Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 66 Tidak terima.


__ADS_3

Keesokan harinya, Alin bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap pergi ke academy. Ia berlari ke kamarnya sambil membawa baju dan kembali lagi ke kamar Lukas pada beberapa menit kemudian. Setelah selesai menyiapkan peralatan sekolahnya, Alin menghampiri dan membangunkan Lukas untuk meminum obatnya.


"Lukas, Lukas. Bangun! Minum obatmu dulu." Panggil Alin yang kini sedang terburu-buru.


"Ehm... 10 menit lagi.." Bantah Lukas yang masih tenggelam di dalam dunia mimpinya.


"Hei, bangun." Panggil Alin lagi.


Karena Lukas tak kunjung bangun, dengan terpaksa ia harus mengangkat setengah badannya dengan paksa. Lukas masih sangat mengantuk pada saat itu, sehingga ia enggan untuk membuka matanya.


"Minum obatmu dulu."


Alin memasukkan obat-obat itu ke dalam mulut Lukas. Lalu ia memberikan minum kepadanya.


"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Lukas yang belum sepenuhnya bangun.


"Aku ingin pergi academy. Ingatlah, minum obatmu dan jangan lupa makan!" Tegas Alin.


"Hm, baiklah. Peluk dulu..." Rengek Lukas yang masih setengah tidur.


Dengan keadaan yang masih sengah tidur, tidak Lukas sadari ia telah menunjukan sifat awalnya yang manja. Lukas merentangkan tangan dan meminta Alin untuk memeluknya. Untuk beberapa saat Alin merasa kebingungan dengan tingkahnya dan Lukas pun sadar dengan yang telah ia lakukan.


Lukas tertegun dan langsung salah tingkah. Mukanya memerah karena malu dengan tingkahnya yang kekanakan. Setelah ia menyadari itu, Lukas langsung menyilang kan tangannya kembali.


"Hah, A..pa maksudnya?"


"Ti-tidak, bukan apa-apa. Pergilah!" Sahut Lukas yang salah tingkah dengan muka merahnya.


Namun ekspresi Lukas itu bukannya membuat Alin kebingungan, melainkan ia malah terkekeh geli. Lukas yang melihat Alin terkekeh merasa kebingungan seperti biasanya.


"Apa yang lucu?! Pergi sana!" Usir Lukas.


Bukannya kesal ataupun pergi meninggalkan nya, Alin malah memeluk Lukas. Lukas tertegun lagi, ia kira Alin akan menganggapnya aneh saat dia mendengar itu, namun sebaliknya. Setelah Alin melepaskan pelukannya, Alin mencoba untuk menggoda Lukas yang kini telah salah tingkah di hadapannya.


"Bukankah sudah kukatakan padamu, jika ingin di peluk tak perlu malu-malu begitu." Ucap Alin menggoda Lukas.


"Si-siapa yang ingin di peluk? Aku tidak meminta nya."


"Hehe.. tidak perlu berbohong seperti itu. Aku tau maksudmu."


"Terserah."


"Ayo katakan, katakan! Katakan kalau kau mau di peluk." Seru Alin.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mengatakan itu."


"Katakan, katakan, ayo katakan! Kumohon..." Rayu Alin sekali lagi.


"Bukannya kau ingin pergi ke academy? Kenapa tidak pergi?!"


"Tidak mau! Katakan dulu kalau kau ingin aku peluk." Rengek Alin yang masih bersikeras.


"Ck, oke, oke. Aku.. aku.. ingin.."


"Ayo, ayo."


"Kau memelukku." Lanjut Lukas dengan malu-malu.


Alin sangat senang akan keberhasilan nya membujuk Lukas itu. Sebagai imbalannya, Alin duduk di samping Lukas, lalu memeluknya untuk beberapa saat seperti seorang kakak yang memeluk adiknya.


"Lukas... Apa kau benar-benar ingin di peluk seperti begini setiap hari?"


"Entahlah. Selama seumur hidupku, hanya kau yang pernah memelukku." Sahut Lukas yang memalingkan wajah merahnya.


"Hm? Kenapa bisa begitu? Bukannya semua anak-anak pernah di peluk oleh orang tuanya?"


Alin mendongakkan kepalanya ke arah Lukas dan menatapnya. Lukas terlihat masih memalingkan wajah merahnya itu menjauh dari Alin.


"Kau tidak akan mengerti, ini kerajaan bukan rumah. Hanya ada persaingan dan tahta. Sudah cukup pelukannya, kau harus pergi ke academy sekarang."


"Aku akan pergi dan kemungkinan aku akan pulang terlambat untuk menjemput Viko. Ingat ya, kalau ada apa-apa hubungan saja aku."


"Tunggu, di sini tidak ada ponsel. Aku lupa."


"Eh, tidak, tidak. Panggil saja pengawal di depan untuk memanggilkan Kael." Tambahnya Lagi.


"Hm, pergilah sana sebelum kau terlambat."


Setelah itu, Alin langsung berjalan menuju pintu untuk pergi ke academy. Tapi saat ia keluar dari kamar, terlihat ada Yeni yang tengah melewati kamar Lukas. Yeni juga melihat Alin yang keluar dari kamar Lukas dan karena penasaran ia menghampiri Alin.


"Apa kau ingin pergi ke academy juga?" Tanya Yeni berbasa-basi.


"Iya."


"Lalu.. Kenapa kau keluar dari kamar Lukas?" Tanya Yeni lagi.


"Oh, itu.. Lukas sedang sakit dan Kael menyuruhku untuk menjaganya." Jawab Alin dengan polosnya.

__ADS_1


"Hm."


"Emh, aku.. pergi duluan yah..." Pamit Alin dengan canggung.


Setelah perbicangan sikat mereka itu selesai, Alin pamit dengan Yeni dan langsung pergi meninggalkannya di sana. Yeni terdiam, ia kesal kepada Kael yang menyuruh Alin untuk menjaga Lukas. Ia tidak ingin jika Alin yang harus menjaga Lukas. Yeni mengepalkan genggaman tangannya dan menaruh dendam terhadap Alin.


"Tidak, tidak. Alin tidak boleh mendekati Lukas. Aku harus berbicara dengan Kael sekarang."


Dengan cepat Yeni langsung pergi untuk menemui Kael yang sedang berada di ruang kerjanya. Saat Yeni masuk ke dalam ruangannya, terlihat Kael sedang sibuk meracik sebuah ramuan. Kael memang sudah menyadari akan kedatangan Yeni, namun ia sedang sibuk dan tak memalingkan pandangannya dari botol ramuan yang sedang ia buat.


"Lukas sedang sakit apa?!" Tanya Yeni langsung ke intinya.


"Racun Beockeil."


"Kenapa dia sampai terkena racun Beockeil?!"


"Lah, mana aku tau. Kenapa kau tidak menanyakannya langsung kepada orangnya?" Sahut Kael dengan entengnya.


"Lalu kenapa kau menyuruh Alin yang menjaganya?! Kenapa kau tidak menyuruhku saja, Kael?! Alin itu masih orang baru!"


"Tempat Alin dan Lukas kan berdekatan dan tempatmu sangat jauh dari tempat Lukas. Jika aku menyuruhmu, mungkin saja anak itu akan mati saat kau tiba." Sahut Kael lagi dengan tanpa rasa berdosa.


"Bagaimana dengan Gion?!"


"Gion? Hm, Gion sedang menjalankan misi Regental Luarnya."


"Arghhh... Pokoknya aku tidak terima jika Alin dekat dengan Lukas! AKU TIDAK TERIMAAA!"


Yeni merasa sangat kesal dan emosinya kini semakin memuncak. Yeni mengamuk, ia membentak dan membanting barang-barang Kael. Kael sontak terkejut dan langsung menjauh dari botol-botol ramuannya yang sudah Yeni pecahkan.


"Ada apa denganmu?! Apa kau gila, Hah?!" Bentak Kael.


"Pokoknya aku tidak terima jika Alin dekat dengan Lukas! Pisahkan mereka atau aku... akan membunuh Alin dengan tangan ku sendiri." Ancam Yeni.


Yeni tetap saja mengamuk seperti orang gila, tentu saja Kael sangat keheranan dengannya. Ia tidak bisa menyakiti orang dari bagian kerajaan, hingga akhirnya Kael memutuskan untuk memanggilkan pengawal yang ada di depan.


"WEHHHH, wanita gila! Pengawal! Tolong seret putri Yeni pergi ke academy. Dia ingin membolos dari pelajaran academy, dia sudah terlambat sekarang!!" Teriak Kael.


Para pengawal yang mendengar perintah Kael langsung masuk ke dalam. Saat melihat keadaan Yeni yang sudah acak-acakan, para pengawal itu sempat keheranan. Tapi mereka ingat akan perintah Kael. Lantas mereka langsung menyeret Yeni untuk pergi ke academy. Yeni mengamuk dan meneriaki para pengawal itu untuk melepaskannya, namun pengawal itu hanya mengacuhkannya.


"Lepaskan aku! Pengawal, dengarkan perintahku! Lepaskan aku!"


"Humpp, rasakan itu mak lampir. Mengamuk di ruangan ku, akan ku buat kau membayarnya!" Gumam Kael yang merasa menang.

__ADS_1


Ruangan Kael kini sangat berantakan, ia memanggil beberapa pelayan untuk membersihkan ruangannya. Sementara menunggu pelayan istana itu selesai membersihkan ruangannya, Kael duduk di kursi panjang yang ada di dalam ruangan dan kembali memikirkan perkataan Yeni tadi.


"Hmm... Apa Yeni benar-benar ingin mencelakakan Alin? Tidak, tidak, tidak mungkin. Tapi Yeni tidak pernah mengingkari perkataannya. Mungkin aku dan Lukas harus lebih berwaspada lagi terhadap Yeni yang ingin mencelakakan cucu master ketua Lio Jun Yeo itu."


__ADS_2