
”Pak Malik ada tamu untuk Anda,” ucap Pak Basuki begitu melihat bosnya datang setelah mengantarkan Emil dan Hana ke rumah.
”Tamu? Apakah kita memiliki janji temu dengan klien hari ini?” tanya Malik.
”Tidak ada, itu tamu pribadi yang datang dari luar negeri,” jelas Pak Basuki.
”Tamu pribadi dari luar negeri, siapa dia?” gumam Malik.
”Dimana dia sekarang?” tanya Malik.
”Ada di ruangan Pak Malik, tadi saya arahkan ke ruang tamu tapi dengan tegas menolak dan bilang jika dia adalah teman kecil Anda Pak Malik.”
”Baiklah, saya akan menemuinya tolong kau cancel jika ada jadwal hari ini. Saya merasa sedikit pusing.”
Pak Basuki hanya mengangguk dia faham jika bosnya memang sedang sedikit pusing karena masalah yang terjadi di perusahaan.
Malik masuk ke ruangannya dan terkejut melihat siapa yang ada di ruangannya.
”Flo, sedang apa kau di sini?”
Mendengar namanya disebut gadis berambut pirang pun menoleh.
”Malik, aku menunggumu sejak tadi,” serunya segera bangkit memeluk Malik.
Malik segera melepas pelukan gadis itu membuatnya cukup terkejut dengan sikapnya.
”Kau ... ”
”Tidak baik jika kita bersikap seperti ini kita sudah sama-sama dewasa dan lagi kita bukan mahram.”
”Kau berubah, apakah sudah memiliki pengganti mommy untuk Emil?” tanya Flo.
”Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi istriku di hati Emil, tolong jangan buatku kesal.”
”Aku jauh-jauh datang ke sini karena mendengar kau sudah pindah ke Jakarta. Aku pikir pulang ke Paris akan bertemu denganmu tapi ternyata kau tidak lagi tinggal di sana,” ujar Flo.
”Jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun,” ucap Malik.
”Apa maksudmu?” tanya Flo.
”Sampai kapanpun aku tidak akan membuka hati untukmu Flo, tolong jangan pernah berharap lebih karena sampai kapanpun kau hanya akan aku anggap sebagai mantan adik iparku.”
Deg.
__ADS_1
Flo terkesiap mendengar pengakuan Malik sedalam itukah cintanya pada kakaknya yang telah lama meninggal.
”Aku kira seiring berjalannya waktu kau bisa melupakan kakakku tapi ternyata tebakanku salah,” ucap Flo.
”Tapi keponakanku Emil butuh kasih sayang seorang ibu, apakah kau pernah memikirkan perasaannya?” lanjut Flo.
”Kau tidak perlu khawatir akan hal itu karena dia bisa mendapatkan hal itu dari Oma-nya dan juga adikku Sabrina, ” jelas Malik.
”Bagaimana denganmu sendiri, apakah kau mampu hidup sendiri?”
***
”Hana, kamu melamun?” tegur Indah.
”Eh? Gak kok hanya sedang berpikir saja,” sahut Hana.
”Jangan bohong beberapa hari ini aku melihatmu sedikit berubah apa ini ada kaitannya dengan pertemuannya dengan Eric tempo hari?”
”Tidak.”
”Jangan bohong Hana, aku kenal kamu dari awal kamu masuk di perusahaan ini. Apa benar tebakanku?”
”Aku tidak tahu, rasanya melihat mereka berdua setiap hari bersama di kantin rasanya ingin sekali aku melempar kotoran ke wajah mereka.”
”Biarkan saja mereka seperti itu dan kamu jangan pernah ikutan seperti mereka.”
”Ya, aku tahu itu hanya saja mendengar perkataan orang di kantor juga rasanya malu.”
”Coba buka hati untuk yang lain,” tawar Indah.
”Ah kamu ini kayak apaan aja buka hati untuk yang lain memangnya semudah itu apa?”
”Lah benar kan? Memangnya kamu mau sendiri terus?”
”Setidaknya tidak untuk saat ini, aku mau fokus saja urus hidupku.”
”Yakin? Lalu itu duda ganteng sama putranya bagaimana?”
”Hust, jangan ngaco kamu ada yang dengar tuh nanti disampaikan dipecat kamu,” ucap Hana.
”Lah emang benar kan, itu putranya sampai panggil kamu dengan sebutan ’mama’ kapan kawin sama bapaknya?” tukas Indah.
”Mm, jangan bahas itu deh aku lagi gak mood buat menceritakan semuanya. Intinya semua hanya kebetulan saja dan lagi aku sedang tidak ingin melibatkan hati lagi untuk urusan hati cukup kemarin dan aku sedang tidak ingin membuka hati untuk siapapun,” jelas Hana.
__ADS_1
”Lalu bagaimana dengan putranya?”
Hana menghela nafasnya lebih dulu, ”Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu sayang sama dia, mungkin juga karena nasibnya hampir sama denganku. Dia tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu sedangkan aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.”
”Maksudku ayah kandungku,” ralat Hana.
”Iya juga sih, kalau mama Rita gak nikah lagi pastinya kamu gak bakalan punya adik yang tengil kayak Alvin itu, tapi kamu harus bersyukur juga karena papa tirimu itu sangat sayang sama kamu.”
”Benar.”
Tok ... tok ... tok ...
”Maaf Bu Hana Anda dipanggil Pak Malik ke ruangannya sekarang,” seru Pak Basuki.
”Baiklah saya akan ke sana sekarang. Indah, nanti kita lanjut pas pulang ya,” ucap Hana segera keluar menuju ruangan presdirnya.
Hana terkejut karena begitu masuk ke ruangan tersebut, Eric sudah ada di ruangan itu bersama dengan Ayu istrinya.
”Maaf, ada apa ya Pak?” tanya Hana kebingungan.
”Mereka mau meminta maaf padamu,” ucap Malik.
Hana menatap keduanya penuh curiga. ”Kenapa harus di kantor dan kenapa harus melibatkan Anda Pak Malik?” tanya Hana.
Malik mengedikkan bahunya mendengar perkataan Hana. Hana sendiri merasa sedang dipermalukan dengan sikap Eric tersebut.
”Bukankah semua sudah berakhir lalu kenapa Anda masih saja mengungkitnya, apakah kalian berdua merasa belum puas dengan apa yang Anda lakukan terhadap saya?” ucap Hana.
Hana memalingkan wajahnya ke arah lain dia enggan melihat keduanya rasa sakit yang ditimbulkan oleh penghianatan yang dilakukan oleh Eric masih terasa ngilu di hati.
”Aku hanya tidak ingin kau memberatkan kami berdua, aku tahu ini salahku tolong dengan sangat jangan membenci kami,” ucap Eric terdengar begitu tulus tapi tidak bagi Hana.
”Saya pikir masalah sudah selesai jadi tolong jangan buat saya kesal ya!” ucap Hana menatap tajam pada Eric dan Ayu.
”Maaf Pak Malik sebaiknya Anda tidak lagi membahas hal ini jika memang Anda masih ingin saya tetap bekerja di sini. Saya permisi.” Hana mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan Malik dan membuat pria itu cukup terkejut karena keberaniannya bicara dengan tegas padanya.
Eric dan Ayu pun ikut keluar setelah lima menit Hana keluar dari ruangan itu.
Semakin kesal itulah yang sedang dirasakan oleh Hana kenapa Eric sama sekali tidak memberikannya waktu agar dia bisa melupakannya. Kedua pasangan itu seakan sengaja memamerkan kemesraan mereka di depan Hana. Apa maksud mereka berdua sebenarnya, Hana tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh keduanya.
”Astaghfirullah,” lirih Hana kedua tangannya menutup wajahnya air matanya tidak dapat ditahan lagi. Hana teringat wajah Pak Soleh, papa tirinya yang geram menahan amarah saat dia memberitahukan padanya tentang pembatalan pernikahan sepihak oleh Eric dan sekarangpun beliau sedang sakit dan masih berada di salah satu rumah sakit swasta di Jogjakarta.
”Menangislah selagi kau masih bisa menangis,” ucap seseorang memberikan sapu tangannya ada Hana.
__ADS_1
Hana terkejut melihat siapa yang ada di sampingnya itu.