
Hana merasa lega hari ini karena telah mengatakan segala perasaan yang dia pendam belakangan ini pada orang yang tepat. Bagaimana tidak tepat karena Hana mengatakannya langsung pada orang yang bersangkutan dan tidak tanggung-tanggung dia membalikkan semuanya, jika dipikirkan lagi Hana sangat yakin Cindy pasti akan merasa malu. Jika dia masih memiliki rasa malu, tentunya.
"Non,” panggil Bik Surti.
”Apa?”
Bik Surti mengacungkan jempolnya pada Hana membuat Hana tidak mengerti maksud dari wanita yang sudah bertahun-tahun ikut dengan keluarganya Malik.
”Non Hana sudah melakukan hal yang benar."
”Oh, soal itu. Hana gak suka saja Bik jika dia mengganggu ketentraman keluarga bagaimanapun Bang Malik udah berkeluarga dan punya tanggung jawab.”
”Itu ... sebenarnya Non Cindy memang sejak dulu mengejar-ngejar Den Malik, apalagi setelah mereka putus dan Den Malik menikah dengan Non Tiara.”
”Jadi Bik Surti kenal sama dia?”
”Ya jelas Non, wong dulu dia sering datang ke rumah kalau Den Malik gak kuliah.”
Hana mengangguk, rupanya sekuat itu hubungan mereka tapi Hana gak akan menyerahkan semuanya begitu saja. Baginya cerita mereka hanyalah masa lalu dan kini saatnya Malik bersama dengannya dan kedua anaknya.
”Makanannya udah selesai kan Bik?”
”Sudah Non,” balas Bik Surti.
”Bik Surti istirahat dulu gih ambil makan-makan dulu sama Mang Tejo dan yang lainnya, nanti urusan meja biar Hana yang urus.”
”Baik Non.”
Hana mengurus kedua putranya karena Malik belum pulang bercengkrama dengan keduanya adalah hal yang membuatnya bahagia. Senyum keduanya adalah alasannya untuk tetap mempertahankan keluarga ini, bukannya Hana tidak tahu tentang kedekatan suaminya dengan beberapa wanita dia memilih diam dan tidak ingin mengungkit kisah tersebut karena Hana pikir itu tidaklah penting. Buat Hana yang terpenting adalah cinta Malik padanya saat ini.
”Kalian ada di sini rupanya,” seru Malik begitu membuka pintu kamar dan mendapati ketiga orang yang dicintainya tengah bermain bersama.
”Maaf tidak menyambut kedatanganmu Bang, kami asyik bermain,” ujar Hana.
”Tak masalah Abang mandi dulu ya.” Malik segera balik ke kamarnya membersihkan dirinya sedangkan Hana bergegas turun membawa Emil dan Aydan bersama untuk bersiap makan malam.
Selang beberapa saat Malik turun ke meja makan dengan keadaan yang lebih fresh dan terlihat tampan tentu saja.
__ADS_1
”Kenapa memandangiku seperti itu?”
Hana hanya tersenyum kecil lalu kembali melayani suaminya dengan mengambilkan makanan ke piringnya. Bagaimana wanita-wanita itu tidak mengejarnya, terbukti dia masih terlihat gagah dan terlihat lebih dewasa.
”Mama sedang bahagia Pa, jadi tolong jangan bikin mama kesal dulu,” ungkap Emil.
”Benarkah? Syukurlah jika kalian bahagia, papa jadi semangat kerjanya,” balas Malik.
”Kok semangat kerja sih?” Emil mengerucutkan bibirnya.
”Loh lalu apa kalau gak semangat kerja nanti bagaimana Emil sekolah, liburan, makan semua kan butuh uang Sayang, dan itu tidak sedikit.”
”Berarti Papa gak sayang sama Emil karena lebih mementingkan pekerjaannya daripada keluarga,” protes Emil.
Malik menggeleng dan bangkit duduk di sebelah putranya. "Lalu kau mau apa hem?”
"Luangkan waktu buat liburan dong Pa,” rengek Emil.
Membuat Malik dan Hana saling tatap, Malik sadar jika dirinya memang telah lama tidak melakukan perjalanan bersama dengan keluarganya.
”Baiklah jika itu yang kamu mau, nanti papa akan atur jadwal liburan buat kalian,” ucap Malik membuat Emil berbinar seketika.
”Tentu saja.”
”Hore ... jangan lupa ajak Lala, Oma, Tante dan Om, ya Pa?”
Malik membulat mendengar keinginan putranya. "Ya ampun ini namanya liburan keluarga ya?” gumam Malik berujar sendiri. Berapa banyak yang harus dia kocek untuk liburan keluarganya kali ini.
***
”Bagaimana keadaan Abi?” Alvin menanyakan keadaan mertuanya pada Untari.
”Sudah lebih baik, besok jika tidak ada keluhan bisa pulang.”
”Syukurlah, kau pasti lelah istirahatlah biar aku yang gantian jaga.” Alvin memberikan bantal sofa pada Untari dan membiarkan istrinya merebahkan tubuhnya di sofa.
Seharian Untari menjaga Ustadz Amir aka Abi Amir, dirinya merasa lelah karena dia menjaganya sendirian. Kakaknya Mas Jaka sedang balik ke Jogja karena ada urusan penting yang tidak bisa ditinggal.
__ADS_1
Alvin mengecup kening istrinya beberapa kali, sebenarnya dia rindu ingin bercengkrama dengannya namun dia mencoba untuk menahannya karena khawatir jika Untari sudah kelelahan. Dia ingin berbagi cerita bagaimana seharian ini di kantor, bagaimana pekerjaannya yang tengah menumpuk hal yang sering dia lakukan bersama dengannya semenjak mereka berdua resmi menikah.
Baru beberapa menit Ustadz Amir bangun dan memanggil Alvin untuk mengambilkan air minum untuknya, dengan sigap Alvin melayani mertuanya dengan baik.
”Kamu gak pulang ke rumah dulu?” tanya Ustadz Amir menatap Alvin yang masih menggenakan kemeja putih.
”Belum Bi, nanti juga mau mandi di sini kebetulan Untari ada bawa baju ganti,” balas Alvin.
”Jangan terlalu sering mandi terlalu malam, gak baik.”
”Iya mau bagaimana lagi kadang nyampe rumah juga malam kalau pas lembur. Apa Abi mau sesuatu?”
Ustadz Amir menggeleng, ”Istirahatlah, kau pasti lelah sekali, Abi titip Untari ya, Abi mau balik istirahat.”
Alvin mengangguk dan merapikan selimutnya hingga batas dada dan kembali ke sofa duduk di dekat Untari. Alvin ikut tertidur di sofa hingga adzan subuh berkumandang.
”Hai, sudah bangun?” sapa Alvin pada Untari yang baru saja keluar dari toilet.
”Iya buruan ambil wudhu, sholat jamaah yuk!”
”Tunggu sebentar ya.” Alvin segera ke toilet mengambil wudhu sedangkan Untari membangunkan Abi Amir yang ternyata sudah bangun.
”Abi, sholat jamaah yuk!” ajak Untari dan hanya anggukan kepala yang dia lakukan untuk mengiyakan ajakan putrinya.
Alvin keluar dan diminta oleh mertuanya untuk menjadi imam sholat subuh pagi ini, Alvin ragu. Untari dengan cepat mendorong tubuh Alvin tak ingin abi-nya menunggu terlalu lama. Untari mengangguk, memberi support pada Alvin.
Dengan fasih Alvin melantunkan ayat-ayat suci Al Quran hingga selesai. Setelah berucap salam dan melafalkan dzikir, Untari segera melipat mukena miliknya dan mengecek keadaan abi-nya.
Kedua mata Abi Amir terpejam, Untari membangunkannya karena dia ingin memberikan sarapan untuknya. Beberapa kali Untari memanggil tapi tak ada respon darinya membuat Untari panik dan mengguncang tubuh paruh baya yang tergelak di ranjang.
”Abi ... bangun Abi ... ” seru Untari.
Alvin segera berlari menghampiri keduanya. ”Vin, Abi ... ” Untari memeluk tubuh Alvin menangis terisak diperlukannya.
”Secepat inikah beliau pergi,” lirih Untari.
”Sabar ya, InsyaAllah beliau Husnul khotimah,” bisik Alvin menenangkan Untari.
__ADS_1
Untari tidak dapat lagi membendung air matanya manakala perawat datang memastikan keadaan abi-nya beberapa saat kemudian menutup wajahnya dengan kain putih.
”Innalillahi wainnailaihi roji’un.”