
Keesokan harinya. Alin terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak. Dia terlihat lebih berenergi dan ceria setelah tidur tadi malam.
Tapi sayangnya, Alin bangun kesiangan. Sekarang sudah pukul 4:25, academy akan di mulai dalam waktu 10 menit lagi. Saat Alin melihat ke arah jam sihir yang ada di atas meja di samping kasur, dia sangat terkejut. Sontak Alin langsung duduk dari kasurnya dan langsung berlari kesana-kemari untuk bersiap-siap dengan secepat kilat.
"KYAAAA, KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBANGUNKAN KU! AKU TERLAMBAT!" Teriak Alin panik.
Namun dia tidak tau harus menyalahkan siapa. Pengawal yang ada di depan kamar Alin, hanya bisa meratapi nasib mereka memiliki seorang putri selalu telat bangun.
Karena Alin terlambat bangun, para anggota KIMASEF meninggalkan nya dan Alin pun pergi ke academy sendirian. Alin bahkan tidak sempat sarapan sedikit pun karena terburu-buru.
Sesampainya di depan gerbang academy, Alin langsung masuk ke dalam. Untungnya gerbang academy belum di tutup jadi Alin tidak terlalu datang terlambat.
"Huh! Tumben sekali gunung kutub itu tidak membangunkan aku seperti biasanya. Biasanya dia akan membangunkan ku jika aku terlambat bangun." Gumamnya.
Di sepanjang jalan, Alin terus saja mengomel, bergumam dan memikirkan banyak hal. Hingga ia tiba di depan kelas. Untungnya guru belum datang ke kelas mereka, jadi Alin bisa terbebas dari hukuman lainnya.
Alin pun berjalan ke arah bangkunya yang ada di samping Gion. Namun anehnya Alin tidak melihat Lukas di bangku yang ada di depan. Karena penasaran kemana Lukas pergi, Alin berniat bertanya kepada Gion yang ada di sampingnya.
"Hei Gion!"
"Huh?" Gion mengalihkan pandangannya ke arah Alin.
"Kemana Lukas? Apa dia sakit lagi?"
"Oh, Lukas? Dia sedang sibuk, dia bilang dia akan mengikuti pelajaran saat pelajaran ke dua di mulai nanti." Jelas Gion.
"Ouh..."
"Ada apa kau mencarinya? Jangan-jangan...Apa kau mengkwatirkan nya?" Tanya Gion sambil menggoda Alin. Dengan sengaja Gion menyenggol kan siku nya ke lengan Alin.
Alin tiba-tiba saja tersipu malu saat mendengar itu. Saat Gion melihat Alin tersipu malu, Gion terkekeh geli.
"Hehe... Apa benar?.." tanya Gion lagi, masih menggoda nya.
"Eh, Tidak... Tidak... Aku hanya bertanya saja"
Alin berusaha keras untuk menyangkal apa yang Gion katakan. Memang sekarang dia merasa dan menyadari sedikit, kalau dia mulai menyukai Lukas, tapi Alin memutuskan untuk tetap menyembunyikannya.
"Aku tidak percaya kalau kau hanya berniat untuk menanyakan keadaan Lukas. Kau pasti menanyakan keadaan Lukas Karena kau menyukainya kan?." Tebak Reyhan dengan tiba-tiba.
Tiba-tiba saja Reyhan mendekatkan bangkunya ke samping Alin. Tentu saja Alin sangat terkejut dengan Reyhan yang tiba-tiba menampakan wajahnya, begitu juga dengan Gion dia sangat terkejut hingga hampir saja berteriak.
"Hei bocah! Apa volume suaramu itu tidak bisa di kecilkan?!" Tanya Gion dengan nada yang kesal.
"Tidak bisa. Kenapa?" Bantah Reyhan dengan entengnya.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Alin selalu terlibat di tengah-tengah pertengkaran mereka berdua. Alin sungguh lelah dengan kelakuan Gion dan Reyhan yang selalu bertingkah seperti anak kecil. Alin akhirnya mendorong mereka ke bangkunya masing-masing seperti sebelumnya.
"Hei, berhenti! Bisakah kalian berdua bersikap seperti orang dewasa sehari saja?!"
Setelah di marahi oleh Alin, Gion dan Reyhan langsung menurut dan terdiam di bangku mereka. Mereka menundukkan sedikit kepalanya, seperti seekor kucing yang sedang di marahi oleh majikannya.
Yeni yang berada tepat di belakang Alin, terlihat kesal kepadanya. Yeni menggebrak meja dengan sedikit keras dan langsung pergi ke luar dengan ekspresi yang terlihat marah.
...Brakk...
Semua yang ada di kelas itu merasa bingung dengan tingkah Yeni yang tiba-tiba berubah dengan cepat. Para anggota KIMASEF yang lainnya juga kebingungan, bahkan Alin pun tidak tau kenapa Yeni bisa terlihat begitu kesal.
"Kenapa orang itu?" Gumam Reyhan kebingungan.
Beberapa menit kemudian Gion dan Reyhan kembali mengerubungi Alin. Mereka menatap Alin dengan tatapan yang misterius, mereka seakan-akan ingin mengupas semua hal yang ada di dalam pikiran Alin sekarang. Alin yang di tatap seperti itu, merasa agak risih dengan mereka berdua.
"Ada apa dengan kalian berdua ini?" Tanya Alin dengan tatapan sinis.
"Jujurlah pada kami! Apa kau benar-benar menyukainya?" Ucap keduanya secara bersamaan.
Pikiran mereka berdua sekarang kini terisi dengan pertanyaan yang sama. Mereka sangat penasaran dengan perasaan Alin kepada Lukas dan mereka juga sadar tidak mungkin mereka menanyakan nya kepada gunung kutub itu secara langsung.
"A-apaan kalian ini?"
"Beritahu kami!" Seru keduanya dengan serentak. Dengan mata yang berbinar-binar, Gion dan Reyhan berusaha keras untuk merayu Alin.
Seketika Gion dan Reyhan terdiam, mereka sungguh ketakutan saat melihat tatapan mematikannya Alin. Dengan cepat, keduanya kembali ke bangkunya masing-masing.
"Mengerikan...." Batin keduanya bersamaan.
Beberapa menit kemudian Yeni masuk ke dalam dan setelah itu guru masuk juga ke dalam kelas mereka. Ia menjelaskan materi-materi yang akan mereka pelajari hari ini. Pada pembelajaran hari ini, para muridnya akan di tunjukan dengan teknik-teknik pertahanan diri.
Guru mereka memperlihatkan teknik-teknik pertahanan diri melalui mantra ilusi yang membentuk sebuah gambar bergerak. Seperti teknik berpedang, memanah, medis, bom sihir, element sihir, teknik tinju dan lain-lain. Semua teknik-teknik pertahanan diri itu berterbangan mengelilingi mereka semua yang ada di kelas.
"Woahh...Keren..." Gumam Alin dengan suara yang pelan.
Tak terasa, sudah 3 jam pelajaran mereka berlangsung. Kini bel istirahat pertama berbunyi dan semua murid yang ada di academy Ligen berhamburan keluar kelas. Alin dan Lina memutuskan untuk ke kantin bersama saat itu.
Sesampainya di kantin academy, Alin dan Lina duduk di bangku yang paling ujung agar bisa saling berbagi cerita. Tak lupa mereka membawa beberapa camilan untuk mereka makan.
"Alin.." Panggil Lina seraya memulai percakapan mereka.
"Hm?"
"Apa kau tau?"
__ADS_1
"Tidak tau" Sahut Alin dengan nada yang ketus.
"Ishh.. dengarkan dulu!" Sahut Lina dengan nada yang sedikit kesal.
"Hehehe... Oke, oke. Jadi apa?"
"Jadi kemaren.. pangeran Reyhan menyatakan cintanya kepada ku" Ucap Lina dengan malu-malu.
Seketika Alin langsung terbengong. Ia merasa senang, terkejut, terharu dan tidak menyangka dengan apa yang dia dengar. Perasaannya campur aduk saat itu, hingga ia hampir tidak bisa berkata-kata lagi.
"Reyhan.. menyatakan cintanya pada mu?! Jadi apa kau menerimanya?! Kapan itu terjadi?! Apa itu benar?! Tidak bohong kan?! Benarkah?!" Tanya Alin dengan nada yang sedikit tinggi.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Alin langsung melontarkan setumpuk pertanyaan kepada Lina. Yang pastinya, karena Alin mengucapkannya dengan cukup keras, orang-orang yang ada di sekitar situ pasti tidak sengaja mendengarnya. Setelah Alin mengatakan itu, semua pandangan dari orang-orang sekitar langsung tertuju pada mereka.
"Stt..Hei! Jangan sampai yang lain tau!" Bisik Lina.
"Hehe.. maaf. Jadi apa kau menerimanya?" Tanya Alin, masih belum menyerah.
"Hmm.. Aku belum menjawabnya, tapi dia bilang dia akan menunggu jawaban dari ku. Jujur... Aku bingung." Jelasnya dengan muka yang sedikit cemberut.
"Apa yang membuatmu bingung? Ya, tinggal di terima saja. Apa susahnya?"
"Menjawab pernyataan cinta seseorang tidak semudah kau memakan sup!" Lina mulai kesal dengan Alin yang semakin ngawur.
"Huftt.. hanya bercanda saja."
"Lalu bagaimana dengan kau?" Tanya Lina.
"Eh?"
"Apa kau belum menyatakan cintamu padanya?" Tanya Lina sambil menggoda Alin.
Dengan sengaja Lina menyenggol-nyenggol lengannya Alin. Alin hanya terdiam, bingung harus berkata apa. Sementara itu Lina menatap Alin dengan tatapan sinis, sambil menunggu jawabannya.
"Anu... Itu.."
...Kringgggg kringgg...
Untungnya bel masuk kelas telah berbunyi, jadi Alin bisa mengelak dari pertanyaan Lina itu. Alin memanfaatkan bel kelas yang berbunyi sebagai alasan agar ia bisa pergi.
"Bel, bel nya sudah berbunyi. Bye..."
Dengan cepat Alin bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi menjauhi Lina. Alin tidak mau Lina melontarkan pertanyaan yang aneh-aneh lagi kepadanya, jadi dia memutuskan untuk pergi.
"Ckck.. sudah tau cinta, masih menyangkal. Hehe... Akan ku tanyakan lagi nanti malam kepadanya."
__ADS_1
Lina juga pergi dari kantin itu dan kembali menuju ke kelas. Lina pun berlari kecil agar bisa menyusul Alin yang sudah terlebih dahulu berjalan mendahului nya.