
Langit sudah mulai menggelap, matahari sudah bersembunyi di balik gelapnya malam itu. Suasana di istana terdengar riuh karena kedatangan seseorang. Beberapa pelayan dan pengawal berlari kesana-kemari sedang sibuk, sambil berseru-seru.
"Putra Mahkota kembali! Cepat beri hormat!" Seru seorang dari mereka.
Lalu terlihatlah kereta kuda emas yang indah dan berkilau memasuki gerbang istana dengan dua ekor glom kuda masuk ke dalam. Pintu kereta terbuka dan pelayan-pelayan langsung bergegas membentangkan karpet merah. Lalu, terlihatlah Yu turun dari kereta kuda tersebut dengan elegan.
"Salam sejahtera untuk calon putra mahkota ke dua." Seru mereka semua yang sudah berbaris rapi di sisi karpet merah sambil membukukan badannya.
Yu masih terlihat murung setelah kejadian tadi, tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan itu dari semuanya. Hingga seorang pria paruh baya berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa. Nafasnya terengah-engah, seolah-olah sedang mencari-cari sesuatu barang berharga yang hilang.
"Hah... hah.. Salam... sejahtera untuk... putra mahkota..." Ucap orang tersebut, yang masih mencoba untuk menstabilkan nafasnya.
"Eh? Deos, apa yang membuatmu tergesa-gesa seperti ini?" Tanya Yu kebingungan.
Deos, pelayan pribadi Yu itu masih belum menjawab untuk beberapa saat, nafasnya masih terengah-engah setelah berlari tadi. Beberapa saat kemudian, Deos menjawab pertanyaan dari Yu itu.
"Maaf atas kelancangan saya, putra mahkota. Tapi anda tidak boleh keluar wilayah istana, apalagi sampai meninggalkan istana tanpa memberitahu dan tanpa persetujuan yang sah."
"Oh? Benarkah? Ah, biar saja. Paman Deon Li pasti tidak akan keberatan jika itu aku." Sahut Yu dengan tenang.
"Ini bukan hanya tentang keputusan master ketua saja, tapi para tetua dan master yang lainnnya juga punya hak untuk ikut campur dengan hal ini."
"Nyehhh... tidak asik. Tenyata kerajaan ini terlalu ketat dan posesif terhadap calon pemimpin mereka." Sungut Yu.
Deos menghela nafas pelan, ia menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat kepada Yu sedang memalingkan wajahnya itu.
"Mari, kita kembali." Ajak Deos dengan sopan.
"Aiyayayaya... Sebelum itu, aku ingin mengunjungi adikku dulu."
"Mari, saya antarkan."
Mereka pun pergi menuju kamar Alin sambil menyusuri karpet merah yang telah di bentangkan. Yu berjalan di depan mereka sedangkan Deos mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di depan tempat Alin, Yu langsung mengetuk pintu dan Alin pun membukakan pintunya. Yu sontak langsung memeluk Alin dengan lembut dan Alin pun membalasnya sambil menepuk-nepuk punggung nya.
"Kakak, ada apa denganmu?" Tanya Alin kebingungan.
"Tidak apa, hanya... merindukan mu saja."
"Aku tidak ingin kau sedih, maaf telah membohongi mu."
Alin pun tersenyum tipis dan membawa Yu untuk mengobrol di dalam. Tapi saat mereka sudah duduk dan ingin mengobrol, ada-ada saja pengganggu di luar. Deos memasukkan kepalanya sedikit ke dalam, memberikan kode agar Yu segera kembali bersamanya.
"Ehmm... anu.. putra mahkota... Hehe."
Yu mengerutkan sedikit keningnya kepada Deos, ia sangat tidak suka dengan apa yang di lakukan nya sekarang. Ia pun menegur dan memerintahkan Deos untuk menunggunya di luar dengan diam. Sementara Alin hanya menatap tegang keduanya.
"Deos, sopan kah begitu dengan majikan mu? Apa ini etika yang istana ajarkan untuk kalian? Perlukah aku yang harus turun tangan untuk memberi kalian etika?" Tanya Yu dengan tatapan tajam.
Deos langsung bungkam, ia langsung menjadi takut untuk menatap Yu dan ia pun menjadi diam tak bersuara. Ia membungkukkan badannya sedikit memberi hormat lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
Kini Yu dan Alin berdua saja yang di sana. Mereka duduk di kursi yang ada didalam untuk mengobrol dengan pintu kamar Alin yang terbuka lebar di depan mereka.
"Kak Yu, apa kau tidak terlalu keras dengan pelayan mu? Ya, diakan hanya mengkuatirkan mu." Tegur Alin.
"Tidak, pelayan yang mempunyai karakter seperti itu adalah orang tidak menghargai majikannya. Jika di biarkan dia akan melonjak dan tidak akan peduli dengan tujuan utamanya kelak."
"Hmm... benar juga. Huftt.. Andai saja aku ada seorang pelayan pribadi seperti kakak." Ucap Alin.
Alin menyadarkan kepalanya ke punggung kursi dan menatap langit-langit kamarnya. Yu kemudian tertegun, ada sesuatu yang terlintas di kepala. Yaitu hal yang berhubungan dengan pelayan Alin.
"Hm? Bukannya kau memiliki seorang pelayan pribadi?"
__ADS_1
"Hah? Aku? Punya?" Tanya Alin balik dengan terkejut.
"Bukannya kau memiliki pelayan pribadi. Beberapa hari yang lalu saat aku memilih pelayan, aku melihat seorang pelayan dengan nama mu di kediaman pelayan. Kenapa kau sampai tidak mengetahuinya?"
Alin menyirit kebingungan, ia menatap bingung Yu. Yang kemudian, termenung untuk beberapa saat untuk mengingat-ingatnya. Alin benar-benar mencoba untuk mengingatnya dengan keras, hingga ia teringat akan malam festival bulan yang lalu. Ia langsung terpekik karena hal itu.
"Nah iya, aku lupa! Aku pernah mengangkat seorang pelayan wanita menjadi pelayan pribadiku! Lalu aku lupa... dan sampai sekarang dia mungkin menunggu ku." Seru Alin.
"Nah, kan? Kau sangat ceroboh, Alin. Temui lah dia nanti. Memangnya kapan kau mengangkat nya?"
"Hmmm... Saat festival bulan tahun kemarin. Aihh... aku merasa bersalah padanya."
Yu hanya tersenyum sedikit mendengar itu, lalu ia mengusap-usap lembut kepala Alin dengan rasa sayang begitu dalam pada adiknya. Bukan hanya karena janji pada ayahnya, tapi karena dia benar-benar rasa sayangnya pada adiknya yang benar-benar besar.
"Sepertinya aku tidak bisa menemuinya nanti. Aku akan pergi setelah ini."
"Kemana? Dengan siapa? Untuk apa? Seberapa lama?" Yu menghujani Alin dengan pertanyaan yang secara detail.
"Menemui Master Deon Li, setelah itu pergi bersama Lukas ke suatu tempat. Untuk tugas dan... ehmmm... tidak tau, dia bilang untuk kejutan. Tidak tau." Jawab Alin sekaligus.
Yu kemudian menatap tajam Alin, Alin hanya diam melihat kakaknya yang bertingkah aneh sambil menyiritkan alisnya. Dari atas sampai bawah Yu memperhatikan nya, tidak tau apa yang sedang di pikirkan dirinya sekarang.
"Berdua saja?"
"Hm."
"Kau harus berhati-hati. Apa kau tau apa yang akan di lakukan seorang pria jika hanya berduaan dengan wanita?" Tatap Yu tajam sekali lagi.
"Tidak. Memangnya apa yang akan mereka lakukan?"
Alin menjawab pertanyaan Yu dengan pemikiran yang sangat polos. Sekilas Yu terlihat frustasi mendengar jawabannya yang polos itu. Tapi Alin benar-benar tidak mengetahui apa maksud dari yang Yu sampaikan.
"Polossss sekali adikku iniii....! Entah makanan apa yang di makannya. Rumput...?!"
"Oh, oke."
Yu pun berpamitan dengan Alin, lalu pergi dari situ meninggalkannya sendirian. Kamarnya menjadi hening lagi, ia pun memutuskan untuk beristirahat lagi dan merebahkan tubuhnya di kasur sedari menunggu panggilan dari pengawal.
...DEG...
Tapi tiba-tiba saja, ada suatu tekanan di dadanya. Tekanan yang sangat kuat sehingga membuatnya sedikit meringis kesakitan. Alin sontak terduduk dan memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Aisshh... sakit..."
...tok tok tok...
Dan tak lama, ada suara ketukan dari luar, yang memaksanya untuk menahan rasa sakit itu. Alin langsung menghampiri pintu depan sambil menahan rasa sakit yang masih terasa di dada. Saat pintu di buka, terlihat ada seorang pengawal berpakaian mewah berdiri di depan sambil memegang sebuah surat di tangannya. Ia membungkuk memberi hormat pada Alin.
"Malam, tuan putri. Maaf menggangu, ada surat dari Master ketua Deon Li."
Alin pun mengambil surat yang sodorkannya, lalu membaca surat itu. Surat itu tidaklah memiliki kata yang banyak, hanya satu kalimat yang tercantum pada kertas dalam amplop kerajaan yang mewah tersebut.
"Temui aku di lantai atas aula."
Alin melipat kembali kertas tersebut,
lalu Alin melemparnya ke dalam dengan sembarangan. Dan ia masuk sebentar ke dalam untuk mengambil jubahnya. Setelah itu kembali menghampiri pengawal tadi.
"Kau boleh pergi sekarang, aku menerima suratnya."
Pengawal itu pun menurut. Sekali lagi dia membungkuk dan pergi dengan segera. Alin pun juga pergi untuk menemui Deon Li yang sedang menunggunya di lantai atas aula.
Sesampainya di dalam aula, Alin mendapati sebuah tangga mewah yang sebelumnya tidak ada di sana. Tapi tanpa basa-basi lagi, ia langsung menaiki tangga tersebut seraya menyusuri detail-detail ukiran yang ada pada pegangan tangga itu.
__ADS_1
"Aneh sekali... Sebelumnya tangga ini tidak ada.
Ia telah menyusuri setiap anak tangga, hingga Alin sudah berada di lantai atas aula. Tapi tempat itu terlihat gelap, hanya ada beberapa lilin yang menerangi tempat yang luas itu. Dengan keberanian yang secuil, Alin memberanikan diri untuk berjalan ke dekat lilin-lilin.
"Errr, gelap... Master Deon Li! Anda di mana?!" Panggilnya.
Tapi tidak ada sahutan sedikitpun. Saat Alin sudah benar-benar berada di dekat lilin, tiba-tiba saja, lilin-lilin menyala dengan cepat hampir di semua tempat dan sisi ruangan yang gelap.
"Eh? Master..."
...Slash slash slash...
Setelah itu, dari kegelapan ada sesosok bayangan seorang pria. Bayangan itu semakin mendekat dan saat orang itu terkena cahaya lilin, terlihatlah Deon Li sedang berjalan ke arahnya. Alin pun menjadi sedikit lega mengetahui hal itu.
"Hahhh... Master, anda mengejutkan ku."
"Hehehe... maaf Alin, apa kau sudah lama menungguku?" Sahut Deon Li.
"Tidak, aku baru saja datang."
"Baguslah, bagaimana? Kita lakukan sekarang. Kau tidak masalahkan dengan tempat ini?"
Alin hanya mengangguk. Lalu sedetik kemudian, Deon Li mengangkat tangannya dan muncullah sebuah tempat yang ada sebuah patung di atasnya. Patung itu beberapa seperti seorang anak perempuan, yang memiliki diameter sekitar 15 cm. Walaupun begitu patung tersebut terlihat menyeramkan dengan matanya yang hitam pekat dan dengan darah yang ada di beberapa titik. Bulu kuduk pun merinding melihatnya.
"I-ini patung apa? Annabel? Menyeramkan sekali..." Tanya Alin mulai ketakutan.
"Ini adalah patung yang kalian dapatkan dari sekelompok bandit yang lalu. Patung ini berisi roh seorang anak yang memiliki enegi supranatural yang cukup tinggi dan hanya kekuatan Clorian yang bisa menghancurkannya."
"Eh? Aku?"
Alin kebingungan, ia menatap seram patung itu untuk sekali lagi.
"Iya. Bagaimana, apa kau siap?"
Alin menatap ragu sekilas patung itu. Tapi setelah di pikir-pikir lagi, Alin menyadari akan sesuatu. Bahwa hanya ini yang bisa di lakukan nya untuk kerjaan ini sementara waktu.
"Aku selama ini sudah tidak berguna seperti yang Yeni katakan, setidaknya... aku bisa membantu kerajaan dengan kekuatan yang sudah di titipkan ini."
"Baiklah, aku siap." Tegas Alin dengan tekat yang sudah bulat.
Tanpa banyak bicara, Deon Li memberikan sebuah pedang panjang yang sangat tajam kepadanya. Tekatnya menjadi ciut, hal yang di takuti kini kembali datang bersamaan dengan ingat yang sungguh mengerikan. Momen pertarungan yang sebelumnya benar-benar membuatnya trauma berat dengan benda tajam seperti itu.
"Pedang... Darah... Ma-mayat..."
Tangannya mulai gemetaran, kepalanya pun mulai berputar-putar tidak karuan, dadanya bahkan terasa sesak sekarang. Tapi dengan kuat Alin melawan ketakutan itu, lalu mengambil pedang yang ada di hadapannya. Dengan gemetaran memegang pedang tersebut.
"Siap? Aku akan membuka segel Clorian."
"Siap! Siap! Kau harus siap, Alin! Harus! Harus! pasti bisa!" Batin Alin menguatkan dirinya sendiri.
"Hm!"
Setelah mendapatkan jawaban, Deon Li mengayunkan tongkatnya. Cahaya-cahaya putih yang sangat terang mulai membentuk sebuah ruang di sekitar Alin dan patung. Sementara Alin, berjuang mati-matian melawan rasa takutnya yang kian memburu, hingga membuat pengelihatan nya semakin mengabur.
Sesaat kemudian, Deon Li memunculkan sebuah lingkaran dengan simbol, lalu menghempaskan tongkat nya membelah itu. Tiba-tiba saja, dada Alin terasa sakit kembali, kali ini dengan sangat kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
...DEG!...
"Ugh!"
Seketika, matanya berubah menjadi merah terang. Lalu sedetik kemudian, matanya menjadi berwarna merah padam dan tatapannya pun menjadi berbeda seperti yang lalu.
"Aihhh... Penyihir-penyihir sialan...! Saat tidak di butuhkan di segel, saat di butuhkan di berikan bahaya." Keluh Alin mulai di kuasai oleh Clorian.
__ADS_1