Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
24. Perdebatan


__ADS_3

”Hana, apa rencanamu besok?” tanya Malik membawakan sepiring daging sapi panggang pada Hana dan Emil.


”Besok saya ada janji dengan Indah mau berlibur ke pantai, tapi ya baru rencana sih,” jawab Hana.


”Kenapa baru rencana? Kamu gak yakin gitu?”


”Masalahnya dia mau pergi bareng sama pacarnya Pak, jadi saya ragu kalau ikut dengan mereka.”


”Mm, mama pergi sama Emil saja boleh ya Pa?” ucap Emil.


”Tapi Papa sibuk Sayang, besok Papa mau ke rumah Oma soalnya Tante Sabrina mau ada acara dengan Om Faris.”


”Yah, gak jadi jalan-jalan dong kita,” ucap Emil dengan sedih.


”Bagaimana kalau kita ajak mama Hana saja ke tempatnya Oma, mau gak?” tawar Malik.


”Mama mau gak, daripada Emil gak ada teman jika Mama pergi dengan teman Mama pun Mama pasti gak ada temannya di sana.”


”Memangnya acara apa itu Pak Malik?” tanya Hana.


”Pertunangan adikku dengan Faris, di rumah yang kemarin waktu kita jemput Emil,” balas Malik.


”Acara keluarga, sepertinya gak bisa deh Pak. Saya gak enak kalau ikutan,” ucap Hana.


”Yah Mama gak asyik!” cibir Emil.


”Hem, rupanya ada yang marah ya,” sindir Hana memegang kedua pipi Emil gemas.


”Lagian Mama gak mau kumpul bareng sama kita, iya kan Pa?”


”Bagaimana kalau kita pulang ke Jogja saja Na,” sela Jaka yang sengaja mendengarkan percakapan mereka bertiga. Semua orang tentu saja memandang ke arahnya.


”Pulang ke Jogja?” ulang Hana.


”Iya daripada bingung-bingung mau kemana libur tiga hari lumayan panjang loh, kan bisa sekalian jenguk orang tua,” ucap Jaka seakan memprovokasi Hana untuk pulang.


”Tapi aku gak kepikiran untuk pulang,” balas Hana mendengar hal itu Malik tersenyum samar dalam hatinya dia merasa puas karena penolakan Hana.


”Ya sudah gak apa itu kan hanya ide saja,” tukas Jaka.


”Biar kalian bisa sama-sama pergi begitukah maksudnya Ustadz Jaka? Bukankah bepergian dua orang yang bukan mahramnya itu juga dosa, apalagi kalau sampai sehari semalam dalam kereta,” ucap Malik.

__ADS_1


”Maksud Pak Malik apa ya? Saya kan hanya memberi ide, kalau soal dosa bukankah Pak Malik juga berdosa karena setiap kali bersama dengan Hana mengantarkannya pulang kerja!” ucap Jaka.


”Saya memang mengantarkannya pulang ke rumah dan hanya memakan waktu dua puluh menit tidak lebih dari itu, lagipula dia adalah pegawai saya kenapa Ustad Jaka jadi ribet ngurusin orang,” cecar Malik.


”Apa benar itu murni karena dia adalah pegawainya Pak Malik bukan karena embel-embel Anda suka dengannya,” ucap Jaka menunjuk ke arah Hana.


”Sudah jangan buat keributan gak enak didengar tetangga,” tegur Hana.


”Alvin tolong bawa Emil masuk gih! Emil ikut Om Alvin masuk ya sepertinya mau hujan juga iya,” ucap Hana.


”Mas Jaka sepertinya Mas Jaka salah paham dengan semua ini, tolong Pak Malik juga jangan saling menyalahkan bukankah kita saudara kenapa saling bertengkar apalagi di depan anak kecil,” ucap Hana.


”Maaf,” ucap Malik singkat.


”Tapi memang beneran Na, atasan kamu ini ada udang dibalik gorengan. Mana ada atasan anterin karyawannya hanya satu kenapa gak sekalian aja seluruh karyawannya Pak Malik antar pulang!” seru Jaka dengan kekesalannya.


”Kalau memang iya kenapa, masalah buat Ustadz Jaka? Saya memang menyukainya dan lagi bukankah Hana sendiri sedang tidak terikat hubungan dengan siapapun juga,” balas Malik tak mau kalah.


”Itu menurut Anda tapi orang tuanya memasrahkannya sama saya, Pak Soleh papanya Hana meminta saya untuk pendekatan dengan Hana putrinya ini,” terang Jaka.


Hana merasa pusing dengan penjelasan keduanya dan memilih untuk diam sejenak.


”Sekarang gak perlu bawa-bawa orang tua karena papanya jauh di Jogja dan sudah jelas di sini hanya ada dia, Hana sekarang kau bisa jawab jujur ya apakah kau mau dijodohkan oleh papamu dengan pria yang ada di depanmu ini?” tanya Malik.


”Semua ini gara-gara Anda Ustadz Jaka, kenapa harus membahas masalah seperti ini di waktu yang kurang tepat!” kesal Malik.


”Apa maksudnya kurang tepat? Saya bicara bukan atas dasar ijin dari Anda, saya hanya mencoba memberi saran pada Hana apakah itu salah?”


***


”Pa, aku gak mau ke rumah Oma,” ucap Emil.


”Kita harus berangkat Sayang, kasihan Tante sama Oma nantinya,” sahut Malik yang sedang mengancingkan kemejanya.


”Tapi Pa, acara seperti itu pasti akan sangat membosankan sekali, apakah Papa yakin akan membawaku ke sana?”


”Ayo kita berangkat!” ajak Malik mengulurkan tangannya menggandeng tangan Emil.


”Pa,” panggil Emil kepalanya mendongak ke atas.


”Apalagi?”

__ADS_1


”Apa Papa benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaan Emil yang satu itu,” lirihnya. Malik pun menghentikan langkahnya dan berjongkok menyamakan tingginya dengan Emil.


Ditatapnya kedua manik mata putranya itu, Emil memang membutuhkan kasih sayang seorang ibu hal yang tidak bisa dia berikan selama ini.


”Sayang apakah kau mau bersabar sedikit saja, Papa akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan mama baru untukmu tapi papa mohon beri waktu papa sedikit lagi ya,” pinta Malik.


”Tapi harus mama Hana ya,” balas Emil.


”Kenapa harus dia?”


”Karena Emil sayang dengannya Pa, Emil maunya sama dia,” ucap Emil.


Malik menatap wajah Emil kedua mata putranya berembun dan sebentar lagi pasti akan menangis.


”Baiklah Papa akan bicara dengan Mama Hana, tolong Emil bantu doa ya. Ayo kita berangkat kasihan Tante dan Oma pasti sudah menunggu kita berdua.”


Malik pun membawa Emil ke rumah Maryam dimana Sabrina akan melangsungkan pertunangannya dengan Faris.


”Kenapa cucu Oma cemberut begitu?” tanya Maryam begitu Malik dan Emil masuk ke rumah.


”Sedang ngambek Ma, biasa permintaannya tidak bisa terpenuhi,” jawab Malik.


”Memangnya kamu minta apa Sayang, mungkin Oma bisa kasih?” Maryam mencoba membujuk Emil.


”Papa gak penuhi permintaan Emil,” ucap Emil.


”Memangnya apa permintaan Emil?” desak Maryam.


”Emil mau Mama.”


Maryam menoleh ke arah putranya namun Malik hanya dapat mengedikkan bahunya. ”Bukankah Mama sudah bilang padamu Malik, tolonglah pikirkan perasaan cucuku!”


”Malik harus bagaimana Ma, apakah Malik harus melamar Hana sedangkan hatinya belum siap?” tanya Malik jujur dirinya pun hanya tinggal menerima putusan Hana saja apa yang dirasakan olehnya sudah dia utarakan pada Hana sebelumnya.


”Lamar dia secepatnya!” titah Maryam.


”Masalahnya bukan pada Hana tapi pada kedua orang tuanya Ma, bagaimana jika mereka tidak merestuinya mengingat gadis itu baru saja terluka,” terang Malik.


”Halah, kamu masa kalah akal, langsung ke rumahnya di Jogja minta dia baik-baik Mama rasa ortunya bakal meleleh dengan ketulusan dan tindakanmu. Yang penting itu tindakan Malik bukan omong kosong seperti yang dilakukan oleh mantannya dulu.”


Malik pun terdiam kembali berpikir.

__ADS_1


”Tinggalkan Emil di sini besok segeralah bertolak ke Jogja ajak Hana sekaligus lamar dia, Mama gak mau tahu!”


”Apa?”


__ADS_2