
"Lukas? Gion?"
Lukas dan Gion berbalik melihat ke asal suara. Sesaat mereka tercengang sekaligus ragu untuk mengakui orang yang depan mereka. Itu adalah Deon Li, tapi apakah Deon Li itu asli?
Gion mendekatkan wajahnya ke telinga Lukas dan berbisik. "Sekarang ayah kita ini asli atau palsu lagi?"
Sesaat Lukas diam, ia mengeluarkan kekuatannya dan pandangan matanya mulai berubah. Di dalam pandangan Lukas saat ini ada banyak sekali helaian dan untaian cahaya putih berterbang di ruangan itu bagai selendang yang di terpa angin.
Namun hanya Lukas sendiri yang bisa melihat pandangan itu. Ia seakan bisa merasakan berbagai aura melalui cahaya-cahaya, hanya dengan menghirupnya saja. Gion nampak bingung, tapi berusaha untuk tidak mengganggu Lukas yang sedang fokus.
"Asli." Ucap Lukas dengan suara yang pelan.
Tanpa mereka berdua sadari Deon Li telah berada di belakang mereka sekarang, ia masih menatap bingung kedua putra nya itu. Mereka berdua baru beberapa detik tenggelam dalam hanyutan sihir, hebatnya Deon Li telah lebih dulu dari mereka berdua. Ia duduk di singgasananya, menunggu Lukas dan Gion berbalik mencari keberadaannya.
"Ayah?"Ucap keduanya hampir bersamaan saat berbalik.
"Hm?"
Ketika berbalik, hal yang agak lain terjadi. Deon Li tengah berusaha untuk merobek sebuah plastik berkuah dengan giginya. Isi plastiknya ada bola-bola daging, mie putih, mie kuning, sayur kol, kuah merah kecoklatan (atau coklat kemerahan (?)), bawang goreng, apa itu?
"Ng? Ada apa? Kemari." Ujar Deon Li sambil melambaikan tangannya.
"Ayah, ada sesuatu hal yang harus kita bahas. Ada kabar baik dan kabar buruk." Gion maju beberapa langkah kedepan menghadapnya.
"Oh. Sjebyentar– Deon Li masih berusaha mengigit plastik makanannya.
...srekk...
Lukas mengibaskan tangannya dan merobek plastik itu menggunakan sihir dengan sempurna. Tatapan Lukas mendatar. Ouuhhh~ Kemungkinan kesabaran setipis tisu Lukas sedang diuji di sini.
"Ah, akhirnya. Ayo kemari dulu, ayah baru saja membeli bakso dari Indonesia. Kita diskusi sambil makan."
Lukas dan Gion saling tatap dengan canggung. Keduanya agak kurang nyaman dengan situasi yang sepertinya kurang tepat ini. Pada akhinya mereka tetap harus memilih untuk berdiskusi dengan santai seperti kehendak lawan bicara. Mereka duduk bersama Deon Li dan membuka plastik makanan itu juga.
"Okey, kabar buruknya apa dan kabar baiknya apa?" Tanya Deon Li pada pertengahan makan mereka.
"Kabar baiknya kami menemukan penawar dan kabar buruknya ada tanda-tanda keberadaan Indra." Jawab Lukas tanpa basa-basi, tanpa drama, tanpa nada, tanpa buat pusing, tanpa roti, langsung pada inti gula merahnya.
Note: Author membuat ini dalam keadaan lapar :")
Jika Gion yang menjelaskan situasi ini lagi, mungkin Gion akan menambahkan semua yang tak di lakukan Lukas itu. Deon Li sekilas terbelalak dan termenung mendengarnya, ia menatap Lukas dengan penasaran.
"Keberadaan Indra..? Maksudnya, dia mengirimkan berbagai teror dengan Hom dan boneka manekin?" Tanya Deon Li.
"Hm, tidak hanya sekali, beberapa kali." Jawab Lukas sambil masih sibuk dengan baksonya.
"Itu memang siasat indra sedari dulu, dia akan meneror ketika perisai perbatasan melemah, itu sering terjadi pada generasi pendekar kerajaan sebelumnya. Tapi bukannya baru beberapa bulan lalu telah kalian kunci kembali..?"
Raut Deon Li menjadi mulai serius, ia melepaskan sendoknya dan mulai melontarkan banyak pemikiran pada Lukas dan Gion. Ketika mendengarkan pemikiran Deon Li, Lukas dan Gion pun mulai ikut termenung dan berpikir kritis. Mereka ikut menyadarinya.
"Benar! Kita bukannya sudah mengunci perbatasan?! Hanya salaah satu dari KIMASEF yang bisa membukanya, tapi siapa?!" Seru Gion yang langsung menangkap banyak topik mereka.
Lukas dan Gion mulai berpikir kembali. Sementara Deon Li masih menatap penasaran sekaligus kaget pada Lukas, matanya benar-benar lekat tertuju ke sana.
"Lukas.. Apa yang kau sembunyikan dari ayah..?" Ucap Deon Li yang masih menatap tidak yakin putranya.
"Hm?"
"Indra memiliki sihir halusinasi tingkat tinggi, bagaimana kau bisa menyadarinya dengan mudah? Ayah saja membutuhkan waktu beberapa ratus tahun untuk mempelajari seluruh pemecah halusinasi. Apa ini Lukas..? Apa yang kau sembunyikan?" Suara Deon Li merendah.
Semuanya termenung sesaat, sebelum Lukas melepas kasar sendok dan garpu yang dipegangnya.
...Prangsg trisnhg...
Lukas mehela napas kasar dan membuang mukanya dengan sinis. Sementara Gion hanya bisa duduk bingung dengan bakso dan situasi menegangkan ini. Deon Li nampaknya terkaget-kaget sekaligus sangat penasaran, wajahnya benar-benar menampakan rasa ketidakpercayaannya akan hal itu.
"Kalau tidak ada hal yang perlu di bahas lagi, aku pergi. Aku harus menemui Alin dan membuat penawar untuk wabah daripada lebih lama di sini." Ucap Lukas datar tanpa menoleh pada Deon Li sedikit pun.
Baru saja Lukas ingin beranjak dari tempat, Deon Li menghadangnya. Ia mengenyahkan seluruh ego nya dan melupakan kenyataan yang di terimanya sekarang. Dengan berat hati, Deon Li cepat-cepat mengganti topik mereka sebelum Lukas lebih kesal lagi.
"Tunggu!"
Lukas bertahan dan tetap duduk diam menunggu Deon Li yang hendak bicara.
"Untuk penawar kalian bisa percayakan kepada Kael. Aku butuh kalian berdua, ada misi darurat."
"Apa?"
"Selamatkan Anita."
...Deg...
Jantung Lukas langsung berdegup kencang bagai di pukul dengan batu ketika mendengar nama itu. Ia sangat terkejut namun berusaha untuk tenang. Gion yang mendengar itu pun ikut terkejut, ia nampak melihat Lukas sang adiknya dengan kuatir. Dia sadar, bahwa adiknya ini sudah perlahan melupakan orang itu, namun ini apa??
__ADS_1
"Tidak mau. Ada banyak penyihir regental, kenapa harus kami?" Tolak Kulkas berjalan kita dengan dingin.
"Iya, ayah. Ada sekian banyaknya penyihir regental, kenapa harus kami? Kenapa harus pangeran tampan dan kulkas berjalan kita ini?" Ucap Gion yang mendukung penuh sang kulkas berjalan.
Nampak Lukas menatap sekilas datar si Gion, namun ia tau, kalau Lukas sedang tersenyum manis sambil berterima kasih padanya dalam hati. Semacam telepati persaudaraan.
Tentu saja Gion tidak menyetujui atas misi ini, karena misi ini mengandung mantan dan cerita mantan. Gion sudah mendengar dan tau cerita sisi kelam dari hubungan Lukas dan Anita yang sebelumnya, sekarang sudah cukup, Gion tidak ingin adiknya terluka untuk yang kedua kalinya.
"Tenang Lukas! Aku mendukung mu!"
"Bukannya ada apa, Lukas. Tapi hanya kau yang hapal dan terbiasa dengan hutan Dewa. Jika aku mengirim penyihir regental, mereka pasti akan tersesat atau mati atau gagal misi di hutan Dewa, bagaimana? Akan ada lebih banyak korban." Rayu Deon Li lagi.
"Heh! Berarti ayah ingin menjadikan kami umpan pertama? Jadi ayah tidak akan takut ataupun peduli jika kami tersesat atau mati atau gagal misi?" Sahut Lukas dengan ketus, ia menatap sinis ayahnya itu.
Deon Li tak bergeming, ia termenung dan tak satupun kata keluar lagi. Memang benar, Deon Li memang menjadikan anak-anak nya sebagai umpan pertama. Tapi ke egoisan itu mengurangi banyaknya korban dan juga presentase kegagalan fatal dalam misi. Ia menghela napas berat, senyumnya berubah menjadi muram.
"Baiklah kalau kalian tak mau. Aku akan meminta Yura dan Hzeil untuk pergi." Lagi, Deon Li masih bersikap egois.
*Hzeil (anak dari selir ke 3 Deon Li yang berumur sekitar 12 tahun).
"Apa ayah gila?! Ayah mengirim Yura yang masih berumur 6 tahunan untuk di kirim ke hutan Dewa. Ya, kalau Hzeil si terserah!" Bantah Gion dengan tegas.
"Ya mau bagaimana lagi? Kalian saja tidak mau. Kalau sudah begitu biar saja misi ini. Biarkan saja Anita mati di makan makhluk mitologi dewa." Ucap Deon Li sambil kembali menyantap baksonya dengan kesal.
Lukas dan Gion termanggu, mereka saling tatap dan mengirim telepati ke satu sama lain. Sebenarnya Deon Li tau, kalau Lukas tidak akan mudah untuk menolak jika tentang Anita. Memang awalnya di tolak, tapi Lukas belum sepenuhnya mengatakan keputusan terakhirnya. Deon Li melirik sedikit anak-anaknya yang sedang berunding itu.
Bagaimana?-Gion.
Aku akan pergi.-Lukas.
"Yakin?"
"Hm." Obrol mereka dengan suara yang pelan.
Sangat ajaib sebuah telepati persaudaraan ini. Hanya dengan gerakan kepala, mata dan sedikit gerakan bibir, keduanya seakan bisa membaca ucapan yang terucap dalam hati, hebat! Lukas menatap tegas ayahnya, Deon Li.
"Baiklah.. aku pergi.." Lukas memutar bola matanya dengan sedikit kesal.
"Aku ikut Lukas!" Tambah Gion dengan tegas.
Deon Li menyeringai senang. Semua ini sudah diduga nya sedari tadi, bahwa Lukas tidak akan menolak jika itu berhubungan dengan Anita. Sangat kecil kemungkinan Lukas untuk menolaknya.
"Tapi aku melakukan ini bukan hanya untuk misi. Kebetulan.. aku juga ingin mencari desa dewa."
"Anak zaman sekarang sangat munafik. Mereka bahkan tidak bisa jujur dengan perasaanya sendiri.."
...----------------...
Di suatu tepat, seorang gadis muda yang sekarat sendirian di sebuah gubuk pohon di tengah-tengah suatu hutan. Tubuhnya bersimbah darah penuh dengan luka cakaran dan tusukan. Gadis itu perlahan membuka matanya yang masih terasa berat.
"Kamu tidak apa-apa?" Pria tampan tiba-tiba muncul di hadapannya dan berlutut melihat keadaan gadis yang sekarat itu.
Gadis itu terpekik. Ia menggeser sedikit tubuhnya yang terasa kaku dan sangat sakit untuk menjauh dari pria asing itu. Dengan kondisi yang sangat lemah dan sekarat, gadis itu mengeluarkan belatinya dan menodongkan ke arah sangat pria.
"Siapa kau!"
"Aku? Bukan siapa-siapa.." Pria itu sedikit terkekeh dengan senyuman lembutnya yang penuh arti.
Sedetik kemudian sepasang taring muncul pada gigi pria itu dengan bola matanya yang ikut berubah menjadi berwarna merah pekat. Senyumannya yang manis seakan menggambarkan kekejaman dan kesadisannya sekarang.
Gadis itu semakin ketakutan, ia membekap tubuhnya yang lemah dan langsung berlari pergi entah kemana dari gubuk dengan tergopoh-gopoh untuk menghindar dari pria asing. Pria itu pun hanya bisa terkekeh geli sambil menyeringai melihat gadis itu berlari dengan sangat ketakutan darinya.
"Ck, ck.. padahal aku hanya ingin membantu mengobatinya... Yasudah."
...****************...
Beberapa jam terlah berlalu semenjak teridentifikasi nya penawar untuk wabah, Alin terbangun dari pingsannya. Ia membuka matanya dan perlahan melihat sekeliling yang terlihat putih di mana-mana.
"Oke! Apa sekarang aku sudah mati?!! Apaa?!"
"Hai.." Suara lembut seorang pria terdengar dari sudut lain.
Alin termanggu dan mematung sebentar sebelum matanya terbelalak karena terkejut sekaligus bingung.
"Masih ingin tetap tidur di situ? Tidak mau bangun sampai kapan kau?"
Lalu di susul oleh suara dingin khas seseorang. Setelah mendengar suara dingin itu Alin merasa sedikit lega. Alin bangkit dari posisinya dan mencari asal suara-suara itu tadi. Ia menatap ke salah satu sisi ruangan dan terlihatlah ada beberapa orang pria tampan yang sepertinya sedari tadi menunggu nya sadar.
Alin menghampiri mereka dengan sedikit canggung.
"Ehmm.. Hehe... Maaf sudah merepotkan..." Alin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan canggung.
__ADS_1
Para pria itu menatap Alin dari atas hingga bawah. Alin sudah terlihat sangat berbeda, ia sangat bugar dan sehat dari sebelumnya. Tapi itu tidak akan menutup kemungkinan bahwa para pria itu tidak akan meloloskannya dari omelan.
"Kamu seharusnya berhati-hati dengan misi mu! Kamu membuat kami sangat kuatir!" Kael berdiri dari tempatnya dan menyentil keras dahi Alin yang tertutup oleh poninya.
"Ugh!"
Rasanya lumayan sakit, Alin hanya bisa terdiam saat diomeli. Ia mengelus-elus lembut dahinya yang sebelumnya disentil kuat oleh Kael dengan cemberut.
...pukk pukk pukk...
"Sini..."
Akhirnya Lukas buka suara. Alin mulai cemas, karena pria yang satu ini benar-benar akan memarahinya dari batin hingga mental. Lukas menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya untuk Alin duduki.
Alin pun duduk dengan pasrah di samping Lukas. Sementara Kael dan Gion menatap penuh harap dengan pertunjukan ini. Andai ada private room untuk menonton pertunjukan ini, mereka pasti akan sangat senang lagi menontonnya dengan sekantung penuh popcorn.
"Maaf Luk–
Tanpa terduga dan tak terkira.. Lukas tidak memarahi dan mengomeli Alin seperti biasanya! Jadi sekarang Kael dan Lukas terbalik, Kael yang sebelumnya adalah dokter lembut nan baik menjadi dokter pemarah dan galak. Lukas dengan lembut mengelus pucuk kepalanya dengan tatapan lembut yang sedikit terbuang.
"Lain kali... Hati-hati.." Ucap Lukas yang membuang wajah dengan ekspresi dinginnya yang lembut itu.
Dia memang terlihat dingin sekarang, tapi suara nya lembut dan menenangkan itu berkata lain. Lukas sebenarnya dominan merasa kuatir daripada marah saat Alin membuat masalah. Tapi kali ini, itu sudah lumayan sedikit terlihat dengan tulus...
Gion dan Kael yang melihat kejadian langka itu sangat terkejut. Benar-benar terkejut tujuh turunan! Kulkas berjalan yang biasanya mereka kenal dengan aura dingin nan judes nya sekarang bersikap sangat lembut pada Alin. Gion dan Kael benar-benar sangat shock, mereka menatap satu sama lain dengan tidak percaya.
"MUSTAHIL!" Pikir keduanya bersamaan di dalam hati.
Belaian tangan Lukas yang lembut pada rambut Alin sangat menangkan, bahkan bisa membuat siapa saja tergoda untuk bersandar dan berkeluh kesah di dadanya. Alin terlihat sedikit tersipu dengan perhatian Lukas yang tidak biasa dari sebelumnya.
"Ya..." Sahut Alin.
"Merasa lebih baik?"
"Hm? Aku? Ah.. iya.. Aku lebih baik! Baik-baik saja! Sudah sehat, sudah baik!"
Alin terlatah menjawab Lukas, ia merasa salah tingkah saat diperlakukan lembut oleh Lukas di hadapan orang lain.
"Baguslah.. Jadi.. Kami membutuhkan mu untuk penawar wabah. Apa kau bersedia untuk memberikan darahmu?" Kael mendekat ke arah Alin yang duduk bersebelahan dengan Lukas.
Seketika Kael langsung berubah secara drastis menjadi profesional. Ia melupakan segala keterkejutan sebelumnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Darah?" Alin sedikit kebingungan.
"Ah... Apakah kamu lupa? Kita sudah mendapatkan penawar untuk wabah. Tapi itu memerlukan darah mu dan Lukas." Ucap Kael dengan suara lembut dan sabar.
"Ah, benar! Tentu saja..."
Akhirnya Alin tertegun dan mengingatnya kembali. Ia pun menyodorkan lengannya tanpa ragu pada Kael.
Kael sedikit terkekeh penuh arti, ia berjongkok di depan Alin sambil menyeringai dengan senyuman manisnya. Sekilas Alin terkejut karena senyum manis Kael yang terlihat seram dengan sejuta makna.
...Bhuuk!...
"Wajah mu mengerikan. Lihat anak orang ketakutan karena mu.."
Sebuah tangan menjitak keras kepala Kael sekilas dengan geram. Itu adalah Lukas, dia lalu memancarkan tatapan dingin khasnya yang di balas oleh tatapan datar dari Kael.
"Hei, hei! Cepat, jangan bercanda!"
Mata mereka bertarung sangat sengit, tak ada yang mau mengalah. Akhirnya Gion harus turun tangan untuk melebur mereka berdua yang bercandanya sangat berlebihan dan terlalu berbasa-basi. Karena mereka tidak punya waktu lagi untuk terus santai pada situasi sekarang.
"Oke, Oke.." Kael memanyunkan bibir nya dengan tatapan yang sedikit jengkel pada Gion dan Lukas.
Sementara Lukas tersenyum puas, ia mengejek Kael dalam hati dengan ekspresi dinginnya itu. Lalu Kael mulai memasangkan sarung tangannya dan meraih tangan Alin. Tapi sebelum itu, Kael menatap Alin sekali lagi dengan serius.
"Kami tidak hanya membutuhkan darah kalian sedikit saja, tapi banyak!" Tegas Kael.
Beberapa saat Alin terdiam dan menoleh pada Lukas yang duduk dengan tatapan datar di sebelahnya. Terlihat jelas ada sedikit keraguan dan rasa takut pada diri Alin, tapi ini demi dan untuk orang banyak orang. Tidak ada kata untuk mundur sekarang.
"Kalian siap?" Tanya Kael sekali lagi sambil menggenggam lembut lengan Alin yang terulur.
"Aku siap..."
Mata Alin masih tetap tertuju pada Lukas yang duduk dengan dingin disebelah. Orang itu seakan sangat yakin tanpa rasa takut dan ragu pada dirinya. Ekspresi Lukas yang dingin ini membuatnya sulit sekali untuk di tebak oleh siapa pun.
"Baiklah.. Aku mulai."
Kael mulai menusukkan jarum kecil ke bagian dalam siku Alin dan Lukas dengan perlahan. Jarum-jarum itu membawa darah mereka berjalan menyatu dalam dua buah selang yang lalu membawa semua darah itu menuju sebuah tabung.
Tapi Alin nampak masih sangat ragu dan takut. Ia mengepal kuat sebelah tangannya dengan kuat. Sercecah garis hitam menjalar panjang pada leher Alin, garis hitam itu seakan menusuk leher Alin dengan rasa sakit yang sangat kuat. Namun.. Tidak ada yang bisa melihat itu..
"Sakit..."
__ADS_1