Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 102 Cabe matangg.


__ADS_3

Alin terus saja menangis di pelukan Yu Yeo. Sedangkan Yu Yeo, ia hanya terdiam sambil mengelus-elus punggung adiknya itu. Hingga tangisan Alin itu reda, barulah Yu Yeo menatap matanya dengan bersungguh-sungguh.


"Apa yang kau tangis, kan? Hm? Bukannya kau sudah menemukan saudara mu ini?"


"Nah itu dia... Aku kira aku tidak punya keluarga lagi, ternyata... ternyata... hiks... aku punya kakak! WHAAAA."


Tangisannya kembali pecah yang memaksa Yu untuk menenangkan Alin sebelum bertambah parah lagi. Dengan lembut Yu menyeka air mata yang terus mengalir itu dan memeluk Alin kembali.


"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, adik ku tidak boleh cengeng begini. Kau adalah gadis yang sangat kuat. Berhentilah menangis." Ucap Yu.


"Kakak... hiks.. apa kau benar kakak ku? hiks.. ini bukan mimpi, kan?"


"Ini bukan mimpi, kau adalah adikku, adiknya Yu Yeo." Tegasnya sekali lagi.


"Aku harus memanggil mu seperti apa? Kak Lio Yu? Kak Yu Yeo? Kak Yu? Atau Kak Lio Yu Yeo?" Tanya Alin yang langsung menengok ke wajahnya Yu.


"Eh, kalau kau memanggilku dengan nama lengkap begitu pasti akan sangat sulit. Terserah padamu saja, nama galon terbang pun akan aku sandang jika kau ingin memanggil ku seperti itu."


"Hehehe... Kak, kau lucu sekali. Aku akan memanggil mu kak Yu. Bagaimana?"


"Apa pun." Bisik Yu di telinganya


Setelah mendengar itu, Alin kembali tenang, ia memeluk Yu dan Yu pun membalas pelukannya nya itu. Kerinduan yang telah Yu pendam selama bertahun-tahun sekarang sudah terbalaskan oleh yang telah ia tunggu-tunggu selama ini. Selama hampir 19 tahun lamanya, Yu telah terpisah dari adiknya dan hari ini adalah hari yang paling spesial baginya.


Saat kedua saudara itu masih melepaskan rindu satu sama lain, ada ada saja gangguan dari luar. Terdengarlah ada suara yang agak bising dari luar pintu aula yang terbuka lebar itu. Yu akhirnya ingat kalau ada hal yang harus ia urus setelah dari aula istana tersebut.


"Ah, aku punya sedikit urusan lain. Aku harus menemui... Eh! Siapa tadi yang bersama kita itu?" Tanya Yu yang baru ingat kalau dia tidak tau nama Deon Li.


"Yang mana? Pangeran Yuno?"


"Bukan, bukan. Itu... yang... ehmm... yang, yang, yang pakai jubah putih tadi."


"Yakan, mereka berdua pakai jubah putih."


"Mereka berdua yang mana coba, perasaan yang satunya pakai jubah biru pudar, lho..." Debat Yu tidak mau kalah.


"Tidak kak, Pangeran Yuno dan master ketua Deon Li memakai jubah putih!" Sahut Alin yang tidak mau kalah juga.


"Tidak, tidak. Yang satunya tadi memakai jubah yang berwarna biru yang samar-samar."

__ADS_1


"Tidak! Itu putih! Putih!" Sahut Alin yang mengerutkan keningnya.


Perdebatan pertama kedua saudara itu terjadi di saat pertemuan pertama mereka, dan perdebatan tentang jubah putih dan biru itu tidak akan ada habisnya jika salah satu dari mereka tidak mau mengalah. Sebagai seorang kakak, Yu pun dengan terpaksa harus mengalah dengan adik kecilnya yang keras kepala itu.


"Iya, iya! Putih! Putih! Kau ternyata cerewet sekali, ya..." Gerutu nya.


"Hehehe..."


...Tak tak tak...


Tak berselang lama setelah itu suara aneh kembali terdengar dari depan pintu aula. Alin yang mendengar itu langsung merinding. Tidak heran jika merasa merinding, karena langit yang cerah berubah menjadi langit yang semakin menggelap seiring berjalannya waktu, yang menandakan kalau hari sudah hampir malam.


"Sepertinya kau punya urusan penting. Sebaiknya kau pergi sekarang." Ucap Yu yang langsung menatap ke arah pintu aula yang terbuka dengan lebar sedari tadi.


"Hah?"


Karena Yu berkata seperti itu, Alin menjadi kebingungan dan ia menoleh ke arah yang Yu tatap itu. Terlihatlah di sana sebuah kepala seseorang yang menatap mereka dari salah satu sisi pintu. Alin langsung terkejut dan mengira kalau itu adalah hantu.


"WHAAA! Hantu!"


"Hantu apanya? Itu bukan hantu, coba liat baik-baik lagi." Ucap Yu yang menatap orang itu sambil menyeringai.


Setelah di lihat dengan baik-baik, ternyata itu bukanlah hantu. Melainkan seseorang yang sedang menunggu salah satu dari mereka berdua. Alin menyipitkan matanya dan melihat orang itu dengan baik-baik, orang itu iyalah...


"Gion?!" Pekiknya.


"Benar, bukan? Ayo!" Ajak Yu yang langsung berjalan ke arah Gion yang ada di dekat pintu itu.


Alin berdirinya dari tempatnya dan menyusul Yu yang menghampiri Gion. Saat melihat Yu yang akan menghampirinya, Gion langsung kelabakan dan membuat dirinya seolah-olah menjadi seperti orang yang ada di sebelahnya.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Tanya Alin.


"Hm." Gion menunjukan jarinya ke orang yang ada di sebelahnya itu.


Alin bergeser sedikit dari posisi nya yang saat ini dan melihat orang yang ada di samping Gion tersebut. Terlihatlah di sana, Lukas yang terlihat sedang kesal dengan wajah suramnya, sambil menghentakkan sepatunya dengan keras dan kesal. Yu yang melihat itu sudah tak kuasa menahan tawanya, saat melihat Lukas yang bertingkah seperti dia sewaktu masa sekolah nya dulu.


"Hahaha... Kau.. Orang yang tadi, bukan? Kenapa kau ada di sini? Pfttt... Hahaha... Kau seperti sedang menunggu seorang putri saja." Ucap Yu yang menatap lucu Lukas.


"Kalau kau tidak keberatan, kami punya sebuah janji dengan putri Jiu." Sahut Lukas dengan dinginnya.

__ADS_1


Entah kenapa, Yu terlihat mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Lukas yang membuat Alin serta Gion, serta para pengawal yang ada di situ menjadi tegang. Dengan tatapan yang dingin, Lukas menatap tajam Yu dengan aura dinginnya. Hal itu pun mempengaruhi area di sekitar tempat itu.


"Awh... Dingin? Panas?" Gumam mereka semua dengan suara pelan.


Tiba-tiba saja, Yu menarik Alin sehingga membuat Alin hampir terjatuh. Dengan tatapan yang masih tajam, ia mendekat ke arah Lukas.


"Kau...!!"


Suasana menjadi sangat menegang, semuanya hampir tak berkedip saat menyaksikan ketegangan tersebut.


"Yasudah, nih bawa saja. Kalian ada janji, kan?" Tanya Yu yang langsung menyodorkan Alin dengan lembut ke depan Lukas.


"EHHHH!!!"


Semuanya menjadi keheranan, mereka kira Lukas dan Yu akan berkelahi namun nyatanya tidak. Dengan senyuman yang tulus, Yu menyerahkan Alin kepada Lukas yang sedang dalam kondisi kebingungan sekaligus keheranan di hadapannya itu.


"Ehm.."


"Janji suci mu pun akan aku restui." Bisik Yu dengan nakalnya.


"E-eh..."


Ucapan Yu benar-benar tidak di terduga, Lukas langsung memerah bagaikan cabai yang hampir kematangan olehnya. Yu mundur beberapa langkah dan memasang senyuman yang lebar sehingga membuat Alin dan Gion menjadi penasaran akan hal yang Yu katakan kepada Lukas tadi.


Dengan penasarannya Alin dan Gion langsung mengerumuni Lukas di susul oleh para pengawal yang berbondong-bondong mengerumuni nya juga. Lukas terlihat semakin memerah saat melihat wajah Alin dekat dengan nya pada saat itu dan hal itu membuat mereka semakin penasaran.


"Apa yang dia katakan?! Katakan pada kami!" Pinta semuanya secara bersamaan.


Tapi Lukas melakukan hal yang seharusnya ia lakukan sekarang. Ia berbalik dan meninggalkan mereka tanpa mengatakan sepatah katapun dan itu membuat yang lainnya merasa kecewa.


"Yahhhh...!"


Alin dan Gion pun mengikutinya dan menyusul Lukas yang berjalan cepat di depan mereka itu. Saat keduanya bisa menyamakan langkahnya dengan Lukas, mereka berdua masih bisa melihat Lukas yang terlihat sangat malu itu.


"Apa yang kakak ku katakan padamu tadi?" Tanya Alin yang keheranan dengan tingkah Lukas yang seperti itu.


"Iya, apa yang dia katakan padamu?" Tambah Gion lagi.


"Bukan apa-apa."

__ADS_1


Lukas semakin mempercepat langkahnya itu dan mereka berdua pun mencoba untuk menyamakan langkah mereka dengan langkah cepat milik Lukas. Saat tiba di suatu lorong, Lukas berbelok dan masuk ke sebuah ruangan, yang tidak lain ialah dapur istana.


__ADS_2