Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
31. Tidak Dapat Menahannya


__ADS_3

”Masih memikirkan perkataan Sabrina?" tanya Malik mereka berdua baru saja pulang dari KUA dan memilih untuk pulang ke rumah.


”Gak kok Bang,” jawab Hana.


”Lalu kenapa sejak tadi diam aja.”


”Sedikit pusing aja.”


Mobil pun masuk ke halaman rumah, dengan sigap Malik menggendong Hana masuk ke kamarnya.


”Kenapa melihatku begitu?” tanya Malik seraya membaringkan tubuh Hana di ranjang.


”Jangan menggodaku, kau bilang kau sedang sakit makanya aku menggendong kamu hingga ke kamar.”


”Emil di mana Bang kok gak kelihatan?” tanya Hana.


Malik melihat jam tangannya, ”Mungkin masih tidur siang, aku memang menerapkan jam tidur siang untuknya biasanya sebelum atau sesudah adzan ashar dia akan bangun.”


Malik bangkit dan mengambil kotak obat. ”Bik, Emil sedang tidur kan?” tanya Malik begitu melihat Bik Surti di dapur.


”Iya, itu obat buat siapa Pak Malik?”


”Hana pusing Bik, ini aku ambilkan obat buat dia.”


Malik kembali ke kamarnya, ”Minum obat dulu Sayang.” Malik menyerahkan obat dan segelas air putih.


”Apalagi keluhannya?” tanya Malik.


”Kayak Dokter saja,” jawab Hana.


”Ya kan harus tahu juga biar bisa kasih obat yang tepat.”


”Pinggangku rasanya sakit, mungkin mau datang bulan,” ucap Hana.


”Apa?” Malik membelalakkan matanya.


”Biasa aja kenapa Bang,” ucap Hana.


”Kamu yakin akan datang bulan?”


Hana meraih ponselnya dan mengecek tanggal liburnya. ”Ini tanggal libur bulan kemarin biasanya gak pernah meleset.”


Malik menepuk keningnya sendiri membuat Hana semakin heran.


”Kenapa Bang?”


”Kita lakukan sekarang bagaimana?” bisik Malik.


”Tapi Bang, jika Emil bangun bagaimana?” tanya Hana.


”Kamu mau gak?” balas Malik.


Hana tak menjawabnya, ”Abang yakin kau juga mau,” bisik Malik.


Malik pun segera ke pintu dan menguncinya dia khawatir Emil nyelonong masuk begitu saja karena mengetahui Hana di rumah.


Malik melipat lengan kemejanya dan membuka kancingnya.


”Yakin Bang?” tanya Hana ragu.

__ADS_1


Malik langsung mendekat dan memberikan kecupan singkat pada Hana, melepas jilbabnya membuat rambutnya terjatuh tergerai bebas.


”Aku akan melakukannya dengan pelan,” bisik Malik membuat Hana meremang karena Malik terus saja membuatnya bergairah dan ini adalah hal pertama kalinya yang dirasakan oleh Hana dengan seorang lelaki.


Malik pun memperlakukan Hana dengan lembut.


’‘Belum tahu dia. Dari tadi aku sudah menahannya,” gumam Malik.


Tanpa membuang waktu,  Malik mengambil alih kendali. Merengkuhnya ke dalam kungkungannya. Menautkan diri tanpa memberi kesempatan untuk berucap lagi. Tentu saja dengan menghiasi sore ini dengan suara yang berakhir dengan senyuman tanda puas dan bahagia.


Tepat jam lima Malik kembali ke kamarnya setelah pergulatan panas yang dilakukan bersama dengan Hana dia membiarkan istrinya terlelap bahkan dia melarang Emil menggangunya.


”Apa masih pusing?” tanya Malik.


”Sedikit lebih baik,” balas Hana.


”Makasih ya,” ucap Malik.


Hana tak menjawab hanya tersenyum sekilas. ”Mau ke kamar mandi?”


Hana mengangguk, ”Aku akan mengantarmu.”


Dengan sigap Malik menggendong Hana ke kamar mandi.


”Sudah Bang jangan berlebihan.”


”Aku tidak berlebihan tapi memang begini caraku mencintaimu bukan hanya dalam kata-kata saja tapi juga perbuatan dan itu bukan sekedar omong kosong.”


Bahagia tentu saja, Hana bahagia karena Malik memperlakukannya dengan sangat baik. ”Apa Emil sudah bangun?”


”Sudah, aku melarangnya untuk mengganggu waktu istirahatmu jadi dia sedang menonton tv sekarang.”


”Kok tega, mana mungkin aku membiarkan putraku melihat kelakuan papanya yang brutal sehingga banyak tanda merah di tubuhmu kalau dia lihat bagaimana?”


Hana menatap dirinya di cermin, "Ya ampun Bang,” pekiknya tidak percaya dengan tanda merah tersebut.


”Buruan mandi, Abang tunggu di luar.”


Hana menggelengkan kepalanya melihat tubuhnya seperti itu, nyamuknya memang sangat ganas!


Dengan tertatih Hana keluar dan menuruni anak tangga. ”Ma, Mama sakit ya? Jalannya saja begitu,” tanya Emil.


”Gak sayang bentar lagi juga sembuh Mama hanya capek kok.” Hana pun mendaratkan bokongnya di samping Emil.


”Papa mana Sayang?”


”Sedang ada tamu di luar Ma,” jawab Emil.


Hana pun tidak ingin tahu urusan suaminya dan memilih untuk tetap bersama dengan Emil.


***


”Ma, apa benar Malik sudah mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA, papa kok jadi curiga ya?” tanya Soleh.


”Jangan su'udzon sama orang yakin jika Malik itu yang terbaik untuk Hana,” balas Rita.


”Lah faktanya sampai sekarang mereka gak ada konfirmasi lagi,” kesal Soleh.


”Sabar tunggu saja ya,” ucap Rita mencoba menenangkan suaminya.

__ADS_1


”Apa kita ke Jakarta saja dan segera ke rumahnya Malik,” ucap Soleh mencoba mencari solusi.


”Jangan begitu, Mama yakin pasti Hana akan mengundang kita nanti,” ucap Rita.


Soleh mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Hana.


”Assalamualaikum, bagaimana Pa?”


”Waalaikumussalam, Nak Papa mau tanya sesuatu sama kamu tolong jawab jujur ya!”


”Papa serius banget bikin Hana takut saja.”


”Papa memang selalu serius Na, apalagi ini untuk masa depanmu. Apa Malik sudah daftarkan pernikahan kalian ke KUA di sana?”


”Sudah Pa, jangan khawatir baru saja selesai tadi siang.”


”Syukurlah, jika begitu.”


”Pa, ini Bang Malik mau ngomong sama Papa.”


"Pa, Malik sudah menyelesaikan semuanya dalam beberapa hari ke depan Malik mau mengadakan syukuran Papa bisa datang ke sini kan?”


"Hari apa? Biar Papa juga bisa atur waktu karena tidak mungkin meninggalkan kantor terlalu lama.”


”Bagaimana kalau hari Jum'at saja Pa, biar Papa sama Mama bisa istirahat di sini lebih lama.”


”Baiklah jika demikian nanti biar Alvin yang akan jemput kita ke sana.”


”Tidak perlu Pa, Malik sudah kirim orang biar jemput Papa sama Mama ke sini.”


”Ya terserah kamu saja Nak, sampai jumpa di Jakarta. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Bip.


"Alhamdulillah,” ucap Soleh.


”Bagaimana Pa?” tanya Rita.


”Malik sudah menyelesaikan semuanya, Papa lega dengarnya Ma,” balas Soleh.


”Syukurlah.”


”Malik juga meminta kita datang ke Jakarta dia mau mengadakan acara syukuran pernikahan mereka dan Malik juga menyuruh orang untuk menjemput kita ke Jakarta.”


”Alhamdulillah, Papa jangan suka su'udzon sama orang, tabayun dulu baru ambil keputusan. Mama yakin Malik itu orang yang baik dan lagi pria yang bertanggung jawab. Tidak semua orang tampan macam mantan calon mantu kita itu tidak benar.”


”Iya semoga saja Mama benar. Papa itu khawatir, hal yang wajar sebagai orang tua.”


”Iya selain dia tampan, baik dan kaya putranya juga menuruni fisiknya. Emil itu sangat cerdas.”


”Maksud Mama?”


”Iya Emil putranya Malik itu anak yang cerdas.”


”Apa, jadi Malik itu seorang duda? kenapa Mama gak bilang dari awal jika dia seorang duda?”


Soleh terkejut mendengar pengakuan Rita, dia mengira Malik itu adalah ...

__ADS_1


Soleh memijat pelipisnya mendadak pusing menyerang kepalanya.


__ADS_2