
Sepulang dari academy, Aling langsung pergi menuju ke rumah Lina untuk menjemput Viko. Beberapa hari terakhir Viko selalu saja bermain bersama Renu, sehingga Alin harus menjemput nya ke rumah Lina. Sesampainya di rumah Lina, Alin sungguh keheranan dengan suasananya. Suasananya terlihat gelap dan sepi.
"Lina! Renu! Tante! Apa kalian ada di rumah?" Panggil Alin.
"kenapa tidak ada yang menyahut? Apa mereka sedang tidak ada di rumah? Tidak, tidak mungkin. Aku dan Lina sudah sepakat akan bertemu sore ini. Mereka pasti ada di dalam.."
Alin mencoba untuk memanggil mereka, namun tak ada sedikitpun respon. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk langsung masuk ke dalam rumah. Saat Alin mendorong pintu, pintu nya tidak terkunci dan itu membuat Alin semakin yakin kalau mereka ada di rumah sekarang.
Ia masuk dan melewati ruang tamu. Saat Alin melewati ruang tamu, tak terlihat tanda-tanda adanya mereka. Tapi Alin belum menyerah, ia kembali berjalan menuju ke dapur. Saat Alin ke dapur, ia melihat ada Lina dan Renu yang tengah duduk di kursi meja makan.
Tapi anehnya, mereka terlihat sedih. Suasana rumah juga gelap dan hening. Terlihat Lina sedang tertunduk, seperti sedang menangis dan Renu terlihat sedang menenangkannya. Alin penasaran akan yang terjadi di antara mereka dan ia menghampirinya. Saat Alin mulai mendekat ke arah mereka, Renu menoleh ke arahnya.
"Kak Alin..." Lirih Renu.
"Ada apa dengan Lina?" Tanya Alin yang sudah mulai kuatir.
"Kakak.."
Belum sempat Renu menyelesaikan penjelasannya, Lina sudah lebih dahulu berlari ke arah Alin dan memeluknya. Lina menangis tersedu-sedu di pelukan Alin. Ia terlihat sangat sedih dan terpuruk saat ini. Alin dan Renu mencoba untuk menenangkannya.
"Lina.. Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alin dengan nada yang lembut.
"Alin... Huhuhu... Aku..."
"Kau apa? Coba ceritakan semua kepadaku.."
"Ibu, ibuku. Dia.. di sudah mengetahui hubungan ku dengan Reyhan. Tapi dia tidak menyetujui nya dan dia menyuruhku untuk mengakhiri hubungan kami. Huhuhu.." Tangis Lina.
"Kakak... Jangan menangis lagi."
"Lina sudah banyak membantu ku. Sekarang aku harus bisa membantunya."
Alin membalas pelukan Lina dan mengelus-elus punggung nya agar merasa agak tenang. Alin sekarang bertekad untuk membantu Lina. Ia akan mencoba ibunya Lina untuk menyetujui hubungan mereka.
"Sudahlah.. Jangan menangis lagi. Renu akan sangat sedih jika melihatmu menangis seperti ini. Aku berjanji, aku pasti akan membantumu!" Ucap Alin dengan percaya diri.
"Te-terima kasih Alin.."
"Di mana ibu kalian sekarang?"
"Kami tidak tau ibu sekarang ada di mana. Ibu tadi sangat marah dan pergi dengan begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun kepada kami." Sahut Renu.
__ADS_1
Alin sebenarnya ingin tinggal di situ untuk menemani Lina dan Renu, tapi ia punya tanggung jawab sendiri. Ia harus menjaga Lukas dan ia akan berjanji akan pulang setelah menjemput Viko. Dengan terpaksa, Alin harus mengurungkan niatnya baiknya itu.
Alin melepaskan pelukan Lina dan mendudukkan nya di kursi. Lina sekarang sudah terlihat membaik dari sebelumnya, emosinya kini sudah stabil dan Alin terlihat agak lega melihatnya.
"Sudahlah.. kita akan membahas ini besok di academy. Sekarang kau harus istirahat, Renu tolong jaga kakak mu ya.."
"Baik, kak. Apa kakak akan pulang malam ini?" Tanya Renu.
"Hm, aku harus pulang sebelum matahari tenggelam, aku tadinya hanya berniat menjemput Viko. Jika tidak... akan ada orang yang mengamuk kepadaku nantinya." Jawab Alin.
"Siapa orang itu, kak?" Tanya Renu.
"Kau tidak perlu tau orang itu. Dia orang yang mengerikan jika sedang marah. Kalau begitu akan pulang bersama Viko." Sahut Alin kembali.
"Oeh.."
Setelah mendengar itu, Renu langsung berlari ke kamar. Setelah beberapa lama, ia datang bersama Viko dan menyerahkan nya kepada Alin. Alin mengambil Viko dan menatapnya untuk beberapa saat.
"Ini dia, kak." Ucap Renu seraya menyodorkan Viko yang sudah terlihat kekenyangan.
"Woah, Viko. Kau terlihat lebih gemuk dari terakhir kali kita bertemu. Lina, Renu, kami akan pulang. Jangan bersedih lagi ya.."
"Hm, terima kasih Alin. Berhati-hatilah." Sahut Lina.
"Tentu, kalau begitu kami pulang dulu. Selamat tinggal.."
Setelah berpamitan dengan Lina dan Renu, Alin berserta dengan Viko pergi pulang ke istana. Saat Alin ingin berjalan ke pintu depan, Lina dan Renu mengikuti Alin dari belakang untuk mengantarnya hingga ke depan rumah.
Alin berjalan pergi menjauh dan semakin menjauh dari rumah Lina. Ia terus berjalan di tengah hutan yang lebat bersama dengan Viko. Jujur saja, Alin masih merasa tidak tega meninggalkan Lina pada saat ia dalam ke adaan yang seperti itu, namun ia punya suatu tanggung jawab juga.
Sementara itu Lukas yang tengah membaca buku di atas kasurnya mulai merasa gelisah karen Alin tak kunjung pulang. Ia yang awalnya fokus menjadi tidak fokus saat mengingat Alin.
"Kemana anak itu?! Dia bilang akan pulang setelah menjemput Viko. Tapi tidak akan selama ini, kan?! Apa dia dalam bahaya?! Tidak, tidak, dia pasti akan kembali sebelum matahari terbenam."
Lukas tenggelam di dalam pikirannya untuk beberapa saat, dengan keheningan yang ada pada saat itu semua bayang-bayang tentang kenangannya bersama dengan Alin mulai bermunculan di hadapannya. Namun, keheningan dan kenangan yang ada seketika pecah saat ada seorang pengganggu yang masuk ke dalam kamarnya. Orang itu ialah Kael.
Kael masuk dan duduk di kursi yang selalu dia duduki di kamar Lukas. Untuk beberapa saat keadaan menjadi canggung karena Kael dan Lukas tak kunjung memulai pembicaraan mereka. Hingga Kael menyadari akan sesuatu, Alin tidak ada di dekat Lukas pada saat itu.
"Dimana Alin?"
"Tidak tau." Sahut Lukas yang masih memandangi bukunya.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tidak tau kalau dia berada di mana sekarang?! Apa kau tidak memperhatikan objek misi mu?!"
"Dia akan baik-baik saja. Lagi pula aku tidak bisa selalu melarangnya untuk berpergian hanya karena penyakit ku ini. Dia pasti akan kembali sebelum matahari terbenam." Jawab Lukas yang masih terlihat tenang.
Setelah itu Kael tak melanjutkan percakapan mereka itu. Ia memperhatikan gerak-gerik dan tampang Lukas yang terlihat memucat dari sebelumnya. Karena merasa kuatir, Kael menghampiri Lukas dan langsung menyentuh keningnya. Lukas sempat kebingungan, tetapi ia tetap berpikir positif dan tetap diam. Setelah menyentuh kening Lukas, Kael kembali memeriksa nadi tangannya.
"Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Apa kau meminum obatmu dengan teratur?! Kondisi mu semakin memburuk."
"Hm, aku lupa meminum obatnya tadi siang." Sahut Lukas dengan entengnya.
"Lalu, apa kau sudah meminum obatnya tadi pagi?!" Tanya Kael lagi.
"Ya, Alin yang memberikannya kepada ku tadi."
"Sudah kukatakan padamu, dia pasti bisa membantu mu. Huftt.. Kau sangat tidak berhati-hati. Kali ini kau harus benar-benar berhati-hati menjaga Alin. Yeni..."
"Apa hubungannya dengan Yeni?!" Tanya Lukas yang mulai penasaran.
Sakin penasarannya, Lukas langsung melepaskan buku yang ada di tangannya dan terduduk di tempat tidur. Ia menatap Kael dengan tatapan yang tajam dan menunggunya untuk kembali berbicara.
"Yeni... Dia.. Tadi dia... mengancam akan menyakiti Alin jika Kau dan Alin tetap bersama. Jadi kita harus lebih waspada lagi."
"Ck, sudah kukatakan padamu, aku tidak ingin dia berada di dekatku. Dia pasti akan dalam bahaya jika berada di dekatku!" Sahut Lukas.
Tanpa mereka sadari, Alin yang sudah pulang dari rumah Lina sudah tiba di depan kamar Lukas. Saat mereka sedang berdebat, Alin memutuskan untuk menguping pembicaraan dan meminta semua penjaga yang ada di depan kamar untuk pergi. Ia berdiri di depan pintu kamar dan menguping pembicaraan mereka.
"Tapi ini demi kebaikan mu, Lukas! Kau bahkan lupa meminum obatmu saat Alin sedang pergi, apalagi kalau Alin tidak ada. Mungkin kau akan mati! Gejala racun Beockeil juga berupa ingatan baru yang tiba-tiba menghilang dan kau sudah mengalami gejalanya." Ucap Kael yang sudah mulai jengkel dengan sikap Lukas yang keras kepala.
"Aku tau itu, tapi aku tidak bisa melibatkan nya hanya demi kepentingan pribadi ku. Dia cucu Master ketua Lio Jun Yeo dan dia adalah keturunan terakhir dari keluarga master. Aku tidak bisa melakukan itu."
"Kumohon Lukas, tolong dengarkan aku untuk kali ini saja. Kondisimu kini sudah mulai memburuk, kau harus mendengarkan ku." Pinta Kael yang peduli terhadapnya.
"Maaf.."
"Dengarkan aku kali ini saja. Kau mungkin boleh membantahku untuk kedepannya, tapi tidak kali ini. Lihatlah apa yang terjadi jika kau membantahku. Aku sudah melarang mu untuk membantu putra mahkota, tapi kau melanggarnya hanya demi informasi tentang Anita. Dan kau di sini, terbaring karena racun Beockeil. Apa Anita bisa membantu mu sekarang?! Tidak, bukan?!" Ucap Kael menasehati Lukas.
Setelah di mendengar nasehat dari Kael, Lukas termenung untuk beberapa saat. Di sisi lain, ia ingin Alin aman dan di sisi lain ia ingin mendapatkan informasi tentang Anita, tetapi ia tetap tidak mempedulikan keadaannya. Ia berpikir dan merenungi yang telah Kael katakan kepadanya.
Di sisi lain, Alin yang ada di depan pintu merasa kecewa saat mendengar nama Anita. Ia kecewa kepada Lukas yang masih tidak bisa melupakan Anita dan ia bahkan rela mengabaikan kesehatannya demi Anita. Alin padahal sudah menempatkan Lukas di dalam hati secara baik-baik, tetapi mungkin saja cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan saja.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya ia membunuh Anita dan Lukas, namun disisi lain ia mencintai Lukas dan ia tidak ingin Lukas merasa sedih. Alin merasa sangat kebingungan. Ia tertunduk dan tak sengaja satu bulir air mata lolos dari pelupuk matanya. Dengan cepat ia langsung menghapus air mata itu dan masuk ke dalam.