
Yup, yang sebelumnya melalui perbatasan adalah Yeni. Dan orang yang di depannya sekarang adalah putra mahkota dunia sihir merah, Indra. Kini Yeni telah berdiri tepat di depannya.
Yeni maju selangkah mendekat pada Indra, ia menyerahkan barang seperti sebuah kapsul kecil padanya. Tanpa pikir panjang Indra mengambil kapsul tersebut dari tangan Yeni dengan bingung.
"Apa ini? Untuk apa?" Tanya Indra.
"Masukkan sihir penyamaran ke kapsul ini."
"Buat apa? Owhhh... oke, oke. Tapi... Kau kira aku akan memberikannya padamu dengan begitu saja? Info dulu~" Ucap Indra menagih bayarannya dengan telunjuk yang di ayun-ayunkan manja.
"Tentang Clorian bukan?" Tebak Yeni sambil menyeringai.
"That's rights, baby! Katakan sekarang padaku."
Dengan antusias, Indra menatap harap Yeni. Indra sangat senang dan tidak sabar mendengar kabar tentang Clorian yang sepertinya sudah disiapkan oleh Yeni. Senyuman devil pun terpancar mengerikan di wajahnya.
"Segel Clorian telah di buka setengah oleh Deon Li."
"Ouhst, itu bagus. Aku akan lebih mudah untuk mengambil Clorian dari wanita sialan itu. Aihh, luka ku yang sebelumnya saja belum sepenuhnya sembuh, jadi tidak bisa menyerang dulu."
"Tapi tidak akan mudah untuk menyentuhnya sekarang. Karena dia ternyata mempunyai saudara, apalagi saudaranya itu sangat kuat. Aku sudah melakukan tes padanya dan hasilnya... dia memiliki kekuatan Master tingkat tengah." Jelas Yeni.
"Apa?!" Pekik Indra tercengang.
Sungguh tidak sangka-sangka, ternyata Yu yang terlihat biasa-biasa saja itu memiliki kekuatan yang sangat kuat. Menurut analisis data riwat hidup para penyihir di seluruh dunia sihir, yang mampu memiliki kekuatan Master tingkat tinggi adalah orang-orang yang rata-rata berumur 1000-2000 tahun. Tapi Yu baru berumur 28 tahun, bisa dikatakan itu sangatlah mustahil.
"Aku tau itu sangat mengejutkan, tapi itulah kenyataannya. Juga, hanya aku dan kau yang tau tentang ini."
"Brengsek! Itu berarti akan sangat sulit mengambil Clorian dari orang itu!" Gumam Indra gelisah.
Semua rencana sudah di susun nya untuk penyergapan dunia sihir, tapi dengan adanya bertambah satu Master tingkat tengah, rencananya itu akan sia-sia saja. Karena rencana Indra telah di susun dan di sesuaikan dengan para petinggi yang ada, tapi ia tidak menyangka dengan keberadaan Yu.
Dengan gelisah, Yu mondar-mandir di depan singgasananya. Ia mencoba berpikir untuk mengatasi masalah itu.
"Ck! Bahkan bandit-bandit brengsek itu sampai sekarang belum pulang juga! Aku sudah memerintahkan mereka untuk segera mencari Fuguno dan menculik wadah Clorian, tapi mana mereka?!" Decak Indra frustasi.
"Oh, bandit-bandit itu milik mu?" Ucap Yeni menyela, ketika mendengarkan Indra bergumam.
Indra langsung beralih pada Yeni, ia menatap tajam Yeni. Ada berjuta pertanyaan yang terlihat dari tatapannya.
"Kau bertemu dengan mereka?" Tanya Indra penuh harap.
"Bukan bertemu mereka, lebih tepatnya hanya melihat mereka dari kejauhan saja..." Jawab Yeni.
Kerena sudah terlalu lama berdiri, Yeni menjadi sedikit penat, apalagi ia sudah berjalan cukup lama sedari tadi. Ia pun dengan lancang nya duduk di singgasana Indra yang sekarang kosong.
"Mereka sudah di bunuh oleh Lukas saat menculik Alin. Yahhh... Aku juga baru tau sesuatu, kalau-
"Katakan! Kenapa bisa para bandit utusan ku bisa dia bunuh! Mereka adalah orang terlatih! Bahkan aku telah memberikan senjata anti sihir pada mereka!"
Indra tiba-tiba di serbu oleh amarah yang sangat dasyat. Ia seakan gelisah dan emosi akan sesuatu, saat mendengar tentang kabar tentang bandit-bandit nya. Tanpa diduga-duga, ia tiba-tiba mencekik leher Yeni dengan sangat kuat. Matanya terlihat berubah menjadi merah menyala. Indra sudah muak mendengar semua kabar buruk dan mengejutkan yang Yeni bawa padanya.
"Uh! Aukk! Arhh! Le-lepas, Indra!! Indra!!" Lirih Yeni.
Yeni yang tercekik sudah hampir kehabisan nafas, dengan sekuat tenaga ia memberontak dari cengkraman Indra. Tapi itu sia-sia saja, Indra sudah kehilangan kendali. Seketika setelahnya Indra tersadar, ia melepaskan Yeni yang hampir mati kehabisan nafas itu dengan perasaan bersalah. Ia nampak sangat frustasi sekarang.
__ADS_1
"Uhuk! Hahhh... hahhhh..." Nafas Yeni masih terengah-engah setelahnya.
"Maaf.." Ucap Indra dengan pelan.
Indra berbalik, ia merasa sangat bersalah kepada Yeni. Yeni sudah jauh-jauh menemuinya, tapi ia tidak dapat menyambutnya dengan baik. Itulah yang di sesali oleh Indra sekarang.
"Kenapa pangeran kedua itu bisa membunuh mereka? Bukannya aku sudah memberikan senjata anti sihir pada ke 6 bandit itu?" Tanya Indra lagi.
Tapi kali ini suaranya melembut. Seakan sangat menyesali akan yang sudah di lakukannya pada Yeni. Apakah orang dunia sihir merah memang bisa menyesal? Atau memang karena sesuatu?
"Lukas ternyata salah satu dari 3 orang yang bisa mengusai ke 5 elemen." Jawab Yeni yang masih terlihat kesal dengan Indra.
Indra kembali berbalik dengan tak percaya. Ia menatap tajam lagi Yeni. Tiba-tiba saja Indra mencengkram erat kedua pundak Yeni. Kini matanya keduanya menatap satu sama lain dengan jelas. Namun, saat Indra menangkap pundaknya, Yeni terlihat sedikit berdenyit takut, ia takut Indra akan menyakiti nya lagi.
"Bagaimana bisa?!"
"Mana aku tau. Kau kira aku ini apa? Dukun? Berhenti menyentuhku jika kau hanya ingin menyakitiku lagi!" Tegas Yeni pada Indra dengan dingin, sambil menepis kedua tangannya.
Indra hanya bisa menghela nafas. Ia sangat terkejut dan shock dengan yang didengarnya hari ini. Sungguh berita yang sangat besar, bahaya dan ancaman bagi rencananya yang kini sudah hancur. Ia pun duduk di samping Yeni, lebih tepatnya di singgasana raja. Yang bisa Indra lakukan sekarang hanyalah berfikir kembali.
"Ck! Tidak di sangka-sangka, wadah Clorian mempunyai banyak sekali orang kuat yang melindunginya. Jun Yeo tua itu, walaupun sudah lama mati saja rencananya untuk melindungi cucunya sendiri tetap berjalan dengan sempurna. Tidak mungkin mereka akan membiarkan jiwa Cioni dengan begitu saja. Sialan!"
"Bagaimana dengan jiwa Cioni?" Tanya Indra frustasi sambil memijit ringan pelipis matanya.
"Dia di bunuh juga. Di bunuh oleh Clorian." Jawab Yeni dingin.
"Ck! Aku ceroboh, seharusnya aku tidak menyerahkan budak jiwa warisan keluarga ku pada mereka... Argghhh! Sialan!"
...BRUK...
Indra menggebrak pegangan singgasana raja dengan amat keras. Karena tak sanggup menahan pukulan dari Indra, singgasana itu pun meretak. Sekarang suasana hati Indra sangat tidak baik. Ia takut akan dampak yang mungkin terjadi pada dunia sihir merah, karena matinya budak jiwa Cioni. Tapi Yeni terlihat tenang-tenang saja di sana.
"Mau berkerja sama?" Ucap Yeni.
Yeni yang dari tadi dengan anggun nya tiduran di singgasana, melirik sedikit Indra yang di sampingnya. Tentu saja Indra langsung tertarik dengan rencana itu, ia pun langsung menghampiri Yeni dan berjongkok dengan penasaran. Ia diam, menunggu Yeni menyuarakan rencananya.
"Aku-
...Kreaattt...
Tiba-tiba saja pintu besar ruangan singgasana terbuka, seorang prajurit berseragam lengkap masuk kedalam sambil membawa segulung kertas di tangannya. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan, lalu membungkukkan badannya sedikit.
"Putra mahkota." Ucap prajurit bertopeng besi itu.
"Kenapa?" Sahut Indra dengan ketus.
"Sungguh mengganggu ketenangan batin dan mental!" Pikir Indra kesal.
Kemudian prajurit itu mengambil tongkat sihirnya, melempar segulung kertas yang ada di tangganya tadi kepada Indra dengan sihir. Sontak Indra langsung sigap menangkap gulungan kertas yang di lemparkan itu. Ia terdiam ssambi menatap bingung prajurit tadi.
Bagaimana tidak bingung, baru saja datang dan memanggil dirinya, prajurit itu sudah melempar gulungan saja kepadanya. Tapi prajurit tersebut hanya diam setelahnya, lalu ia membuka topeng besi yang menutupi setengah wajahnya di hadapan Yeni dan Indra.
"Mulai sekarang saya adalah pelayan pribadi anda, putra mahkota. Ini titah dari raja." Ucap nya dingin.
Setelah topeng yang menutupi wajahnya terbuka, terlihatlah rupa dari prajurit itu, sungguh tampan, benar-benar tampan. Di tambah lagi dengan rambut hitam legam nya yang mengkilat oleh cahaya dari lampu ruangan. Sungguh tak terduga rupa ia di balik topeng besi tadi.
__ADS_1
"Nama saya Unoka, umur saya 56 tahun." Sambungnya.
Setelah memperkenalkan diri, Unoka menyingkir dari situ ke sisi lain ruangan. Tak ada sedikitpun respon dari keduanya, Indra dan Yeni pun hanya bisa menyeringai dengan diam padanya. Tapi Unoka kelihatannya tidak peduli, ia hanya berekspresi dingin sambil berdiri di sana.
"Cih! Masih tampanan Lukas."
Kembali Indra menghampiri Yeni, untuk membahas rencana yang sempat terhenti sebelumnya.
"Jadi, apa rencana mu tadi?" Tanya Indra melanjutkan perbincangan mereka yang sempat terhenti tadi.
Kelihatannya Yeni menjadi ragu untuk mengatakan nya sejak Unoka masuk. Sesekali ia melirik Unoka di sisi ruangan dengan tak yakin. Ia pun mengayunkan jari telunjuknya, menyuruh Indra untuk mendekat.
"Apa kau yakin dia tidak akan mendengar pembicaraan kita dan berkhianat?" Bisik Yeni dengan pelan.
Setelah dipikir-pikir benar juga dengan apa yang di katakan Yeni. Indra pun kini ikut melirik kepada Unoku yang ada di sisi ruangan sana. Beberapa setelah saat meliriknya, Indra berdiri dari tempatnya dan melempar gulungan kertas tadi kembali kepada Unoku. Tepat sekali lemparan nya dan tangkapan Unoku pun juga sangat tepat sekali.
"Keluar, aku ingin bicara dengan tamu ku sebentar." Perintah Indra.
"Raja memberikan titah, saya tidak boleh meninggalkan anda dalam radius 10 meter dan tidak boleh kehilangan anda juga." Sahutnya dingin.
"Arrhihhhh... Ayah, ayahhhh.... aihhh...!" Keluh Indra frustasi.
Dengan kesal, Indra menggaruk-garuk kepalanya. Perintah raja tidak boleh di bantah, itulah peraturan di sana. Karena jika membantah atau melanggar maka ada sanksi yang sangat berat untuk itu, siapa pun dia.
"Yasudah, yadudah. Kau diam saja di sana sampai lumutan! Tapi ingat, jangan dengarkan pembicaraan kami!" Ucap Indra dengan tegas.
Unoku menggangguk pelan. Lalu Indra kembali beralih pada Yeni untuk membahas rencana tadi. Ia duduk di singgasana raja lagi. Sebenarnya Yeni masih ragu dengan Unoku yang terlihat mencurigakan itu, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah titah dari raja. Yeni pun memperbaiki posisi duduknya dan mulai memberitahukan rencananya. Dengan seksama Indra mendengarkan semua rencana itu.
"Rencananya.. Aku akan menyamar dan membuat kesalahpahaman diantara Alin dan Lukas. Kemudian aku akan memancing Alin untuk mengambil misi nya saat dalam suasana hati yang sedang hancur itu. Misi nya akan ku tukar dengan misi palsu regental luar. Dengan begitu, ketika dia mulai pasrah dengan misi dan hubungannya dengan Lukas, di posisi itulah hatinya mulai goyah untuk hidup . Segel budak jiwa Clorian tentu saja akan perlahan terbuka. Lalu aku akan membuka perbatasan untuk kau menculik dan menyerang mereka. Sedangkan aku akan merebut Lukas dengan perlahan dari keterpurukan nya." Jelas Yeni sambil menyeringai senang.
Semuanya sudah dipikirkan dan di susun dengan rapi olehnya. Bahkan segala kemungkinan pun telah di hitung, tapi tidak menutupi kemungkinan rencana itu akan berubah.
Indra terdiam sejenak berpikir dan mencerna satu persatu rencana Yeni. Hingga beberapa pertanyaan pun mulai terancang di setiap kalimat yang di pikirkannya.
"Memangnya misi palsu apa yang akan kau buat untuk wadah Clorian?" Tanya Indra penasaran.
"Misinya adalah untuk meneliti wilayah Oroku." Jawab Yeni dengan santai.
"Oroku? Bukannya kerajaan itu sudah lama lenyap?"
Seketika setelah mendengar kata Oroku, Unoku langsung berpaling melirik keduannya dengan mata yang sedikit terbelalak. Sepertinya ada sesuatu yang berhubungan dengannya di sana. Pasalnya Unoku nampak terkejut mendengar itu. Tapi untungnya Indra dan Yeni tidak menyadarinya.
"Benar sekali. Yahh.. Apakah kau pikir dia sepintar itu sampai tau kerajaan Oroku? Oroku hanya ada dalam buku sejarah lama, mana ada di buku yang di berikan Lukas padanya saat ini. Lagipula ia juga baru datang kemari, mustahil untuk dia mengetahui semuanya dengan cepat." Jelas Yeni sinis.
"Benar, juga. Lalu bagaimana dengan nasib wadah Clorian selanjutnya?"
"Bunuh."
Matanya menajam menatap Indra dengan tegas, terlihat sekali rasa dendam dan tidak sukanya terhadap Alin. Indra pun hanya mengiyakan apa yang di katakan Yeni dengan begitu saja, tidak ada komentar sedikit pun. Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah itu Indra membuat kapsul-kapsul yang di Yeni berikan sebelumnya melayang-layang di udara. Seketika itu juga sebuah cahaya merah keluar dari tangannya dan memasuki kapsul-kapsul itu. Satu persatu kapsul terisi oleh cahaya merah tadi dan ketika semuanya telah selesai ia pun memberikannya kembali pada Yeni.
"Kapsul penyamaran mu. Aku harap rencana mu ini tidak akan merugikan ku." Ucap Indra serius.
"Tentu saja, kita akan saling menguntungkan."
__ADS_1
Lalu Yeni pun pergi pulang ke dunia sihir putih setelah semuanya selesai.