Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
115. Jodoh Itu Rahasia-Nya


__ADS_3

Suasana di kantor nampak terlihat sibuk Malik yang ingin mengetahuinya data keuangan menanyakan Alvin apakah pegawai sekaligus adik iparnya itu sudah datang atau belum karena meeting akan segera dimulai hampir jam sebelas tapi Faris mengabarkan jika Alvin dan Untari belum juga berada di kantornya.


”Mungkin mereka sedang dalam perjalanan ke sini,” ucap Faris mencoba menenangkan iparnya.


”Cancel meeting-nya aku tidak suka melakukan pekerjaan dengan terburu-buru karena hasilnya tidak akan bagus.”


”Baiklah.” Faris segera menghubungi Pak Basuki dan Pak Hasan untuk menunda meeting kali ini.


”Kenapa anak itu lambat sekali,” lirih Malik.


”Mungkin terjadi sesuatu,” tebak Faris.


”Coba kau hubungi Untari!” titah Malik.


Faris segera menghubunginya namun panggilan demi panggilan tak terjawab. Giliran ponsel Malik yang berdering panggilan masuk dari Hana dengan cepat dia membukanya.


”Hallo, ada apa Sayang?”


”Bang, Alvin tidak dapat masuk ke kantor hari ini.”


”Loh darimana kamu tahu, bukankah tadi pagi dia bilang akan terlambat datang. Sampai detik ini dia belum menampakan diri di kantor.”


”Dengerin dulu Bang, dia baru saja memberitahukan jika sahabatnya Aisha baru saja meninggal dunia dan sekarang Alvin masih berada di rumah sakit bersama dengan Untari.”


”Innalillahi ... baiklah biar Abang akan menunda semua agenda meeting hari ini. Makasih sayang, sampai ketemu nanti biar kita pergi ke rumahnya bersama-sama.”


”Baiklah. Assalamualaikum.”


Bip.


”Batalkan semua meeting hari ini Faris, karena Alvin tidak akan pernah datang ke kantor hari ini, mantan kekasihnya dulu meninggal.”


”Innalillahi.”


”Lebih tepatnya orang yang disukai Alvin pertama kali,” koreksi Malik karena mereka berdua tidak sempat jadian dan Aisha justru lebih memilih sahabatnya Bima.


Di rumah Hana


Hana terkejut mendengar berita dari Alvin dengan segera dia pun menghubungi mamanya di Jogja memberitahukan padanya jika Aisha sudah tidak ada. Bagaimanapun Rita tahu bagaimana perigai Aisha saat masih bersama dengan Alvin.

__ADS_1


”Ada apa Non, kelihatannya kok sedih?" tanya Bik Surti yang melihat Hana terlihat murung.


”Ada kabar kurang enak Bik Surti, temannya Alvin meninggal padahal kemarin siang waktu Hana antar Azizah ke rumah sakit Hana masih bertemu dengannya. Kebetulan dia mengeluh sakit perut dan pergi ke sana tapi begitu bertemu denganku dia langsung pingsan.”


”Innalillahi, lah dia sakit apa Non?”


”Dokter bilang kemarin dia sedang hamil lagi padahal anaknya masih bayi, dia juga mengaku memang gak KB sih.”


”Ya Allah kasihan Non, kok Bik Surti merasa gak tega mendengarnya bagaimana nasib bayinya nanti."


”Entahlah yang jelas suaminya kurang bertanggung jawab. Kemarin ke rumah sakit saja dia datang sendirian.”


”Ya Allah kasihan sekali, orang tuanya pasti kecewa dapat menantu macam dia. Bik Surti saja di rumah mewanti-wanti sama anak-anak untuk selektif dalam memilih pasangan meski tidak dipungkiri jodoh itu rahasiaNya tapi setidaknya kita sudah berikhtiar sebaik mungkin dan juga doanya juga harus kenceng.”


”Sama halnya dengan Non Hana dan Den Malik sebelumnya pasti gak pernah kan kepikiran jika kalian berdua akan bersatu seperti sekarang?”


Hana mengangguk memang sejak awal dia tidak pernah terpikirkan akan menikah dengan bosnya di kantor. ”Benar Bik, nanti Hana mau ke sana takziah Hana titip anak-anak sebentar ya Bik, mama Maryam nanti ke sini kok.”


”Siap Non.”


***


Jika menghajarnya bisa menghidupkan kembali mungkin itu akan dilakukan oleh Alvin. Alvin hanya diam merutuki kekesalannya kenapa dia bisa kecolongan kali ini.


”Vin!” panggil Untari mendatangi ruang kerjanya. ”Kamu melamun lagi?”


”Eh? Maaf, aku hanya pusing mikirin keadaan saja gak habis pikir.”


”Tidak ada yang kebetulan dan semua yang terjadi sudah pasti tertulis oleh-Nya kita hanya perlu tawakal dengan apapun yang terjadi.”


”Benar aku hanya terkejut saja kenapa semua secepat itu, padahal baru kemarin dia menikah tapi sekarang ... ”


Untari merangkul bahu Alvin sesekali mengusap lengannya memberikan kekuatan pada suaminya. ”Sabar.”


”Udah kerja lagi, nanti sore kita keluar pulang kerja kita nonton bagaimana?”


”Kau yakin?” Untari hanya mengangguk dia juga ingin merasakan pacaran setelah halal bagaimana jalan berdua nonton, makan bersama berjalan berdua di mall atau mungkin hanya sekedar duduk berdua di taman.


”Baiklah kalau begitu, tunggu aku nanti ya kita langsung nonton ke bioskop habis pulang kerja.”

__ADS_1


Untari pun akhirnya kembali ke bawah menyelesaikan pekerjaannya. Selagi menunggu lift terbuka, Malik bersama Faris ternyata juga akan turun ke lantai dasar. Untari menyapa bosnya tersebut dan sedikit melirik ke arah Faris dengan penuh kekesalan.


”Kau habis menemui Alvin?” tanya Malik.


”Benar Pak,” jawab Untari.


”Bagaimana keadaannya?”


”Sudah lebih baik Pak Malik.”


”Saya harap kamu tidak kaget dengannya, karena bagaimanapun dia juga dia masih shock dengan kejadian ini."


”Saya faham Pak Malik, kalau begitu saya permisi dulu.” Malik hanya mengangguk singkat.


Untari mempercepat langkahnya dan mulai bekerja seperti biasanya karena banyak pekerjaan jadi terbengkalai karena sehari tidak masuk.


”Bagaimana kabar suamimu?” tanya Maya begitu Untari sampai di mejanya.


”Ya begitu Mbak, masih shock dia karena Aisha ninggalin bayi yang baru beberapa bulan sih. Aku malah kasihan sama bayinya.”


”Aku turut perihatin mendengarnya, kenapa gak kalian asuh saja anaknya daripada ikut papanya masih bayi loh apa suaminya bisa jagain dia setelah apa yang dia perbuat pada Aisha.”


”Aku gak tahu Mbak, kepalaku sendiri pusing sejak semalam gak bisa tidur.”


Untari memang sama sekali tidak memejamkan matanya dia memikirkan Alvin yang terlihat shock dengan kepergian Aisha. Apakah wanita itu memiliki tempat khusus di hati suaminya sehingga Alvin merasa sangat terpukul sekali.


”Ayo kita kerja dulu, nanti kena tegur lagi gara-gara kebanyakan ngobrol,” seloroh Untari dia ingin menghilangkan segala pertanyaan-pertanyaan yang sedang mengusik hatinya.


Begitupun dengan Alvin di ruang kerjanya dia masih saja terpikirkan tentang bagaimana Aisha pergi apalagi penjelasan kakaknya Hana yang mengatakan jika kehidupan rumah tangganya tidak baik-baik saja selama ini. Bima kerap sekali tidak memberikan nafkah pada Aisha dan hal itu membuatnya harus ikut bekerja sendiri diam-diam hingga anak pertamanya lahir.


Bahkan Aisha pun tidak melakukan KB pada umumnya dengan alasan tidak memiliki budget yang cukup untuk itu, sudah bisa membeli susu anaknya saja Aisha sudah sangat bahagia. Hingga akhirnya dia kembali hamil dan herannya Bima seakan acuh dan semakin santai dengan tidak bekerja padahal pengeluaran rumah tangganya cukup banyak.


Alvin menarik nafas dalam melihat Malik ada di pintu ruangannya tanpa menunggu persetujuan Malik langsung masuk.


”Ada apa Bang?”


Malik menyerahkan amplop coklat dan memberikannya pada Alvin. ”Pergilah bulan madu ke Bali.”


Alvin terdiam haruskah dia pergi honeymoon sedangkan hatinya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2