Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 87 Terpesona.


__ADS_3

Cahaya Olivia langsung hancur, mantra nya telah di patahkan Yeni. Yeni yang sudah terlepas membuka cekikan itu dengan paksa dan mendorongnya hingga terjatuh. Kini Olivia telah terpojok, dengan senyuman jahat, Yeni berjalan menghampirinya.


"Hehehe... Kau memang benar-benar naif, kau ingin membunuhku? Tapi ingatkah kau, kalau setengah kekuatanmu... telah Indra ambil. Hehehe..."


"Kau... kau penghianat besar! Apa kau ingin mati?! Jika Alin mati sebelum menguasai jiwa Clorian, maka budak jiwa pendekar iblis itulah yang akan menguasainya. Apa kau ingin kita semua mati?!"


"Humppt... biarkan saja! Aku memiliki rencana lain untuk selamat bersama dengan orang yang kucintai~ Memangnya apa yang akan kau peroleh jika semua orang tau kalau kau itu keturunan campuran dari dunia sihir merah dan dari kelompok Daiko, apakah kau bisa menjamin kalau mereka akan percaya kepadamu?"


"Gawat! Dia juga tau tentang itu!"


Dengan tiba-tiba Olivia langsung berdiri dan menyerang Yeni yang tengah lengah di depan. Cahaya putih menyelimuti tangannya dan itu menghantam tepat di perutnya Yeni hingga terjatuh. Seketika itu juga, darah keluar dari mulut Yeni. Yeni menjadi sangat kesal dan marah pada Olivia, ia ingin membalas perbuatan Olivia tersebut.


"Beraninya kau!!" Teriak Yeni yang marah.


Yeni berdiri dari tempatnya dan bersiap untuk menyerang balik. Namun saat ia ingin melempar mantra ke Olivia, para pengawal yang sedang berpatroli lewat tempat itu mendengar kejadian tersebut. Mereka langsung bergegas menghampiri sumber suara. Olivia yang sudah menyadari akan kedatangan mereka, ia langsung pergi menggunakan mantra teleportasi. Sedangkan Yeni tidak sempat pergi dan ia didapati oleh para pengawal yang berpatroli.


"Eh?! Putri Yeni? Ehm... Putri Yeni, apa anda mendengar suara kebisingan tadi?" Tanya pengawal itu sambil celingak-celinguk.


"Eh, ti-tidak, aku tidak mendengarnya. Aku, aku tadi sedang berlatih untuk pentas drama di sekolah. Tidak ada siapa-siapa di sini, hanya aku."


"Oh, baiklah putri. Kalau begitu, saya permisi dulu. Sebaiknya putri Yeni segera beristirahat, ini sudah larut malam." Pamit pengawal tersebut.


"Hm, baiklah. Hehe.. terima kasih..." Ucap Yeni.


Setelah pengawal tersebut pergi, Yeni pun pergi ke kamarnya. Sementara itu, seseorang keluar dari ruangan kerja Kael. Yang tidak lain adalah Olivia yang sedang bersembunyi. Olivia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihat dan setelah itu, ia langsung pergi ke kamar Alin lagi.


Ke esokan harinya, pagi hari yang terlihat cerah menyinari kamar Alin dengan sempurna. Alin terlihat masih sangat pulas tidur di kasurnya. Sementara yang lainnya sudah pergi dari situ untuk pergi ke academy. Tiba-tiba saja, Kael masuk sehingga membuat Alin terkejut dan terbangun dari tidurnya.


"Wah!" Pekik Alin.


"Haha... maaf, maaf, apa kau terkejut?"


"Ehm... tidak juga. Hehehe..." Sahut Alin yang merasa tidak enak pada Kael.


Kael yang baru sampai itu langsung mengeluarkan beberapa peralatan medisnya dan menghampiri Alin. Untuk beberapa saat, Kael menatap wajah Alin yang masih terlihat agak pucat. Setelah itu, Kael menggapai tangan Alin dan memeriksa nadi nya kembali.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya Kael.


"Tidak ada."


"Walaupun kau tidak merasakan sakit, kau tetap harus berada dalam pengawasan. Yang lain pergi ke academy, sedangkan aku dan Olivia akan pergi ke wilayah Utara setelah ini, jadi aku meminta Lukas untuk menjagamu sini, Tidak apa-apa, kan??" Jelas Kael.


"Tentu, tidak masalah."


Saat mereka sedang mengobrol, seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam dengan balutan baju yang rapi. Yang tidak lain adalah Lukas yang akan menemani Alin hari ini.


"Masuklah." Ucap Kael.


"Hm." Lukas duduk di sofa yang ada di kamar Alin, lalu membuka bukunya seperti biasa.


Karena Lukas sudah ada di situ, Kael sudah bisa meninggalkan Alin sekarang. Ia membereskan barang-barang nya dan pergi keluar. Untuk beberapa saat keadaan menjadi canggung karena Alin dan Lukas hanya terdiam dan sibuk dengan diri sendiri.


Tapi saat Lukas tidak sengaja menjatuhkan bukunya ke lantai, Alin menengok. Saat Lukas mengangkat kepalanya, ia menyisir rambut bagian depan yang berantakan itu ke belakang menggunakan jari-jarinya. Saat itulah, Alin melihat pesona Lukas yang tidak pernah ia liat sebelumnya. Alin sungguh terpesona, hingga wajahnya terlihat tersipu malu saat itu juga. Pandangan mata Alin menetap di situ, memperhatikan Lukas yang terlihat bersinar dengan rambut putih miliknya.


"Lukas... kau... sudah menikam hatiku... Kau... sangat tampan! Oh astaga... apa yang aku pikirkan?!"


"Sudah puas?" Tanya Lukas yang masih tidak memalingkan pandangan nya dari buku.


"Ehm.. Tidak, aku tidak. Tidak, tidak. Hm, tidak."


Alin langsung tersadar dari lamunan dan pikirannya. Semuanya langsung bubar dan Alin memalingkan wajahnya. Lukas yang mendengar jawaban Alin tadi menjadi tersenyum jahil. Lukas meletakkan bukunya di atas sofa dan berjalan ke arah Alin, lalu duduk di kursi yang ada di samping.


"Belum puas?" Tanya Lukas lagi sambil tersenyum tipis.


"Apa maksudmu?! Aneh sekali."


"Hei, dengar! Aku bertanya kepadamu tadi. Apa kau sudah puas melihat ku, atau belum? Tapi kau menjawab 'tidak'. Jadi apakah kau belum puas, putri Jiu??" Tanya Lukas yang berusaha untuk menggoda Alin sambil tersenyum jahil.


"Tidak, tidak. Kau tidak tampan, kau..."


Untuk sejenak, Alin mencoba berpikir untuk melengkapi kalimat nya tersebut. Tapi Lukas yang melihat tingkah Alin itu merasa lucu terhadapnya, hingga membuat Lukas tertawa kecil.

__ADS_1


"Hehehe..."


"Jangan tertawa! Halah jelek! Kau jelek, jelek!" Seru Alin yang kesal.


Tapi Lukas masih belum selesai menjahili Alin, ia masih belum puas dengan kejahilannya itu. Lukas lalu menyisir rambutnya kebelakang seperti sebelumnya, dan lagi dan lagi Alin terpesona melihatnya. Muka Alin kembali tersipu malu dan ia mencoba untuk menyembunyikan nya dari Lukas.


"Kau tampan ataupun jelek bukan urusan ku!" Gumam Alin yang malu-malu.


"Lalu apa yang kau liat tadi?" Tanya Lukas lagi.


Alin langsung tercengang, ia kebingungan harus menjawab apa. Dalam situasi seperti ini, otak Alin masih sempat-sempatnya macet. Alin kelabakan dan terbata-bata.


"Aku, aku... tadi aku, aku tadi... Ehm, anu... itu... oh iya! Aku tadi ingin melihat sampul buku yang kau baca tadi." Jawab Alin.


"Benarkah?" Tanya Lukas yang masih memasang senyum jahilnya.


"Iya, iya."


Lukas pergi dan berjalan ke sofa mengambil bukunya tadi, lalu kembali duduk di samping Alin. Ia menyodorkan buku tersebut dan Alin mengambil buku itu. Buku itu tidaklah terlihat spesial, hanya buku berwarna coklat polos yang berhiaskan emas di sudut-sudut bukunya. Alin merasa heran, mengapa buku sesederhana itu, menjadi buku yang terus Lukas baca. Karena merasa penasaran, ia membukanya.


Saat di buka terlihatlah kertas depan yang bertuliskan 'History the world of magic'. Bab itu menceritakan tentang sejarah dunia sihir ini bisa terbentuk, dengan bentuk yang terpisah. Karena penasaran seberapa banyak halaman untuk sejarah dunia sihir putih, Alin membalik-balikan halaman nya dengan cepat. Namun seberapa cepat pun Alin membalikkan halaman buku tersebut, ia masih belum mendapatkan bab baru. Hingga ia melihat angka yang tertera pada salah satu sudut kertas, yang menunjukan angka 1590.


"Apa?! Halaman 1590?! Tapi... tapi... buku ini! tidak setebal itu! Kenapa bisa... sampai sebanyak ini!" Tanya Alin yang memiliki seribu macam pertanyaan.


"Cerita sejarah dunia sihir memiliki 3890 halaman, dan ini hanyalah salinannya."


"Tapi... buku ini tidak setebal itu!" Sahut Alin yang menoleh ke arah Lukas.


"Ini dunia sihir, Alin. Hal apapun, keajaiban apapun, mungkin bisa terjadi di sini. Dunia ini di penuhi oleh misteri yang banyak. Para tetua kita bahkan tidak ada yang tau apa hal-hal yang akan terjadi dikemudian hari."


"Sudahlah, aku sedang malas membaca." Ucap Alin yang lalu mengembalikan buku itu ke Lukas.


Lukas mengambilnya dan menyimpan buku itu kembali. Sementara itu, Alin menyandarkan punggungnya ke kasur dan memikirkan suatu hal yang mungkin tidak berguna tapi ia ingin memikirkannya. Sedangkan Lukas, ia sangatlah rajin, berbeda dengan Alin, ia membaca buku yang lainnya.


"Hmm... Lukas terasa aneh hari ini... Tidak ada hujan, tidak ada badai dan petir hari ini. Tapi, kenapa dia bersikap lebih akrab dan lembut terhadap ku? Hmmm... aneh... Tunggu! Dia tersenyum tadi."

__ADS_1


__ADS_2