
Sore harinya, Lukas dan Gion menunggu Alin di gubuk. Sesuai janji, mereka bertiga akan pulang bersama ke dunia sihir sore harinya. Di rumah keluarga Alin, Alin sedang berpamitan dengan ibu dan ayah serta saudara-saudara tirinya. Alin berdiri di teras rumah dan mereka berdiri berhadapan dengan Alin.
"Ibu, ayah, Alin akan pergi."
"Memangnya kemana kau akan pergi? Apa kau akan pergi dengan presdir kaya itu lagi? Heh!" Ucap Chan Lu dengan ketus.
"Untuk apa kalian menghiraukan wanita murahan ini?! Lebih baik kita masuk, membuang-buang waktuku saja!" Ayah tiri Alin berbalik dan ingin masuk ke dalam rumahnya.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Bukan hanya aku, kakak Chan Lu dan Nim Lan juga. Bahkan mereka berdua mungkin lebih buruk lagi daripada diriku." Sahut Alin sambil tersenyum manis ke arah mereka semua. Namun senyumannya itu penuh dengan kebencian.
Tiba-tiba saja Chan Lu dan Nim Lan terdiam mematung di tempat. Keringat dingin mulai bercucuran pada tubuh mereka berdua karena ketakutan. Ayah tirinya marah pada Alin, Won Yan tidak terima anaknya dikatai seperti itu. Ia berbalik dan langsung mencengkeram kerah baju Alin dengan kuat.
"Beraninya kau mengatai anak-anak ku! Memangnya kau punya bukti?!" Bentak Won Yan pada Alin dengan nada yang sangat kasar.
"Aku tidak punya bukti, tapi kau pasti akan tau dengan sendirinya nanti."
Alin berusaha melepaskan diri dari cengkraman Won Yan. Ia memberontak dengan sekuat tenaga dan Alin akhirnya lepas dari cengkraman nya.
"Kemana kau akan pergi?! Apa kau benar-benar ingin menjadi wanita murahan?!" Tanya Nam Yeon dengan nada yang ketus.
"Memangnya apa peduli mu? Bukannya kau sudah tidak menganggap ku sebagai anakmu lagi? Lagi pula aku tidak sebodoh itu dan aku bisa menjaga diriku sendiri." Ucap Alin sambil menyeringai ke arah ibunya.
Alin berbalik dan berjalan pergi meninggalkan mereka semua di situ. Mereka semua menatap kepergian Alin dengan penuh kebencian. Terutama Chan Lu dan Nim Lan, mereka berdua sangat tidak suka dengan kedatangan Alin ke rumah mereka. Namun Alin tidak selemah dulu, dia sekarang lebih kuat berkat dukungan dari teman-teman barunya. Alin berjalan dengan perasaan yang sangat lega, dengan percaya diri dan dengan semangat yang membara Alin berjalan menuju ke arah gubuk yang ada di ladang.
Setelah tiba di depan gubuk, Alin masuk ke dalam dan ia melihat Lukas dan Gion ketiduran di lantai. Alin berjalan ke tengah-tengah Lukas dan Gion, bermaksud membangunkan mereka berdua.
"Lukas, Gion! Bangun! Hei, bangun kita akan terlambat nanti!" Teriak Alin sambil mengguncang-guncang kedua secara bersamaan.
"10 menit lagi..." Sahut Gion masih dalam keadaan setengah tidur.
"Berisik!" Gerutu Lukas yang masih setengah tidur.
Alin memasang ekspresi datar ke arah mereka berdua. Karena kesal pada Lukas dan Gion, ia berencana ingin menjahili mereka berdua. Alin berjalan ke arah lemari yang ada di pojokan gubuk dan membuka lemari itu. Ia mengambil sebuah pulpen dari dalam lemari dan kembali berjalan ke arah Gion.
Tanpa ragu lagi, Alin mulai mencorat-coret wajahnya Gion hingga menyerupai seekor kucing. Namun Gion tidak menyadarinya karena terlalu sibuk berlayar di dunia mimpi.
"Rasakan itu! Dasar tukang tidur! Hahaha"
Setelah puas mencoreti wajah Gion, kini Alin berpindah ke Lukas. Alin berjalan ke arah Lukas dan berjongkok di sampingnya. Untuk beberapa saat, Alin menatap wajahnya Lukas. Lukas terlihat sangat mempesona saat itu, hingga membuat Alin tidak tega mencorat-coret wajahnya.
"Lukas... Ternyata terlihat sangat tampan jika di lihat dari dekat begini, tapi sayangnya dia selalu dingin dan kasar padaku!"
Alin membuka tutup pulpen yang ada di tangannya dan mulai mendekatkan ujung pulpen itu ke wajah Lukas. Tapi, tiba-tiba saja Lukas membuka matanya, menangkap tangan Alin dan langsung menarik Alin ke arahnya dengan cepat.
"Ugh.."
...BRUK...
Alin jatuh ke pelukan Lukas dengan tiba-tiba, Alin sontak terkejut dan membelalakkan matanya. Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam dan bertatapan satu sama lain. Entah kenapa, Lukas dan Alin merasa kalau detak jantung mereka kini berdetak dengan sangat kencang.
...deg deg deg...
__ADS_1
"Kenapa detak jantungku berdetak dengan kencang?" Batin berdua mereka bersamaan.
Karena suara Alin terjatuh tadi cukup kencang, Gion sedikit terkejut dan ia pun bangun dari tidur nya.
"Ugh..Berisik sekali... Apa yang kalian berdua lakukan?!"
Saat mendengar suara Gion, dengan cepat Lukas bangun dari tempatnya dan langsung berdiri. Lukas terlihat gelisah dan ia juga terlihat seperti berusaha mengendalikan dirinya.
"Kita..Pulang sekarang!" Ucap Lukas.
"Ya pulang, kita pulang!" Tambah Alin seraya berdiri dari tempatnya dengan sedikit panik.
"Ada apa dengan kalian berdua? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada!" Ucap Alin dan Lukas bersamaan.
"Ngg...oke, Ayo!"
Mereka semua keluar dari dalam gubuk Alin dan langsung pergi menuju ke sumur Puno. Dalam perjalanannya, mereka hanya diam dalam keheningan. Mereka bertiga tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing. Hari juga semakin menggelap, Lukas membuat sebuah lentera dari sihir cahaya matahari untuk menerangi jalan mereka. Setengah perjalanan telah berlalu, Gion akhirnya memulai percakapan mereka.
"Huftt... Melelahkan sekali, kenapa kita tidak menggunakan sihir teleportasi saja?" Tanya Gion seraya berjalan ke depan Lukas.
Lukas sempat berhenti sebentar karena di halangi Gion, tapi ia langsung berjalan melewati Gion lagi.
"Kenapa kau tidak pergi saja sana?"
"Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua dengan begitu saja. Aku berbeda denganmu!" Sahut Gion dengan percaya diri sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan Lukas.
"Hei, kau sombong sekali! Aku kan hanya bisa melakukan mantra teleportasi untuk satu orang, aku tidak bisa membawa kalian berdua sekaligus dengan diriku!"
Tapi Lukas hanya diam dan terus berjalan ke depan tanpa menghiraukan nya. Alin pun maju ke depan dan berjalan di samping Gion.
"Apa Lukas bisa membawa kita bertiga sekaligus?" Bisik Alin ke telinga Gion.
"Tentu saja, Lukas sudah menguasai mantra teleportasi tingkat tengah. Dia bahkan bisa memindahkan 5 orang sekaligus." Bisik Gion balik.
"Aku tidak yakin dia bisa melakukannya" ucap Alin meremehkan kemampuan Lukas.
Mereka berdua sama bodohnya. Mereka berdua membicarakan Lukas dari belakang, tapi mereka lupa kalau orang yang mereka bicarakan sekarang ada di sampingnya. Tentu saja Lukas mendengar semua pembicaraan Alin dan Gion tentang dirinya.
"Itu terserah pada kalian berdua. Jika kalian ingin aku membawa kalian berdua menggunakan mantra teleportasi, aku tidak masalah" Ucap Lukas menyahut percakapan Gion dan Alin.
"Aku mau!" Seru Gion
"Tidak, aku tidak mau. Lebih baik kita jalan kaki seperti ini kan? kita bisa ngobrol dan jalan santai bersama selama di perjalan." Bantah Alin.
Alin berjalan cepat ke depan Lukas dan Gion. Ia menatap Lukas dan Gion, berdiri di depan mereka sambil menghadang jalan dengan merentangkan kedua tangannya. Alin memasang wajah cemberut nya karena tidak setuju.
"Aku mau!"
"Tidak mau!"
__ADS_1
"Kita harus cepat. Harinya sudah hampir larut dan kita harus menyempatkan pergi ke academy." Ucap Lukas berusaha menghentikan perdebatan Alin dan Gion.
"Hump.. Apa kita harus menyempatkan datang ke academy?" tanya Alin dengan sedikit kecewa.
"Hm, sebaiknya kita menggunakan mantra teleportasi."
"Huh... baiklah" Alin kembali berjalan ke sampingnya Lukas dengan ekspresi yang cemberut karena kecewa.
"Whuuuuu... Aku menang!" Seru Gion sambil mengolok-olok Alin.
"BERISIKKKK!!!!"
Lukas mengayunkan tongkat sihir nya dan beberapa detik kemudian muncullah sebuah simbol yang bercahaya di hadapan mereka. Seketika mereka sudah tiba di dekat sumur Puno dan simbol yang ada di depan mereka tadi langsung hilang dengan begitu saja.
Lukas kembali membacakan sebuah mantra lagi, lagi dan lagi sebuah simbol muncul di hadapan mereka dan kini mereka sudah tiba di dunia sihir. Namun tiba-tiba saja dadanya Lukas terasa sesak, dia sudah terlalu banyak mengeluarkan energi untuk membacakan beberapa mantra secara beruntun dalam beberapa menit.
"Ugh.."
Lukas meringis kesakitan. Alin dan Gion tentu saja panik saat melihat Lukas meringis kesakitan. Alin dan Gion langsung menghampiri Lukas.
"Lukas?! Lukas, kau tidak apa kan?" Tanya Alin khawatir pada Lukas.
"Hei, kau tidak apa-apa kan?!"
"Hm, aku tidak apa-apa. Tidak usah khawatirkan aku."
Lukas memang terlihat kelelahan akhir-akhir ini. Beberapa hari terakhir, Lukas selalu ikut dengan tim Regental mision setiap pulang dari academy untuk ikut serta membuat kapsul khusus atas perintahnya Deon Li. Dan tidak hanya itu, Lukas juga telah membantu tim Regental mision untuk melakukan misi kecil yang cukup banyak.
Tanpa basa-basi lagi, Alin langsung memapah Lukas. Sementara itu Gion hanya kelabakan bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Eh, anu... Bagaimana ini?!!!" Gion panik.
"Sebaiknya kau duluan saja ke istana, aku akan menemani Lukas."
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan kalian dengan begitu saja."
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku akan membawa kalian berdua pulang sekarang." Sahut Lukas memotong pembicaraan mereka berdua.
"Tidak perlu. Kau sudah menggunakan energi mu terlalu banyak untuk membantu kami. Sekarang giliran kami yang membantu mu." Sahut Alin lagi.
"Baiklah, kalau begitu... Aku pulang duluan. Dah.."
Gion mengayunkan tongkat sihirnya dan pergi menggunakan mantra teleportasi, meninggalkan mereka berdua sendirian. Alin mulai berjalan pergi menuju ke istana sambil memapah Lukas. Sepanjang jalan, Lukas selalu saja menatap Alin. Alin merasa sedikit risih dengan Lukas yang terus menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Alin seraya menghadap ke arah Lukas.
"Hm, tidak. Ada daun di rambut mu."
Tangan Lukas langsung mengarah ke atas kepalanya Alin. Ia mengambil daun itu lalu membuangnya dengan begitu saja. Muka Alin langsung terasa panas dan benar saja muka Alin memerah karena malu.
"Kenapa muka mu memerah?"
__ADS_1
"Eh, hm... Tidak." Alin membuang muka dan kembali fokus berjalan ke depan.