Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 91 "Senyum...."


__ADS_3

Wajah yang begitu putih, tampan, sangat terlihat jelas di mata Alin. Sang pangeran berkuda putih yang siap menyelamatkan kekasihnya. Alin sempat tenggelam di dalam pikirannya, tapi ia langsung sadar ketika Lukas menurunkan kakinya ke tanah.


"Kau baik-baik saja, kan?"


"Jika sudah di tangkap dan tidak ada jeritan, tentu saja aku baik-baik saja. Pertanyaan macam apa itu?" Balas Alin.


"Hanya memastikan, siapa tau ada yang sakit."


"Tidak ada."


"Baguslah. Oh iya, jangan beritahukan kepada Kael kalau kau pergi jalan-jalan hari ini, jika kau tidak ingin di kurung olehnya selama sebulan. Ayo pulang." Ajak Lukas.


Alin kemudian mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Lukas itu. Ia akhirnya paham dengan yang Lukas katakan padanya.


"Tunggu, tunggu. Jadi kau membawa ku jalan-jalan tanpa sepengetahuan Kael?!" Tanya Alin.


"Hmm.. Sepertinya begitu." Jawab Lukas dengan entengnya.


"Oh, ayolah Lukasss... Bagaimana jika Kael tau?"


"Hehehe... Bukannya sudah ku katakan, jangan beritahukan kepada nya jika kau tidak mau dia marah." Jawab Lukas dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


Setelah melihat senyuman lebar Lukas, Alin sekarang tersadar, kalau ada sesuatu yang berbeda dari nya akhir-akhir ini. Kalau Lukas terlihat lebih ceria dan bersikap lebih lembut untuk beberapa waktu terakhir.


"Lukas?"


"Hm?"


"Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini. Kau sering sekali tersenyum dan tertawa. Apa ada sesuatu?" Ucap Alin sambil menatapnya.


"Hm?! Yasudah kalau kau tidak mau melihatku tersenyum." Sahut Lukas.


Lukas langsung menyilangkan tangannya dan mengubah ekspresi seperti dia yang dulu, yaitu dengan ekspresi dingin yang sering ia tunjukan. Tentu saja Alin sangat kecewa, ia lebih suka dengan Lukas sekarang, orang yang penuh dengan keceriaan. Ia akhirnya mencoba untuk membujuk Lukas untuk tersenyum lagi seperti sebelumnya.


"Aku, aku hanya bercanda... Ayolahhh, maafkan aku." Rayu Alin yang mencoba untuk menatap dan berdiri di depan Lukas.


"Tidak mau!" Sahut Lukas yang masih berpura-pura marah.


"Humpt... Ayo senyum, senyum."


Alin sungguh berusaha dengan keras. Ia kembali membujuk Lukas. Setelah berhasil berdiri di depan Lukas, Alin mencubit pipinya agar ia bisa tersenyum kembali.


"Senyummm... Nah, begini kan baik." Puji Alin yang senang melihat Lukas tersenyum.

__ADS_1


"Hehe... sebegitu ingin kah kau melihat kau tersenyum?" Tanya Lukas sambil menatap Alin.


Mendengar itu, Alin menjadi malu. Ia langsung berpaling dan pergi menjauh agar Lukas tidak bisa melihat wajah malu nya yang memerah.


"Humppt... Sudahlah, ayo pulang." Elak Alin.


Karena merasa malu, Alin berlari menjauh dari Lukas dan pergi menghampiri Yura dan Han yang sedang bermain di tanah luas yang tidak terlalu jauh dari tempatnya. Lukas pun berjalan dan mengikuti Alin yang ingin menghampiri Yura dan Han dari belakang. Sambil berlari kecil, Alin berteriak memanggil kedua anak kecil yang sedang bermain tersebut.


"Yura! Han!"


Mereka berdua yang merasa terpanggil, berhenti sejenak dan menoleh ke arah suara. Yang mereka lihat sekarang adalah Alin yang tengah berlari menghampirinya dengan Lukas yang menyusul di belakang.


"Yura, Han. Apa yang kalian lakukan?"


"Kami sedang bermain, kak." Sahut Han.


"Owhh..."


"Yura, kita pulang sekarang. Kau bisa bermain dengan Han besok lagi." Ucap Lukas yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka.


Yura sebenarnya tidak mau pulang, ia sangat ingin bersama dengan Han lagi untuk bermain. Karena masih belum puas bermain, Yura berniat untuk menginap di rumah Han.


"Kak, apa boleh aku menginap di sini? Aku masih ingin bermain dengan Han." Tanya Yura.


"Baiklah, tapi apakah keluarga Yiu tidak keberatan?"


"Oke, Henil akan menjemputmu besok pagi. Kami akan pulang sekarang. Yiu Han, kami pulang dulu." Pamit Lukas.


"Dah Yura, dah Han." Tambah Alin.


"Dadah..." Sahut keduanya sambil melambai-lambaikan tangannya kepada Alin dan Lukas yang berjalan menjauh dari mereka.


Setelah berpamitan dengan Yura dan Han, Alin dan Lukas berjalan pergi dari tempat itu melalui gerbang kebun milik keluarga Yiu, lalu mereka bertemu dengan Yiu Ora lagi. Ora terlihat sangat sibuk di sana, ia sedang sibuk mencatat jumlah panenan kebun nya pada saat itu.


Mereka berdua yang kebetulan lewat dan melihat Ora, memutuskan untuk menghampiri dan berpamitan dengannya juga. Saat Ora menyadari akan kedatangan keduanya, ia langsung memberi salam.


"Oeh... Salam untuk pangeran dan putri.. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Paman, kami akan pulang sekarang. Terima kasih atas sambutannya." Ucap Lukas.


"Oh iya paman, kami titip Yura ya..." Tambah Alin.


"Tentu saja, percayakan saja putri Yura pada kami. Kami pasti akan menyambutnya dengan senang hati."

__ADS_1


"Kami pergi dulu." Pamit Lukas lagi.


Setelah berpamitan, Lukas menggandeng tangan Alin dan membawa nya pulang menggunakan mantra teleportasi ke istana. Mereka pun pergi ke kamar Alin. Sesampainya di sana, Lukas berpamitan kepada Alin untuk pergi ke academy pada saat itu juga.


"Aku akan pergi ke academy, kau istirahat lah sekarang."


"Hm. Oh iya, Viko?" Tanya Alin.


"Aku menitipkan nya pada Lina, mereka akan kemari besok."


"Hm, baiklah."


"Pergilah." Ucap Lukas.


Alin pun menurut dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah Alin masuk, Lukas juga pergi ke kamarnya untuk bersiap ke academy.


Alin yang ada di dalam kamar merasa bosan, tidak ada orang ataupun kegiatan yang bisa ia lakukan sekarang. Sehingga Alin teringat akan Lukas yang sering menghabiskan waktu nya dengan cara membaca buku. Alin pun ingin mencoba hal itu juga.


"Hmm... Cara Lukas mungkin bisa di coba. Di mana buku pelajaran ku, ya?"


Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju ke meja belajar yang ada. Namun saat Alin mencari buka pelajaran di meja belajar, buku itu tidak ada di sana. Karena tak kunjung mendapatkan buku itu di meja belajar, Alin mencari ke lemari yang ada di situ lagi.


Setelah mencari-cari di rak-rak lemari, ia akhirnya menemukan buku itu. Buku pelajarannya terletak di rak paling atas lemari.


"Nah, itu dia!"


Alin kemudian berjinjit untuk mengambil buku tersebut. Tapi saat ingin menggapai buku itu, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Sehingga ia terkejut dan langsung menjatuhkan buku itu.


Bruukk


"WHAAAA! Astaga!" Pekik Alin terkejut.


"Wahh, maaf. Aku mengagetkan mu lagi. Hehehe..." Ucap orang itu.


Orang itu tidak lain adalah Kael yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Kael duduk di kursi dan mengambil beberapa kertas dari dalam tas nya.


"Apa yang kalian kerjakan di bagian Utara tadi?" Tanya Alin yang lalu duduk di atas ranjangnya lagi.


"Hmm.. hanya mengatasi wabah penyakit kecil. Tidak ada masalah yang serius, kami sudah memberikan obat untuk mereka."


"Owhhh..."


Kael kemudian duduk di kursi dan meletakkan kertas resep obat yang ia pegang sebelumnya. Kemudian Kael mengambil sebuah botol kecil dari dalam tas yang berisikan pil berwarna biru.

__ADS_1


"Minum ini, ini mungkin terasa tidak enak, tapi jangan di muntah kan."


Kael melemparkan pil obat tadi dan Alin menangkap nya. Untuk beberapa saat Alin menatapi pil obat yang terlihat cantik itu. Ia pun meneguk satu pil obat yang Kael berikan.


__ADS_2