
Saat tiba di istana, ketiganya langsung di suruh ke ruang pemeriksaan. Beberapa waktu telah berlalu, pemeriksaan mereka selesai pada saat hari sudah sangat larut. Dan pemeriksaan terakhir di lakukan pada Lukas. Tidak ada luka serius padanya hanya ada luka yang sangat ringan.
"Oke, tangan dan kaki mu masih lengkap, tidak ada luka berat dan cidera." Canda Kael.
"Kurasa otakmu yang hilang." Balas Lukas.
"Eishh... tidak bisakah kau mengucapkan terimakasih kepada dokter yang merawat mu."
"Tidak. Mimpi saja."
"Yasudah, pergi sana."
Kael menjadi kesal dan tidak mau meladeni Lukas itu lagi. Ia berbalik dan membereskan barang-barang nya, bersiap untuk pergi ke ruang kerjanya. Tapi saat Kael sudah ingin melangkah pergi, Lukas memanggil nya untuk menanyakan sesuatu.
"Kael, bagaimana kondisi Alin tadi?" Tanya Lukas.
"Dia baik-baik saja, lukanya tidak terlalu parah. Hanya saja, dia sepertinya sangat trauma tadi. Dia bahkan tidak berbicara sedikit pun padaku." Jelas Kael.
"Hm. Syukurlah kalau begitu..."
Saat Lukas menanyakan keadaan Alin, ia menjadi teringat akan suatu hal. Kael duduk di samping Lukas dan menatapnya dengan tatapan yang berbinar-binar. Ada banyak sekali ide pertanyaan dari kepalanya sekarang. Tapi cara Kael menyampaikan isi kepalanya itu yang tidak jelas.
"Oh, iya. Ngomong-ngomong... Kapan kau akan menyatakan ciwiw... ciwiww mu?" Tanya Kael sambil senyum-senyum jahil.
"Apanya ciwiw, ciwiw? Suara burung?"
"Ishhh... Suara burung kan CIT CIT, LUKAS."
"Cit cit kan suara tikus." Sahut Lukas yang tidak mau kalah.
"Suara burung cit cit. Lalu suara tikus bagaimana?"
"Cuit cuit? Lalu ciwiw ciwiw suara apa?Hmmm... pertanyaan yang membanggokan..." Gumam Lukas yang ikut berpikir itu juga.
Keduanya terdiam dan memikirkan pertanyaan mereka yang berantakan itu, hingga otak mereka juga ikut berantakan. Semua topik dan rencana terlupakan, otak mereka berantakan memikirkan pertanyaan bodoh itu. Hingga, tiba-tiba saja Olivia masuk ke dalam dan mengejutkan mereka.
"WEHHH! Sedang apa kalian di sini?! Bukannya datang ke aula malah bengong begini...! Cepat pergi Lukas!" Seru Olivia yang marah-marah.
"Hah? Aula? Untuk apa?" Tanya Lukas.
"Cepat saja sana!"
Olivia pun segera pergi dari tempat itu mendahului mereka berdua. Lalu Lukas juga menyusul nya ke aula istana, segera setelah ia mengambil barang-barang miliknya yang ada di atas meja. Sementara Kael masih sibuk berpikir tentang pertanyaan tadi sambil melamun. Ia menyangga dagunya dengan telapak tangan dan kembali melamun setelah Lukas keluar.
"Hmmm.... Ciwiw ciwiw?" Gumamnya.
__ADS_1
Di Aula, Deon Li dan Alin sudah ada di sana menunggu kedatangan Olivia dan juga Lukas. Saat Deon Li mendengar suara decitan pintu aula yang terbuka, ia menoleh dan melihat keduanya sudah ada di samping Alin. Deon Li pun maju mendekati mereka.
"Kerja bagus untuk kalian bertiga. Tadi aku sudah mendatangi master Gi dan dia bilang kalau di dalam peti yang Olivia bawa tadi itu berisikan barang yang tidak ada di dunia ini."
"Jadi sekolompok bandit tadi berasal dari dunia sihir merah?" Tanya Lukas.
"Benar sekali. Tapi mereka bukan sembarangan bandit, mereka adalah-"
"Bandit abal-abal?" Tebak Olivia yang memotong Deon Li.
"Bukan... mereka adalah salah satu mata-mata dari lawan. Sepertinya mereka masuk saat pelindung perbatasan hancur waktu itu." Tambah Deon Li lagi.
"Tapi kepala bandit waktu itu berkata kalau mereka ada 7 orang, tapi kami hanya membunuh 6 orang. Kemana satunya lagi?"
"Untuk itu... Kita membutuhkan kekuatan Clorian." Jawab Deon Li sambil menoleh ke arah Alin yang sedang tertunduk diam.
Lukas dan Olivia juga menoleh kepada Alin yang ada di samping mereka itu. Tapi Alin hanya diam sambil tertunduk, yang wajahnya tidak terlalu keliatan karena tertutup oleh rambutnya.
Alin yang merasa kalau mereka membicarakan dirinya, ia mengangkat kepalanya dan melihat ada 3 pasang mata yang melihat dengan serius kearahnya. Ia yang sedari tadi takut untuk membuka mulutnya, ingin bicara. Tapi saat ingin mengatakannya, jam istana berbunyi yang menandakan kalau harinya sudah semakin larut. Dan Alin mengurungkan niatnya untuk bersuara.
...Dong...
...Dong...
...Dong...
"Baiklah, kita lanjutkan besok sore saja. Kalian beristirahatlah." Ucap Deon Li yang langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.
Setelah itu, Olivia juga berbalik dan keluar dari aula, yang menyisakan Lukas dan Alin di sana. Alin terlihat sangat murung dan diam semenjak mereka pulang dari tempat kamp para bandit sebelumnya. Lukas merasa sedikit iba dan ingin menghiburnya.
"Kemari." Panggi Lukas kepada Alin yang ada di di hadapannya.
Alin maju kedepan dengan perlahan, hingga ia sudah cukup dekat dengan Lukas. Lukas mengelus-elus kepala Alin dengan lembut dan menatapnya. Alin pun mengangkat kepalanya dan menatap mata biru Lukas yang terlihat bercahaya dengan senyuman lebar yang begitu tulus.
Kemudian, Alin tiba-tiba saja tersipu malu saat melihat orang yang dia sukai menatapnya seperti itu. Ia pun langsung membuang muka nya yang tersipu itu agar Lukas tidak melihatnya.
"Hm? Kenapa?" Tanya Lukas kebingungan.
"Tidak apa-apa. Aku.. Aku akan pergi beristirahat juga."
Saat Alin ingin melangkah kakinya untuk pergi, Lukas menarik tangannya yang membuat Alin tidak bisa melangkah kembali. Lukas memegang kedua pundaknya dan menatapnya kembali dengan serius.
"Kita harus bicara!" Tegas Lukas.
Alin tentu saja kebingungan dengan Lukas yang tiba-tiba saja menatapnya seperti itu. Ia terdiam sejenak sambil merasakan detak jantungnya sendiri yang terus saja berdegup kencang setiap dalam situasi ini.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ada apa denganmu? Kau terlihat murung semenjak kita pulang." Tanya Lukas.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku, aku, anu... itu... Kita bicara besok saja. Sampai jumpa!" Pamit Alin yang terlihat tergesa-gesa pergi.
Lukas terlihat tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Alin yang bertingkah seperti itu. Ia kemudian keluar dari aula dan pergi ke tempatnya.
Ke esokan hari nya, semuanya melakukan rutinitas seperti biasanya. Orang-orang melakukan kegiatan mereka masing-masing seperti biasannya. Sama hal dengan para siswa dan siswi dari berbagai academy di seluruh dunia sihir putih. Semuanya melakukan rutinitas mereka.
Hingga pada siang harinya, Alin menemui sahabatnya, Lina yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan matanya secara langsung. Lina terlalu sibuk untuk menemani kekasihnya, yang begitu ia cintai itu sampai melupakan sahabat nya.
Tapi kali ini, Lina sedang sendirian di kantin karena Reyhan pergi bersama dengan para pangeran yang lainnya. Alin pun datang dengan diam-diam untuk mengejutkan Lina yang sedang duduk di kursi pojokan.
"BWA!" Kejut Alin.
Lina langsung berbalik dan mendapati Alin dengan wajah konyolnya. Ia pun tersenyum dan melihat Alin, dengan senyuman di wajahnya. Alin kemudian duduk di samping Lina, untuk menemaninya di situ.
"Nyehh... Mentang-mentang sudah punya kekasih sudah melupakan ku...!" Gerutu Alin.
"Eh, tidak, tidak. Hehehe... Maaf."
"Oh, iya. Dimana Reyhan? Kenapa dia tidak bersamamu?"
"Ehmm... Dia sedang bersama dengan anggota KIMASEF yang lainnya. Apa kau tidak tau? Kenapa tidak bersama mereka juga?"
"Malasss..." Jawab Alin dengan ekspresi yang aneh.
"Heh!"
Tiba-tiba saja salah satu pelayan kantin menghampiri mereka dan meletakan pesanan Lina di atas meja. Setelah itu ia kembali dan meninggalkan mereka.
"Mau?" Tanya Lina.
"Tidak."
"Hm. Aku dengar kau membunuh seorang bandit kemaren, apa benar?" Tanya Lina dengan tiba-tiba.
Saat mendengar itu Alin terlihat langsung murung. Ia masih trauma dengan kejadian itu dan tidak ingin membahasnya untuk beberapa hari kedepan. Tapi Lina sudah terlanjur mengingat kejadian itu. Ingatan-ingatan Alin saat membunuh bandit itu langsung berlalu lalang di kepalanya. Alin terdiam sejenak dan mencoba untuk mencerna isi kepalanya.
"Hmm...."
"Kau baik-baik saja kan, Alin?" Tanya Lina.
Belum sempat Alin menjawab pertanyaan dari Lina, suara berat seorang pria langsung mengalihkan perhatian mereka. Pria itu duduk di depan Alin dengan membawa nampan makanannya sambil tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1