
Mereka yang mendengar perkataan Lukas itu langsung melihat ke arah langit, untuk memastikan kalau itu sudah hampir petang. Karena memang sudah hampir petang, mereka akhirnya memutuskan untuk mendengarkan perkataan Lukas untuk pulang ke istana sesegera mungkin.
"Oke, ayo pulang." Ajak Olivia yang langsung bergegas membereskan barang-barang miliknya.
Saat melihat Olivia yang sudah bersiap-siap, mereka langsung membereskan barang-barang mereka yang ada di dekat pohon besar yang ada di sekitar tempat itu juga. Setelah selesai, mereka berempat berkumpul di sekitar tempat itu.
"Bagaimana, siapa yang akan membawa kita pulang sekarang?" Tanya Olivia yang sudah menjinjing rapi tas di pundaknya.
"Aku akan membawa kita pulang, pegang tangan ku." Ucap Lukas yang langsung membuat lingkaran teleportasi.
Kemudian, ia mengulurkan tangannya ke Alin untuk di gandeng, Alin pun menyambutnya dengan senang hati. Kael dan Olivia juga bergandengan, mereka berempat membuat lingkaran diantaranya.
Cahaya-cahaya biru mulai memancar dari lingkaran yang ada di tengah-tengah mereka dan seketika itu juga, tibalah mereka di depan gerbang istana. Setelah tiba, mereka langsung masuk ke dalam istana dan masuk ke kamarnya masing-masing.
Alin pun pergi kamarnya dan langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan kasar. Rasa lelah dan lapar langsung menghantui dirinya saat merebahkan tubuhnya di kasur. Alin sangat lah malas untuk beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri dalam kondisi seperti itu, apalagi harus pergi ke dapur istana untuk membuat makanan.
Krukkkyukkk~
Akan tetapi perutnya sudah meronta-ronta minta di isi dengan berbagai makanan yang enak di dapur. Karena sudah tidak sanggup dengan perutnya yang terus meronta-ronta, Alin pun dengan terpaksa harus berjalan pergi ke dapur yang jarak nya cukup dari tempatnya sekarang.
"Hufttt... Lelah sekali....! Lapar lagi!" Gumam Alin.
Dengan keadaan tenaga yang sudah melayang separuhnya, Alin berjalan dengan malas ke arah dapur istana di iringi oleh muka datar tanpa ekspresi. Sesampainya di dapur, ia langsung duduk dan di hampiri oleh kepala koki di sana.
"Selamat sore putri Jiu, apa ada yang saya bisa bantu."
"Hm. Tolong buatkan makanan untuk ku, apa saja. Aku lapar sekali..." Pintanya.
"Baik putri Jiu."
Setelah mendapatkan perintah dari Alin, pak Gendi langsung pergi ke depan kompor untuk memasak makanan. Waktu pun terus berjalan, makanan yang pak Gendi buat sudah memunculkan aroma yang mengiurkan di ruangan itu. Tapi, Alin yang sudah menunggu sedari tadi, malah ketiduran di atas meja makan.
Beberapa menit kemudian makanannya telah selesai di masak, tapi saat pak Gendi menghampiri Alin, ia mendapati orang itu yang sudah tertidur dengan nyenyak di atas meja. Pak Gendi pun bingung, ia akhirnya mencoba untuk membangunkannya.
"Putri, putri Jiu, bangun... Makanan nya sudah jadi."
__ADS_1
Namun Alin masih saja belum bangun dari tidurnya dan itu membuat pak Gendi semakin bingung dan kuatir di tempat. Untungnya pada saat itu juga, Reyhan dan Gion masuk ke dapur untuk makan malam. Rasa kuatir pak Gendi pun mulai pergi.
Pak Gendi langsung pergi menghampiri mereka, untuk meminta bantuan.
"Pangeran, Ehm... Putri Jiu tertidur di dapur. Tapi saat saya bangunkan, beliau tidak bangun-bangun juga."
"Hm? Alin?" Gumam Gion yang langsung berjinjit untuk melihat Alin.
Sedangkan Reyhan, dia langsung menghampiri Alin di susul oleh Gion dan Pak Gendi di belakang. Keduanya lalu membangunkan Alin dengan pelan-pelan.
"Alin, hei Alin, bangun... ini dapur..." Panggil Reyhan dengan suara yang agak kecil.
Tapi lagi dan lagi Alin masih saja belum bangun dari tidurnya. Hingga Lukas masuk ke dalam bersama dengan Henil yang sedang berbicara dengannya. Saat Lukas masuk, mereka langsung menatap ke arahnya.
Sementara itu Henil hanya kebingungan dengan mereka yang menatap ke arah Lukas. Ia pun menghampiri mereka di meja makan. Saat melihat Alin yang tertidur di meja, Henil pun melihat ke arah Lukas juga. Lukas tentu saja kebingungan melihat mereka yang seperti itu.
"Ada apa? Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Lukas.
Lalu ia berjalan ke arah mereka dan melihat Alin yang tengah tertidur di atas meja. Ia pun tersenyum tipis dan langsung menepuk-nepuk lengan Alin untuk membangunkannya.
"Tukang tidur, bangun..." Panggil Lukas dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Apa?! Apa?!"
Karena Alin tak kunjung bangun dengan panggilan kecil itu, Lukas menggendong Alin untuk mengantarkannya ke kamar. Dengan keadaan yang masih terkejut, pak Gendi menyuruh salah satu pelayan untuk membawakan makanan yang telah ia buat tadi.
"H-hei kau, bawa makanan ini kepada pangeran Lukas." Perintah Pak Gendi.
Pak Gendi pun memasukan dua piring mie goreng sapi dengan 2 gelas susu ke atas sebuah troli yang lalu di bawa oleh salah satu pelayan. Lalu Lukas membawa Alin ke kamarnya di ikuti oleh satu pelayan di belakangnya.
Sesampainya di dalam kamar, Lukas langsung meletakan Alin. Saat Lukas menurunkannya ke kasur, Alin sedikit terkejut dan perlahan terbangun dengan keadaan perut yang kosong.
"Hmm... Di mana ini...? Ada apa?" Tanya Alin yang mulai terbangun dari tidur nyenyaknya.
Saat terbangun Alin sangat kebingungan dengan tempat yang ia tempati sekarang berbeda dari tempatnya sebelumnya. Dan oleh karena orang yang ada depannya sekarang.
__ADS_1
"Kau boleh pergi." Perintah Lukas kepada pelayan yang ada di belakangnya.
Pelayan itu langsung pergi setelah mendapat perintah dari Lukas yang menyuruhnya untuk pergi.
Alin pun mulai terbangun dan duduk dari tempat tidur. Sambil mengucek-ucek salah satu matanya, ia mencoba untuk melihat dengan baik-baik orang yang ada di depannya itu.
"Oh... Tadi.. aku di dapur, kan? Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Alin yang sudah terbangun sepenuhnya.
"Aku yang membawamu kemari, kau tertidur di dapur tadi. Apa pelatihan tadi membuatmu merasa sangat lelah?"
"Hmm... sedikit. Aku lapar... kenapa kau membawa ku pergi dari dapur?!" Tanya Alin yang terlihat agak kesal.
"Jika kau tidur di situ, mungkin saja akan di jadikan bahan makanan oleh pak Gendi. Apa kau yakin ingin tidur di dapur lagi?" Sahut Lukas yang mencoba untuk menakut-nakuti Alin.
"Hah?! Apa, apa pak Gendi memasak manusia untuk bahan bakunya?!"
Alin langsung terkejut dan membelalakkan matanya, lalu menatap Lukas dengan tatapan yang tajam. Ia tau kalau Lukas sedang berbohong kepadanya sekarang. Ia pun memasang ekspresi yang tajam.
"Hmm... Kau berbohong, kan?!"
"Hehehe... Kau hanya terlalu polos, itulah mengapa aku ingin menjahilimu." Sahut Lukas dengan senyuman yang lebar di wajahnya.
Setelah melihat Lukas tersenyum seperti itu, Alin menjadi sangat senang melihatnya. Ia mencolek pipi bagian kanan Lukas dengan lembut.
"Kau tersenyum lagi..."
"Ada seseorang yang membuatku bisa tersenyum seperti ini."
"Andaikan aku berani mengungkapkannya, aku akan mengatakan kepadamu... kalau kaulah yang membuatku bisa tersenyum lagi."
Setelah mendengar pertanyaan dari Lukas itu, Alin merasa sedikit terkejut. Hatinya terasa seperti mati rasa, seakan-akan tau kalau orang itu bukanlah dia. Alin menjadi muram sesaat, tapi setelah itu ia kembali tersenyum ke arah Lukas. Tapi senyuman itu bukanlah senyuman yang tulus, melainkan senyuman yang terpaksa.
"Hmm.. Aku lapar, ayo makan bersama!" Ajak Alin saat melihat troli makanan di belakang Lukas.
"Tentu."
__ADS_1
Lukas pun menggeser troli itu membawanya ke tengah-tengah mereka. Mereka berdua yang sudah kelaparan langsung mengambil makanan itu dan memakan makanan tersebut dengan lahapnya.
Setelah selesai makan, Lukas pergi dari kamar Alin untuk membahas sesuatu dengan Henil di aula. Alin pun sendirian di tempat itu, ia merebahkan kepalanya. Mukanya perlahan memerah dan matanya meneteskan satu bulir air mata kesedihan yang lalu ia hapuskan dari pipinya.