
Setelah beberapa saat, Alin berdiri dari tempatnya dan bersiap untuk menjalankan misinya itu. Ia pun berpamitan dengan Ji Ku yang ada di hadapannya sekarang.
"Baiklah, Kak Ji Ku. Aku akan pergi." Ucap Alin.
"Eh? Ba-baik putri. Anda bisa memanggil saya Ji ku saja." Sahutnya.
"Tidak masalah, kau senior ku. Pergi dulu yah..."
Alin keluar dari kantor misi itu bersama dengan Viko yang ada di sampingnya, lalu mereka pun pergi untuk mencari 'hewan peliharaan' penduduk itu. Entah hewan seperti apa yang sedang mereka cari. Apakah dia berbahaya atau tidak? Harimau atau kucing? Alin pun tidak tau secara pasti apa yang akan mereka berdua hadapi nantinya.
Dengan bermodalkan mantra api dan pedang yang tajam, Alin dan Viko berjalan menyusuri jalan yang sudah di tunjuk oleh informasi dari Ji ku tadi. Melewati jalanan yang sepi dan lebat sambil bersiaga. Viko pun juga membantu Alin dengan mengendus-endus tanah, kalau ada suatu hal yang akan ia temukan untuk membantu Alin.
Sementara itu di seberang sana, ada dua orang yang sedang mengawasi Alin dan Viko dari kejauhan, yang tidak lain adalah Olivia dan Lukas. Lukas terlihat gelisah dan kuatir mengenai Alin, karena baru kali ini Alin lepas dari pengawasan jarak dekatnya. Ia terlihat mondar-mandir ke sana kemari sambil menatap mereka berdua dengan serius nya.
Sedangkan Olivia yang ada di sampingnya hanya menatap sinis Lukas. Ia tidaklah kuatir pada Alin karena ia tau, kalau Alin adalah sosok yang kuat di dalam dirinya dan kalau Alin mati pun jiwanya akan di gantikan oleh Clorian.
"Apa kau tidak bisa diam? Sejak tadi mondar-mandir saja." Tegur Olivia.
"Tapi, dia sendirian di sana. Siapa tau ada ular atau monyet atau Glom liar atau hal lainnya yang menyerangnya. Bagaimana kalau kita tidak sempat menolongnya nanti?" Sahut Lukas yang masih terlihat gelisah.
"Dia bukan sosok yang seperti kau kira, dia bisa melindungi dirinya sendiri. Duduklah sekarang, atau ku tebas kaki mu supaya duduk diam!" Tegas Olivia yang sudah mulai terganggu dengan tingkah Lukas.
Lukas pun menurut dan duduk di samping Olivia, tapi masih dengan tatapan yang tajam dan seriusnya menatap Alin dan Viko yang ada di jauh depan sana. Jujur saja Olivia merasa sangat terganggu dengan tatapan Lukas itu juga, tapi dia lebih memilih untuk menggerutu di dalam hatinya saja.
"Mata mu itu lama-lama kucolok saja nanti."
Sudah lama sekali mereka berjalan menyusuri di beberapa titik yang kemungkinan makhluk itu berada, tapi tidak ada tanda-tanda apa pun dari harimau atau pun kucing di sekitar. Hingga Alin berhenti sejenak untuk meneliti dengan lebih detail lagi.
"Haishh... Viko, Di mana hewan itu, yah? Masalahnya lagi... Dia itu apa?" Gumam Alin.
Viko yang sedari tadi berada di samping Alin memberikan kode untuk nya, ia mengelus-elus kaki Alin menggunakan bulu lembut nya itu. Alin pun berlutut di hadapan Viko dan mengelus-elus bulunya. Viko dengan cerdasnya memberikan petunjuk kepada Alin, ia melompat ke pangkuannya, lalu menapakkan kaki mungilnya itu pada kertas yang ada di tangan Alin.
__ADS_1
"Eh? Ada apa?"
Namun Alin masih belum mengerti dengan petunjuk yang Viko beritahukan. Dengan imutnya Viko menatap mata Alin dengan tatapan yang terlihat aneh, mungkin saja Viko pada saat itu berpikir seperti ini 'Seberapa bodohnya majikan ku ini?'.
Karena Alin tak kunjung paham, Viko melompat ke punggung Alin dan merogoh tasnya dan mengambil bekalnya, lalu kembali menapakkan kakinya pada kertas. Lalu Alin membaca kertas misinya itu lagi dan ia akhirnya paham.
"Makanan kesukaan: Ikan. Ehhh! Jadi, jadi, jadi... Sudahlah kita cari lagi." Ucap Alin yang langsung tertegun.
Alin mengambil ikan yang ada di mulut Viko dan mereka kembali mencari hewan peliharaan tersebut. Viko pergi ke sisi jalan yang lain dan mengeong seperti kucing untuk mencari keberadaan hewan tersebut. Alin yang mendengar Viko mengeong seperti itu merasa sangat lucu mendengarnya.
"Meonggg... Meonggg..."
"Hahaha..."
Alin pun tidak mau kalah dengan Viko yang terlihat bekerja keras juga. Ia juga memanggil-manggil kucing itu sambil memegangi ikan milik Viko sebelumnya.
"Meong...! Meong...!"
"Kita menemukannya, Viko!" Seru Alin.
Tapi Alin kemudian kebingungan, duri-duri itu terlihat sangat tajam, apalagi dia tidak membawa perlengkapan yang lengkap untuk hal itu. Jika ia menggunakan pedang untuk menebas atau menahannya, itu pasti akan mengenai kucing itu. Tapi di sisi lain, Alin merasa kasihan dan iba dengan luka-luka nya yang begitu parah.
"Bagaimana...?"
"Viko, aku akan menahan semak nya, lalu kau tarik dia keluar, oke?" Ucap Alin.
"Meongg."
Bahasa kucing mungkin adalah kode yang tepat untuk Alin yang tidak mengerti bahasa dan isyarat dari Viko. Tanpa pikir panjang lagi Alin langsung memegang beberapa semak yang tidak terlalu banyak durinya. Tetapi walaupun begitu, tetap saja duri-duri tersebut mengenai tangannya hingga berdarah.
Viko dengan cepat langsung ikut masuk ke dalam semak, menyelipkan giginya diantara kulit dan bulu leher kucing tersebut, dan membawanya keluar dengan segera. Alin juga melepaskan pegangannya dari duri-duri itu segera setelah Viko dan kucing tadi keluar.
__ADS_1
"Aishh..."
Darah yang begitu merah keluar dari luka-luka yang ada di tangannya dan itu membuat Viko menjadi kuatir. Ia mendekat kepadanya, melompat ke pelukan Alin, lalu menjilat-jilati darah yang terus mengalir itu.
Lalu di sisi lain, kedua orang yang melihat hal itu juga terlihat kuatir, terutama Lukas. Lukas ingin menghampiri Alin, tapi di hadang oleh Olivia yang ada di samping.
"Jangan, dia harus belajar untuk melindungi diri sendiri. Lagi pula Glom nya ada di sana." Ucap Olivia.
"Benar juga..."
Lukas yang mendengar itu terdiam dan tidak jadi untuk menghampiri Alin. Ia dan Olivia pun kembali mengamati Alin dan Viko dari kejauhan.
Kucing yang mereka temukan tadi terlihat lemas dengan luka-luka yang ada di tubuhnya. Alin menurunkan tasnya dan mengambil ramuan untuk hewan dari yang di berikan oleh Gion sebelumnya. Setelah kucing itu meminum nya perlahan luka-lukanya sembuh pada saat itu juga. Kemudian Viko memberikan kucing itu, bekal ikan miliknya.
"Wahh... Viko, aku kira kau tidak ingin membagikannya dengan orang lain. Hehe..." Goda Alin.
Dengan tiba-tiba Viko melompat ke Alin dan langsung menjilat-jilati wajah Alin hingga terjatuh ke tanah.
"Hahaha! Viko, geli..." Tawa Alin.
Tak lama setelah itu, ada suara gerutuan yang terdengar. Dengan tiba-tiba kucing tadi melompat ke arah Alin dan Viko. Saat kucing itu terlihat diantara cahaya matahari yang cerah, ia terlihat berubah, berubah menjadi seekor harimau besar yang akan menimpa Alin dan Viko.
"Ha, HARIMAU!!!!"
"Ah!!!!" Jerit Alin.
Beberapa detik kemudian situasi menjadi canggung, karena harimau tadi bukannya menyerang atau menerkam mereka tetapi menjilati Alin dengan wajah imut dan memelas nya itu. Tentu saja Alin merasa keheranan dan ia memasang ekspresi datar yang begitu aneh.
"Hah? Apa ini? Kucing yang bertransformasi menjadi harimau, hah? Hehhhh!" Amuk Alin.
"GREERRRRR" Tambah Viko yang terhimpit di tengah-tengah mereka berdua.
__ADS_1
Harimau itu pun turun dari mereka berdua beberapa saat kemudian, Alin dan Viko hanya menatap tajam harimau tersebut. Tapi harimau itu tidak menghiraukan tatapan mereka itu dan tetap memasang wajah imutnya.