Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 68 Panikkkk!


__ADS_3

Alin membuka pintu kamar dan masuk ke dalam bersama dengan Viko. Terlihat Lukas dan Kael sedang mengobrol dengan serius di dalam. Alin mencoba untuk bersikap kuat dan tegar di hadapan mereka seperti tak terjadi apa-apa. Dengan senyuman manisnya, Alin masuk dan menyapa mereka.


"Hai.. Kalian sedang membicarakan apa?"


Setelah mereka mengetahui Alin sudah pulang, Kael dan Lukas langsung kelabakan, mereka bingung ingin menjawab apa. Sementara itu Alin hanya bersikap tidak tau apa-apa tentang yang telah ia dengar. Walaupun sebenarnya hatinya terasa sakit, ia berusaha keras untuk menutupi itu.


"Hm, anu.. itu.. kami.."


"Tidak.. Itu.. Kael yang.."


"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku? Cepat katakan!" Seru Alin.


Kael dan Lukas panik, panik dan panik mencari jawaban yang tepat. Hingga akhirnya Lukas yang sudah sangat panik itu meluncurkan isi kepalanya saat itu. Untungnya itu memang fakta yang sebenarnya.


"Ibu suri besok berulang tahun!" Jawab Lukas yang sudah mulai panik.


"Ah, iya, iya!" Tambah Kael lagi.


"Ada apa dengan kalian? Aneh sekali... Hahaha.. Benarkan Viko?" Ucap Alin seraya bercanda.


Mereka berdua terlihat agak tegang, mereka takut akan Alin yang mungkin mendengar tentang rencana putra mahkota. Viko turun dari Alin dan duduk di pangkuan Lukas. Alin meletakan tasnya dan duduk di kursi panjang seraya melepas sepatunya.


"Kalau hanya ulang tahun ibu suri, kenapa kalian tadi terlihat panik?" Tanya Alin lagi dengan tiba-tiba.


Lukas dan Kael kembali mematung, bingung ingin menjawab apa pertanyaan Alin itu. Mereka berdua kembali bertatap-tatapan dan kini tak ada jalan lain lagi bagi mereka selain mengalihkan topik pembicaraan.


"Emh.. Itu... Kau pasti lelah dan lapar, aku akan menyuruh pelayan yang ada didepan mengambilkan makanan."


"Kenapa tiba-tiba begitu?" Gumam Alin dengan suara yang pelan.


Dengan cepat Kael berdiri dari tempatnya dan langsung berjalan ke depan untuk menyuruh pelayan mengambilkan makanan. Sementara itu Lukas hanya terdiam kebingungan melihat tingkah Kael, hingga akhirnya ia pun tersadar akan posisinya. Alin sudah tau apa yang mereka lakukan sekarang, tetapi ia hanya menatapnya, menunggu alasan apa yang akan mereka lakukan.


Lukas ikut kelabakan, ia meraba-raba kasurnya untuk mencari sesuatu untuk menjadi alasan. Namun tidak ada satupun ide yang masuk ke dalam kepalanya. Untuk beberapa saat Lukas terdiam untuk memikirkan idenya. Saat Viko tak sengaja menyentuh tangan Lukas dengan bulunya, ide itu langsung muncul. Ia melihat bulu Viko yang terlihat agak kotor dan menjadikan itu menjadi alasannya.


"Aku.. aku akan membersikan Viko. Dia.. kotor!" Ucap Lukas yang terbata-bata.


Ia berdiri dan ingin berjalan ke kamar mandi. Namun saat ia ingin berjalan ke kamar mandi, Alin menahannya.


"Eh, tapi kau sedang sakit."

__ADS_1


"Aku punya kaki dan kaki ku tidak hilang. Aku akan membersihkan Viko, kau duduk di situ saja." Sahut Lukas dengan entengnya.


Dengan cepat Lukas langsung membawa Viko ke kamar mandi dan membersihkannya. Kini Alin hanya sendirian di tempat itu, namun ia merasa lucu melihat tingkah Kael dan Lukas yang terlihat panik saat ia menanyakan tentang apa yang mereka bicarakan tadi. Ia melamun dan memikirkan tentang yang mereka bicarakan sebelumnya.


"Memangnya kenapa kalau aku mendengar percakapan mereka?! Kenapa mereka bisa panik seperti itu?! Aneh sekali... Bukannya mereka hanya membahas tentang penyakit Lukas dan informasi tentang Anita. Lalu apa masalahnya? Tapi tadi... Kael bilang Lukas membantu putra mahkota demi informasi tentang Anita. Jangan-jangan itu yang mereka kuatir kan! Mereka mungkin takut aku akan mengetahui rencana putra mahkota itu! Tapi.. Memangnya apa yang putra mahkota lakukan?!"


Tidak lama setelah itu Kael dan Lukas kembali menghampiri Alin hampir bersamaan. Namun saat mereka kembali, mereka mendapati Alin yang masih melamun memikirkan apa yang membuatnya penasaran. Lukas dan Kael kembali duduk di kursi yang ada di dekat Alin.


Walaupun mereka berdua sudah dekat di sampingnya, ia masih belum menyadari akan keberadaan mereka. Lalu terlintas lah ide jahil di kepala Kael. Ia mengambil Viko dari Lukas dan membisikkan sesuatu kepada nya.


"Viko, bersiaplah untuk terbang ke tuan mu!" Bisik Kael.


Dengan jahilnya Kael melemparkan Viko ke arah Alin yang masih tenggelam ke dalam pikirannya. Untungnya Viko telah siap untuk di lemparkan, jika tidak... mungkin ia akan terpental ke sembarang arah. Viko mendarat tepat kearah Alin. Saat Viko di lemparkan, Alin sangat terkejut dan langsung menangkap Viko.


"Hahaha... Kau sedang memikirkan apa putri Jiu.." Ejek Kael yang terkekeh saat melihat Alin memasang ekspresi kesalnya.


"Tidak lucu! Apa kau ingin membunuh Viko?! Jahat sekali!"


"Tidak, aku hanya bercanda. Hahaha.. mana mungkin Viko yang sudah terlatih itu bisa terjatuh dengan mudah." Kekeh Kael.


Rencana Kael itu berhasil membuat Alin cemberut, ia kesal dan menyilang kan tangannya di depan dada. Terlihat Kael masih terkekeh akan keberhasilan mengerjai Alin. Berbeda dengan mereka berdua, Lukas tidak mempedulikan mereka dan hanya mempersibukkan diri dengan buku yang biasanya ia baca. Setelah itu mereka makan dan bersantai sambil mengobrol. Baru saja mereka selesai menyantap makanan enak dan sekarang mereka harus menghadapi suatu masalah lagi.


"Pangeran! Pangeran Lukas! Gawat! Gawat pangeran!" Teriak kepala pasukan itu.


Setelah mendengar itu Lukas, Alin, Viko dan Kael langsung beranjak dari tempatnya dan membukakan pintu. Saat mereka membuka pintu, kepala pasukan itu sudah terlihat kelelahan berlari. Karena para penjaga dan pelayan istana di beri segel sihir di dalam istana, mereka harus bergerak menggunakan tenaga sendiri. Dengan nafas yang sudah terengah-engah, Pak Henil menjelaskan situasi gawat itu.


"Pangeran..! Putri...! Gawat..!" Ucap Henil yang terbata-bata.


"Ada apa pak?! Apa yang terjadi?!" Tanya Alin yang sudah mulai ikut panik juga.


"Itu... Hom.. Hom dari dunia sihir merah berhasil membobol perisai dan sekarang mereka menyerang permukiman warga yang berada di dekat perbatasan! Tolong pangeran, putri!" Pinta Henil sambil bersujud di hadapan mereka bertiga.


Mereka bertiga terlihat terkejut dan panik saat mendengar kabar itu. Mereka menatap tajam ke arah Henil, memintanya untuk menjelaskannya dengan sedetail mungkin.


"Apa yang terjadi?! Jelaskan kepadaku!" Sahut Lukas. Ia maju ke depan Kael dan Alin, lalu menghampiri orang itu.


"Saya tidak tau, pangeran. Perisai tiba-tiba saja hancur dan para Hom berdatangan dari segala arah. Para anggota KIMASEF yang lain sudah berkumpul di perbatasan pusat. Tapi putri Yeni... tidak ada di perbatasan pusat ataupun di istana." Jelasnya lagi.


Kael yang mendengar penjelasan Henil merasa janggal. Ia tau kalau Yeni adalah orang yang disiplin dan tak mungkin tidak datang tanpa alasan yang jelas. Dan Kael menduga-duga kalau ini mungkin rencananya Yeni.

__ADS_1


"Apa mungkin Yeni..? Lukas.." Bisik Kael ke telinga Lukas seraya menyenggol sedikit lengannya.


Lukas hanya melirik Kael sekilas, setelah itu ia kembali berfokus ke masalah yang harus mereka hadapi. Masalah yang besar!


"Bagaimana dengan para penduduk?" Tanya Lukas lagi.


"Semua penduduk yang tinggal di dekat perbatasan sudah kami evakuasi ke daerah kota Krestin, pangeran."


"Kita harus bertindak sekarang!" Seru Kael yang sudah bersiap dengan peralatan medisnya.


"Ya." Sahut Alin.


Namun Alin belum menyadari akan keadaannya, ia belum siap untuk bertarung ataupun untuk menjaga dirinya. Tak ada senjata dan kemampuan yang ada di dalam dirinya saat ini. Hingga ia tertegun saat Kael menatapnya.


"Eh, tunggu! Siap untuk apa?!"


"Bertarung!" Sahut Kael.


"Tunggu, tunggu! Bertarung! Secepat ini?! Pertarungan dadakan?!" Tanya Alin ingin memastikannya.


"Iya, kita tidak punya banyak waktu lagi. Tidak ada waktu untuk bermain-main lagi!" Sahut Lukas dengan serius.


Lukas masuk ke dalam dan mengambil barang-barang dan senjatanya. Saat Alin melihat Alin melihat Lukas masuk ke dalam untuk mengambil senjata, ia mengikutinya.


"Tapi, tapi, kau kan masih dalam masa terlemah!"


Alin mencoba untuk mengingatkan Lukas akan kondisinya saat ini. Tapi Lukas tidak mau mendengarkan Alin dan memilih untuk terus maju sesuai dengan kemauan dirinya. Demi orang lain, ia bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri. Alin sangat salut dengan sifat Lukas, memang terlihat dingin di luar tapi terasa hangat di dalam.


"Aku akan tetap melindungi mereka. Walaupun aku harus mati sekali pun!" Tegasnya lagi.


"Lukas... Aku.." Lirih Alin yang tertegun dengan kata-kata Lukas.


Dengan kata-kata nya itu Alin menjadi ikut termotivasi untuk ikut bertarung, kini Alin telah bertekad dan ia akan melindungi rakyat seperti Lukas juga. Ia juga ingin mengikuti jejak kakeknya, menjadi seorang pahlawan.


"Aku ingin bertarung demi mereka! Aku akan ikut dengan kalian!" Seru Alin dengan semangat yang membara.


Setelah mendengar itu Lukas menatap untuk beberapa saat dan tersenyum tipis ke arah Alin. Ia menghampiri Alin dan memberikan beberapa senjata tajam berupa pedang dan belati miliknya. Alin mengambil itu dan memasukannya ke dalam tas.


Mereka berdua keluar dan menghampiri Henil serta Kael yang telah siap untuk bertarung. Mereka saling menatap satu sama lain dan saling menyemangati agar bisa menang dalam pertarungan itu. Setelah semuanya siap, mereka berkumpul dan Lukas pun membacakan mantra teleportasi nya. Walaupun kondisi nya sedang tidak dalam keadaan yang baik, Lukas tetap memaksakan diri demi para rakyat yang menjadi tanggung jawabnya juga.

__ADS_1


__ADS_2