Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 129 "Bukalah matamu, ayah.."


__ADS_3

Ke esokkan harinya, pagi-pagi sekali sekitar pukul 5:48, suara degupan kaki terdengar nyaring dari luar kamar Reyhan. Sedangkan pada saat itu, kedua pasangan kekasih tersebut masih nyenyak-nyenyaknya tidur dalam pelukan satu sama lain. Mendengar suara yang begitu gaduh dan menggangu, Reyhan merasa terganggu dan sontak terbangun dari tidur nya.


"Emrrr... Ada apa diluar sana, berisik sekali." Gerutu Reyhan pelan.


Dengan keadaan setengah sadar, ia beranjak dari kasurnya dengan perlahan agar Lina tidak ikut terbangun juga, lalu berjalan membukakan pintunya. Saat pintu sudah terbuka, terlihat sudah ada belasan prajurit yang telah berbaris rapi di depan sambil membungkukkan badannya memberi hormat kepada Reyhan.


"Salam sejahtera untuk pangeran." Hormat mereka serempak.


"Ada apa ini?" Tanya Reyhan keheranan.


"Kaisar meminta anda untuk menghadap beliau sekarang di ruang bacanya, pangeran." Jawab salah satu dari mereka.


"Ayah? Memangnya ada urusan apa? Tumben sekali."


"Silahkan anda ikut dengan kami sekarang, pangeran."


"Hm. Sebentar, aku akan bersiap dulu."


Reyhan kemudian masuk kembali ke dalam. Saat ingin mengambil jubahnya yang tergantung, Reyhan terhenti sejenak dari geraknya. Ia melirik Lina yang sedang tertidur pulas di sana sambil tersenyum tipis. Tidak tega mengganggu Lina yang sedang tidur, Reyhan memutuskan untuk tidak membangunkannya dan langsung pergi.


"Ini mungkin adalah waktunya. Tolong doakan aku agar bisa memperjuangkan hubungan kita sampai akhir."


Setelah jubah tersebut di kenakannya, Reyhan langsung keluar menemui para prajurit yang telah menunggunya di deoan. Mereka pun pergi menemui ayah Reyhan di ruang bacanya.


Sesampainya di ruang baca, salah satu prajurit langsung masuk lebih dulu ke dalam ruangan untuk melaporkan kedatangan Reyhan. Suaranya sangat terdengar jelas di telinga Reyhan yang sedang berdiri di depan pintu, saat ia melapor kepada orang yang sedang berada di seberang pintu sana.


"Salam untuk kaisar Otean. Pangeran Reyhan sudah ada di depan." Ucap prajurit itu.


"... "


Saking kecilnya suara sahutan dari orang itu, Reyhan yang tadinya bisa mendengar raporan prajurit tadi dengan jelas, tidak mendengar apa-apa lagi. Beberapa saat setelahnya, prajurit yang masuk ke dalam keluar dari ruang baca tersebut. Ia membukakan pintunya sedikit lebar untuk mempersilahkan Reyhan masuk.


Tapi anehnya, belasan prajurit-prajurit tadi langsung mundur ke belakang dengan rapi dan pergi dari situ dengan segera. Reyhan tercengang sejenak dengan keanehan itu. Segera setelah itu, ia pun masuk ke dalam.


"Ayah, kenapa prajuritmu itu terlihat aneh sekali? Kenapa juga mereka terlihat seperti sedang terburu-buru pergi? Apa ada yang mendesak?" Tanya Reyhan dengan pandangan yang masih tertuju pada pintu di belakang.


Tapi tidak sahutan ataupun jawaban dari sekian pertanyaannya itu. Reyhan kembali keheranan, ia pun berbalik mencari tau apa sebabnya tidak ada sahutan sama sekali dari ayahnya. Saat pandangannya sudah lurus sepenuhnya ke depan, Reyhan langsung terdiam sejenak di sana.


Terlihat ada Kael yang sudah duduk di kursi sebelah kiri ruangan dengan ibunya yang duduk di kursi seberangnya. Lalu, ia kemudian melihat ke arah lain, yang dimana ayahnya sudah duduk di kursi mewah di depannya dengan tatapan dingin dan juga serius dari kejauhan. Reyhan hanya bisa menelan ludahnya saja di tatap seram seperti itu.


"Ehe.. Hmm.. Sa-salam sejahtera untuk Kaisar Otean dan salam untuk ibu juga. Salam untuk kak Kael." Hormat Reyhan dengan canggung di tengah-tengah mereka.


Tapi mereka masih terdiam, tidak ada satupun yang bicara. Bahkan Kael hanya terdiam di sana dengan raut wajah yang murung dan gelisahnya. Tidak sedikit pun ia menoleh bahkan menatap Reyhan yang berdiri di situ. Karena merasa canggung Reyhan pun bergegas ingin duduk di samping Kael.


"Tunggu, tetap berdiri di situ." Ucap Kaisar Otean dengan nada dingin.


"Oh, ehm... baik.


Tapi Kaisar Otean menghadangnya. Ia pun berhenti dan tetap berdiri di tempat sesuai dengan perintah dari ayahnya. Sementara Kael masih saja terdiam seperti sebelumnya, tapi anehnya ibu Reyhan terlihat tersenyum dengan penuh harap melihat hal tersebut.

__ADS_1


"Apa kau sudah tidak peduli dengan perjuangan ayah selama ini, Reyhan?" Tanya Kaisar Otean dengan nada bicara yang masih dingin.


"Apa maksud anda, ayah? Tentu saja saya peduli dengan perjuangan anda."


"Lalu kenapa kau ingin menjatuhkan martabat keluarga kita dengan keputusan bodohmu?"


"Heh! Itu pasti dia. Itulah mengapa aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang tua baruku, karena aku membencinya, dia pun membenciku."


Reyhan terdiam, ia sudah tau kalau semua ini pasti ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia hanya tetap diam, menunggu ayahnya kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Jawab Reyhan! Kenapa kau berhubungan dengan rakyat jelata itu! Bahkan kalian membuat kegaduhan kemarin malam di istana! Memalukan sekali!" Bentak Kaisar Otean dengan nada bicara yang terdengar lebih keras dan kasar.


"Memangnya kenapa, ayah? Saya mencintainya, apakah salah?" Bantah Reyhan dengan percaya diri.


"Tentu saja salah! Apa kau tau, itu sangat mempengaruhi harga diri keluarga dan pangkat kita. Tapi kau.. Malah berhubungan dengan rakyat jelata itu, bahkan berhubungan badan dengannya! Ingin di taruh di mana muka ku saat para tetua tau kalau putra tunggal ku berzinah dengan seorang wanita murahan seperti dia!" Maki Kaisar Otean lagi.


"Heh! Lalu wanita yang di sana disebut apa, kalau wanita polos yang menggoda satu pria seumur hidup saja di sebut wanita murahan? Apakah wanita jala*g?" Ucap Reyhan dengan sinis seraya menunjuk ke arah ibunya.


Merasa tidak terima Lina di hina, Reyhan bahkan sampai memprovokasi ayahnya sendiri. Emosi Kaisar Otean meluap-luap, ia tidak terima kalau istrinya di hina. Ia pun segera berdiri dari tempat nya dan meninju wajah Reyhan dengan keras hingga terpental beberapa meter dari tempat sebelumnya.


...BUGH!...


"Augh..!" Ringis Reyhan seraya memegangi wajahnya yang tertinju.


"Reyhan! Sudahlah Reyhan, hentikan..."


"Memangnya kenapa?! Itu semua fakta! Apa ayah sudah buta?!! DIALAH YANG MEMBUNUH IBUKU!"


"Reyhan! Dia memang bukan ibu kandungmu-


"Benar! Dia bukan ibu kandung ku, bahkan bukan ibu tiriku! Dia pembunuh ibu ku!" Sahut Reyhan dengan lantang.


"Reyhan!" Bentak Kaisar Otean.


Tapi Reyhan tidak memperdulikan nya, ia masih menatap tajam ayahnya. Tiba-tiba saja Ibu Reyhan yang ada di kursi sedari tadi pun ikut menghampiri mereka. Ia memeluk erat lengan Kaisar Otean yang sedang marah besar itu.


"Sudahlah, sayang... Aku memang tidak akan pernah bisa ada di hati Reyhan untuk selamanya.. Akun menyesal karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk nya." Ucap wanita itu dengan nada dan raut wajah yang terlihat sangat sedih dan menderita.


Kael yang ada berasa bersama Reyhan pun menjadi jengkel melihat sandiwara ibu tiri Reyhan tersebut. Ia pun menatap sinis juga wanita itu. Kaisar Otean yang melihat istrinya sedih, merasa iba dan kasihan, tapi emosinya kepada Reyhan kian bertambah tingkatnya.


"Minta maaf pada ibumu sekarang, Reyhan!"


"Untuk apa?! Dia bukan ibuku! Dia melakukan ini semua hanya demi memasukkan putrinya ke KIMASEF! Dia bahkan membunuh ibu dan memfitnah aku dulu!" Bantah Reyhan lagi.


Muka keduanya memerah, menahan amarahnya masing-masing. Mengingat mendiang ibu kandungnya, mata Reyhan hampir berkaca-kaca di hadapan mereka semua. Tapi untungnya amarahnya menutupi hal itu.


"Reyhan! Ibumu meninggal karena sakit! Apa maksudmu?! Minta maaf sebelum aku benar-benar akan memberimu pelajaran!!!" Bentak Otean yang makin emosi.


"Ayah... tolong, ini dengarkan permintaan ku ini. Izinkan aku dan Lina bersama, maka aku akan menuruti semua apa ayah yang minta. Kecuali yang berhubungan dengan wanita ini." Ucap Reyhan yang mulai terkulai oleh kenangan lama, sambil menatap sinis ibu tirinya.

__ADS_1


"Heh! Hanya demi wanita itu kau mau mengorbankan perjuangan ayah selama 1000 tahun lebih ini?! Ayah berjuang demi menjadikan mu seorang pangeran!! Camkan itu! Tapi kau.. malah ingin menyia-nyiakannya usaha ayah selama ini hanya demi wanita mu itu?!!!"


Reyhan tertunduk, air mata mulai berkaca-kaca di matanya. Matanya mengabur oleh karena air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Yang Reyhan miliki dulu, tidak akan dimiliki olehnya lagi sekarang. Yang ia rasakan dulu tidak akan dirasakan olehnya lagi sekarang. Semuanya akan berbeda.


"Ayah... Aku tidak pernah meminta dan berharap kau berjuang untuk menjadikanku seorang pangeran. Yang aku inginkan... hanyalah hal seperti 'keluarga'. Aku tidak butuh apapun darimu selain itu. Aku mencintainya karena dia bisa memberikan aku suasana seperti 'keluarga', tapi apakah kalian bisa? Kalian hanya memberikan aku kehidupan seperti di penjara! Menjerat aku dalam tahta dan tekanan. Aku... akan memutuskan hubungan kekeluargaan kita."


Dengan kepala yang masih tertunduk, Reyhan menggapai lencana pangerannya yang ada di jubah. Ia melepaskan lencana itu dan membanting nya dengan keras ke lantai. Segera setelah itu Reyhan berbalik dan berjalan ke arah pintu utama. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan mereka, Reyhan berhenti melangkah sebentar sambil melirik sedikit mereka.


"Apa kau tau ayah, kita berdua tidaklah beda jauh. Aku menyia-nyiakan perjuangan mu demi orang yang kucintai. Dan kau menyia-nyiakan putra dan istri sah mu demi wanita selingkuhanmu itu." Ucap Reyhan sambil tersenyum sinis.


Kemudian Reyhan pun pergi dari tempat itu meninggalkan mereka bertiga di sana. Semuanya terdiam dengan hening. Kaisar Otean pun kembali duduk bersama istrinya di tempat yang sebelumnya. Sementara Kael masih menatap bekas Reyhan lalu sebelumnya dengan sedih.


"Reyhan..." Gumam Kael.


Terlihat sekali rasa simpati pada tatapan Kael saat melihat Reyhan. Tapi tidak ada yang dapat di lakukannya, ia hanyalah orang tambahan di sana. Sebenarnya Kael pun sudah menganggap Reyhan sebagai adiknya sendiri sedari dulu.


Semenjak dirinya diasuh oleh keluarga Kaisar Otean, hanya Reyhan yang selalu bersamanya dan menganggapnya sebagai keluarga. Tapi tidak ada daya baginya di situ, karena kata 'anggota keluarga' di situ hanyalah nama semata.


Setelah beberapa saat termenung di tengah ruangan dengan heningnya suasana, akhirnya kaisar Otean kembali bersuara.


"Kael, kemari." Panggil Kaisar Otean yang terlihat sedang memijit-mijit pelepis matanya dengan frustasi.


"Ada apa, kaisar?" Sahut Kael sopan.


"Kau lihat kan barusan? Kenapa bisa aku menghasilkan anak tidak berguna seperti dia?! Karena kau sudah lama bersama ku, maka aku akan menjadikan kau putra ku dan mengangkatmu menjadi seorang pangeran untuk menggantikannya. Bagaimana?"


"Cih!"


"Kau kira aku juga ingin?"


Kael mendengus sambil tersenyum sinis. Ia kemudian mengangkat kepalanya dengan percaya diri menatap mata Kaisar Otean secara langsung.


"Maaf Kaisar, tapi saya menolak tawaran anda. Seperti yang di katakan pangeran Reyhan sebelumnya, 'Apakah kalian bisa?' Tahta dan harta memang penting, tapi tidak bisa menggantikan keluarga. Saya tidak ingin menjadi orang yang bisa di beli dengan harta, tapi saya ingin di beli oleh keluarga yang tulus. Karena pangeran Reyhan pergi, maka saya pun harus pergi, karena dia adalah keluarga saya. Sekian ucapan dari saya, Terima kasih." Ucap Kael dengan percaya diri.


Sebelum Kaisar Otean kembali murka, Kael cepat-cepat menghilang dari tempat itu entah kemana. Benar saja, Kaisar Otean langsung seketika murka setelah mendengar omongan mereka.


"SIAL! SIAL! DASAR ORANG-ORANG TIDAK TAU DIRI!!! TIDAK TAU TERIMA KASIH!!!"


Saking murkanya semua benda yang ada di sekitarnya langsung di obrak-abrik dengan ganasnya oleh Kaisar Otean. Sementara istri kebingungan harus bagaimana menenangkan suaminya itu.


...Brakkk...


...prangkkk...


...CHASSSS...


...BRAMKK...


"Sayang..! Sayang, tenanglah. Berhenti, tenanglah dulu."

__ADS_1


__ADS_2