
"Faris tolong katakan pada Pak Hasan untuk memecat Eric dan Ayu bersamaan.”
Bip.
Malik menarik lengan Hana keluar dari ruangannya. ”Perhatian semuanya!” teriak Malik membuat seisi ruangan di lantai tersebut mengarah ke arahnya.
”Saya tidak mau ya kalian ghibahin saya ataupun dia, (Malik menoleh pada Hana) saya kasih tahu sama kalian semuanya saya dan Hana telah resmi menikah beberapa hari yang lalu jadi saya tidak mau ada bisik-bisik di belakang saya, jika itu terjadi dan semua terbukti tidak benar dengan tegas saya akan memecatnya,” ucap Malik.
”Dengan kejadian tadi kalian bisa menilai kan langkah apa yang akan saya lakukan selanjutnya jadi saya tekankan jika ada masalah baik dengan karyawan yang lain tolong bicarakan baik-baik bukan dengan mempermalukan diri sendiri. Lanjutkan pekerjaan kalian!” lanjut Malik.
”Bang, kamu berlebihan,” protes Hana.
”Tidak, aku hanya ingin bertindak tegas biar kejadian serupa tidak terjadi lagi di kantorku,” ucap Malik.
”Ku balik ke ruanganku dulu ya satu jam lagi kita keluar.” Hana hanya mengangguk singkat dan kembali masuk ke ruangannya.
”Na ... Hana,” panggil Indah.
Hana menoleh mendapati sahabatnya sudah ada di belakangnya.
”Ada apa?” tanya Hana.
”Selamat ya,” ucap Indah.
”Makasih.”
”Aku sudah menebaknya jika duren itu pasti jatuh hati padamu dari tatapan matanya waktu itu, by the way kenapa gak undang kita-kita teman kantormu?” keluh Indah.
”Bagaimana mau undang kamu lah nikahnya aja di Jogja dan baru didaftarkan di KUA senin kemarin, ya itu kamu ajakin aku liburan ke pantai tapi gak jadi. Aku sama Pak Malik bertolak ke Jogja,” jelas Hana.
”MasyaAllah ini benar-benar kejutan sih buatku, selamat pokoknya semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah,” ucap Indah tulus.
”Aamiin makasih ya, semoga kau cepat menyusul dengan kekasihmu itu,” balas Hana.
”Aku balik kerja dulu ya,” pamit Indah, Hana hanya mengangguk mendengarnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Satu jam kemudian Malik kembali ke ruangan Hana dengan membawa sekotak makanan.
”Sayang, kau sudah selesai?” tanya Malik.
__ADS_1
”Belum ada beberapa laporan yang belum aku cek, ada apa?” balas Hana.
Malik memperlihatkan sekotak makanan pada Hana. ”Kok dapat beginian jam segini ini kan belum waktunya makan siang?”
”Ini kiriman dari saudaranya papa di Menteng raya dia mau menikah pekan depan.”
”Pekan depan kita gak bisa datang dong?” tanya Hana.
”Memangnya kenapa?” balas Malik.
”Bukankah kita akan pergi ke ... ”
”Astaghfirullah aku lupa Sayang, bagaimana ini?” ucap Malik nampak berpikir keras.
”Ya bagaimana baiknya saja,” sahut Hana.
”Besok juga papa dan mama dari Jogja akan datang,” ucap Malik.
”Loh kok gak bilang-bilang sama aku, Bang. Bukankah besok baru hari Kamis? Nanti habis pulang kantor anterin ke rumah dulu ya aku mau cek rumah takutnya besok kalau sampai di sini ngomel-ngomel Alvin itu kan cowok gak bisa diandalkan.”
”Abang sengaja mempercepatnya biar bisa istirahat dan tidak kecapean nantinya. Baiklah nanti Abang antarkan, ini dihabiskan ya atau bagi sama yang lain,” ucap Malik.
”Ya gak apa, lima atau sepuluh menit buat nikmati ini aja. Cukup kan?”
”Wah sepertinya bosku lagi baik hati nih, baiklah nanti aku bagikan ini.”
”Baiklah aku ke ruanganku lagi.”
'Cup!’
Hana hanya tersenyum melihat sikap suaminya itu, lalu bangkit dari duduknya keluar membawa sekotak cake dan membagikannya pada pegawai yang lain.
***
”Semua gara-gara kamu, jika kamu gak nekad menemui Hana ke ruangannya tadi kita tidak akan kehilangan pekerjaan,” teriak Eric memarahi istrinya Ayu.
”Kenapa ya setelah aku sama kamu hidupku bukannya tambah maju tapi malah makin menderita!” keluh Eric sedangkan Ayu hanya dapat meneteskan air matanya.
”Udah deh gak usah nangis-nangis kayak gitu, kamu itu juga lagi hamil kenapa sih nekad? Aku tuh butuh banyak uang buat lahiran anak kita juga, lalu bagaimana jika Pak Malik benar-benar menutup semua akses untukku mendapatkan pekerjaan mau makan apa kita nanti? Satu lagi aku masih harus menanggung ibuku, apakah kau mau dengan dia tidak bukan? Kau tidak seperti Hana yang selalu menghormati orang yang lebih tua.”
__ADS_1
”Cukup!” teriak Ayu.
”Kau jangan membanding-bandingkan aku dengan dia Mas!” teriak Ayu tak kalah keras.
”Mas pikir sudah melakukan kewajibanmu dengan baik? Mana nafkah yang satu bulan yang lalu? Kita sudah menikah hampir lima bulan dan Mas Eric baru mutusin Hana satu bulan yang lalu kan? dan selama itu apa Mas Eric pernah kasih uang lebih padaku?”
Eric terdiam mendengar penuturan Ayu.
”Maafkan aku,” lirih Eric.
”Sekarang kembalikan uangku!”
Eric mengangkat wajahnya menatap Ayu tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. ”Apa kau sudah gila, darimana aku dapatkan uangnya sedangkan aku saja dipecat dari pekerjaanku, kita saja tinggal menumpang di rumah ibuku.”
”Itu urusanmu dan aku tidak mau tahu, lagipula aku juga tidak mau tinggal di rumah sempit seperti ini apalagi bersama dengan kedua adikmu yang masih sekolah itu bikin hidup tambah sengsara saja,” ucap Ayu membuat Eric meradang mendengarnya.
”Kau pikir kau siapa, huh? Masih mendingan Hana daripada kamu. Jika saja kau tak mengejar diriku mungkin aku masih bersama dengan kekasihku Hana karena bagaimanapun tetap dia yang terbaik.”
”Oke kalau begitu kita bercerai saja biar kamu bisa balikan lagi sama dia puas kamu!” teriak Ayu membuat Dewi ibunya Eric keluar dari kamarnya karena mendengar pertengkaran mereka.
”Tolong jangan berteriak, apa kalian tidak malu didengar tetangga?” ucapnya.
”Maaf Bu,” sesal Eric.
”Nasehatin tuh anaknya, ajarin dia bagaimana caranya membahagiakan istri bukan malah menyengsarakannya,” ucap Ayu.
”Ayu! Apa kamu gak bisa diam!” teriak Eric.
”Kalian ini sudah dewasa seharusnya bisa mengatasi masalah seperti ini bukan malah berteriak-teriak mengumbar aib kalian secara langsung. Eric, jika memang kau belum siap menikah kenapa kau menikah waktu itu. Ibu kecewa sekali denganmu,” ucap Bu Dewi yang tidak dapat lagi menahan amarahnya.
Ayu segera keluar dari kamar sempit milik Eric dan memilih pergi ke dapur menghabiskan makanan yang ada di sana.
”Jika saja kau bisa menahan diri mungkin nasibmu tidak akan seperti ini, Ibu kira kau bisa menikah dengan Hana dan lagi Ibu sudah sangat cocok dengannya tapi ada yang terjadi kau malah berselingkuh dengan Ayu dan inilah yang harus kau terima.”
”Maafkan Eric Bu,” lirih Eric penuh penyesalan.
”Maaf saja tidak cukup Eric, sekarang apa yang bisa kau andalkan tidak ada. Bisa jadi Ayu pun akan berpaling darimu setelah kejadian ini, tidak ada yang tidak mungkin Eric karena kau sudah tidak memiliki apapun lagi yang bisa kau banggakan buatnya.”
Deg!
__ADS_1
Eric terdiam mendengar perkataan ibunya yang memang ada benarnya, apakah Ayu akan tetap setia ketika dia berada di bawah.