
Hari mulai gelap, tak terasa malam telah tiba. Alin baru sadar kalau dia belum mandi. Ia pun ingin pergi mandi.
"Aku mau mandi dulu. Apa kau sudah mandi?" tanya Alin.
"sudah" jawab Lukas dingin.
"Aku akan mandi, Jangan mengintip!" tegas Alin.
"hm"
Alin kemudian pergi ke kamar mandi, dan mandi dengan cepat. Beberapa menit kemudian dia sudah keluar kamar mandi menggunakan baju dress putih.
"lama sekali" keluh Lukas.
"Lama pala mu, baru 10 menit aku ke kamar mandi" sahut Alin kesal.
"Sudahlah"
"Aku lapar, ayo makan" ajak Alin.
"baiklah" jawab Lukas lalu berdiri.
Alin mengandeng tangan Lukas. Saat ia menggenggam tangannya, ia merasa tangan Lukas sedikit dingin.
"Kenapa tanganmu dingin? apa kau sakit?" tanya Alin.
"tidak apa-apa, aku baik-baik saja" Jawab Lukas.
Alin pun teringat akan tadi malam, ia mengira kalau Lukas akan seperti tadi malam.
"Malam ini jangan sampai melepas tangan ku, oke?" tegas Alin.
"hm"
Mereka berdua pergi ke dapur untuk makan sambil bergandengan. Di sepanjang jalan para pelayan dan pengawal hanya memperhatikan mereka dengan kepala di tundukkan. Mereka tidak berani berkata sepatah kata pun, karena mereka tau tentang cerita Lukas saat malam festival bulan.
Semua pengawal dan pelayan, tidak menyapa ataupun menegur mereka. Mereka takut akan bernasib sial seperti pengawal dan pelayan yang pernah mencoba menghentikan Lukas 2 tahun yang lalu. Pelayan dan pengawal itu mencoba menenangkan Lukas, namun Lukas langsung menebas mereka menggunakan pedangnya.
*di dapur
Para pelayan dan koki yang ada di situ juga sama seperti mereka yang ada di luar. Mereka hanya diam dan hanya memperhatikan dari jauh.
Tapi saat mereka melihat Alin dan Lukas masuk sambil bergandengan tangan, mereka tertegun. Tidak ada yang berani mengganggu Lukas pada saat malam festival bulan, tapi Alin bahkan menggandeng tangannya. Mereka menyimpulkan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan.
"apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Apa putri Jiu dan pangeran Lukas memiliki hubungan yang lebih dari teman?"
"Putri Jiu berani sekali!"
"Gawat! Putri Jiu mungkin dalam bahaya"
Bisik mereka semua pada yang lainnya. Mereka semua berbisik-bisik dengan pelan sehingga Lukas dan Alin tidak bisa mengetahui yang sedang mereka bicarakan. Namun Alin sudah tau akan seperti ini, tapi mereka berdua tidak menghiraukan nya.
"Pak Gendi..." panggil Alin.
"Ada apa putri Jiu, ada yang bisa saya bantu" Koki itu menghampiri Alin dan Lukas dengan muka pucatnya, ia sangat ketakutan.
"tolong ambilkan makanan untuk kami" pinta Alin.
"baik" Jawab koki itu lalu pergi dengan tergesa-gesa.
Beberapa menit kemudian 2 pelayan menghampiri mereka sambil membawa makanan dan susu untuk mereka berdua. Mereka berdua makan sambil mengobrol tanpa menghiraukan orang-orang yang sedang membicarakan mereka.
Setelah selesai makan mereka keluar dari dapur istana dan sedang berjalan di koridor. Istana sedikit menjadi sepi karena semuanya kebanyakan pergi ke jalanan untuk menikmati festival bulan.
"Hufttt... bosan sekali." gumam Alin mengeluh
"bagaimana kalau kita pergi ke jalanan?" tanya Alin sangat berharap Lukas menyetujui nya.
"tidak, kita di kamar saja" tolak Lukas tanpa berpikir panjang.
Lukas hanya diam tidak menjawab Alin. Alin sangat ingin melihat festival bulan yang sering sekali Lina cerita padanya. Alin pun berusaha keras untuk membujuk Lukas untuk pergi ke festival.
"Ayolah... ini pasti menyenangkan" bujuk Alin lagi sambil mendorong Lukas ke luar istana agar mereka bisa pergi ke festival bulan.
* jalanan pedesaan.
"Wooahhh bagus sekali, coba liat itu" seru Alin kegirangan saat melihat sebuah permen kapas yang berbentuk panda.
Ia kemudian membeli dua permen kapas untuk mereka berdua. Alin telah menabung uang yang sering Lina bagikan untuknya agar bisa pergi ke festival. Alin berlarian kesana kemari saat di jalanan, hingga sesekali membuat Lukas kehilangan nya.
"Jangan jauh-jauh dariku" tegas Lukas dingin seraya memegang leher belakang baju Alin saat ia ingin pergi lagi.
"oh iya maaf... hehehehe" ucap Alin.
Lukas kemudian menggandeng tangan Alin agar dia tidak bisa terpisah dengan Alin lagi di jalanan yang ramai ini. Mereka berjalan bersama, makan jajanan bersama dan menonton pertunjukan bersama.
Hingga sesuatu menarik perhatian Alin, Alin melihat sebuah lapak yang menjual Glom yang imut-imut. Alin ingin membelinya tapi uangnya tidak cukup. Lukas tau bahwa Alin tertarik pada sesuatu yang baru seperti Glom.
"nggg... sayang sekali" gumam Alin kecewa. Ia pun menarik tangan Lukas untuk pergi. Namun Lukas malah menariknya menuju lapak itu lagi.
__ADS_1
"Ambillah" ucap Lukas.
"Hah?" tanya Alin masih tidak paham.
"ambil saja Glom yang kau mau, aku akan membayarnya." ucap Lukas dengan panjang lebar. Ia terpaksa menjelaskan nya agar Alin paham. Tapi dia sebenarnya sangat malas untuk menjelaskan panjang lebar.
"boleh?" tanya Alin lagi, seraya memastikan nya.
"hm"
"hmmm... yang mana yah" gumam Alin bingung memilih.
Namun perhatian nya langsung tertuju pada seekor Glom yang berwujud anak rubah yang ada di pojok kanan bawah rak. Ia pun memilih itu.
"pak, saya mau Glom rubah yang di sebelah sana" Ucap Alin sambil menunjuk ke arah Glom itu.
"Tapi putri... Glom itu tidak berbakat, dia belum mempelajari ilmu sihir apapun" Sahut penjual itu pada Alin.
Alin yang mendengar itu merasa sedih, seketika ekspresi nya yang ceria tiba-tiba berubah menjadi cemberut. Lukas merasa tidak tega dan membela dia.
"Biarkan dia memilikinya pak. Itu tidak masalah, kami akan mengajari nya" Sahut Lukas membelanya.
"errr... baiklah kalau begitu"
Penjual itu kemudian meletakkan Glom itu kedalam kandang yang bisa di bawa dan Lukas pun membayarnya. Alin sangat senang hari itu, sepanjang jalan ia memperhatikan Glom itu.
"Kau imut sekali, Nama apa yang cocok untuk mu?" gumam Alin sambil menatap Glomnya.
"Yang pasti Carikan juga nama yang sesuai dengan penampilan nya" Sahut Lukas menjawab gumaman nya.
"benar! bagaimana dengan Viko?"
"tidak buruk" puji Lukas.
Mereka pun mencari tempat duduk untuk bersantai sambil melihat bulan. Mereka duduk di sebuah pinggiran jurang yang tidak terlalu jauh dari keramaian. Pemandangan bulan dari situ sangat indah.
Lukas juga merasa sedikit santai pada festival bulan itu. Pada 3 tahun terakhir ia tidak pernah merayakan festival bulan semenjak Anita meninggalkan nya.
"bagaimana? menyenangkan bukan" Alin menanyakan pendapat Lukas
"tidak buruk"
" terima kasih sudah menemani ku malam ini" ucap Lukas dengan suara yang agak pelan.
"tidak masalah bagiku, aku juga sebenarnya berhutang budi padamu" Sahut Alin.
__ADS_1
"Benar juga, tapi... kali ini aku yang akan berhutang budi pada mu." Sahut Lukas juga.