Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 65 Masa terlemah.


__ADS_3

Sesampainya di depan gerbang istana, Alin berpamitan dengan Yudian yang telah menemaninya pada hari itu. Setelah berpamitan, ia masuk ke dalam istana dan Yudian juga pulang ke rumahnya.


Saat memasuki lorong istana, suasananya terasa sangat sepi, tak ada orang di sekitar situ. Para pengawal yang biasanya berjaga di sekitar lorong juga tidak ada di sana. Hanya terlihat ada beberapa pengawal berseragam asing yang sedang patroli di sekitar situ.


Alin benar-benar sangat kebingungan dengan suasana istana yang tiba-tiba saja menjadi sunyi dan sepi, setahunya istana tidak pernah sepi seperti itu. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menghampiri salah seorang pengawal yang ada di dekatnya.


"Permisi..Hm..Anu..Apa saya boleh bertanya...?"


"Siap melayani.." Sahut penjaga berseragam asing itu dengan sopan seraya menunduk.


"Eh?Hm... Kalau saya boleh tau, bapak pengawal dari mana yah? saya belum pernah melihat pengawal yang memakai seragam seperti bapak sebelumnya di sini." Tanya Alin.


"Saya pengawal dari kota Ohan, putri."


"Oh... Memangnya ada urusan penting apa?" Tanya Alin lagi masih penasaran.


"Setahu saya, para petinggi dari kota Krestin dan kota Ohan ingin mendiskusikan sebuah kesepakatan dengan kerajaan. Selebihnya... saya kurang tau, putri." Jelas pengawal itu dengan sopan.


"Oh..Terima kasih banyak pak. Kalau begitu saya pergi ke kamar saya dulu."


"Baik, putri. Apa putri ingin saya antar kan?" Tanya pengawal itu menawarkan diri.


"Tidak terima kasih pak, saya pamit dulu."


Setelah berpamitan, Alin kembali berjalan melewati lorong yang sepi itu menuju ke kamarnya. Di dalam keheningan, ia berjalan sambil melamun menatap lantai istana yang terlihat bersih.


Tiba-tiba saja, saat Alin mengalihkan pandangannya ke arah depan terlihat ada sesosok bayangan seorang pria yang tak jauh dari tempatnya. Pria itu berjalan ke arah Alin dengan tempo agak lambat. Karena merasa sedikit takut, Alin berhenti berjalan dan ia mengamati bayangan itu. Tapi sayangnya Alin masih tidak bisa melihat orang itu.


Karena penasaran, Alin akhirnya nekat mendekati bayangan pria itu. Ia maju dan terus maju hingga ia kini sudah melihat orang itu. Orang itu ialah Lukas yang tengah berjalan sambil menundukkan kepalanya sedikit. Tapi Lukas terlihat tidak baik-baik saja. Lukas terlihat pucat dan lemas, ia juga berjalan dengan sempoyongan dan hal itu membuat Alin kuatir dengannya.


Alin yang melihat itu langsung menghampiri Lukas yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang. Kini ia telah berdiri tepat di hadapan Lukas yang terlihat pucat bagaikan orang yang tidak memiliki darah.


"Lukas? Kau kenapa di lu..?"


...Bruk...


"Lukas? Lukas?! Hei bangun! Hei! Hei! kau beratttt! Bangun!" Seru Alin saat Lukas tiba-tiba saja tumbang ke arahnya.


Dengan tiba-tiba Lukas pingsan dan langsung tumbang ke arah Alin yang tengah berdiri tepat di depannya. Untungnya Alin sedang dalam keadaan yang siap untuk menangkap apa pun. Akan tetapi hal yang membuat Alin kesulitan ialah karena Lukas dalam keadaan yang benar-benar tak sadarkan diri.


Alin memanggil-manggil Lukas berkali-kali namun tak ada respon darinya. Alin bahkan menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Lukas sadar namun hasilnya nihil, Lukas tetap tidak sadarkan diri di pelukannya Alin.


"Ugh...Pengawal! Tolong bantu aku! Orang ini beratttt!" Teriak Alin meminta bantuan.


Namun tak ada sahutan dari pengawal, tak ada satupun pengawal yang terlihat di sekitar situ. Kini Alin sudah tak tahan untuk menahan berat badan Lukas yang lebih berat darinya. Dengan terpaksa Alin harus memapah Lukas ke kamarnya yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

__ADS_1


Sesampainya Alin di depan pintu kamar Lukas, ia langsung masuk dan meletakkannya di atas kasur. Hal itu benar-benar membuat Alin kelelahan sampai-sampai ia hampir tak bisa berjalan lagi.


"Arghhh... Sepertinya tulang leherku ingin patah.." Gumam Alin yang tengah meregangkan tulang-tulangnya.


Setelah Alin merasa agak rileks, ia menghampiri Lukas dan duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat Alin menatapi wajah Lukas yang terlihat mempesona di matanya, tanpa Alin sadari ia tenggelam di dalam pikirannya.


"Dia benar-benar tampan... Walaupun dia terlihat tidak peduli, tapi dia sebenarnya peduli dengan ku. Mungkin Lina benar, kalau aku sudah jatuh cinta kepadanya. Tapi apakah dia mencintaiku juga? Mungkinkah dia masih mencintai cinta pertamanya itu? Tidak Alin! Kau jangan seperti itu! Kau harus memperjuangkan cinta mu! Kalau dia memilih Anita.. maka aku harus mundur dan merelakannya."


Saat Alin sedang melamun, Lukas tiba-tiba saja mengerutkan dahinya. Seketika Alin langsung tertegun dan kelabakan saat melihat Lukas mengerutkan dahinya. Ia langsung mendekati Lukas dan meletakkan tangannya di dahinya. Dahinya terasa panas dan Alin kini merasa kwartir padanya.


"Panas... Dia sepertinya demam. Aku harus memanggil Kael sekarang."


Alin bermaksud ingin pergi ke luar untuk meminta bantuan kepada yang lain. Namun saat ia ingin beranjak dari tempatnya, Lukas tiba-tiba saja menarik tangannya dalam keadaan yang masih belum sadar dan Alin kini terjatuh di atasnya.


"Anita.. Kumohon.. Jangan tinggalkan aku..." Pinta Lukas yang sedang tak sadarkan diri itu.


Alin yang mendengar itu merasa agak kecewa, ia sudah menempatkan Lukas di hatinya tapi Lukas masih belum melupakan Anita. Dalam situasi ini Alin masih berusaha untuk menahan emosinya, karena ia tau kalau Lukas masih mencintai Anita dan masih belum bisa melupakannya. Dan hal yang harus ia lakukan sekarang ialah membuat Lukas merasa nyaman di dekatnya.


"Huh... Kael..! Ya, Kael..!" Seru Alin dengan nada yang terdengar agak lemas.


Alin pergi dan meninggalkan Lukas sendirian di dalam untuk pergi ke tempatnya Kael. Beberapa lama kemudian, Kael dan Alin masuk ke dalam kamar. Setelah mereka masuk, Kael langsung memeriksa keadaan Lukas yang tengah terbaring di tempat tidur itu. Alin hanya diam duduk di bangku yang ada di situ sambil menatapi mereka dengan perasaan yang tidak enak di hatinya.


Langit kini sudah hampir menggelap seiring berjalannya waktu. Beberapa lama kemudian, Kael telah selesai memeriksa Lukas dan Lukas kini sudah mulai siuman. Kael menghampiri Alin dan duduk di sampingnya.


"Dia tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan."


"Pergilah." Perintah Lukas kepada Alin yang tengah mengkuatirkan nya.


"hm, baiklah.. aku akan pergi..."


Alin pun menurut dengan perkataan Lukas, dengan wajah yang agak sedih ia mulai membereskan barang-barang miliknya. Kael yang melihat itu merasa keheranan dan ia merasa tidak terima dengan perlakuan yang Lukas berikan kepada Alin, lalu ia menasehati Lukas.


"Duduk! Hei kau, apa kau tidak punya perasaan?! Dia yang sudah menolong mu, apa ini balasan mu?!" Omel Kael kepada Lukas sambil duduk santai di kursi.


"Aku tau itu, tapi dia besok akan pergi academy dan dia butuh tidur yang cukup untuk ke academy." Sahut Lukas yang tak mau kalah.


"Tapi kita butuh bantuannya!"


"Bantuan apa lagi?"


"Kau sekarang dalam masa terlemah dan kau sudah menghabiskan banyak energi untuk membantu putra mahkota. Kau harus beristirahat untuk beberapa Minggu dan harus ada yang menjagamu." Jelas Kael.


"Cih.. tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri." Bantah Lukas.


Sementara itu Alin hanya bisa terdiam melihat dan mendengar perdebatan mereka dari tempat sekarang. Walaupun ia mendengar perdebatan mereka dari dekat, Alin tetap tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Aku tau kalau kau bisa merawat dirimu sendiri, tapi yang aku kuatir kan itu bukanlah itu. Saat aku memeriksa mu tadi, aku merasakan sebuah aliran racun di darahmu, itulah yang aku kuatir kan." Sahut Kael yang masih belum menyerah untuk menasehati Lukas.


"Tunggu, tunggu. Racun?" Tanya Alin menyela perdebatan mereka.


"Iya, racun Beockeil."


"Apa?! Racun apa lagi itu?"


"Racun itu adalah racun yang memang sering muncul saat para penyihir dalam masa terlemahnya. Racun ini bisa membuat orang itu lemah, kesakitan yang luar biasa, pingsan, atau bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak di tangani segera. Itulah mengapa aku ingin meminta bantuan mu." Jelas Kael lagi.


"Apa racun itu... tidak ada penawarnya?"


"Setahuku tidak ada, tapi racunnya akan menghilang seiring membaiknya keadaan orang itu."


"Syukurlah kalau begitu..." Lirih Alin.


"Kalau begitu biar Gion saja." Sahut Lukas memotong pembicaraan Alin dan Kael.


"Gion sedang melaksanakan misi Regental luarnya."


"Ck, terserahlah.." Sahut Lukas yang sudah mulai kesal.


Karena kesal, Lukas menyingkap selimut dan memasukkan seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kakinya kedalam selimut tebal. Kael yang sudah menang perdebatan hanya bisa menggelengkan-gelengkan kepalanya saat melihat Lukas yang tidak mau kalah.


Kael berdiri dari tempatnya dan memberikan sebuah resep obat untuk Lukas minum ke pada Alin. Setelah itu ia langsung membereskan barang-barang miliknya dan menghampiri Alin kembali.


"Ambillah barang-barang mu dulu, aku akan menunggu mu."


"Apa aku juga harus...?" Tanya Alin yang sudah tak bisa berkata-kata lagi.


"Yup, tapi tidak macam-macam. Hanya menemaninya saja."


"O-owh.. Oke."


Dengan cepat Alin berlari ke dalam kamarnya dan ia langsung memasukan beberapa barang ke dalam tas. Setelah selesai, Alin kembali ke kamar Lukas dan kembali menghampiri Kael.


"Sudah.."


"Baiklah kalau begitu akan pergi, tolong jaga dia baik-baik. Dan kau.. Jangan macam-macam terhadapnya dan bersikap baiklah kepada Alin." Tegas Kael seraya menunjuk-nunjuk ke arah Lukas.


"Ya, ya. Pergilah!"


Dengan Nada yang ketus Lukas berusaha keras untuk mengusir Kael. Hingga akhirnya ia berhasil. Kael keluar dan kini hanya ada mereka berdua di situ dengan ditemani oleh keheningan. Alin yang sudah mulai lelah langsung merebahkan diri ke sofa panjang yang ada di dalam kamar Lukas.


Begitu juga dengan Lukas, ia berbalik dan mencoba untuk kembali tidur agar bisa memulihkan energinya. Namun untuk beberapa saat ia masih tidak bisa tidur dan sementara itu Alin yang tengah ada di sofa sudah tertidur dengan pulas nya. Beberapa saat kemudian, Lukas yang sudah mulai mengantuk juga ikut tertidur.

__ADS_1


__ADS_2