
”Bang yakin akan pergi?” Hana mendekat pada Malik.
"Iya besok pagi memangnya kenapa Sayang, kenapa kau menanyakan hal itu lagi sekarang?”
”Gak apa, ya berat aja kalau harus ditinggal lama-lama kan selama ini Abang gak pernah ninggalin aku,” keluh Hana.
”Astaghfirullah kamu sedang merajuk rupanya, Abang juga gak mau lama-lama nanti begitu kerjaan beres Abang janji langsung pulang.”
”Janji ya.”
”Tentu saja.” Malik mempererat pelukannya pada Hana seakan tak ingin berpisah dari wanitanya itu.
Pagi menjelang Malik pun berangkat ke Surabaya tanpa ditemani stafnya dan ini adalah perjalananya pertama kali tanpa membawa pegawainya karena biasanya dia akan membawa serta Faris ataupun Pak Basuki.
Setelah kepergian Malik, Hana mempersiapkan kedua putranya ke sekolah dan juga dirinya berangkat ke kantor.
”Mama akan pergi ke kantor juga hari ini?” Emil mengunyah roti pemberian Bik Surti.
”Iya Sayang, nanti mama akan jemput kamu. Nanti kita main bagaimana?”
”Lalu siapa yang jagain Aydan nantinya?”
Emil terlihat khawatir jika adiknya tidak ada yang menjaga. "Nanti dia akan dijaga sama Oma jadi kamu bisa main sepuasnya.”
”Benarkah?” kedua mata Emil berbinar mendengar penjelasan Hana.
”Baiklah Emil mau tapi janji ya kita pergi hanya berdua saja.”
Hana mengusap kepala Emil belakangan ini dia memang kurang memperhatikan bocah itu membuatnya merasa sangat bersalah karena belum bisa sepenuhnya menjadi ibu yang baik untuknya.
Hana mempercepat laju mobilnya dia ingin segera sampai di kantor setelah mengantarkan Emil pikirannya tidak menentu terlebih setelah Malik tidak dapat dihubungi.
"Mbak, kok udah datang?” Faris menggoda Hana.
”Astaghfirullah ini tuh udah siang ya kamu lihat jam tanganmu, udah jam sepuluh.”
"Eh iya, maaf lah biasanya jam delapan udah di kantor ini jam sepuluh baru datang,” sindir Faris.
Hana diam tidak menanggapi perkataan Faris. ”Eh, iya apa Bang Malik ada menghubungimu?”
”Satu jam yang lalu sebelum dia meeting dengan klien dia sempat bilang sedang istirahat dulu di hotel. Ada apa?”
”Kok dia gak ngabarin aku dari tadi ya?”
”Maksudnya?”
__ADS_1
”Ya semenjak dia berangkat hingga sekarang belum kasih kabar lagi.”
Faris terkekeh, ”Mungkin masih sibuk Mbak, atau lowbet biasanya begitu.”
”Hm, alasan saja mungkin orang tadi sebelum berangkat full kok aku sendiri yang mencharger-nya jadi aku tahu,” terang Hana.
”Udah positif thinking aja Mbak, Bang Malik gak akan selingkuh kok dia hanya sayang sama Mbak Hana seorang,” ucap Faris karena memang dia tahu bagaimana Malik selama ini waktu dan tenaganya hanya untuk keluarganya saja terlebih saat putranya masih sakit Malik sama sekali tidak memikirkan kebutuhannya sendiri.
”Ya udah, aku ke ruanganku dulu.”
Hana pamit ke ruangannya Faris hanya bisa menatapnya tak berkedip wanita yang menjadi kakak iparnya masih tetap sama cantik dan tidak berubah sedikitpun meskipun sudah melahirkan seorang baby untuk kakaknya itu.
”Melamun aja, nih ada telepon dari bos Malik buatmu!” tegur Pak Basuki.
”Oke.”
Faris menuju ke ruangannya seraya menerima telepon dari kakaknya itu.
”Astaga Bang, kasihan ya itu mbak Hana khawatir karena kamu belum kasih kabar sama dia.”
”Iya nanti aku kabarin dia, ini aku masih harus mengecek kondisi di lapangan mana panas banget lagi. Tolong kasih tahu jika aku baik-baik saja dan sedang sibuk di lapangan.”
”Oke nanti aku sampaikan, oh iya jangan lupa oleh-olehnya.”
”Ya ampun adik ipar gak ada akhlak Abang lagi kerja bukan lagi piknik!”
Bip.
Faris terkekeh sendiri tapi tunggu, siapa wanita cantik yang ada di sebelah Bang Malik apakah itu kliennya kenapa tidak berpakaian seperti layaknya seorang pegawai. Pikiran Faris mulai kemana-mana.
***
Emil tengah bermain di wahana permainan,Hana dan Maryam tengah memperhatikannya di balik pagar pembatas.
”Apa Malik sudah menghubungimu?” tanya Maryam sesekali senyumnya mengembang melihat polah cucu pertamanya yang sedang asyik bermain.
”Belum Ma,” sahut Hana dengan kegelisahan tergambar di wajahnya.
”Dia pasti baik-baik saja jadi tak perlu khawatir,” ucap Maryam berusaha menenangkan menantunya itu.
”Iya Ma.” Hana memilih diam daripada banyak bicara karena dia khawatir salah dalam mengekspresikan perasaannya saat ini jika dia sedang mengkhawatirkan suaminya apalagi mamanya Rita menceritakan kejadian suaminya Dian tetangganya yang selingkuh dengan teman kantornya.
”Kita pulang saja ya Nak, mama kamu sepertinya sedang tidak enak badan.” Maryam mengajak Emil pulang dia tahu jika menantunya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Sesampainya di rumah Hana langsung masuk ke kamarnya, baru kali ini dia merasakan khawatir yang luar biasa dengan suaminya padahal sebelumnya Malik lah yang bucin akut dengannya.
__ADS_1
”Bagaimana kalau Bang Malik ketemu perempuan lain di sana?” gumam Hana.
Tok ... tok ... tok ...
”Non, ada tamu di depan,” teriak Bik Surti.
”Bentar ya Bik,” sahut Hana segera beranjak dari tempat tidurnya dsn merapikan dirinya di depan cermin.
Hana menuruni anak tangga dan terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya. ”Mas Eric,” lirih Hana.
”Ada apa ya Mas?” tanya Hana segera duduk di depan Eric.
”Ini aku mau meminta tolong sama kamu, ini adikmu Bayu sedang mencari pekerjaan apa di kantornya Pak Malik ada lowker. Dia bersedia kok ditempatkan dimana saja.” Eric menyodorkan map berkas lamaran adiknya pada Hana.
”Tapi Bang Malik sekarang sedang tidak ada di rumah jadi mungkin harus nunggu dua atau tiga hari lagi baru ada jawaban.”
”Tidak masalah karena adikku juga masih terikat di perusahaan lain, dia rencananya mau pindah dan sedang mencari batu lompatan jadi aku menawarkannya ke perusahaannya Pak Malik ini.”
”Silakan diminum Mas.” Hana mempersilakan Eric setelah Bik Surti memberikan air minum pada tamunya.
”Bagaimana dengan kabarnya Ayu, apakah dia masih saja seperti dulu?”
Eric terdiam pertanyaan Hana sangat membuatnya semakin sedih.
”Non, baby bangun,” seru Bik Surti menyerahkan Aydan ke tangan Hana.
Eric memperhatikan Hana dengan intens dia begitu cekatan dalam mengurus baby berbeda dengan Ayu yang sama sekali tidak pernah menggendong anaknya sendiri.
"Dia langsung diam ya jika dipegang oleh mamanya sendiri,” lirih Eric.
”Eh?”
"Apa dia selalu seperti ini?” tanya Eric masih memperhatikan Aydan.
”Iya namanya juga bayi dimana-mana pasti sama, bagaimana dengan Zahra putrimu?”
"Dia dibawa sama Ayu pulang ke rumahnya bahkan aku gak punya kuasa untuk menjenguknya jika aku tidak membawa uang buat beli susunya,” terang Eric.
”Loh memangnya Ayu gak meng-ASI Zahra?”
Eric menggelengkan kepalanya, ”Aku sendiri kurang yakin apabila dia bisa merawatnya dengan baik karena setahuku saat ini Ayu sendiri sedang dekat dengan seorang pria.”
”Maksudmu Ayu selingkuh?” seru Hana membelalakkan matanya.
”Ya Allah kenapa dimana-mana orang pada tidak setia,” gumam Hana pikirannya langsung tertuju pada Malik yang sedang jauh di Surabaya.
__ADS_1
”Kenapa kamu gak kasih aku kabar Bang!” Hana semakin kesal jika mengingat hal itu.
”Han, kamu baik-baik saja kan?”