Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 64 Akhir pekan Alin dan Yudian.


__ADS_3

*Seminggu kemudian


Satu Minggu telah berlalu dengan sangat cepat. Dalam satu minggu itu Alin merasa sangat kesepian, kerena Lukas yang selalu berada di dekatnya tidak terlihat dalam satu minggu terakhir. Hari ini adalah akhir pekan yang sangat membosankan untuk Alin karena tak ada seorang pun yang menemaninya.


Semua orang masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dan sementara itu Alin hanya berjalan tanpa arah. Ia berjalan ke sana kemari menikmati pemandangan dunia sihir putih yang nan indah itu di temani oleh sejuknya udara.


Saat ini Alin tengah duduk di pinggir danau salju sendirian. Di hari bersalju yang dingin ini, ia melamun memikirkan bagaimana nasib kehidupannya. Alin sangat bingung dengan masa depannya kelak. Ia sudah tidak punya keluarga yang peduli padanya dan ia juga merasa seperti seorang anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya di sebuah jalanan yang besar dan ramai.


Ia diusir oleh keluarganya dan mendapat suatu keajaiban dibalik sebuah cahaya misterius yang membuatnya masuk ke sebuah dunia yang aneh. Saat datang ke sebuah dunia yang tak dia kenal itu, Alin langsung di sogohkan dengan sebuah kejadian yang berlatarkan sebuah pertarungan, bertemu dengan seorang pria tampan, dan di tolong oleh keluarga asing yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.


Tidak lama setelah itu, tak ia sangka dan tak ia duga, ia langsung di nobatkan menjadi seorang putri dari kerajaan itu oleh karena status kakeknya. Alin bahkan tidak tau menahu soal status kakeknya saat itu. Namun kakeknya menuntun Alin untuk datang ke dunia yang asing itu untuk memulai kehidupan yang baru, kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.


"Aku sangat berterima kasih karena kakek sudah menuntun ku kemari. Aku tau dan aku sadar, jika keluarga ku yang dulu sudah tidak menerimaku lagi. Sedangkan sekarang, aku di sini sudah hidup dengan lebih baik. Aku memiliki banyak sekali teman yang baik, walaupun terkadang aku merasa sangat kesepian dan hampa."


Tiba-tiba saja, tanpa Alin sadari ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Semakin lama orang itu semakin dekat. Hingga ia telah berada di samping Alin, ia menepuk pundaknya dan langsung duduk di samping Alin. Alin tentu saja terkejut, sontak ia menoleh arah orang itu.


"Kenapa sendirian?"


"Oeh.. Yudian. Kau mengagetkan ku, hehe.."


Ternyata orang itu adalah Yudian. Yudian hanya diam tak menyahut dan hanya membalas Alin dengan senyuman yang lebar.


"Ada apa?" Tanya Alin.


"Kenapa kau sendirian? Biasanya kan ada beberapa teman yang menemanimu, kemana mereka?"


"Yah..Kau tau lah.. Lina sedang berkencan dengan Reyhan, Gion sedang sibuk meracik ramuan dan Lukas...hmm.. entahlah aku tidak melihatnya selama seminggu terakhir. Jadi aku berakhir pekan sendirian."


"Huftt...Kalau begitu kita bernasib sama..Aku juga harus berakhir pekan sendirian." Balas Yudian sambil memasang muka cemberut yang terlihat imut.


"Wah..Kau terlihat imut sekali! Lalu kemana adikmu?" Tanya Alin sambil mencubit kedua pipi Yudian dengan keras, ia sangat gemas dengan ekspresi imut Yudian.


"Ngee..Leeepeas.."


Alin hanya tertawa geli saat melihat muka imut dan kesalnya Yudian. Akhirnya Alin pun melepaskan cubitannya.


"Hehe.." kekeh Alin, tertawa jahil.


"Sakit tau!"


"ohoya?" tanya Alin sambil bercanda dengan Yudian.


"Tentu saja sakit.." Jawab Yudian sambil mengelus pipinya.


"Oke, oke. Maaf ya."


"Hm. Tapi harus ada kompensasinya."


"Kompensasi? Memangnya apa kompensasinya?" tanya Alin yang mulai kwartir dengan kompensasi yang aneh-aneh dari Yudian.


"Tidak terlalu sulit. Kau cukup menemaniku seharian penuh hari ini."


"Tunggu, tunggu. Lalu kita akan pergi kemana?"


"Ke pasar!" Seru Yudian.


Dengan tiba-tiba Yudian menarik Alin dan membawanya pergi menjauh dari danau salju menuju ke pasar. Yudian sangat senang dengan akhir pekan mereka itu, begitu juga dengan Alin. Di sepanjang jalan menuju ke pasar, ada tawa dan canda mereka terdengar di tengah ramainya jalanan kota Krestin.

__ADS_1


Sesampainya di pasar, Alin dan Yudian melihat ke sekeliling pasar. Terlihat ada banyak sekali pedagang yang menjual makanan serta barang-barang yang terlihat unik. Saat Yudian melihat ke sebuah kios, Yudian merasa familiar dengan penjual yang ada di situ.


Untuk beberapa lama, Yudian mencoba untuk mengingatnya dan benar saja penjual itu adalah seorang pandai besi sihir yang terkenal. Orang itu menyamar menjadi seorang penjual aksesoris rambut wanita untuk menyembunyikan identitas aslinya. Yudian bermaksud untuk mengajak Alin untuk pergi ke kios itu, namun ia merasa sedikit malu. Tapi pada akhirnya, Yudian tetap mengajak Alin ke sana.


"Alin?"


"hm?" Sahut Alin sambil menoleh ke arah Yudian.


"Kemari!" Yudian kembali menarik tangan Alin dan membawanya ke kios seorang pandai besi tadi.


Sesampainya di kios itu, Yudian langsung mengacak-acak susunan aksesoris itu untuk mencarikan benda yang cocok untuk Alin. Sedangkan Alin hanya diam berdiri di tempatnya sambil menatap Yudian yang tengah sibuk sendiri.


Setelah beberapa lama mengacak-acak rak aksesoris, akhirnya Yudian telah menemukan barang yang terlihat menarik di matanya. Yudian menghampiri Alin dan langsung menunjukan barang pilihannya itu.


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" Tanya Yudian seraya menyodorkan sebuah permata yang berwarna ungu cerah ke arah Alin.


"Hm, iya bagus. Tapi...Apa yang ingin kau lakukan dengan permata itu?"


"Tunggu sebentar."


Yudian menghampiri penjual itu dan membisikkan sesuatu di dekatnya. Terlihat Yudian membisikkan sesuatu dan penjual itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah beberapa lama, Yudian kembali menghampiri Alin.


"Ayo!"


"Ngg..Kemana?" Tanya Alin.


"Jalan-jalan. Sementara penjual itu membuatkan hadiah untuk mu, lebih baik kita jalan-jalan lagi saja kan?"


"Baiklah, ayo!"


"Eh, eh. Kemana?"


"Ke sana!"


Sesampainya di tempat itu, Alin langsung melihat-lihat ubi yang di jualnya. Namun anehnya, ubi penjual itu memiliki warna yang tidak wajar. Yang biasanya berwana Putih, ungu, jingga, kuning dan krem, tapi yang ia liat kini bukan warna ubi yang sewajarnya. Ubi itu berwarna biru cerah. Karena merasa takut diracuni dengan warna ubi yang terlihat aneh itu, Alin langsung berbalik dan berjalan kesamping Yudian.


"Ada apa?" Tanya Yudian kebingungan melihat tingkah Alin.


"Ubi nya aneh. Ubi itu berwarna biru, aku takut kalau orang itu berniat ingin membunuh kita." Jawab Alin polos.


Yudian yang mendengar jawaban polos Alin itu terkekeh geli. Ia tidak habis pikir dengan sikap Alin yang terlihat polos itu. Alin yang melihat Yudian terkekeh, merasa semakin kebingung dengannya.


"Hehehe..."


"Kenapa kau terkekeh?" Tanya Alin dengan wajah yang keheranan.


"Ini ubi musim dingin, di dunia sihir kita ini ada 3 jenis ubi. Ubi musim dingin, ubi api, dan ubi hijau."


"Ubi hijau? ubi api? ubi musim dingin?" Tanya Alin dengan ekspresi yang terlihat keheranan.


"Iyap."


"Yah... benda aneh apapun itu bisa kita temukan di dunia sihir ini!" batin Alin.


"Bagaimana? Mau membelinya?"


"Apa kau yakin mereka tidak akan memasukkan racun ke dalamnya?" Tanya Alin masih belum yakin.

__ADS_1


"Hehehe... kau tenang saja. Kalau kau mati, maka aku akan mati bersama denganmu." Ucap Yudian kembali meyakinkan Alin.


"Terserahlah."


Namun Alin tidak mengerti makna dari kata-kata Yudian itu. Dari kata-kata yang Yudian katakan itu memiliki makna tersembunyi di dalamnya, namun Alin hanya menganggapnya sekilas saja.


Mereka menghampiri penjual itu dan membeli beberapa ubi musim dingin dan ubi api. Yudian mengupas kan kulit ubi itu dan memberikannya kepada Alin. Awalnya Alin masih ragu, namun ia tetap mengambilnya.


Satu gigitan sudah masuk kedalam mulut Alin. Setelah benar-benar merasakan rasanya, Alin sangat takjub dengan rasa ubi itu, rasa manis dan asinnya sangatlah pas di lidah.


"Enak.."Gumam Alin.


"Apa kau akan mati sekarang?" tanya Yudian sambil senyum-senyum sendiri.


"Ya tidaklah. Apa kau benar-benar ingin aku mati?!" Balas Alin masih fokus dengan ubi yang ada di tangannya.


"Hehehe...Aku hanya bercanda. Tapi kalau kau mati, aku akan benar-benar ikut denganmu."


"Apa maksudmu?" Tanya Alin peduli, tidak peduli dengan yang Yudian katakan padanya.


"Sudahlah, ayo kita ke kios tadi." Ajak Yudian.


"Oke.."


Mereka kembali berjalan ke arah yang berlawanan, kearah kios yang pertama kali mereka temui. Sesampainya di sana, Yudian mengambil barang yang ia beli tadi dari penjual yang ada di kios itu. Penjual itu membuatkan sebuah penjepit rambut yang berhiaskan sebuah mawar ungu yang terbuat dari perak dan kristal yang Yudian pilihkan tadi.


Yudian mengambilnya dan kembali menghampiri Alin yang tengah sibuk memakan ubi yang ada di tangannya. Dengan senyuman yang lebar, Yudian menghampiri Alin sambil menyembunyikan penjepit rambut itu di genggaman tangannya.


"Apa yang dia buatkan untukmu?" tanya Alin dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Ta-da"


Yudian menyodorkan penjepit rambut itu tepat di hadapan Alin. Saat Alin melihatnya, ia begitu takjub. Penjepit rambut itu terlihat sangat cantik dan anggun.


"WAHH... Bagus sekali!" Seru Alin.


"Apa kau suka?"


"Hm. Tapi apa arti dari mawar ungu itu?" Tanya Alin penasaran.


"Artinya..."


"...Cinta yang terpendam. Mungkin akan lebih baik kalau kau tidak perlu mengetahuinya sekarang. Aku.. tidak ingin hubungan kita menjadi canggung nantinya."


"... Sahabat sejati!" lanjut Yudian seraya menjepitkan nya ke rambut Alin.


Saat Yudian menjepitkan jepitan rambut itu, Alin sempat tertegun. Ia merasakan ada sebuah angin yang sempat membuat jantungnya berdegup kencang dengan tiba-tiba, namun Alin mengacuhkan.


"Nah.. Selesai. Ayo pulang, aku akan mengantarkan mu."


"Hm, ayo!" Balas Alin.


"Sebagai sahabatku, apa kau mau menemaniku seperti ini lagi saat akhir pekan?" Tanya Yudian.


"Tentu saja! Hari ini sangat mengasikkan."


"Syukurlah...."

__ADS_1


__ADS_2