Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
64. Emil Makin Cerdas


__ADS_3

”Non Flo ada apa ya ke sini?” tanya Bik Surti yang menyadari jika Emil enggan bertemu dengan tantenya itu.


”Bang Malik di rumah gak Bik?” Flo bertanya balik pada Bik Surti.


”Belum pulang,” sahut Bik Surti.


Flo melihat jam tangan pergelangan tangannya, ”Jam segini belum pulang? Apakah dia lembur tapi tadi aku ke kantor dia gak ada.”


”Mungkin masih di jalan Non, atau mampir gitu,” sela Bik Surti.


”Emil Sayang, memangnya kamu gak kangen sama tante?”


Emil menggeleng cepat, ”Memangnya tante kangen sama Emil?”


Flo pun tersenyum dan mengangguk singkat, ”Tentu saja Sayang, kamu itu kan keponakan tante.”


”Eh benarkah? Emil kira tante kangennya sama papa saja bukan sama Emil maaf tante, Emil hanya menebak berdasarkan feeling saja biasanya feeling itu tak pernah bohong apa benar demikian?”


Flo meringis mendengar perkataan Emil hatinya kesal jika mengingat anak peninggalan Tiara kakak tirinya itu.


”Oh maafkan tantemu ini mungkin itu hanya perasaanmu saja, bagaimanapun kamu adalah keponakan tante senakal apapun itu,” ucap Flo menahan kesal.


”Emil tidak nakal seperti yang tante katakan, Emil anak yang baik!" bantah Emil tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Flo.


”Lebih baik tante pulang saja sana atau perlu Emil panggilkan security buat usir tante!”


”Astaga, apakah mama tiri kamu yang mengajarimu berbuat seperti ini? Kamu bukan Emil yang tante kenal dulu, kamu sudah berubah semenjak mengenal Hana,” cecar Flo.


”Terserah tante dari dulu Emil memang gak suka dengan tante karena tante selama ini hanya mengincar papa dan hartanya saja.”


Flo menghentakkan kakinya ke lantai dan segera pergi meninggalkan rumah Malik.


”Dia itu temannya nenek sihir Bik, kalau datang lagi usir saja dia!” ucap Emil sengit.


”Gak boleh begitu Den, kalau mama Hana tahu pasti dia akan sedih karena dia sama sekali gak pernah ajari Den Emil bersikap seperti itu pada orang yang lebih dewasa gak sopan,” ucap Bik Surti mengingatkan Emil.


”Lah dia sendiri yang minta untuk tidak dihormati, tante itu yang sejak awal tidak sopan Bik makanya Emil marah.”


”Ya sudah jangan dibahas lagi lebih baik tungguin mama sama papa pulang ya,” ucap Bik Surti.


Mereka berdua pun akhirnya duduk di sofa ruang tamu hingga Emil tertidur di sana.


Tepat jam sebelah malam mobil Malik memasuki area rumah Bik Surti yang masih terjaga pun segera membukakan pintu untuk bosnya itu.


”Non Hana sudah pulang syukurlah,” ucap Bik Surti senang.


”Maaf ya Bik, bikin semua orang disini jadi kerepotan,” ucap Hana.

__ADS_1


”Dia ... ”


”Den Emil memang nungguin Non Hana pulang sejak tadi tapi karena kelelahan jadi tidur di sofa.”


”Biar saya yang pindahin nantinya,” ucap Malik.


”Apa perlu saya siapkan makan malam?” tanya Bik Surti.


”Gak perlu Bik, Alvin sudah pesan makanan di luar bentar lagi anaknya datang Bik Surti bisa bantuin dia menyiapkannya.”


”Baik.”


Malik membawa Hana ke kamarnya setelahnya turun menggendong Emil ke kamarnya. ”Tambah berat saja kamu Nak,” ucap Malik kemudian setelahnya dia beranjak keluar menemui istrinya.


”Abang keluar dulu ya, mau makan bareng yang lain atau kau mau ikut?” tawar Malik.


”Tidak perlu Bang, Hana mau istirahat saja silakan Abang makan bareng dengan Alvin maaf karena tidak bisa melayani dengan baik.”


”Jangan bicara begitu ya, Abang gak suka karena kenyataannya Abang juga belum bisa menjadi suami yang baik buatmu,” sambar Malik.


”Den Alvin sudah datang Non,” seru Bik Surti.


”Iya Bik, tolong bantu siapkan makanannya ya kita makan rame-rame di teras,” ucap Malik.


”Iya.”


”Bang kalau udah selesai biarkan Bik Surti istrinya dulu dia pasti capek.”


***


”Pagi Pa, Ma,” sapa Emil wajahnya terlihat bersemangat hari ini.


”Pagi Sayang, maaf hari ini mama gak bisa ikut antar Kak Emil ke sekolah ya.”


”Gak apa Ma, yang penting mama sehat dulu kalau udah sehat nanti jalan-jalan sampai pegal kakinya,” ujar Emil membuat Malik dan Hana tersenyum.


”Om Alvin gak ikut pulang ke sini Pa?”


”Ada mungkin masih tidur karena kecapekan tadi sholat subuh berjamaah kok,” jawab Malik.


”Dia memang suka begitu biarkan saja nanti kalau bosan dia akan keluar sendiri,” ungkap Hana.


”Baik, jika butuh apapun tolong kasih tahu Bik Surti atau Pak Tejo karena hanya mereka yang ada di rumah kan gak mungkin kamu teriak-teriak minta tolong ke Pak satpam yang belum tentu dengar teriakanmu itu,” seru Malik.


”Iya.”


Hana segera menyelesaikan sarapannya dan langsung mengantarkan Emil hingga ke depan.

__ADS_1


”Bang jangan ngebut ya!”


”Siap Sayang, hati-hati di rumah kami pergi. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Sepanjang perjalanan Emil diam membuat Malik tidak tahan dengan sikap putranya itu.


”Kenapa jagoan papa diam saja sejak tadi apa ada masalah?” tanya Malik menoleh sebentar ke arah Malik yang duduk di sebelahnya.


”Maafkan Emil ya Pa,” ucap Emil perlahan.


”Maaf untuk apa?” tanya Malik.


”Karena ... karena gara-gara Bony mama masuk rumah sakit.”


”Sudahlah Sayang, yang penting mama sekarang baik-baik saja jadi tak perlu khawatirkan apapun lagi ya,” ucap Malik.


”Adalagi Pa,” seru Emil membuat Malik terkejut karena sikap spontan putranya.


”Apalagi Sayang,” balas Malik.


”Ini soal tante Flo.”


”Kenapa dengan dia?”


”Kemarin sore waktu papa masih di rumah sakit dia datang ke rumah dan ingin bertemu dengan papa, karena Emil gak suka ya terpaksa Emil kasih dia sedikit kalimat yang membuatnya bisa berpikir keras.”


Malik menautkan kedua alisnya mendengar penuturan putranya itu. ”Memangnya apa yang telah kau ucapkan padanya?"


”Emil bilang jika sebenarnya selama ini dia tidak pernah kangen sama Emil dan hanya menginginkan papa serta hartanya saja, maaf jika Emil keterlaluan tapi jujur Emil gak suka dengan tante Flo.”


Malik menghela nafasnya dia tidak ingin Emil bersikap begitu tapi bagaimana lagi, sepertinya dia harus ekstra perhatian lagi pada putranya.


”Lain kali jangan diulangi ya Nak, jika tidak suka lebih baik diam saja. Bisa jadi dia melakukan hal itu karena kurang kasih sayang sehingga dia mencari perhatian orang lain,” terang Malik.


”Maafkan Emil ya Pa,” ucap Emil.


”Sudah sampai.” Malik menghentikan mobilnya di tepi. ”Apakah papa juga perlu mengantarkanmu ke kelas juga seperti yang dilakukan oleh mama?”


”Tidak perlu jangan membuat Emil malu Pa,” seru Emil.


”Loh memangnya malu kenapa?” selidik Malik.


Emil kebingungan bagaimana mengatakannya pada papanya.


”Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu, apa itu benar Sayang?”

__ADS_1


”Hai Emil, ayo kita ke kelas bersama!” suara gadis kecil membuat Emil nampak panik karena tidak mungkin dia bicara pada papanya Emil khawatir Malik akan marah padanya.


”Apakah dia teman wanitamu?”


__ADS_2