
Mereka berempat yang mendengar itu langsung keluar dan menghampirinya. Setelah keluar, mereka melihat semua orang sedang tercengang oleh karena orang tersebut, sampai Gion pun keluar dari ruangan misi Regental nya.
"Pangeran! Pangeran! Pangeran Lukas! Pangeran Gion!" Panggilannya.
Lalu terlihatlah tampang orang itu, orang itu ialah Henil, dia terlihat sangat panik dan tergesa-gesa sekarang.
"Ada apa Henil?" Tanya Gion yang langsung menghampirinya.
Henil mendekat kepada Gion dan membisikkan sesuatu ke telinga Gion, sehingga membuat Gion terlihat kaget dan juga panik. Dengan tiba-tiba Gion menarik tangan Lukas dan Alin untuk pergi bersama dengannya keluar.
"Eh, eh. Gion kau mau membawa kami kemana?" Tanya Alin yang terlihat terkejut. Tapi Gion tetap tidak menjawabnya dan masih menarik-narik mereka
Setelah berada di luar, Lukas menepiskan tangan Gion yang menariknya itu dengan kasar. Lalu menepiskan tangan Gion juga untuk Alin. Lukas terlihat marah dan kesal karena Gion menarik-narik mereka dari dalam kantor tanpa ada alasan yang jelas.
"Ck, ada apa denganmu?!" Tanya nya.
"Gawat! Seseorang sedang menyerang istana, dia sudah menembus penjagaan istana dengan mudah, Pangeran!" Jawab Henil.
"Hah?! Apa yang terjadi, Henil?! Kenapa bisa seperti itu?!" Tanya Alin yang langsung menghampiri Henil.
"Saya tidak tau, putri. Dia berkata, kalau dia sedang mencari saudaranya. Tapi karena kami tidak mengijinkannya masuk, dia malah menyerang dan mencoba untuk menerobos penjagaan istana."
"Sepertinya keadaan istana sangat brutal sekarang." Ucap Lukas dengan entengnya.
Mereka bertiga langsung menoleh ke arah Lukas dengan tajam dan Lukas pun menunjuk ke arah istana yang terlihat berasap dari tempat mereka sekarang.
"Wahhh, separah itu, kah? Aku penasaran sekuat apa orang yang bisa menerobos penjagaan istana itu." Ucap Lukas yang masih sempat-sempatnya bercanda.
Karena kesal dengan adiknya itu, Gion menjitak kepala Lukas dengan keras, yang di susul oleh Alin yang menjitak kepalanya juga.
"Jangan bercanda!" Tegas Gion.
"Awh..! sakit!" Ringisnya
"Kau juga, jangan bertengkar!" Tegas Alin sambil menjitaki Gion.
__ADS_1
"Awh! Heiii, heiii. Dia yang duluan!" Protes Gion.
"Kau yang duluan." Sahut Lukas tak mau kalah.
"Kau!"
"Kau."
"Tidak, kau yang duluan!"
"Ih, kau yang duluan. Siapa yang menjitak lebih dulu. Kau bukan?" Tanya Lukas.
Ini adalah fonemena langka bagi Alin dan Henil yang jarang sekali melihat kedua orang itu bertengkar. Mereka berdua hanya duduk di rerumputan sambil menatapi Gion dan Lukas yang sedang bertengkar itu. Henil pun terheran-heran, baru kali ini ia melihat Lukas yang mau meladeni pertengkaran nya dengan Gion itu.
"Eh, eh. Kau yang lebih dulu memulainya, jadi kau yang bersalah!" Sahut Gion lagi.
"Humppt... Tidak masalah sebesar apa kekacauan itu terjadi, selama ada ayah, istana akan aman sekarang. Kau saja yang tidak bisa berpikir! Sudahlah, aku akan pulang. Jalan pakai kaki mu sendiri! Aku tidak mau membawa mu memakai mantra teleportasi, Ayo Alin! Met tinggal!"
"Hm? Oh, oke."
"Hei! Hei! Lukas! Alah!"
Tanpa ia sadari juga, semua kepribadiannya yang dulu perlahan kembali seiring berjalannya waktu. Di tambah, Lukas juga sangat terlihat ceria akhir-akhir ini. Ini adalah berita yang sangat bagus bagi orang terdekatnya.
Alin terus saja mengikuti Lukas di sampingnya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang sunyi berduaan tanpa adanya gangguan sedikitpun, tapi Lukas tidak membuat teleportasi untuk mereka.
Sampai separuh jalan pun Lukas tetap tak kunjung membuat mantra teleportasi, ia mengajak Alin mengobrol tentang yang tidak terlalu penting, tapi Alin tidak masalah dengan hal itu. Namun, Alin menjadi semakin gelisah saat asap yang ada di depan mereka menebal dan menghitam.
"Lukas, Kenapa kita... tidak menggunakan mantra teleportasi saja? Sepertinya istana sedang gawat sekarang."
"Tidak apa-apa, ada ayahku di sana mereka akan baik-baik saja. Aku hanya malas dan lelah... lelah dengan kehidupan yang tidak bisa damai ini. Biar mereka saja yang mengurusnya." Jawab Lukas yang sambil mengarah ke depan.
"Aku tau.. Terkadang aku juga sangat lelah dulu, aku selalu saja salah di mata semua orang dan diri ku sendiri. Ketakutan, kelaparan, kesepian dan rasa tertekan, selalu saja menghantui ku. Tapi sekarang berbeda, aku memiliki kehidupan yang baru, bersama dengan orang yang akan selalu ada untuk ku. Jadi kau harus menemukan seseorang yang bisa membuatmu berubah, ya? Jangan mengeluh dan bersedih terus! Kau harus semangat!" Ucap Alin yang menyemangati Lukas.
Saat Lukas melihat Alin seperti itu, ia merasa kembali bersemangat dan juga senang. Dengan keadaan yang masih berjalan, Lukas mengacak-acak sedikit rambut Alin sambil tersenyum lebar. Lukas semakin menyayangi Alin di setiap harinya, namun hati yang masih terluka itu masih belum berani memperbaiki dirinya dengan cepat.
__ADS_1
"Kau tidak perlu kuatir, aku sudah menemukannya."
"Apa itu aku?" Tanya Alin dengan senyuman yang sangat lebar.
"Uhuk! Eh, eh, jangan terlalu percaya diri! Ya, ya, Gion, Kael, dan, dan, masih banyak lagi. Jangan terlalu percaya diri." Sahut Lukas yang mulai kelabakan.
"Humppt... Aku kira itu aku..." Ucap Alin dengan wajah cemberut yang seperti bercanda.
"Hehe... Kau tetap teman terbaikku. Jangan begitu..."
"Teman...?" Tanya Alin yang langsung menatap Lukas.
"Iya, memangnya apa lagi?"
"Ah, tidak, tidak, tidak apa. Ayo kita kembali."
"Teman yah..."
Sesampainya mereka berdua di istana, keadaan gerbang istana sudah terbakar sebagiannya. Dan dengan cepat keduanya berlari ke dalam untuk melihat kondisi di dalam istana.
Saat masuk terlihatlah beberapa puluh pasukan mengepung orang tersebut, bersama dengan Deon Li yang ada di hadapan orang itu. Terlihat juga di sana Gion dan Henil yang sudah datang lebih dulu dari pada mereka, berdiri di samping Deon Li. Begitu juga dengan Yuno, dia sudah bersiap dengan pedang yang ada di sampingnya.
"Menyerah saja, kau tidak akan bisa menang melawan kami!" Ucap Yuno yang sudah siap untuk menarik pedangnya untuk yang kesekian kalinya.
"Ishhh.... melawan kalian apa? Aku hanya ingin mencari adik ku. Apa susahnya mencari seseorang dengan latar belakang kalian itu?! Pelit sekali!"
Setelah mendengar perkataan orang tersebut, Lukas maju dan berniat membantu mereka. Sementara Alin ia tinggalkan di belakang, di tempat yang cukup aman untuk nya. Lukas memutuskan untuk berbicara dengan baik-baik dulu dengan orang itu sebelum bertindak menggunakan cara-cara keras miliknya agar tidak menimbulkan perkelahian lagi.
"Tenang dulu. Bisakah kita bicarakan ini dulu. Mungkin aku bisa membantu mu."
"Ahhh, ini dia. Kenapa kalian tidak berbicara seperti ini sebelumnya, hanya membuang-buang energi ku saja. Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik begini, bukan?" Ucap orang itu.
"Maafkan atas perlakuan kami sebelumnya."
"Karena kau bersikap sopan... baiklah. Aku ingin mencari adikku, aku dengar... adik ku ada di istana ini, tapi kalian malah menyambutku seperti itu. Humppt...!"
__ADS_1
"Kalau aku boleh tau, siapa nama adikmu itu?" Tanya Lukas.
"Adikku itu... bermarga Jiu."