
Di depan pintu, terlihat ada seorang pria muda yang tinggi sedang berdiri menatap Nam Yeon dengan dengan senyum manisnya. Pria muda itu tidaklah lain adalah Yu. Tapi Nam Yeon malah memalingkan wajahnya dan memasang ekspresi sinis yang sangat terlihat diwajahnya.
"Ck, kalau tidak ada urusan yang penting, sebaiknya kau pergi saja." Ketus Nam Yeon.
"Aku memiliki urusan. Apa kita bisa mengobrol sebentar, bu?" Ucap Yu dengan lembut.
Nam Yeon sebenarnya enggan, tapi entah kenapa kaki nya berkata lain. Ia justru mengikuti Yu ke sebuah tempat untuk mengobrol.
Yu menuntun ibunya itu ke taman kota, yang pada saat itu sedang sepi karena malam hari sudah larut. Mereka duduk berhadapan, tapi Nam Yeon masih tidak mau menoleh kepada anaknya. Tapi Yu tetap bersikap tenang dan tersenyum kepadanya.
"Bagaimana kabar ibu?"
"Baik."
Nam Yeon hanya menjawab dengan singkat dan juga ketus kepada anaknya. Tapi anaknya itu begitu sabar, ia menghela nafas sejenak dan kembali berbicara dengan nada lembut yang sama.
"Aku sudah bertemu dengan adik. Adik sudah baik-baik hidup di dunia sihir. Selama 12 tahun ini aku sudah mengawasi keluarga kita secara menyeluruh-"
"Katakan saja apa mau mu, aku tidak mau berbasa-basi dengan anak buangan seperti mu." Ketusnya lagi.
Hati Yu terasa sakit saat mendengar kata itu keluar dari mulut ibunya sendiri. Tapi ia tetap mencoba untuk kuat, ia menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya sambil menggigit bibir bawah. Selama bertahun-tahun Yu hidup sendiri menjadi pengembara 2 dunia tanpa keluarga, tapi saat sudah mendapatkan posisi nya, ia bahkan masih belum bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya seperti dulu lagi.
Memang sakit rasanya di hati, tapi Yu bukanlah orang yang mudah untuk menyimpan dendam. Bahkan ia tidak marah sedikitpun kepada Alin yang mungkin bisa di artikan mengambil posisi nya sebagai anak sulung dan merebut semua kasih sayang keluarga yang seharusnya dia rasakan juga. Tapi saking sayangnya Yu pada Alin, ia bahkan melupakan hal terpahit itu dan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi bersama nya. sebegitu besar itulah kasih sayang Yu kepada adik tercintanya.
"Ternyata ibu masih mengingat ku. Sesuai dugaan ku, kekuatan kakek yang tersisa tidak bisa bertahan lama untuk membuat melupakan semua kenangan yang ada." Ucap Yu sekali lagi, yang masih memancarkan senyuman, tapi senyuman itu disertai sorotan mata yang begitu sedih.
__ADS_1
Nam Yeon hanya melirik sekilas, ia lalu memalingkan wajahnya kembali. Untuk beberapa saat suasana di sekitar terasa tegang. Yu merasa berat sekali untuk melontarkan kata-kata setelah mendengar ucapan Nam Yeon yang sebelumnya.
Tapi ia mencoba untuk kembali berpikiran positif lagi, ia menghela nafas dan kembali mengajak Nam Yeon untuk kembali berbincang-bincang. Yu tetap saja memancarkan senyumannya itu di setiap kata-katanya yang keluar.
"Bu, bisakah kita hidup seperti dulu? Mungkin akan berbeda dari sebelumnya, yahh... tanpa ayah dan kakek. Kita bisa membuat cerita di lembaran baru itu, bukan?"
"Mimpi saja! Kalian mungkin bisa hidup di lembaran baru. Tapi aku tidak. Prinsip ku, di mana aku menjalani cerita itu, maka aku akan menyelesaikan cerita pada lembaran itu sampai tamat. Dan lagi, siapapun yang sudah keluar dari kehidupanku, maka dia tidak bisa masuk kembali. Kalau kalian menyesal, salahkan saja pada kakek kalian yang egois itu!"
Nam Yeon merasa tidak terima dengan semua yang telah terjadi, ia lantas membentak Yu dan menolak permintaannya itu. Ia memang menyayangi ayah mertuanya, tapi ia sangat membenci ke egoisan nya.
"Tapi yang kakek lakukan itu mungkin yang terbaik Bu! Jika ibu tidak mau menerima ku tak apa, tapi tolong terimalah adik kembali. Kumohon bu..."
Muka Yu terlihat mulai memerah menahan tangis. Ia memohon dan memohon kepada ibunya. Hanya itu yang ia pinta. Walaupun dirinya tidak bisa merasakan kebahagiaan, tapi setidaknya adiknya bisa. Tapi Nam Yeon tetap tidak mau, ia telah membulatkan keputusannya.
"Cih! Aku telah melahirkan dan membesarkan kalian dengan penuh cinta. Tapi apa yang aku dapatkan?! Ke egoisan kakek mu, Yu! Dia mengambil kalian dari ku, membuat takdir kalian tanpa persetujuan ku! Bahkan memisahkan kalian dari ku!!! Kalian bukan anakku lagi!!!"
"Heh! Mungkin keputusan yang kakek ambil ini benar. Ibu tidak menginginkan kami lagi, kan?! Kalau begitu... kami berdua akan hidup dalam lembaran baru. Terserah ingin ikut kami atau tidak. Tapi bu, kami akan selalu siap menerima kau di kehidupan baru kami."
"Kau akhirnya sadar. Mimpi saja aku ingin hidup dengan kalian kembali! Mulai sekarang, anggap saja aku orang asing dan kita tak ada hubungan darah lagi. Kita akan bertemu, tapi dalam persaingan."
Nam Yeon berbalik, ia berjalan menjauh dari Yu yang masih terduduk di bangku taman dan pulang kembali ke rumah. Yu terlihat frustasi, ia berkali-kali meninju-ninju meja taman dengan gusar. Air mata mulai menuruni pipinya dan terjatuh pada tanah taman yang terlihat samar-samar karena penerangan yang kurang.
"Sial! Sial! Kenapa sulit sekali untuk menaklukkan ibu?! Padahal sebelumnya aku bisa menaklukkan puluhan pejabat dunia sihir saat bernegosiasi. Tapi sekarang kenapa aku tak bisa?!"
Yu makin frustasi, ia bahkan makin keras memukul meja taman itu. Hingga suatu ingatan tentang masa lalu terlintas di kepalanya. Dimana saat ia berumur 6 tahun, ayahnya pernah memberikan suatu saran kepadanya untuk membujuk ibunya.
__ADS_1
Dulu Yu sangat ingin di belikan coklat dan permen pada hari Valentine, tapi karena kondisi fisik Yu yang sedang memburuk Nam Yeon tidak mengiyakan permintaannya. Yu lalu meminta saran pada ayahnya untuk membujuk ibunya yang sedang mengandung itu.
Ia dengan segera mendatangi ayahnya yang sedang berladang di sawah bersama kakeknya. Ia duduk di gubuk dekat situ bersama dengan ayahnya dan mengobrol.
"Ayah, aku ingin coklat dan permen... Tapi ibu tidak memperbolehkan aku." Rayu Yu.
"Tapi ibu melarang kau kan untuk kebaikan dirimu sendiri juga, Yu." Sahut Woon Yeo seraya menarik sedikit pucuk hidung putra nya dengan lembut.
Yu saat itu sangat kecewa dengan tanggapan ayahnya. Tapi ia masih belum menyerah ia masih berusaha untuk membujuk ayahnya.
"Ayolah ayahhh.... aku sangat menginginkan coklat dan permen yang manis." Rayu Yu lagi.
"Hehehe... baiklah. Tapi kau harus berjanji pada ayah, ketika adikmu lahir kau harus menyayangi dengan sangaaatttt sayang padanya, oke?"
"Hm! Aku berjanji, aku akan menyayangi adik kecil dengan separuh jiwa ku, dengan segenap hatiku, aku juga akan menyayangi adik melebihi ayah dan ibu!" Tegasnya dengan polos.
"Anak baik, tepati janji mu ya... Baiklah. Kenapa kau tidak mencoba untuk memberikan sebuah hadiah buatan tanganmu kepada ibu dan kembali membujuknya?"
"Hah? Apa aku perlu memotong tangan ku?"
"Ceh! Hahaha... Bukan begitu, Yu.... Maksud ayah, buat hadiahnya dari hasil yang kau buat dengan usaha sendiri."
"Ouhhh, baiklah. Aku pasti akan menaklukan ibu!" Sahut Yu.
Kenangan itu membuat Yu semakin sedih, ia menengadahkan kepalanya ke langit dan melihat birunya malam itu. Malam yang begitu indah, langit yang di hiasi cahaya bintang dan bulan yang menerangi langit malam.
__ADS_1
Sekilas Yu tersenyum mengingat kenangan itu. Dimana ia masih sangat polos dan bodoh. Dan di mana keluarganya masih sangat bahagian dan lengkap. Sungguh kebahagiaan yang tiada duanya di hidup Yu. Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sampai kakeknya mengasingkan nya ke dunia sihir, ayahnya meninggal, Alin adiknya tersiksa, dan kakeknya pun meninggal. Hatinya tidak ingin melihat kepahitan ini, tapi sudah terjadi.
"Lembaran baru... Bisakah aku dan Alin membuat lembaran baru itu?"