Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
121. Memberi Hukuman


__ADS_3

Kejujuran Malik membuat Hana semakin teriris hatinya. Di saat genting dan butuh bantuan darinya pria itu justru sedang bersama dengan wanita lain. Hana meringis manakala Malik mengakui semuanya, meskipun Malik berkata tidak melakukan hal apapun tetap saja Hana sebagai istri khawatir.


Awalnya mungkin tidak masalah tapi bisa jadi karena seringnya bertemu benih-benih yang telah lama terpendam kembali naik ke permukaan. Hana menggeleng pelan mengingat segala hal yang mungkin bisa terjadi, salahkah dia jika waspada?


Semua orang telah kembali, Hana masih mengurus Emil yang sedang berada di kamarnya hal itu sengaja Hana lakukan karena masih merasa kecewa dengan suaminya. Hana lebih suka menghindari daripada harus mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat untuknya.


”Ma, mama marah sama papa ya?” tanya Emil anak kecil itu sangat peka sekali dengan perubahan sikap Hana pada Malik.


”Tidak Sayang, mama hanya sedang tidak ingin banyak bicara itu saja sih,” sahut Hana seraya merapikan selimut yang dipakai oleh Emil.


”Tapi kok mama seakan cuek sekali sama papa, jika papa salah tolong dimaafkan ya Ma,” ucap Emil begitu tulus terdengar.


”Mama gak marah kok Sayang, udah kamu bobok saja ya biar segera sembuh.” Hana mengecup kening Emil. ”Jangan lupa berdoa.” Hana mengurai senyumnya agar Emil tidak khawatir dengannya.


Hana beranjak keluar setelah memastikan jika putranya sudah tidur. Begitu membuka pintu ternyata Malik sudah berada di balik dinding dan tentunya pria itu mendengarkan semuanya karena pintunya tidak tertutup rapat.


”Maaf.” Dengan cepat Malik menarik Hana dan memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskan wanitanya meskipun hanya sejenak saja.


”Abang janji akan menghindarinya jika dia datang lagi,” bisik Malik.


Hana diam menimbang rasa karena dirinya pun tidak boleh egois meskipun sebenarnya dia kesal pada suaminya, masih ada anak-anaknya yang membutuhkan mereka berdua. ”Sudahlah Bang yang penting Bang Malik benar-benar melakukan apa yang Abang katakan saat ini. Hindari dia jangan sampai Hana dengar gosip yang membuat Hana kesal.”


”Abang janji,” ucap Malik mengecup kening Hana. ”Istirahat yuk!” Dengan cepat Malik menggendong tubuh Hana dan membawanya ke kamar, Malik tak ingin kembali melewatkan malam-malam yang kemarin sudah dia lalui dengan pekerjaan. Sekarang waktunya bersenang-senang pikirnya.


Bunyi panggilan ke ponsel milik Hana mengganggu aktivitas malam mereka dan hal itu pun membuat Malik sedikit gusar.


”Ish, siapa sih yang telepon malam-malam begini?” gerutu Malik mencari ponsel yang berdering dan itu adalah milik Hana.


”Alvin telepon.”


”Abaikan saja dia pasti ingin mengganggu saja,” ucap Malik. Hana mengambil alih dan mengirimkan pesan ke Alvin. Tak ada jawaban, keduanya kembali melanjutkan aktivitas yang tertunda.


***


”Pagi Non, tadi malam itu ... ”

__ADS_1


”Ada apa Bik, kok kayak gugup gitu,” ucap Hana.


”Itu Den Alvin, semalam dia telepon rumah nanyain apa mamanya masih di sini.”


”Alvin kan di Paris Bik,” kilah Hana.


”Katanya semalam mau ambil kunci rumah, dia sudah pulang kok Non. Dapat kabar dari mertuanya jika papanya Non Untari masuk rumah sakit jadi mereka pulang lebih awal dari schedule-nya begitu katanya,” jelas Bik Surti.


”Hem, kemajuan nih Bik.”


”Apa Non?”


”Bik Surti baru saja bicara bahasa Inggris,” ucap Hana.


”Jadi malu Non, Bik Surti cuma ikutan apa yang dikatakan sama Den Alvin semalam.”


”Ya udah biar nanti Hana hubungi dia langsung.”


Hana segera kembali ke kamar dan meraih ponselnya untuk mengeceknya dan benar apa yang dikatakan oleh Bik Surti jika semalam Alvin kebingungan karena gak bisa buka pintu rumah. ”Kasihan,” lirih Hana membuat Malik yang mendengarnya pun langsung menghampirinya.


”Semalam itu Alvin dan Untari sudah pulang dari Paris dan menghubungi kita karena mau ambil kunci rumah saja. Dia gak berani hubungi mama takut ganggu.”


”Lalu sekarang dia kemana?”


”Hotel, mereka tidur di hotel karena pulang ke rumah Untari pun sama saja karena abi-nya ada di rumah sakit.”


”Jadi Ustadz Amir sedang dirawat?”


”Iya, Abang mau ke kantor sekarang? Hana ijin dulu ya, siangan urus si kecil dulu karena mama pasti akan ke rumah sakit kasihan gak ada yang jagain Aydan.”


”Baik, kamu istirahat saja di rumah sambil jagain anak-anak. Soal pekerjaan gak usah dipikirkan nanti Abang yang akan minta Faris bantu kerjakan.”


Keduanya kompak untuk saling menjaga satu sama lain tapi peran Hana lebih banyak dibandingkan dengan Malik. Hana meskipun sibuk mengurus keluarga tapi bisa juga dia berperan membantu suaminya di kantor.


Setelah Malik ke kantor Hana segera menyiapkan keperluan Aydan dan Emil tidak ada rencana apapun hari ini karena Emil sendiri harus beristirahat mengingat kondisinya yang masih belum fit.

__ADS_1


”Abang mau makan apel, biar mama kupas,” tawar Hana.


”Boleh Ma,” jawab Emil dengan malu-malu dia mengiyakan saja. Hana pun mengupas apel yang baru dibeli Bik Surti di pasar dan memberikannya ada Emil, anak itu tampak senang meskipun dalam keadaan sakit dia tidak mengeluh sekalipun.


”Sayang bisakah kamu cerita kenapa kamu bisa jatuh?” tanya Hana mulai menyelidiki kejadian yang menimpa Emil.


”Emil jatuh gitu aja sih Ma,” akunya namun wajahnya terlihat pucat seketika dan Hana mengetahui perubahan di wajah Emil.


”Jujur saja Bang, mama justru suka jika kamu mau jujur!” desak Hana. ”Masa iya Abang jatuh dari pohon bisa begini.”


”Ma ... apa mama sedang menjadi detektif, mengintrogasi setiap masalah yang ada?”


”Tidak Sayang, mama hanya ingin tahu saja kok gak lebih.”


”Mama janji ya jangan bilang sama siapapun soal ini.”


”Tergantung.”


”Ya udah lah gak jadi nanti mama malah bertanya sama Miss Nina.”


”Hem, baiklah nanti mama simpan deh semuanya gak bakalan kasih tahu orang lain.”


Emil melihat Hana dengan serius, "Sebenarnya Emil di dorong waktu main petak umpet sama teman Emil, dia gak suka jika Emil dekat-dekat dengan Azizah. Ma, dia bilang Azizah itu hanya orang miskin dan gak cocok sama kita, Emil boleh kan marah sama di karena gak sopan udah keterlaluan gitu.”


Han yang awalnya sudah menduganya pun tampak tidak kaget. Bagaimana mungkin Emil akan manjat pohon sedangkan dia sendiri takut dengan ketinggian. ”Boleh mama tahu siapa nama teman Emil yang bermain kemarin?”


Hana tidak akan membiarkan orang lain menyakiti putranya terlebih kali ini sudah keterlaluan bagaimana tidak, Emil sampai celaka dan masuk rumah sakit gara-gara ulah temannya yang usil.


Hana segera mengirimkan file rekamannya bersama dengan Emil pada Miss Nina selaku pembimbing putranya di sekolah. Beberapa menit kemudian ponsel Hana pun bergetar.


”Assalamualaikum, Bu Hana Anda yakin dengan semua ini?”


”Waalaikumussalam, tentu saja.”


”Baik kami akan menegurnya, terima kasih informasinya.”

__ADS_1


Hana merasa lega karena bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat, sekarang yang ada dalam pikirannya adalah keinginan untuk bertemu dengan Cindy mantannya Malik.


__ADS_2