Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 115 Mulut setajam silet.


__ADS_3

Sementara itu, Alin sedang di tatap oleh seorang pria di hadapannya. Pria itu tersenyum duduk di depannya. Tapi Lina hanya menatap aneh orang itu, sementara Alin melongo.


"Eh, Yudian. Senyuman mu mengerikan seperti itu menatap Alin." Tegur Lina.


"Heh, terserah ku. Berisik sekali, setidaknya aku tidak menatap mu." ketusnya.


"Nyehh... Dia sahabatku."


"Dia sahabatku juga." Sahut Yudian tidak mau kalah.


Mendengar ucapan Yudian, Lina menoleh kepada Alin yang ingin menyuap makanan dari piring Lina di sampingnya. Alin tentu saja menghentikan suapannya karena merasa empat pasang mata sedang melotot kepadanya sekarang.


"Hah?"


"Alin... Tega nya kau menduakan ku, saat aku tidak ada..." Canda Lina tanpa tawa.


"Menduakan apa?"


"Lupakan." Lina memasang wajah yang sedikit masam.


Setelah itu, Alin mendekap wajahnya dan meletakkan nya di atas meja. Ia masih memikirkan tentang kejadian tadi malam yang membuatnya takut memegang benda tajam. Saat ingin membuat sarapan untuk dirinya sendiri tadi pagi, tangannya gemetaran dan terpaksa pelayan di sanalah yang memotong kan bahan sayur untuk nya.


Untuk beberapa saat Alin seperti itu, sampai Yudian meletakan telapak tangannya di pucuk kepala Alin. Perlahan Alin mengangkat kembali kepalanya dan menatap Yudian yang terlihat kuatir di depannya.


"Kenapa?"


"Lukas?" Tanya Lina tanpa dosa.


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak badan, aku akan ke kelas. Dah.."


Belum sempat Alin melangkah pergi Yudian sudah menahan tangannya, Alin pun berbalik.


"Apa perlu ku antar ke UKS?"


"Tidak usah. Aku baik-baik saja."


Alin kembali berjalan menuju ke kelas. Dan hanya tersisa Lina dan Yudian di sana. Mereka saling tatap menatap dengan sinis. Lalu Yudian pergi dari kantin entah kemana.


Alin kini sudah berada di dalam kelas sendirian. Siswa lain masih berada di luar untuk makan atau sekedar bersantai. Ia mendekap wajahnya kembali seperti sebelumnya. Tapi tiba-tiba saja beberapa anggota KIMASEF masuk, Alin langsung cepat-cepat mengangkat kepalanya dan duduk dengan tegak.


"Hai Alin, kenapa tidak ikut dengan kami tadi? Master Deon Li memberikan tugas berkelompok pada kami tadi." Ucap Reyhan yang langsung menghampirinya.


"Ak-"


"Kelompok nya kan sudah pas masing-masing 2 orang. Apalagi Alin masih pemula, tidak bisa di bandingkan dengan kita." Ketus Sarah.


"Hahaha... Dia bahkan mungkin tidak bisa memegang belati." Tambah Yeni tertawa puas.


"Yeni mungkin benar. Mungkin saking tidak berguna nya aku, aku bahkan langsung trauma dengan hanya membunuh satu orang. Tidak berguna, Alin! Kau tidak berguna!" Batin Alin yang sudah mulai termakan omongan mereka

__ADS_1


Alin hanya diam dan termenung, ia tertunduk sedikit mendengar kata-kata itu. Tapi Reyhan merasa kalau yang Yeni dan Sarah katakan itu sangatlah kejam, ia pun membentaknya.


"Hei berhenti! Kenapa kalian seperti ini?!"


"Kami hanya bercanda. Tapi kalau memang benar, wahhh... kau mungkin bisa mati di medan perang tanpa bimbingan." Tambah Yeni lagi.


Tak lama setelah itu Lukas dan Gion masuk ke dalam. Suasana tiba-tiba menjadi hening, Yeni dan Sarah pun diam tanpa ada suara. Gion dan Lukas pastinya langsung kebingungan dengan keheningan itu. Dan terlihat mereka sedang membawa beberapa simbol emas yang terukir dengan simbol istana.


"Ada apa ini?" Tanya Lukas yang terlihat sedikit linglung.


"Mereka tadi-" Belum sempat Reyhan berbicara, Sarah sudah lebih dulu menyelanya.


"Tidak ada. Apa itu?" Tanya Sarah sambil menunjuk pada apa yang mereka bawa.


"Ini... tanda pimpinan daerah kita." Sahut Gion.


Mereka berdua pun mengedarkan tanda pimpinan itu pada yang lainnnya. Tapi hanya Alin yang tidak mendapatkan nya. Alin yang merasa kalau suasana di antara mereka dengannya agak canggung, memilih untuk pergi keluar.


"Ehm.. Aku.. keluar dulu."


Alin keluar dari kelas dengan sedikit canggung. Lalu Reyhan ikut menyusulnya keluar dan menyisakan 5 anggota yang lainnya. Lukas dan Gion hanya menatap bingung yang lainnya, mereka menoleh kepada yang lainnya bergantian.


Saat Lukas ingin membuka mulutnya untuk bertanya tentang apa yang telah terjadi pada yang lainnnya, Yeni menyelanya sehingga membuat Lukas mengurungkan niat itu untuk sementara. Mereka pun membahas tentang tugas yang berikan oleh Master Deon Li untuk anggota KIMASEF.


"Jadi kita akan bertugas di kota mana saja, Lukas?" Tanya Yeni.


"O-oh. Jadi, aku dan kau akan bertugas di kota Uen, Gion dan Neli di kota Yure, lalu... Sarah dan Reyhan di kota Giru." Sahut Lukas dengan sedikit terkejut sambil membaca kertas yang ada di tangannya.


"Atas perintah ayah, untuk sementara Alin tidak akan ikut melakukan tugas dinas di luar kota. Dia akan bertugas di dalam kota bersama Yudian." Sahut Gion.


"Yahhh... padahal jika Alin ikut kita dinas. Dia mungkin bisa membantu di kota Uen. Aku dengar kota Uen ada kemasukan bandit liar, kekuatan Clorian mungkin bisa membantu."


Lalu Yeni terlihat menyilangkan tangannya di depan dada sambil tersenyum sinis. Sedangkan Sarah dia hanya menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku yang ada sambil menatap langit-langit kelas.


"Hanya mengandalkan kekuatan Clorian saja. Belum tentu dia bisa membela dirinya sendiri. Pas sekali dia tidak ikut dinas, dari pada menyusahkan lebih baik tinggal saja. Tidak berguna juga." Ucap Yeni sinis.


"Yeni, kenapa kau bisa berbicara seperti itu?" Tanya Neli kepada Yeni.


"Apa masalahnya? Dia memang tidak berguna."


Lukas terlihat marah, ia menghentak meja sedikit keras dan membentak Yeni yang mengatai Alin tadi. Matanya melotot dan terlihat marah, sehingga membuat nyali Yeni menciut menatap wajahnya.


"Yeni! Berhenti! Kenapa kau berkata seperti itu?! Walaupun kau berkata seperti itu, itu tidak akan merubah fakta bahwa dia juga termasuk kedalam golongan darah bangsawan tingkat tinggi seperti kita. Apalagi master Jun Yeo memiliki peran penting dalam dunia ini! Bahkan kertas yang sudah digumpal sampai kusut pun masih ada gunanya!" Bentak Lukas.


"Tapi dia memang tidak berguna, kan? Dia bahkan sudah hampir setahun di sini, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk kerajaan."


"Kau seharusnya memberikan contoh untuk anggota junior organisasi kita, bukan seperti ini! Apalagi kau menyandang status bangsawan wanita terkuat di kerajaan kita ini!"


Suaranya meninggi, ia melototi Yeni yang sebelumnya mengatai Alin tidak berguna. Yeni yang di bentak menjadi diam, ia menunduk dan tidak berani menatapnya. Karena sudah terlanjur emosi Lukas memilih untuk pergi dengan kesal. Suasana pun menjadi tegang.

__ADS_1


"Lukas benar, Yeni. Kau tidak bisa berkata seperti itu, apalagi di hadapannya. Kau seharusnya memberikan contoh untuk menjadi yang terbaik." Ucap Gion menasehatinya.


Semuanya menatap Yeni yang sekarang tertunduk. Di balik rupa Yeni yang sedang tertunduk itu, ia sangat marah sekaligus dendam kepada Alin yang membuatnya terlihat seperti orang yang bengis dan jahat di mata lainnya. Ia menggerakkan gigi nya karena kesal.


"Sialan kau! Sial! Sial! Dasar wanita licik! Kau pasti berpura-pura polos untuk menarik perhatian Lukas, kan?!"


...BRAK...


Emosinya sudah meluap-luap, tiba-tiba saja ia menampar meja dengan keras lalu segera pergi dari kelas. Semua yang ada di kelas hanya menatap heran Yeni.


Sementara itu, Alin yang tadinya keluar dari kelas berjalan menuju ke sebuah danau kecil yang di academy Ligen di ikuti oleh Reyhan dari belakang. Tanpa Alin ketahui, Reyhan mengikuti nya sedari tadi hingga ia duduk di pinggiran danau. Setelah duduk di pinggir danau untuk beberapa saat, Reyhan menepuk bahunya dan duduk di samping Alin. Alin yang merasakan sentuhan pada bahunya refleks menoleh.


"Ada apa, Alin? Kau seharian ini terlihat banyak pikiran."


"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya... ada sesuatu... yang menggangguku."


"Hah? Siapa yang menggangu mu?" Tanya Reyhan yang kebingungan.


"Maksudku bukan begitu. Maksudku... ada sesuatu yang sedikit menggangu pikiran ku." Jawab Alin.


"Hmmm...."


Reyhan kemudian termenung sebentar menatap danau yang sekarang ada di bawah kakinya. Dan ia pun mengembalikan kembali pandangannya.


"Apa karena perkataan Yeni tadi?" Tebaknya.


"Bukan itu."


"Hufftt... Kau tidak perlu sungkan untuk bercerita padaku. Aku akan duduk di sini dan menemanimu untuk menjadi pendengar."


"Jadi... anu... itu... Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa... membunuh seseorang itu... di perbolehkan? wajar?" Tanya Alin yang terbata-bata.


"Hm? Kenapa kau menanyakan hal ini tiba-tiba? Hmm... Sebenarnya membunuh seseorang di dunia ini itu di perbolehkan, terutama pada saat mengerjakan tugas atau misi. Membunuh seseorang akan di katakan wajar." Jelas Reyhan.


Alin termenung, ia sedikit menunduk dan menatap air danau yang sedang berada di bawah kaki-kaki nya. Ia sedang memikirkan, memahami dan mencoba untuk mencerna apa yang Reyhan katakan sebelumnya. Beberapa saat kemudian, ia telah siap untuk meluncurkan kata-katanya yang ada kepalanya kepada Reyhan dengan suatu kata-kata samaran dan nama tokoh-tokoh samaran.


"Ehmm... Jadi... Teman kenalan ku di dunia ini, si... Nia. Dia... pernah bercerita membunuh rekannya misinya karena terdesak. Apa itu tidak akan di hukum?"


"Maaf, Nia. Kebablasan...!"


Nama orang itu langsung dengan begitu saja meluncur dari mulutnya dan otaknya. Alin ingin menghentikan nya tapi sudah terlambat. Ia menjadi merasa bersalah karena harus menggunakan nama temannya yang ada di dunia manusia untuk bercerita kepada Reyhan.


"Memang akan di hukum, tapi akan di katakan wajar. Karena mungkin saja, itu adalah pilihan yang terbaik di saat genting. Misalnya saja, rekan kerjanya berkhianat dia bisa membunuhnya dan akan di katakan wajar. Ada juga yang harus membunuh rekannya untuk mendapatkan kekuatan agar bisa menyelesaikan tugas saat genting, itu juga akan di katakan wajar. Walaupun begitu... setau ku mereka akan tetap mendapatkan hukuman." Jelas Reyhan.


"Owwhhhh... Jadi begitu... Tapi.. kalau kita membunuh musuh?"


"Itu akan dianggap wajar dan tidak hukuman untuk pembunuhan itu." Jawab Reyhan lagi.


Alin tiba-tiba saja gemetaran, kepalanya terasa berputar-putar dan tubuhnya terasa lemas. Sehingga pandangan nya terasa mulai mengambil dan ia pun memejamkan matanya. Kata-kata wajar yang Alin dapatkan bukannya menenangkan malah membuatnya semakin trauma. Agar Reyhan tidak kuatir dengan nya, Alin menopang tubuh dengan tangan di atas rerumputan lalu meremasnya dengan kuat.

__ADS_1


Saat mereka sedang mengobrol, tanpa di sadari Lina sudah ada di belakang. Ia mendekat dan menepuk bahu keduanya. Mereka sontak terkejut dan menoleh bersamaan. Ketegangan terjadi diantara mereka berdua, karena sorot mata Lina yang terlihat tajam.


__ADS_2