Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 122 Di buntuti.


__ADS_3

Semakin lama, pegangannya makin mengerat, tangannya pun terasa dingin sekali. Jantung Alin masih berdegup kencang dan semakin lama detakan nya semakin tidak karuan, tangannya pun masih gemetaran mengingat apa yang di lihatnya barusan tadi.


Lukas bahkan sampai bisa merasakannya juga, ia melepaskan pelukan itu dan menggenggam telapak tangan Alin dengan lembut. Saat tangannya menyentuh tangan Alin, mukanya memerah karena malu, tapi demi menenangkan Alin ia berusaha untuk tenang.


"Jangan takut lagi, oke? Sekarang tidak apa-apa lagi. Aku akan mencobanya lain kali dengan perlahan." Ucap Lukas sambil sedikit mengalihkan pandangannya.


"Hm."


Lalu, Lukas menarik Alin untuk ikut dengannya duduk di atas kasur sebelumnya. Kali ini Lukas membiarkan Alin untuk melihat-lihat dan beradaptasi sebentar dengan suasana yang tenang.


"Oh iya, sebenarnya ini tempat apa? Kau belum mengatakannya kepadaku." Tanya Alin yang masih sibuk menyelidiki ruangan dengan matanya.


"Taman ini adalah taman obat-obatan ku dan Anita dulu, taman Yoicin..."


Seketika setelah mendengar itu, Alin menjadi sedikit murung, ia mulai memasang senyuman gentir nya yang begitu terlihat menyakitkan. Tapi Lukas tidak memperhatikan raut wajah itu dan kembali melanjutkan kalimatnya tadi.


"...aku akan memberikan taman ini untuk mu." Sambung Lukas dengan tiba-tiba.


"Hah? Apa? Aku? Untuk ku? Taman Yoicin untuk ku?!" Tanya Alin yang tak menyangka dan langsung tertegun mendengarnya.


"Iya, untuk mu..."


"Tapi aku tidak bisa-"


"Aku tau maksudmu. Jangan kuatir, dia tidak memiliki hak taman ini lagi. Taman Yoicin sepenuhnya milikku sekarang dan aku memberikannya padamu, Alin."


"Tapi... Tempat ini adalah tempat kenang-kenangan kalian. Aku tidak bisa, aku tidak bisa menerimanya." Sangkal Alin lagi.


"Tidak ada penolakan! Anita adalah masa lalu ku dan aku.. ingin membangun masa depan yang baru."


Ucapannya begitu memaksa dan memerintah, tapi senyumannya yang begitu tulus menyembunyikan kesan dari kata-katanya itu. Alin kini tidak dapat menolak, kerena Lukas sudah berkata seperti itu kepadanya. Dengan malu-malu Alin mengangguk dan mengiyakannya. Kemudian, keduanya pun bersiap untuk kembali pulang ke istana karena sudah semakin larut.


"Ayo kita pulang. Ini sudah malam."


"Hm. Oke."


"Aku tunggu di luar."


Alin langsung bergegas berlari keluar dan dengan cepat mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai mengemasi barang, mereka berjalan kembali ke istana melalui jalanan setapak yang lumayan sepi dan gelap.


Jalan setapak itu sangat sepi, gelap dan terlihat menyeramkan. Mereka berdua hanya memiliki lentera kecil sebagai penerangan. Tapi ada sesuatu yang aneh dan Alin menyadarinya setelah sekian lama berjalan.


"Eh, tunggu, tunggu. Kenapa kita tidak menggunakan mantra teleportasi saja? Bukannya itu akan lebih cepat?" Ucap Alin yang menyiritkan alisnya, sambil menyusul Lukas berjalan dan menghadangnya dari depan.


"Supaya lebih menikmati suasana, lagi pula agar kau bisa menghapal jalan menuju kemari. Jika kau lupa jalannya bagaimana? Ingin tersesat?" Lukas tersenyum jahil.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku. Tapi..."


...Sksksksksksk...


Ada sebuah suara yang muncul dari salah satu semak-semak, suara itu terdengar begitu jelas, tapi Lukas tetap saja berjalan lurus dengan santainya.


"Lupakan saja. Aku tidak mendengar apa-apa" Ucap Alin dengan buru-buru.


Bulu kuduknya langsung merinding. Lalu Alin bergegas untuk berjalan lebih cepat lagi, ia pun berjalan mendahului Lukas yang berada di belakangnya. Melihat tingkah Alin yang seperti itu, Lukas diam-diam tersenyum geli di belakangnya, lalu mengikuti Alin dari belakang.


"Hehehe... Ada-ada saja anak ini.


Tapi sedetik kemudian Lukas terlihat memasang ekspresi dinginnya. Ia menyelidiki suara itu dengan tajam, sambil berjalan di belakang Alin dengan waspada.


"Sepertinya ada yang membuntuti kami. Aku harus waspada."


Sementara itu di balik semak-semak tadi, terlihat ada dua orang wanita dan pria dewasa di balik itu. Mereka terlihat seperti orang yang terlatih, keduanya sangat berhati-hati dan cerdik. Keduanya bahkan membuat sedikit kebisingan, agar membuat lalat-lalat tadi tidak menyadari akan keberadaan mereka. Setelah merasa aman, mereka keluar dari semak-semak tempat mereka bersembunyi.


“Kita harus segera melaporkan informasi ini kepada nona.” Ucap pria itu kepada sang wanita yang ada di sampingnya.


“Baik. Tapi, apa kita tidak membuntuti mereka dulu sampai berhenti di istana saja? Sekalian kita mengunjungi putra mahkota.”


“Sebaiknya tidak usah. Kita di sini sudah sangat lama, nona pasti menunggu kepulangan kita ke selatan. Kita akan kembali ke sini lagi untuk memeriksa keadaannya jika ada perintah.” Jawab Orang itu.


“Baiklah, ayo kita pergi.”


“Tidak perlu repot-repot menyambut kami, nona. Kami akan masuk untuk mendatangi anda. Masuklah nona.” Ucap wanita itu tadi.


“Kalau begitu kalian cepatlah masuk. Aku ingin mendengar kabarnya segera.”


“Baik nona.” Sahut keduanya serempak.


Mereka bertiga pun langsung masuk kedalam gubuk untuk mengobrol. Wanita sebelumnya merogoh tas yang ada pada orang yang satu dan kemudian menyodorkan sebuah amplop putih kepada orang yang mereka sebut ‘nona’ tadi. Nona mereka membuka amplop itu dan membacannya. Kedua orang itu diam dan menunggunya mereka untuk membaca kertas itu. Orang itu langsung kebingungan dan menyiritkan keningnya setelah membaca kertas yang ada pada amplop.


“Apa ini Min Zhu, Riu Gu?” Tanyanya.


“Kami telah membuntuti pangeran Lukas selama seminggu penuh, seperti yang nona minta. Dan kami liat, pangeran Lukas akhir-akhir ini… dekat dengan seorang wanita yang sama. Yaitu wanita yang bernama Alin ini.”Jelas Riu Gu.


“Benar nona. Sebelumnya kami telah membobol dan mencuri data informasi dari kantor pusat data kerajaan,dan itu adalah biodata lengkapnya. Serta informasi kehidupan dan asal usulnya.” Tambah Min Zhu lagi.


“Hmm… Oke, aku puas dengan kerja kalian. Pergilah, kalian bisa beristirahat sekarang” Ucap orang itu sambil menyeringai senang.


Tapi keduanya tidak bergerak dari tempat mereka untuk beberapa saat. Bahkan mereka sempat menoleh satu sama lain, memberikan suatu isyarat. Nona mereka bahkan sempat kebingungan dengan sikap keduanya. Hingga Riu Gu memberanikan dirinya untuk membuka mulut untuk bicara. Orang itu pun meladeninya dengan senyuman yang masih terlihat sangat lebar.


“Hmmm… Nona?” Panggil Riu Gu.

__ADS_1


“Ada apa lagi, Riu Gu?”


“Anu… Itu.. Putra mahkota menitipkan surat lagi untuk anda, nona.”


Min Zhu lalu mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam tas nya. Kali ini surat yang akan di terima oleh orang itu, berupa sebuah surat yang di bungkus oleh bambu putih dengan pita berwarna merah muda. Mendengar apa yang di katakan oleh Riu Gu, senyuman lebarnya seketika langsung memudar, ia terlihat tidak senang dengan hal itu. Min Zhu kemudian memberikannya, dan ia mengambil surat itu dengan raut wajah yang sangat masam.


“Cih! Apalagi sekarang?”


Suasan pun menjadi hening, ia membaca surat itu dengan sangat serius. Riu Gu dan Min Zhu pun terdiam tidak berani berkata-kata. Beberapa saat kemudian orang itu menghela nafas, mengeluhkan sesuatu.


“Hufttt… Orang ini… Surat lagi, surat lagi… ckckck. Coba saja kalau Lukas lebih kuat dari pada Yuno. Aku pasti akan meninggalkannya demi Lukas.” Gumamnya.


“Nona? Maaf kalau saya lancang. Sebagai sesama manusia dan wanita, kita pasti ingin memiliki pasangan yang sempurna untuk hidup bersama. Tapi… Saya bingung, anda sebenarnya mencintai siapa? Dan kenapa anda tidak memilih putra mahkota saja, bukankah dia lebih berkuasa?” Tanya Min Zhu.


Mendengar kelancangan Min Zhu, Riu Gu benar-benar terkejut. Ia langsung buru-buru menegur Min Zhu yang ada di samping nya itu.


“Stt! Apa yang kau lakukan, Min Zhu…! Ini terlalu lancang..!” Bisik Riu Gu.


Riu Gu langsung menyenggol lengan Min Zhu dengan sedikit kuat. Min Zhu pun juga langsung tertegun dengan kata-kata nya yang lancang itu. Ia pun kelabakan dan berlutut di hadapan orang itu.


“Ma-maaf, nona. Saya minta maaf, mohon ampunannya.”


Tapi orang tersebut kembali menyeringai. Ia mengambil gelas yang berisi arak di atas meja yang ada, lalu menggoyang-goyangkan nya sambil tersenyum miring.


“Tidak apa, aku akan mengatakannya pada kalian. Sebenarnya, aku lebih mencintai Lukas. Tapi aku bukan gila tahta ataupun harta seperti orang-orang yang ada di luar sana. Aku adalah orang yang penggila kekuatan, itulah mengapa aku meninggalkan Lukas demi Jiku, dan kemudian Jiku pergi. Sekarang malah orang ini yang terus mengejarku.” Jelas nya.


“Hmm.. tapi kenapa anda seperti ini, ini sama saja seperti anda mempermainkan perasaan.” Sahut Min Zhu dengan sedikit ragu.


Riu Gu kemudian menyenggol lengan Min Zhu lagi, memberikan isyarat untuk berhenti berbicara. Tapi Min Zhu terlihat tidak peduli dengan itu, ia hanya menoleh sekilas kearah Riu Gu. Ia terlihat enggan berhenti bertanya karena rasa penasarannya.


“Kau benar Min Zhu, tapi itulah diri ku. Kalian tidak perlu sungkan untuk berbicara ataupun bertanya kepada ku. Sejak kalian menjadi pelayan ku, kalian sudah ku anggap sebagai keluarga, dengarkan Riu Gu?” Ucap orang itu seraya melirik ke Riu Gu yang sedari tadi tertunduk.


“Eh, ehm.. Ba-baik, nona. Omong-omong, kapan nona akan kembali ke ibu kota?”


“Yahhh… Mungkin beberapa bulan lagi, misi ku hampir selesai di sini.”


Min Zhu kemudian buru-buru mendekat kearah orang itu dengan mata yang berbinar-benar. Yahhh.. dia memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Jari-jari nya pun memijat-mijat tangan orang tadi untuk merayu nya.


“Jadi nona, siapa yang akan anda pilih nanti jika sudah pulang ke ibu kota? Pangeran Lukas atau Putra mahkota. Saya rasa, anda mungkin akan memilih pangeran Lukas, bukan?” Tanya Min Zhu.


“Entahlah, semoga saja dia sudah lebih kuat dari sebelumnya. Dengan begitu… aku mungkin akan kembali padanya.”


“Hehe.. Cerita cinta anda sangat menarik,nona.”


“Tapi nona, pangeran Lukas harus seberapa kuatnya agar anda memilihnya?” Tanya Riu Gu yang mulai ikut-ikutan obrolan mereka.

__ADS_1


“Ehmm… entahlah. Mungkin sampai dia mengusai mantra medis tingkat akhir.” Jawabnya lagi sambil manyun-manyun.


__ADS_2