Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 123 Keteledoran yang fatal.


__ADS_3

Di beberapa hari berikutnya, hari begitu cerah tanpa adanya awan mendung ataupun hujan yang terlihat. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelajar academy sihir sedunia, karena pada akhir pekan, academy akan diliburkan. Yahh... hanya hari biasa, tapi cukup pantas di tunggu dengan jam belajar selama 12 jam sehari. Pada hari itu, para petani akan tetap berkerja, begitu pun dengan pekerja lainnya.


Sedangkan Lina dan Renu yang sedang berakhir pekan, memutuskan untuk ikut melihat ibu mereka di ladang tempatnya berkerja. Mereka tertawa, berlari dan bermain bersama sambil menemani ibu mereka berladang.


"Renu...! Ayo kejar aku...!" Seru Lina dengan senyuman yang lebar.


"Kakak! Hufftt... lelah sekali. Tunggu aku!"


"Huekkk...!"


"Kakak!"


Di tengah kegembiraan itu, Lina tiba-tiba saja merasa mual. Ia cepat-cepat langsung duduk di karpet yang ada pada rerumputan, mencoba untuk menghentikan rasa mualnya. Renu yang melihat Lina mual-mual seperti itu langsung merasa kuatir, ia langsung segera mengambil botol minum dan memberikannya. Lina mengambil botol tersebut dari tangan Renu dan meneguk habis airnya.


“Sudah lebih baik, kak?”


“Hm.” Jawab Lina sambil tersenyum tipis.


Tapi tidak seperti yang di katakan Lina. Keadaannya justru terlihat semakin memburuk. Wajahnya mulai memucat dan rasa mual itu semakin menjadi-jadi, Lina bahkan hampir tidak kuat untuk menahannya lagi.


“Kakak yakin baik-baik saja? Apa perlu ku antar ke tempat tabib?” Tanya Renu lagi.


“Tidak usah. Kau temani saja ibu di sini, aku akan pulang ke rumah untuk beristirahat.” Tolak Lina.


Renu pun mengiyakannya. Dengan segera Lina bangkit dari duduknya di bantu oleh Renu. Setelah itu Renu hanya duduk sendirian di sana sambil menatapi punggung kakaknya yang semakin menjauh. Tak lama setelah, Renu beranjak dari tempat dan menghampiri ibu yang sedang bekerja.


Di tengah perjalanan pulangnya, Lina kembali merasa mual. Bahkan ia hampir tidak bisa menahannya, Lina pun memutuskan berhenti sejenak dan duduk di kursi taman yang ada pinggiran jalan setapak. Lina termenung, semua pikiran positif maupun negatif dengan segera menghampiri batinnya. Hingga ada suatu pemikiran yang terasa masuk akal dengan kondisinya sekarang.


”Tunggu, jangan-jangan aku… tidak, tidak, aku harus memastikannya.” Lina langsung tertegun.


Dengan kondisi yang masih lemah, Lina memaksakan dirinya untuk bangkit dan berjalan kembali. Bukannya pulang ke rumah, Lina malah berbalik dan berbelok pada suatu persimpangan, menuju ke arah gedung kesehatan yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Setibanya di tempat gedung kesehatan, Lina langsung masuk dan mendaftar. Tempatnya tidaklah besar, tapi tidak juga terlalu kecil. Keadaan tempat itu sangatlah ramai, ada banyak sekali orang yang datang. Untungnya salah satu tabib yang ada di situ adalah teman lama Lina, jadi ia mendapat sedikit pelayanan khusus darinya.


Setelah pemeriksaan selesai, Lina disuruh untuk menunggu di kursi yang ada di luar. Entah sudah berapa nama Lina duduk di situ sambil termenung. Lina benar-benar gelisah dengan hasil dari pemeriksaannya. Tak berselang lama setelah itu, bunyi decitan pintu terdengar samar dari sisi gedung yang ada di dekat Lina.


“Permisi, nona.”

__ADS_1


Suara seorang pria lagi terdengar dari arah belakang nya. Lina pun sontak menoleh. Ternyata, itu adalah teman Lina yang berkerja sebagai tabib di sana. Dia terlihat snagat ramah dan baik, itu sangat terlihat dari senyuman yang terpancar. Dengan sengaja ia memanggil Lina seperti itu untuk menjahili nya.


"Ah..Tio, Kau mengejutkan ku. Ku kira siapa tadi."


"Hehehe.. Sudah lama tidak bertemu, sekali-sekali menjahili mu lah..." Canda pria yang bernama Tio itu seraya duduk di depan Lina.


Dengan masih sedikit bercanda, Tio membentang pelan amplop coklat yang berisi tes Lina itu sambil manyun-manyun. Dan ternyata Lina sudah kehabisan kesabarannya, ia punmemotong aktraksi bercanda Tio dan langsung bertanya ke intinya.


“Ah, iya. Bagaimana hasilnya?" Tanya Lina penasaran.


"Ah, Lina tidak asik! Santai... Amplopnya tidak akan lari kok." Decak Tio yang masih terlihat bercanda.


"Hufftttt.. iya, iya. Tapi aku benar-benar penasaran, bisakah beritahukan aku hasilnya sekarang?"


Sebelum menjawab rasa penasaran Lina, Tio meletakan amplop coklat yang dipegangnya tadi ke atas meja. Sambil sedikit mengerutkan keningnya, Lina menatap bingung Tio. Lagi dan lagi, Tio hanya memasang senyum yang lebar kepada Lina, ia sedang menunggu Lina untuk membuka amplopnya sendiri.


Setelah membaca hasil pemeriksaan itu, Lina terlihat benar-benar dangat terkejut, ia bahkan sampai membelalakan matanya karena saking tidak percaya dengan apa yang di baca nya. Lalu, Lina kembali menatap Tio, kali ini dengan tatapan yang begitu tajam.


"Selamat Lina, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu." Ucap Tio dengan senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya.


“Hah?! Apa?! Apa kata mu?! Apa maksudnya?!”


“Ma-maksudnya..?” Tanya Lina yang masih tidak yakin dan percaya.


“Iya, kamu hamil. Janin mu sudah berumur 4 minggu sekarang." Jelas Tio lagi.


“Aku… maksudnya… aku hamil..?”


“Iyaaaa, Linaaaaa. Apa kau dan keluarga mu tidak mengetahuinya?"


"Ta-tapi, tapi, aku dan dia... baru melakukannya sekali saja. Tidak, tidak mungkin." Sangkal Lina yang terlihat syok.


Darah Lina seakan naik semua dan terkumpul di atas kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka, terkejut dengan apa yang barusan di dengarnya. Lina langsung tersungkur di lantai. Tio yang melihat Lina tersungkur, langsung membantunya duduk kembali ke atas kursi.


"Hati-hati Lina..! Kau harus menjaga diri dan kesehatan mu demi bayi ini."


"Tidak, tidak, tidak mungkin. Aku harus menggugurkannya." Gumam Lina dengan tatapan yang kosong.

__ADS_1


"Sudahlah, Lina. Ini semua oleh karena keteledoran kalian, jangan salahkan janin yang belum lahir ini. Inilah kesulitan wanita-wanita yang ada disini, kenapa coba siklus menstruasi terhenti di sini..! Sekarang jadi sulitkan untuk mengetahuinya." Decak Tio sambil menasehati Lina.


Kondisi Lina masih terlihat sama seperti sebelumnya, ia masih gelisah dan ketakutan walaupun setelah Tio menasehatinya. Sebuah tangan yang terasa lembut kemudian mendarat tepat di puncak pundak Lina. Tangan itu memberikan sedikit ketenangan untuknya.


"Yang terpenting sekarang adalah pasangan mu ingin bertanggung jawab atas kalian berdua. Hal yang lain bisa kalian kesampingkan dulu."


"Hm, kau benar Tio. Terima kasih. Apa kau bisa membantuku? Bisakah jangan katakan situasi ini pada ibu ku dulu?" Pinta Lina.


"Tentu saja. Apapun untukmu. Jangan lupa jaga kesehatan mu.."


Kekuatiran Lina sedikit memudar, senyuman tipis mulai menghiasi wajahnya yang manis itu kembali


Setelah melakukan perpisahan yang singkat, Lina melangkahkan kaki nya pergi dari sana dan berjalan ke arah rumah. Di sepanjang perjalanan, ia terus termenung, memikirkan apa yang telah di dengarkannya tadi. Bahkan dia merenungi kesalahan mereka yang teledor dalam berpacaran.


Hingga tak terasa, Lina telah tiba di ambang pintu rumah saat matahari sudah naik ke tengah-tengah langit. Rumahnya terlihat sepi seperti tidak ada orang di dalam. Tapi saat membuka pintu rumah, Renu dan ibu sudah menunggu kepulangan Lina sedari tadi di kursi tamu. Mereka yang sejak tadi menunggu kepulangannya, buru-buru menghampiri Lina dan menanyakan kondisinya.


“Lina, apa kau baik-baik saja. Renu bilang kau tadi sakit, apa benar?” Tanya ibu Lina kuatir.


“Hm. Aku tidak apa-apa ibu. Hanya masuk angin biasa saja, hehe…” Sahut Lina tersenyum paksa.


“Lalu kakak dari mana saja? Aku liat tadi kakak berbalik ke arah yang lain.” Tanya Renu.


Renu seakan menaikan darah Lina, pucuk kepalanya kembali mendingin mendengar pertanyaan itu keluar. Entah bagaimana Lina akan berbohong kepada mereka.


“Ah, itu… ehmm… itu, tadi aku… pergi ke… toko obat. Ya…! Toko obat.” Jawab Lina terbata-bata.


Ibu Lina merasa sedikit curiga dengan apa yang di katakan oleh Lina. Tapi setelah dipikir-pikir, Lina butuh istirahat sekarang.


“Hufttt… Baiklah, kau pergilah beristirahat. Jangan lupa minum obat nya, ya?”


“Baik, bu.”


Lina pun menurut, ia melangkah lesu, masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, ia merebahkan diri di atas kasur sambil merenungkan kembali apa yang telah terjadi. Sambil menatap langit-langit kamar nya, Lina termenung cukup lama, memikirkan banyak sekali hal.


”Sekarang aku harus bagaimana..? Apa Reyhan akan meninggalkan ku jika dia tau aku hamil? Apa ibu juga akan membuangku jika dia tau aku hamil di luar nikah? Atau… Haruskah aku mengugurkan kandungan ku ini? Hufttt… Aku harus bagaimana? Siapa yang mau membantu ku…!”


“Arghhh…! Aku harus bagaimana…?!” Gumam Lina yang mulai fustrasi.

__ADS_1


Dengan sangat frustasi Lina membenamkan wajah nya di balik bantal yang ada. Hingga beberapa saat kemudian, ia tertidur dengan rasa bersalah yang menghantui di pikirannya.


__ADS_2