juga sedang rewel karena kehamilannya.”
Keduanya berbincang kesana kemari sesekali mereka saling melempar candaan satu sama lain membuat gadis berjilbab di sampingnya merasa kesal karena candaan keduanya. Dia adalah Untari yang sejak tadi mendengarkan obrolan kedua pria tersebut.
Ingin menghindar tapi pekerjaannya standby di sana, jika tidak ingin dia dengar tapi perkataan mereka cukup keras dan siapapun bisa mendengarnya.
”Di sini aja Bang, nanti saja kalau mau aku ke ruanganku lihat-lihat saja.” Alvin melirik ke arah Untari.
”Baiklah, nanti minta saja sama OB buat bikinkan kamu minuman kalau kamu mau. Aku ke atas dulu ya.”
Alvin kembali melirik ke arah Untari tapi gadis itu cuek bahkan seakan mengabaikan keberadaannya jangankan tersenyum menanyakan kabar pun tidak dan hal itu membuat Alvin semakin gregetan pada gadis itu.
”Hai.” sapa Alvin namun Untari justru menoleh ke kanan kirinya tak ada orang lain selain dirinya sekuriti jelas bukan karena jaraknya cukup jauh tentu saja hal itu bikin Alvin semakin gemas.
”Gimana kabarmu?” lanjutnya. Untari masih saja diam tidak menanggapi pertanyaannya membuat Alvin merasa kesal karena dirinya sudah diabaikan.
”Kamu sengaja ya gak mau menanggapi diriku?” ujar Alvin.
”Kamu ngomong sama siapa?”
"Astaga, jadi sejak tadi kamu gak menganggap aku ada, kebangetan ya kamu!” Alvin berdecak sebal pada Untari gadis itu sudah mulai berani mempermainkannya.
__ADS_1
”Yang mulai siapa yang kesal siapa,” jelas Untari.
”Kau ... ”
”Apa bukankah kau sendiri yang gak mau aku gangguin kamu ya udah, jangan diterusin lagi.”
”Apa maksudmu bukankah kau bilang kita sepasang kekasih? Kau sendiri yang mengatakannya kenapa sekarang kau yang mengingkarinya?” kesal Alvin.
”Hai dengar ya Mas Alvin, tempo hari itu hanyalah akting karena aku diminta mbak Hana melakukan hal tersebut dan perlu digaris bawahi di sini aku bukanlah orang seperti yang kamu pikirkan selama ini. Semua murni karena aku diminta mbak Hana sama tante Rita, dan yang terakhir aku kira Aisha itu adalah Angela nyatanya aku salah paham. Sekarang kamu mengerti kan?”
Alvin tersenyum miris mendengar pengakuan Untari jadi selama ini memang benar keduanya berusaha memisahkan dirinya dengan Angela, Alvin tidak marah justru dia sangat berterima kasih karena telah dikasih tahu kebenarannya.
”Lalu kamu sendiri kenapa bisa kerja di sini? Apa kau sengaja memata-matai aku?”
"Astaghfirullah kalau bicara dipikir dulu ya, untuk apa aku melakukan hal itu memangnya kamu itu siapa?”
Alvin terkekeh dengan perkataan Untari. ”Bukankah tempo hari kau bilang jika kau itu kekasihku, kenapa sekarang justru kau berubah pikiran?”
Untari membuang nafasnya kasar, ”Bukankah sudah aku katakan padamu jika aku disuruh kakak dan mamamu. Jika mereka tidak minta tolong padaku mana pernah aku berkata seperti itu dan lagi kita juga tidak akan pernah bertemu.”
”Ya sudah terserah kamu saja,” sahut Alvin lama-lama dia kesal juga menghadapi situasi tiba-tiba dia bangkit pelan-pelan membuat Untari sedikit tersentak karena karena Alvin sudah berada di depannya.
”Astaghfirullah, kau ... ”
”Maaf mengagetkan dirimu, bagaimana jika kita berdua makan malam?”
Untari yang semula menunduk mengangkat wajahnya memperhatikan Alvin yang tengah berdiri memandangnya, satu detik, dua detik, ”Aku tidak mau!” tolak Untari.
Alvin menautkan alisnya. ”Kenapa? Anggap saja ini sebuah permintaan maaf.”
”Memangnya kamu salah apa? Aku tidak merasa kamu bersalah?”
”Justru kamulah yang bersalah padaku.”
Untari membeo mendengar perkataan Alvin lalu mengulang perkataan pria itu. ”Aku bersalah padamu?”
__ADS_1
”Iya karena kau telah memporak-porandakan hatiku, Nanti kau juga akan tahu setelah kau datang.” Alvin meninggalkan tempat itu dengan secarik kertas di atas meja tentu saja hal itu membuat Untari penasaran apa yang sedang direncanakan Alvin untuknya.