Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
55. Kabar Kabur


__ADS_3

”Bagaimana kabarmu Sayang?” Daniel menatap Emil penuh kasih dia tahu cucunya sangat menderita selama ini.


”Baik Opa, kok tumben Opa datang ke sini?” tanya Emil.


”Opa mau bertemu dengan papamu, adakan?”


”Di dalam lagi bantu mama sama Bik Surti masak di dapur.”


”Ini Opa bawakan mainan buatmu,” ucap. Daniel.


”Makasih ya,” sahut Emil senang karena itu adalah pesawat remote control meskipun Malik bisa membelikannya tapi dia enggan untuk memberikannya pada Emil alhasil bocah itu meminta ada kakeknya.


”Makanan sudah siap!” teriak Malik.


”Kamu ini tidak bisakah bicara pelan-pelan saja,” protes Maryam.


”Maaf saking senangnya Ma, mama kan tahu Emil sudah sembuh dan ini adalah makan malam pertamanya kembali bersama dengan kita sayangnya mama Rita dan Alvin tidak bisa ikut ke sini.”


”Loh kenapa?” tanya Maryam.


”Mereka langsung pulang ke Jogja kok Ma, papa meminta mereka untuk segera pulang,” jawab Hana.


”Kamu makan yang banyak jaga kandunganmu dengan baik, mengerti!” ucap Maryam.


”Pasti Ma, Hana tahu kok makasih udah ingetin Hana.”


”Silakan duduk Pa. Sayang, kau punya mainan baru ya?" tanya Hana menghampiri Emil.


”Hadiah dari opa buat Emil,” balasnya mengurai senyum.


”MasyaAllah senangnya, kamu pasti suka kan?” Emil mengangguk cepat.


”Ayo makan dulu mainannya ditaruh dulu.” Hana mengambil alih mainannya dan segera menyiapkan makanan untuk Emil.


”Sedikit saja Ma, Emil masih kenyang.”


”Baik.”


”Kamu sudah tidak mual lagi?" tanya Daniel pada Malik.


”Sudah berkurang Pa,” jawab Malik.


”Syukurlah, sudah berapa bulan usia kandungannya?”


Malik menatap ke arah Hana, ”Kurang lebih hampir dua Pa, benar gak Sayang?”


”Iya.”


”Bentar lagi kamu akan punya teman main sekaligus teman berkelahi Nak!” seru Daniel.

__ADS_1


”Benar Opa, Emil sudah tidak sabar lagi pengin punya adik. Semoga adiknya perempuan biar nanti aku bisa jagain dia dari anak yang nakal,” ucap Emil penuh antusias.


”Oh iya, nanti Emil bakal gendong adiknya juga gak ya?” tanya Hana menggoda Emil.


”Tentu saja Ma, tenang jangan khawatir nanti Emil akan bantuin mama kalau adik rewel tinggal cium aja pipinya yang chuby pasti dia gak rewel lagi deh,” serunya.


”Lanjutkan makannya dan segera istirahat' bukankah kau ingin segera berangkat ke sekolah?”


”Baik Ma, nanti tolong bacain buku dongeng seperti biasanya ya.”


”Siap.”


***


”Kamu yakin akan menemui Mr. Robert?” Malik masih duduk santai di sofa pikirannya tidak konsen setelah mendengar penjelasan dari Daniel.


”Sebaiknya lupakan saja niatmu untuk bertemu dengan orang itu karena dia orang yang sangat sibuk, yang terpenting sekarang uangnya sudah kembali kan? Jangan melakukan kesalahan kedua kembali dekat dengan perusahaan itu sama saja dengan bunuh diri,” papar Daniel.


”Bukankah dia juga berasal dari negara yang sama dengan mama?” ucap Malik.


”Sepertinya iya papa kurang yakin soal itu karena orangnya tertutup, sudahlah lupakan saja yang penting papa sudah memberimu ganti.”


Malik pun mengangguk, ”Pa ... apa papa tidak ada kepikiran untuk rujuk dengan mama?”


Daniel membulatkan matanya kemudian, ”Darimana kau memiliki pemikiran itu Malik? Papa sama mama sudah nyaman dengan kehidupan masing-masing dan papa juga tidak yakin jika mama masih mengharapkan papa.”


”Tapi sepertinya kalian masih cocok untuk bersama dan lagi Malik yakin kalian itu sama-sama kesepian apakah itu benar?” tebak Malik.


”Ya Malik kan hanya asal nebak aja Pa, karena selama ini kan kalian berdua itu saling diam saja. Malik pikir di balik diam itu pasti kalian sedang memendam sesuatu, apa itu benar?”


”Astaga anak ini, Maryam kamu kasih tahu putramu ini agar tidak jadi peramal sok pintar membaca situasi,” seru Daniel pada Maryam yang baru saja duduk di sofa.


”Eh? Itu juga ajaran darimu, bukankah kau dulu juga seperti itu.”


”Ya kau malah membelanya, sulit dipercaya ibu dan anak sama-sama bekerja sama menyudutkan diriku seperti ini.”


”Sudah jangan bertengkar, omong-omong bagaimana dengan acara pernikahan Sabrina dan Faris?” tanya Malik menghentikan perdebatan kedua orang tuanya.


”Sudah selesai, kami tinggal menunggu Sabrina pulang dari Bali sesudahnya acara bisa segera dimulai. Tolong doakan yang terbaik untuk mereka berdua,” ucap Maryam.


”Pasti Ma.”


”Papa pulang dulu ya, ingat jaga keluargamu baik-baik jangan sampai terulang kisah seperti dulu.”


”Baik Pa, Malik akan ingat pesan papa dan akan menjaga keduanya dengan baik.”


”Kok dua, sekarang tanggung jawabmu tiga karena istrimu sedang hamil anakmu,” ucap Daniel mengingatkan Malik.


”Iya Malik lupa maaf.”

__ADS_1


”Baiklah papa pergi sekarang sampai jumpa.”


Di dalam kamar Hana sedang menerima telepon dari Alvin.


”Lalu bagaimana papa sama mama sekarang?”


”Mama masih marah sama papa, sekarang mereka juga saling diam dan tidak saling menyapa.”


”Kamu cari tahu siapa yang sering menghubungi papa itu, lacak nomornya ajak ketemuan jangan sampai mereka berdua tahu. Hana gak yakin papa selingkuh karena papa itu orangnya baik dan soleh, sesoleh namanya itu.”


”Aduh Kak, jangan becanda deh ini bukan waktunya buat ngelawak.”


”Loh, apa yang kakak ucapkan memang benar Vin, gak ada yang salah jadi bagaimana?”


”Sudahlah Kak, Alvin sedang bingung Kak Hana malah ngajak ketawa apaan sih!"


”Udah gak usah marah-marah cepet tua nantinya. Kakak tutup dulu ya, jika ada masalah serius segera beritahu kakak di sini mengerti.”


”Iya, padahal aku mau segera balik ke Jakarta dan segera mengurus kuliahku tapi malah ada kejadian seperti ini.”


”Astaghfirullah Vin, udah ya ikhlas nanti biar kakak bicara sama Bang Malik buat bantu kamu urus masalah di kampus, sekarang yang jelas kamu harus bantu mama sama papa biar gak berantem lagi ngerti!”


”Iya nanti Alvin akan usahain soal itu, Alvin udah ikhlas bener hanya saja kalau keingetan mereka berantem semalam rasa keselnya masih nempel.”


”Ya udah sabar dulu nanti kalau mama sama papa udah mau bicara tolong kabari ya biar nanti kakak bicara sama mereka berdua.”


”Oke siap.”


Bip.


”Siapa yang kau telepon malam-malam begini?” tanya Malik yang sudah duduk di tepi ranjangnya.


”Alvin kasih kabar kalau mama sama papa bertengkar gara-gara telepon dari orang yang gak jelas,” terang Hana.


”Telepon misterius begitu maksudnya?”


”Kurang tahu, beberapa hari ini papa sering dapat telepon dari nomor tak dikenal begitu diangkat gak ada suaranya dan papa juga ngaku kalau beberapa hari sebelum mama pulang ke Jogja mantannya datang menemuinya.”


”Mantannya papa?”


Hana mengangguk, ”Mantannya kan masih hidup tapi tinggal di kota lain dan selama ini mereka gak pernah kontak dan sekarang tiba-tiba saja dia muncul datang ke rumah.”


”Reaksi papa bagaimana?”


”Terkejut pasti ya, tapi dari pengakuan papa bilang jujur padanya dan mengakui udah punya dua anak dan satu cucu.”


”Jadi ngebayangin bagaimana bingungnya papa saat dia datang. Kamu sendiri kalau mantanku datang marah kali ya?” goda Malik.


”Biasa aja, aku persilakan masuk kok tapi jika dia minta balikan ya siap-siap aja aku bakalan kasih dia sesuatu yang gak bakalan dia lupa selama hidupnya,” ucap Hana.

__ADS_1


”Benarkah, apa itu?”


__ADS_2