
Maaf ya author gak bisa up cepat lagi, tugas ku numpuk bagaikan gunung :( Tapi kalo udah kelar pasti dehhhh :")
...****************...
Lalu terlihatlah Alin ada di sana memegangi kedua belati dari belakang sang ketua bandit. Ketua bandit itu terlihat pucat dan ketakutan, saat tau kalau mereka berhasil mengancamnya lagi. Begitu pula dengan Alin, ia melakukan ini hanya karena terpaksa, wajahnya terlihat pucat dan juga ketakutan sambil memegang belati yang begitu tajam itu.
Lukas pun terpaksa juga untuk menyuruh Alin melakukan hal itu demi menyelamatkan Olivia yang sedang di sandera, apalagi hanya Alin yang bisa bergerak dan tidak di waspadai oleh ketua bandit. Lukas memang mampu untuk melepaskan diri dari penangkap bayangan, tapi jika ia melepaskannya, ia akan terkena cidera yang fatal dan lagi walaupun bisa tanpa cidera pun ketua bandit itu pasti akan membunuh Olivia saat ia sedang bergerak.
"Bagaimana? Jika kau membunuhnya, kau juga akan terbunuh, dan lagi kau hanya akan mendapatkan satu burung dengan lemparan mu itu." Ucap Lukas dengan tatapan sinis.
"Humpt! Kau kira aku bodoh? Wanita yang ada di belakang ku ini gemetaran memegang belati, pastilah dia tidak akan berani membunuh seseorang. Kau hanya ingin mengancam ku, bukan?"
Lukas yang mendengar itu seketika itu juga berubah ekspresinya, ia mengerutkan keningnya dan mulai menatap tajam si ketua badit. Ternyata apa yang Lukas pikirkan berhasil di tebak oleh seorang bandit yang hanya orang lemah di matanya. Sementara Alin benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, tangan dan kakinya pun seperti mata rasa.
"Hahaha! Bunuh! Ayo bunuh kalau kau berani! Ayo bunuhh!" Seru bandit itu.
"Alin, bunuh dia." Perintah Lukas dengan tegas.
Tapi Alin tetap tidak bergerak sedikitpun, ia malah memejamkan matanya karena ketakutan. Masih saja tidak membunuh sasarannya, Lukas akhirnya memerintahkan Alin untuk membunuhnya lagi.
"Alin. Bunuh!"
"Tidak bisa... Aku takut.." Lirih Alin dengan suara yang sedikit serak karena ingin menangis.
Suaranya begitu kecil dan gemetaran sampai-sampai orang berjarak dari satu meter darinya pun tidak bisa mendengarnya. Karena ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, kepala bandit itu mengambil tindakan yang gegabah. Dengan tiba-tiba ia menarik pisaunya ke arah Olivia yang ada di pelukannya, yang membuat leher Olivia kembali berdarah, tapi kali ini darah itu mengalir lebih banyak dari sebelumnya.
"Akh! Kurang ajar kau...!" Ucap Olivia yang menahan rasa sakit itu.
Tapi seketika itu juga, saat Alin melihat Olivia kembali terluka, tiba-tiba saja matanya berubah menjadi berwarna merah darah yang sangat pekat. Saat itu juga Alin langsung menarik belati nya, yang membuat kepala bandit tidak bisa berkutik.
"Tidak akan!" Ucap Alin dengan tatapan yang terlihat kosong.
"Argghh!"
__ADS_1
Belati tajam Alin itu memotong titik kehidupan dan ia pun mati seketika. Saat Alin menarik belatinya, darah itu terciprat ke wajah dan juga ke lengannya itu. Tubuh dari kepala bandit langsung terjatuh ke tanah, yang di susul dengan Olivia yang langsung menyembuhkan dirinya dengan segera.
"Uhuk! Uhuk! Untung saja..." Gumam Olivia yang terlihat memasang mantra penyembuhan di sekitarnya.
Darah yang begitu pekat mengalir dengan deras dari tubuh kepala bandit, yang menyebabkan Alin langsung tersadar. Matanya yang tadinya berwarna merah kembali seperti semula. Tapi ia begitu terkejut melihat limpahan darah yang ada di tangan dan juga di hadapannya. Ia langsung shock dan terjatuh ke tanah dengan tatapan kosong yang mengarah ke tangannya yang bersimbah darah.
...Bruk...
"Darah... Banyak darah... aku... aku... aku membunuh orang, aku seorang pembunuh..."
"Alin!"
Lukas langsung berlari ke arah Alin dan memeluknya dengan erat. Kemudian Lukas memadamkan api-api yang ada di sekitar mereka semua dengan elemen air miliknya. Air-air Lukas tidak hanya memadamkan apinya, tapi juga ikut mengenai mereka semua sehingga basah kuyup. Tak lama setelah itu semua api yang ada langsung padam dan situasi di sekitar mereka menjadi gelap dan hanya di sinari oleh cahaya bulan yang cukup terang.
Lalu Olivia mengeluarkan sebuah lentera putih yang akan menjadi penerang mereka untuk sementara. Alin terlihat sangat takut, ia tertunduk dan tak bersuara sedikit pun di pelukan Lukas yang terasa hangat. Lukas membuka jubahnya dan menyelimuti Alin yang basah kuyup dengan itu.
"Alin, kau tidak apa-apa, kan?" Tanya Lukas.
Tapi Alin tetap tidak berkutik ataupun bersuara, ia tetap saja meringkuk sambil menundukkan kepalanya.
Olivia kemudian menghampiri mereka setelah ia menyembuhkan luka-lukanya yang ada. Ia berjongkok di samping Alin dan memanggil Alin juga. Tapi lagi dan lagi tetap tidak ada sahutan sedikit pun.
"Alin, Alin....! OY! Alin. Lin, Lin...! Astaga...!" Panggil Olivia yang merasa mulai jengkel.
"Olivia, apa kau bisa mencek kemah itu? Aku akan meminta tim penyelamat istana untuk kemari." Pinta Lukas.
"Okhey."
"Oh iya, jangan lupa Viko dan harimau tadi." Tambahnya.
Olivia pun masuk ke dalam kemah dan melakukan apa yang harus ia lakukan di dalam sana. Sementara itu Lukas berdiri dari tempatnya dan bersiap untuk memanggil bantuan.
"Kau tunggu sebentar, aku akan memanggil tim penyelamat." Ucap Lukas.
__ADS_1
Lukas berdiri di tengah-tengah tempat mereka berada, lalu ia membuat sebuah garis besar menggunakan pedangnya. Seketika itu juga sebuah cahaya putih yang sangat besar memancar ke langit dengan cepatnya. Tak lama setelah itu, perlahan cahaya itu meredup dan menghilang.
Lukas kembali menghampiri Alin dan memeluk Alin dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Lukas pun kembali berbicara dan menenangkan Alin. Tapi kali ini Alin meresponnya walaupun itu sedikit.
"Alin.. Kau tidak perlu takut lagi sekarang. Kita akan baik-baik saja. Jangan takut, oke?" Ucap Lukas.
"Lukas.. aku.. aku... tolong... hiks.. aku. Huhuhu..." Isak Alin yang mulai mengalirkan air mata.
"Aku ada di sini. Menangis saja sepuasmu."
Dengan lembut Lukas mengelus-elus rambut Alin. Dan tak lama setelah itu, Olivia keluar dari kamp sambil membawa barang-barang para bandit yang terlihat berharga. Lalu terlihat juga Viko dan harimau yang sudah berubah menjadi kucing berada di kedua pundaknya.
"Aihh... Adegan yang menyiksa para kaum lajang menahun. Apa sebaiknya aku menunggu di sini saja? Tidak, tidak. Mari kita ganggu, hehehe..." Gumam Olivia.
Olivia tentu saja dengan semangatnya menyerbu keheningan yang ada pada Lukas dan Alin pada saat itu. Tapi saat ia ingin mengejutkan keduanya, Olivia mendengarkan suara isakan seseorang dan rasa usilnya pun ia urungkan. Olivia mendekat dan menengok sedikit ke arah Alin.
Alin terlihat menyembunyikan wajahnya di depan dada Lukas yang bidang itu. Suara isakan pun terdengar padanya. Sedangkan Lukas, ketika menyadari Olivia sudah keluar dari kamp bandit, ia langsung mengalihkan tangannya yang mengelus-elus Alin tadi.
"Dia... Menangis?" Tanya Olivia seraya berjongkok di depan mereka.
"Egh... Hm."
"Cih, cengeng sekali. Baru membunuh satu orang saja sudah ketakutan dan menangis seperti itu. Bagaimana kau ingin menguasai jiwa Clorian? Jika kau bisa menguasainya, kau bahkan bisa membunuh ribuan bahkan semua orang yang ada di dunia ini." Ketus Olivia pada Alin.
Alin yang mendengar itu tertegun. Ia mengangkat sedikit kepalanya dan menghapus air matanya yang masih ada di pipinya itu.
"Maaf, hiks..." Lirih Alin yang masih terisak.
"Humppt! Jangan dengarkan dia, Alin. Dia hanya iri padamu." Ejek Lukas.
"Hehhhh!!! Iri katamu?! Aku tidak iri! Memangnya apa yang aku iri, kan?" Tanya Olivia dengan ketus.
"Kau pasti iri."
__ADS_1
Olivia terlihat jengkel, ia berbalik dan berjalan menjauh sedikit dari mereka berdua. Beberapa lama kemudian tim penyelemat dari istana pun tiba untuk menjemput mereka. Terlihatlah dua kereta kuda yang besar menuju ke arah mereka dari langit dengan cahaya yang begitu terang. Mereka pun pulang ke istana pada saat itu juga.