
”Bagaimana keadaan Emil Nak?” tanya Maryam dia menyempatkan diri datang ke Singapura begitu mendengar Emil menjalani kemoterapi.
”Malik gak sanggup lihatnya apalagi Hana Ma, dia juga merasa sedih jika melihat wajah Emil yang kepayahan,” balas Malik.
”Mama harus bagaimana sekarang biar bisa bantu kalian?” ucap Maryam.
”Cukup doakan saja dia, aku berharap semua segera berakhir rasanya lelah.”
”Jangan bicara begitu Bang, tidak baik,” sela Hana.
”Maaf.”
”Sebaiknya kalian istirahat bergantian,” ucap Maryam.
”Iya tentu saja itu Ma, kami selalu bergantian tapi belakangan ini Hana juga sepertinya ikut drop sering ikutan muntah.”
”Benarkah? Apa kamu sudah cek ke Dokter?” tanya Maryam.
”Belum Ma, aku belum sempat cek up,” jawab Hana.
”Atau jangan-jangan kamu hamil,” tebak Maryam.
Malik dan Hana saling pandang.
”Bisa jadi,” lirih Malik.
”Sayang sebaiknya kau periksa ke Dokter, Abang takut kau hamil dan kita tidak tahu.”
”Baiklah nanti aku akan cek up ke bagian obgyn buat memastikannya.”
”Oma,” panggil Emil.
”Kau sudah bangun Sayang, bagaimana keadaanmu hari ini, sudah lebih baik kan? Jagoan Oma harus kuat segera sehat dan kita jalan-jalan ke Eropa bagaimana?”
Emil tersenyum mendengar perkataan Maryam. ”Apa itu bisa terjadi sedangkan aku saja belum tentu sembuh.”
”Ya ampun Sayang, kau tidak boleh bicara begitu Sayang. Kau harus yakin jika kau akan sembuh karena setiap penyakit itu ada obatnya dan papa sama mama sedang berusaha membuat Emil segera sembuh jadi Emil harus semangat untuk sembuh mengerti!”
Emil hanya terdiam mendengar perkataan Hana.
”Emil mau jalan-jalan?” tawar Hana.
Emil pun mengangguk, Malik segera menggendong putranya di kursi roda Hana mendorongnya menuju ke taman.
”Mama sendiri rasanya gak kuat jika Emil seperti itu, kalian yang sabar ya yakin dia pasti segera sembuh,” ucap Maryam.
”Sebaiknya Mama pulang ke apartemen istirahat di sana,” ucap Malik.
”Mama juga mau di sini, apalagi Emil juga cucu Mama,” ucap Maryam.
”Ma, udah deh nurut ya.” Malik mendorong tubuh Maryam keluar dari rumah sakit.
”Percaya sama Malik dan Hana kami bisa mengatasi hal ini lebih baik oke!” ucap Malik.
”Yakin?”
”Iya, tentu saja.”
”Baiklah Mama pulang dulu.”
Maryam meninggalkan rumah sakit menuju apartemen Malik yang terletak tidak jauh dari tempat itu.
__ADS_1
Malik kembali masuk menuju ke taman menemui Hana dan Emil, rupanya keduanya sedang ngobrol bersama dengan pasien kanker lainnya.
”Kau memiliki banyak teman di sini,” ucap Hana.
”Tapi kenapa mesti harus sakit dulu baru punya teman Ma, Emil juga mau sehat sama kayak anak-anak yang lain,” tutur Emil.
”Sabar ya Sayang, yakin ini adalah ujian jika kita berhasil melewatinya maka kita akan naik kelas nantinya,” ujar Hana.
”Harusnya Emil sudah sekolah ya Ma,” ucap Emil tiba-tiba.
”Iya Sayang, nanti jika Emil sudah sembuh Mama pasti antar kok ke sekolah.”
”Makasih ya Ma, kau memang yang terbaik!” seru Emil penuh semangat.
Dari kejauhan Malik melihat Hana terlihat pucat dengan cepat dia meraih tubuh Hana saat wanita itu hendak jatuh.
”Kau sakit? Sebaiknya kita cek up sekarang. Emil biar Abang yang dorong kursi rodanya.” Malik mengambil alih kursi rodanya dan membiarkan Hana jalan lebih dulu.
”Kau masih kuat kan Sayang?” tanya Malik pada Hana yang masih berjalan gontai di depannya.
Hana hanya mengangkat telapak tangannya ke atas, tubuhnya kepayahan tapi dia tidak mau memberitahukan Malik karena takut jika suaminya justru khawatir padanya.
Hana berjalan sedikit cepat begitu di tikungan tubuhnya ambruk dan pingsan seketika membuat Emil dan Malik panik.
Malik segera memanggil perawat mengalihkan kursi rodanya pada salah seorang perawat dan membopong tubuh Hana.
”Suster tolong ikuti papaku ya!” ucap Emil.
”Baik.”
Perawat tersebut mengikuti langkah Malik yang sedang membawa Hana ke ruang pemeriksaan.
”Kamu di sini saja ya, tunggu di luar saya akan temani kamu di sini,” ucap perawat.
”Aamiin,” sahut perawat.
Sementara di ruang pemeriksaan, Hana mulai membuka kedua matanya.
”Dimana ini?” lirihnya.
”Sayang kau sudah bangun, syukurlah,” ucap Malik.
”Bang, aku kenapa?” tanya Hana.
”Kamu pingsan tadi tapi tenang saja semua baik-baik saja kok,” ucap Malik menenangkan istrinya.
”Dimana Emil?”
”Dia sedang di kamar rawat tadi mama ke sini dan langsung membawanya istirahat.”
”Aku ingin menemuinya Bang, kasihan dia aku sudah berjanji mau menemaninya selama di sini.”
”Kamu pulihkan dulu tenaganya jangan terlalu capek karena di dalam sini ada calon anak kita,” bisik Malik.
”Benarkah?”
Malik mengangguk.
”MasyaAllah, terima kasih Ya Allah. Lalu apa Emil sudah tahu jika dia akan punya adik?”
”Belum biar kamu saja yang kasih tahu dia agar dia semangat untuk sembuh untuk melihat adiknya lahir nanti.”
__ADS_1
”Iya Bang kau benar nanti aku akan beritahu dia.”
"Sekarang kau istirahat ya, karena kandunganmu lemah dan kau harus banyak istirahat.”
”Tapi Bang bisakah aku istirahat di ruangan Emil?”
Malik menghela nafasnya, ”Baiklah akan Abang pindahkan kau ke sana.”
Malik pun meminta beberapa perawat untuk memindahkan Hana ke ruangan Emil.
***
”Aku akan menyusul mama ke Singapura kasihan Bang Malik di sana kelimpungan Mbak Hana juga ikut ambruk sakit mungkin karena kelelahan,” ucap Sabrina.
”Hati-hati aku akan membantunya menghandle perusahaan saja karena memang tidak bisa ditinggal aku akan meminta Pak Basuki untuk membantuku nanti,” ucap Faris.
”Hallo ada apa Bang?”
"Sabrina, tolong kau tunggu tante Rita, mamanya Hana karena beliau akan ikut ke sini menemani Hana.”
”Loh bukannya beliau tidak berani naik pesawat Bang?”
”Abang mencoba menyakinkan mama karena Hana benar-benar butuh teman di sini dan lagi dia sedang hamil kondisi kandungannya lemah Abang tidak ingin terjadi apa-apa jadi lebih baik beliau mengalah.”
”Baik kalau begitu Bang biar nanti aku tunggu di bandara.”
”Oke makasih ya.”
Bip.
”Bagaimana keadaan mereka di Singapura?” tanya Faris.
”Kasihan Bang Malik, pasti dia kerepotan menghandle dua orang karena Mbak Hana sendiri sekarang sedang hamil dan kandungannya lemah.”
”Mama menemani Emil untuk sementara,” sambung Sabrina.
”Setidaknya jika kau ada di sana akan sedikit membantu karena tidak mungkin dia bolak balik rumah sakit apartemen.
”Kau benar, aku berangkat dulu ya. Ingat kerja jangan main gadget mulu!” ucap Sabrina.
”Aku pegangan hp bukan untuk bermain tapi mengecek perkembangan bursa saham,” kilah Faris.
”Ya terserah kau saja, aku berangkat ya. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam,” jawab Faris.
”Sampai di sana jangan lupa kabari aku!” sambung Faris.
Sabrina hanya mengangguk tanpa menoleh dia terburu buru masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya menuju bandara. Sesampainya di sana dia dikejutkan dengan suara yang tidak asing untuknya.
”Mbak Sabrina, aku ikut ya ke Singapura?” Sabrina menoleh dan terkejut melihat penampilan Alvin adik Hana.
”Kita ke Singapura buat nemenin kakakmu bukan untuk piknik!” seru Sabrina.
”Tante sudah kasih tahu tapi dia nekad minta ikut dan tiket usah dia beli sendiri,” ucap Rita.
”Astaghfirullah lalu kuliahmu bagaimana?” tanya Sabrina.
”Cuti Mbak, aku ambil cuti biar bisa ketemu dengan Mbak Hana dan keponakan kecilku.”
”Ya ampun kalau begini kapan kamu lulusnya nanti?” Sabrina menyentil dahi Alvin karena saking gemasnya dengan adiknya Hana itu.
__ADS_1
”Awwh sakit Mbak, ampun!” teriak Alvin menahan rasa sakit karena kembali di jewer oleh Sabrina.