
Saat kelas di mulai kembali, Lukas masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku nya. Beberapa menit kemudian, guru mereka masuk ke dalam kelas juga. Terlihat, ibu guru mereka sedang membawa beberapa lembar kertas di tangannya bersama dengan beberapa buku.
"Selamat pagi anak-anak" Sapa Bu guru.
"Pagi Bu.."
"Jadi Mr. Fushi meminta ibu untuk membagikan kertas untuk pendaftaran misi regental lagi. Bagi yang berminat, bisa ikut mendaftar. Yudian, tolong bagikan."
"Baik, Bu"
Bu guru meminta tolong ke pada Yudian untuk membagikan kertas pendaftaran nya. Yudian berdiri dan berjalan menuju ke arah ibu guru itu lalu mengambil kertas-kertas nya. Yudian membagikan semua kertas pendaftaran itu kepada semua murid yang ada di situ menggunakan sihir perpindahan.
Saat kertas pendaftaran itu mendarat di atas meja Alin, ia mengambil itu dan mengamatinya. Alin merasa sedikit tertarik dengan misi Regental. Alin memiringkan badannya sedikit ke arah Gion untuk bertanya.
"Gion!" Panggil Alin dengan nada yang sedikit pelan.
"Hm?"
"Apa aku boleh ikut mendaftar?"
"Tentu saja, itu semua keputusan mu sendiri. Apa kau ingin ikut? Misi Regental benar-benar sangat menyenangkan." Ucap Gion meyakinkan Alin.
"Hm, sepertinya misi Regental terdengar menantang. Akan ku pikirkan lagi."
Alin kembali ke posisi semulanya dan kembali memperhatikan kertas itu dengan cermat. Alin ingin ikut, tapi masih ada sedikit keraguan di hatinya. Jadi Alin memutuskan untuk memikirkan pilihannya dulu.
Sementara itu, Lukas yang ada di depan Alin sangat tidak tertarik dengan semua itu. Saat kertas itu mendarat di meja nya tanpa ada rasa ragu lagi, Lukas langsung mencoret kertasnya lalu membakarnya menggunakan elemen api.
Dari dulu, Lukas sangat tidak tertarik dengan misi Regental yang selalu di tawarkan academy di setiap tahunnya. Dia selalu saja mencoret dan membakar kertas pendaftaran miliknya. Tapi kini alasannya berbeda. Lukas sudah mengambil misi Regental khusus atas paksaan dari ayahnya, jadi itulah alasannya untuk saat ini.
Para murid yang ada di dalam kelasnya juga tidak heran, karena Lukas selalu melakukan itu.
Sore harinya, pelajaran mereka telah usai. Semua murid yang ada di academy Ligen pulang ke rumahnya masing-masing.
Saat para KIMASEF bersiap untuk pulang ke istana bersama, tidak sengaja Lina melewati mereka. Alin yang melihat Lina melewati mereka, seketika ia ingat dengan tujuan sekarang. Ia harus menjemput Viko di rumah Lina sekarang.
__ADS_1
"Itu.. aku akan main ke rumah Lina. Kalian duluan saja." Ucap Alin kepada anggota KIMASEF yang lainnya.
"Hm" Sahut Lukas dingin.
Sarah dan Neli hanya mengangguk mengiyakan nya, sementara itu Yeni hanya diam dengan muka dingin. Saat Gion dan Reyhan mendengar kalau Alin akan pergi ke rumah Lina, mereka berdua langsung ingin ikut dengan Alin.
"Aku! Aku ikut dengan mu, Alin. Paypay semua..." Ucap Gion sambil melambaikan tangannya.
Gion menghampiri Alin dan langsung menggandeng tangannya dengan erat. Reyhan yang mendengar itu juga tidak mau kalah. Reyhan memutuskan ikut dengan Alin juga.
"Ikut! Ikut!" Seru Reyhan dengan nada yang manja.
Reyhan menghampiri Alin dan ia juga menggandeng tangannya Alin sama seperti yang Gion lakukan. Kini Reyhan dan Gion berada di samping kiri dan kanannya. Mereka terlihat seperti sekeluarga simpanse yang hidup dengan kebahagian, mereka selalu bersama dengan ibunya. Dan sepertinya Alin kini sudah menjadi seorang ibu simpanse yang baik.
"Hehe.. Kami pergi dulu. Bye.." pamit Alin.
Alin pun berjalan menyusul Lina yang sudah jauh berjalan di depan dengan Gion dan Reyhan yang menempel di kedua tangannya. Setelah mereka bertiga sudah cukup jauh, Lukas, Yeni, Sarah dan Neli kembali pulang ke istana di ikuti oleh beberapa pengawal.
Sesampainya di rumah, Lina membuka rumahnya dan ingin masuk ke dalam. Namun Lina berbalik saat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
"Cepatlah!"
Lina pun menunggu Alin di depan pintu. Jujur saja, Lina merasa sangat geli saat melihat ada 2 ekor bayi simpanse menempel di kedua lengannya. Reyhan dan Gion tidak mau melepaskan pelukannya dari lengan Alin di sepanjang jalan, jadi dengan terpaksa Alin harus membawa mereka seperti itu.
Setelah Alin berhasil membawa kedua bayi simpanse nya itu, mereka langsung masuk ke dalam. Seperti biasa, ibu Lina berkerja lembur dan Renu pergi ke ladang untuk menemani ibunya.
Mereka masuk dan duduk di salah satu kursi panjang yang ada di rumah Lina. Alin pun mengikuti Lina masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil Viko. Sementara itu, Reyhan dan Gion hanya duduk di kursi sambil melihat-lihat di sekitar.
Di dalam kamar, terlihat ada Viko yang tengah bermain dengan seekor Glom yang terlihat asing di mata mereka berdua. Sebelumnya saat mereka pergi meninggalkan rumah, Lina hanya meninggalkan Viko sendirian di dalam kamar.
Namun mereka kini melihat ada seekor Glom kucing yang berwarna hitam putih di situ sedang bermain dengan Viko. Alin dan Lina tentu saja sangat terkejut dan kebingungan dengan apa yang mereka lihat sekarang.
"Glo-Glom siapa itu?!!!" Teriak Lina terlihat mulai panik.
Alin pun merasa sangat panik. Namun dia berusaha untuk tenang. Viko dan Glom itu juga terlihat kebingungan dengan tingkah Alin dan Lina yang terlihat ketakutan saat melihat mereka.
__ADS_1
Saat Gion dan Reyhan mendengar suara teriakan Lina, mereka langsung berlari menghampiri Alin dan Lina ke dalam kamarnya. Mereka masuk dan melihat Alin dan Lina yang terlihat ketakutan di dalam. Reyhan dan Gion pun juga ikut panik dan langsung bertanya pada mereka berdua.
"Ada apa?!" Tanya keduanya secara bersamaan.
"I-itu Glom siapa?" Tanya Lina sambil menunjuk ke arah Glom yang sedang bersama Viko itu.
Gion dan Reyhan menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Lina itu, mereka melihat sebuah Glom kucing di sana bersama dengan Viko. Saat melihat itu Reyhan hanya terkekeh geli, sedangkan yang lain sangat kebingungan dengan tingkah Reyhan.
"Hehe.."
Alin, Lina dan Gion tentu saja keheranan. Mereka menatap Reyhan dengan beribu-ribu pertanyaan.
"Kau?! Kenapa tertawa?!" Tanya Alin.
"Sebenarnya itu Glom yang sengaja aku kirimkan untuk Lina. Aku..." Ucap Reyhan
Reyhan melangkah maju ke arah Lina dengan perlahan. Untungnya Alin langsung paham dengan situasi ini. Jadi Alin membawa Viko dan Glom Lina itu keluar dengannya.
"Kemari lah..." Panggil Alin kepada Viko dan Glom Lina itu.
Viko dan Glom itu berlari bersama ke arah Alin dan langsung melompat ke pelukannya. Namun Gion tidak paham sama sekali dengan situasi itu, ia tetap berada di depan pintu sambil terbengong. Dengan terpaksa, Alin juga harus menariknya untuk pergi.
"Hei Gion! Ayo!" Ajak Alin sambil menarik tangan Gion dengan sekuat tenaga.
"Kemana? Wehhh, Alin kemana?!"
Alin terus saja menarik Gion hingga mereka tiba di ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, Alin menurun Viko dan teman nya itu ke lantai. Setelah diturunkan ke lantai, Glom Lina dan Viko langsung bermain kejar-kejaran di dekat mereka. Alin dan Gion pun duduk bangku yang ada di situ.
"Kenapa kau menarikku pergi dari situ?!" Tanya Gion dengan ekspresi cemberut karena kesal.
"Hehe.. maaf. Akan ku jelaskan nanti."
"Okelah. Glom Lina yang di berikan Reyhan ini imut juga."
"Viko juga imut!" Ucap Alin membela Viko dengan nada yang ketus.
__ADS_1